NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Balas Dendam
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Angin buruk yang selama ini diam-diam disiapkan Darren, akhirnya mulai berhembus kencang dan beracun ke seluruh penjuru kantor Mutiara Group. Di saat Arsya sedang berjuang habis-habisan menyiapkan bukti dan strategi untuk melawan fitnah dari pesaing luar, fitnah baru justru datang menyerangnya dari dalam, dari lingkungan tempat ia bekerja dan mengabdi selama bertahun-tahun.

Berita-berita buruk, bisik-bisik halus, dan gosip yang menyakitkan mulai tersebar cepat dari mulut ke mulut. Isinya berputar sepenuhnya pada masa lalu Arsya yang tragis dan luka yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

"Kau dengar tidak? Ternyata Pak Arsya itu dulu mengalami kecelakaan parah yang menewaskan kedua orang tuanya. Katanya, ada yang bilang kalau kecelakaan itu sebenarnya karena kelalaiannya sendiri..."

"Bukan hanya itu, tangannya yang cacat itu konon bukan sekedar luka biasa. Ada yang bilang itu tanda hukuman atau nasib buruk yang dibawanya. Katanya dia orang yang membawa sial..."

"Pantas saja dia selalu dingin dan menjauhi orang. Ternyata hatinya juga rusak, sama seperti tubuhnya. Siapa tahu cara kerjanya juga rusak dan tidak bisa diandalkan, sama seperti dirinya."

"Masa lalu yang kelam begitu, siapa yang tahu apa saja yang pernah dia lakukan? Mana pantas orang bermasa lalu berdarah begini memimpin strategi penting perusahaan kita? Bisa-bisa kita ikut hancur terbawa nasib buruknya."

Kalimat-kalimat tajam dan menyakitkan itu terdengar di kantin, di koridor, di ruang rapat, dan di setiap sudut ruangan. Isu itu disebarkan dengan sangat cerdik dan tidak ada yang tahu sumber pastinya, semuanya seolah hanya berita yang "terdengar dari orang lain", namun isinya dirancang sedemikian rupa untuk menimbulkan rasa jijik, takut dan keraguan.

Dan tidak sulit bagi siapa saja yang mengenal situasi sebenarnya untuk menduga siapa dalang di balik semua ini. Darren Mahendra. Ia tidak menggunakan tangannya sendiri, tidak meninggalkan jejak, namun isu itu mulai tersebar tepat setelah ia mulai mengubah strateginya.

Darren memanfaatkan kelemahan terbesar Arsya berupa masa lalu yang selalu ia anggap aib, guna untuk meruntuhkan wibawa, kepercayaan dan posisi pria itu. Darren tahu betul, di dunia bisnis yang keras dan penuh takhayul sosial, memiliki "masa lalu kelam" dan "cacat fisik" adalah celah paling mudah untuk dijadikan bahan serangan, terlebih saat perusahaan sedang dalam tekanan dan ketakutan.

Dampaknya sangat terasa. Kepercayaan beberapa staf mulai goyah. Pandangan rekan kerja berubah, penuh rasa curiga dan rasa iba yang merendahkan. Hardian pun mulai memanggil Arsya lebih sering, bertanya dengan nada meragukan tentang kebenaran berita itu, seolah mulai berpikir apakah benar ia telah mempercayakan nasib perusahaan pada orang yang "bernasib buruk".

Namun, dampak terberat justru menimpa diri Arsya sendiri.

Selama ini, Arsya sudah berjuang mati-matian untuk bangkit dari masa lalu itu. Ia bekerja keras, berprestasi, dan bersikap profesional agar dinilai dari kemampuannya, bukan dari luka tubuh atau sejarah hidupnya. Ia sudah mulai berani membuka diri, mulai berani mencintai dan dicintai, mulai merasa bahwa dirinya berharga dan layak. Namun, dengan tersebarnya isu itu, seolah semua tembok pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika. Semua rasa rendah diri, rasa jijik pada diri sendiri, dan rasa tidak pantas itu kembali menyerangnya dengan sangat cepat dan berlipat ganda, jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Ia merasa ditelanjangi, merasa dipermalukan, merasa bahwa sisi terburuk dirinya kini dipamerkan ke seluruh dunia untuk dihakimi. Ia merasa semua pengorbanan dan kerja kerasnya selama ini sia-sia, karena pada akhirnya orang-orang hanya melihat cacatnya, hanya melihat masa lalunya, bukan apa yang telah ia capai.

Arsya menjadi murung, diam, dan sangat tertekan. Wajahnya yang sudah pucat karena kelelahan kini semakin kehilangan cahaya. Ia mulai menarik diri, bekerja sendirian lebih banyak, dan sering kali menatap tangannya yang cacat itu dengan pandangan putus asa. Rasa percaya dirinya hilang sepenuhnya. Bahkan, pikiran untuk mengundurkan diri, pergi jauh, dan menghilang dari kehidupan semua orang terutama dari kehidupan Sherina pun mulai kembali menghantuinya. Ia berpikir, jika ia pergi, semua isu ini akan hilang, nama baik perusahaan akan aman, dan Sherina tidak perlu lagi dikaitkan dengan pria yang penuh aib dan sial sepertinya.

Puncaknya terjadi saat sore hari, di ruang kerja mereka yang sepi. Arsya berhenti menulis, meletakkan pulpennya perlahan, lalu menundukkan wajah dalam-dalam. Bahunya berguncang pelan, tertahan oleh rasa sakit yang mendalam.

"Mungkin... mereka benar, Sherina..." ucap Arsya parau, suaranya hampir tak terdengar, penuh kepedihan dan keputusasaan. "Mungkin memang aku orang yang membawa nasib buruk. Ke mana pun aku pergi, aku selalu membawa masalah, membawa luka, membawa hal-hal buruk. Dulu orang tuaku meninggal, sekarang perusahaan terancam, dan sekarang namamu pun ikut terlibat karena membelaku... Aku hanya beban, Sherina. Aibku terlalu berat. Masa laluku terlalu gelap. Aku tidak pantas ada di sini, apalagi ada di sampingmu. Mungkin sebaiknya aku pergi... sebelum semuanya hancur total."

Ia mengangkat wajahnya, mata yang dulu penuh semangat kini basah dan penuh rasa kalah kembali.

"Maafkan aku... aku pikir aku sudah kuat. Tapi ternyata... aku masih sama lemahnya seperti dulu. Gosip dan pandangan orang saja sudah cukup untuk meremukkan aku kembali."

Namun, apa yang tidak disadari Arsya adalah satu hal paling penting, berita buruk itu mungkin meragukan orang lain, tapi bagi Sherina, isu itu justru menjadi ujian pembuktian yang paling ingin dia angkat.

Sherina berdiri tegak di hadapan Arsya. Tidak ada ragu di matanya, tidak ada rasa malu, dan tidak ada rasa takut sedikit pun. Mendengar kata-kata Arsya yang hampir menyerah itu, hati Sherina terasa perih, namun tekadnya justru semakin membara kuat. Ia tidak marah pada Arsya, ia justru semakin marah pada mereka yang berani memutarbalikkan kebenaran dan menyakiti pria yang paling ia cintai ini.

Tanpa ragu, Sherina melangkah mendekat, lalu dengan berani dan tegas ia memegang tangan kanan Arsya yang cacat itu, tangan yang menjadi bahan pembicaraan buruk itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di udara, seolah sedang memamerkan harta paling berharga di dunia.

"Berhenti, Arsya!" seru Sherina tegas, suaranya bergetar karena emosi yang meluap namun penuh kekuatan. "Berhenti mengatakan hal-hal bodoh itu. Dan berhenti membiarkan mulut jahat orang lain mendiktekan siapa dirimu sebenarnya!"

Ia menatap lurus ke manik mata Arsya, air mata menetes di pipinya, tapi sorot matanya tajam dan penuh pembelaan.

"Mereka berbicara tentang masa lalumu? Mereka berbicara tentang kecelakaan itu? Mereka menyebut tangan ini sebagai aib atau tanda nasib buruk?" nada suara Sherina meninggi, penuh tantangan seolah semua orang yang menyebarkan isu itu ada di depannya. "Maka dengarkan aku baik-baik! Mereka tidak tahu apa-apa! Mereka hanya mendengar potongan cerita yang dipelintir, lalu menilaimu sembarangan dari luar saja!"

Sherina menggenggam tangan itu lebih erat, menempelkannya ke dadanya agar Arsya bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang karena rasa cinta dan marah yang bercampur jadi satu.

"Aku tahu kisah sebenarnya, Arsya. Aku tahu betapa mengerikannya hari itu. Aku tahu betapa sakitnya hatimu saat melihat orang tuamu pergi selamanya. Aku tahu betapa hebatnya rasa sakit fisik dan batin yang kau derita. Tapi apa yang mereka sebut sebagai 'nasib buruk' dan 'aib'... bagiku, itu adalah bukti kehebatanmu!"

Air mata Sherina mengalir makin deras, namun senyum bangga terukir jelas di bibirnya.

"Tangan ini... setiap jari yang ada dan yang hilang di sini... adalah bukti bahwa kau selamat dari maut. Bukti bahwa kau jatuh ke dasar neraka paling gelap, tapi kau bangkit kembali dengan kekuatanmu sendiri. Bukti bahwa kau bertahan hidup, belajar, bekerja keras, dan menjadi pria yang paling hebat, paling cerdas, dan paling berhati mulia yang pernah aku kenal! Luka di tubuhmu bukanlah tanda kelemahan, Arsya. Itu adalah medali perjuanganmu yang paling agung!"

Sherina menarik napas panjang, bukan mengeluh, tapi ia memang harus terus mengingatkan kata yang sama berulang kali. Lalu melanjutkan dengan suara yang tegas dan lantang, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Orang-orang boleh berbicara apa saja. Mereka boleh menciptakan cerita bohong sekehendak mereka. Mereka boleh menilai dari sampulnya saja. Tapi aku... aku tidak menilai begitu. Aku sudah masuk jauh ke dalam hatimu. Aku sudah melihat siapa dirimu yang sebenarnya. Aku tahu kau orang yang paling jujur, paling setia, paling bertanggung jawab, dan paling tulus. Aku tahu kau rela bekerja siang malam demi melindungi perusahaan ini meski orang lain membenci dan menuduhmu. Aku tahu kau rela menanggung rasa sakitmu sendiri demi tidak menyusahkan orang lain. Dan aku tahu... kau adalah pria yang paling pantas, paling utuh, dan paling berharga bagiku di dunia ini."

Ia mendekatkan wajahnya, menatap mata Arsya dalam-dalam, menghapus sisa air mata di pipi pria itu dengan lembut namun tegas.

"Mereka bilang kau membawa sial? Justru sebaliknya, Arsya. Kehadiranmu yang membawa keberuntungan, membawa kejujuran, dan membawa kebenaran ke sini. Kehadiranmu yang menyelamatkanku dari kekeliruan dan kesombongan. Kehadiranmu yang membuatku mengenal arti cinta yang sejati. Aku mengenalmu jauh lebih dalam daripada siapa pun. Dan pendapatmu lah yang penting bagiku, bukan pendapat mereka yang buta dan berhati jahat itu."

Sherina mengeratkan genggamannya, suaranya berubah lembut namun penuh tekad.

"Jangan pernah berpikir untuk pergi. Jangan pernah berpikir kau beban. Karena selama aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan siapa pun. Gosip, fitnah, dan orang licik mana pun yang merendahkanmu atau menjatuhkanmu. Aku akan berdiri di sisimu. Aku akan menjadi tamengmu. Aku akan membuktikan kepada semua orang bahwa apa yang mereka katakan itu salah besar. Bahwa kau adalah kebanggaanku. Bahwa kau adalah pilihanku. Dan bahwa kebenaran ada di pihakmu, dan kebenaran itulah yang akan menang pada akhirnya."

Kata-kata itu menembus langsung ke dasar hati Arsya yang hancur lebur. Kata-kata itu menyembuhkan luka yang baru saja terbuka kembali, mengembalikan kekuatan yang hilang, dan menghapus segala keraguan yang sempat hadir. Di mata Sherina, ia tidak melihat rasa jijik, tidak melihat rasa kasihan, dan tidak melihat rasa malu. Ia hanya melihat cinta yang besar, rasa hormat yang tinggi, dan keyakinan yang mutlak.

Untuk pertama kalinya setelah isu itu tersebar, Arsya merasa dirinya utuh kembali. Ia sadar, selama ada wanita ini di sisinya, selama ada seseorang yang mengenal dan menerima dirinya seutuhnya, gosip orang lain tidak ada artinya sama sekali. Ia sadar, ia tidak berjuang sendirian. Ia sadar, kebenaran memang ada di pihaknya, dan Sherina adalah saksi paling nyata dari kebenaran itu.

Arsya mengangguk perlahan, air mata haru dan rasa syukur mengalir deras di pipinya. Ia membalas genggaman tangan Sherina dengan kekuatan baru yang tumbuh kembali dari dalam dadanya.

"Terima kasih, Sherina..." bisik Arsya parau namun tegas. "Terima kasih sudah tidak pergi saat semua orang menjauh. Terima kasih sudah melihat apa yang tidak bisa mereka lihat. Terima kasih... sudah membuatku merasa berharga lagi."

Ia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan sorot matanya kembali berubah tajam dan berapi-api. Rasa putus asa itu lenyap seketika, digantikan oleh tekad baja yang baru.

"Kau benar," ucap Arsya mantap. "Mereka boleh bicara apa saja. Tapi kebenaran tidak akan berubah. Dan selama kau percaya padaku... aku akan berjuang lebih keras lagi. Aku akan membuktikan kepada semua orang, termasuk pada mereka yang menyebarkan kebohongan ini... bahwa masa laluku dan lukaku tidak membuatku lemah. Itulah yang membuatku menjadi diriku yang kuat, jujur, dan pantas berdiri di sampingmu."

Di ruangan itu, di tengah badai fitnah yang mengancam menghancurkan mereka, ikatan antara Sherina dan Arsya justru mengeras menjadi baja. Gosip yang dimaksudkan untuk memisahkan mereka, justru semakin menyatukan hati mereka, semakin memperjelas siapa kawan dan siapa lawan, dan semakin membuktikan bahwa cinta mereka bukanlah cinta yang mudah goyah oleh angin, melainkan cinta yang tumbuh dan semakin kokoh saat diterpa badai terberat sekalipun.

Dan di balik pintu yang sedikit terbuka, di ujung lorong yang gelap, Darren Mahendra melihat semuanya. Ia mendengar pembelaan lantang Sherina, ia melihat genggaman tangan yang erat itu, dan ia menyaksikan sendiri bagaimana usahanya untuk menjatuhkan Arsya justru berbalik membuat hubungan keduanya semakin tak tergoyahkan.

Wajah Darren mengeras, matanya menyala penuh amarah dan rasa benci yang semakin membara. Ia sadar, serangan ini gagal total. Dan ia sadar, untuk merenggut Sherina dari sisi Arsya, ia harus menyiapkan senjata yang jauh lebih tajam, jauh lebih kejam, dan jauh lebih mematikan dari sekadar gosip murahan.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
galak juga Sherina ya 😄
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
semangat Sherina
Elisabeth Ratna Susanti
ya ampun, kasihan sekali sampai matanya bengkak dan kelelahan
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!