Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Maura bangun dari tidurnya sembari menggeliatkan tubuhnya, guna mengendurkan otot otot di tubuhnya yang sebelumnya terasa kaku.
Lalu Maura duduk, untuk mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya ia bangkit dan berdiri, guna menggosok gigi dan juga mandi.
"Kenapa sekarang aku merasa begitu lega? Seperti orang yang sudah melampiaskan amarahnya, padahal kan aku cuman tidur malam biasa, tapi aku merasa seperti orang yang sangat puas." gumam Maura dengan wajah bingung, karena ia teringat kemarin saat ke dua orang tua angkatnya memberikan penjelasan padanya, dan berjanji tidak akan membanding bandingkan perihal anak kandung dan anak angkat, Maura hanya diam dan tidak menjawab.
Karena yang sebenarnya terjadi, Maura sebenarnya masih belum bisa menerima fakta perihal kehamilan Cherly. Bahkan sebelum tidur, hanya isak tangis yang menemani Maura, sebelum dirinya terlelap dalam mimpi.
Namun, rasa sesak di dada, marah dan juga rasa tidak terima yang kemarin mengganjal di benak Maura sekarang ini benar benar sirna. Ntah kenapa? Maura benar benar merasa lega.
"Astaga, apa yang terjadi? Kenapa di sekitar bibir ku? Ada banyak noda merah yang sudah mengering," gumam Maura dengan suara terkejut, sontak ia pun langsung mengingat hal yang dirinya lakukan, sebelum ia itu tidur.
Maura mencoba mengambil noda merah yang berbentuk seperti kerak itu di sekitar mulutnya, ke dua alisnya Maura nampak mengernyit. "Kok seperti bau darah?" gumam Maura sembari terus menggesek gesekkan jarinya, lalu ia mengendus ke arah kerak di jari tangannya.
Setelah beberapa saat mengingat, ke dua bola mata Maura tiba tiba membulat sempurna. Lalu ia pun berkata dengan nada tinggi, "astaga! Apa jangan jangan gara gara aku tenggelam kemarin. Saat aku tidur, dari dalam mulutku itu mengeluarkan darah segar. Gimana ini? Apa karena tenggelam kemarin, aku jadi punya penyakit dalam, dan ada bagian dalam tubuhku itu terluka."
Ekspresi terkejut Maura sekarang ini berubah menjadi sebuah rasa takut, kala dirinya sendiri menerka nerka perihal penyakit yang sekarang ini akan menghampiri dirinya.
Tok
Tok
"Nona muda ... Ayo segera turun, Nyonya sudah menunggu Nona," panggil Bibi Asih dari luar pintu kamar mandi.
Panggilan yang Bibi Asih benar benar membuyarkan lamunan Maura sekarang ini.
Maura memilih untuk segera mandi dan memakai seragam sekolah, ia memilih untuk mengabaikan sejenak perihal penyakit dalam yang akan menghampiri dirinya.
Karena ia teringat kalau sekarang ini ia harus bersekolah, dan beberapa hari lagi akan di adakan perkemahan di hutan. Tentu saja Maura sangat antusias dengan kegiatan perkemahan yang akan di adakan oleh pihak SMA Taruna.
****
**
Maura sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian seragam sekolahnya.
Maura mengernyitkan dahinya, ia benar benar di buat bingung dengan keberadaan Bibi Asih yang berdiri di ujung kamarnya.
"Loh .. Kenapa Bibi ada di sini?" tanya Maura heran.
"Saya berada di sini buat nunggu Nona selesai mandi. Karena Nyonya Cherly memerintahkan saya untuk membantu menyisir dan juga menguncir rambut Nona muda," sahut Asih sembari berjalan mendekat ke arah Maura yang malah berdiri mematung setelah dirinya itu selesai menjelaskan.
Asih melirik ke arah jam yang ada di dinding, lalu ia memutuskan untuk segera menarik tangan Maura, karena waktunya sekarang ini sangatlah mepet.
Tentu saja Asih tidak mau jika Maura terlambat pergi ke sekolah, karena hal itu akan menyebabkan anaknya yang menjadi siswa baru di SMA Taruna hari ini, juga ikut ikutan terlambat sampai ke sekolah.
"Ayo Non, buruan! Takut telat," ujar Asih sembari menarik tangan anak angkat majikannya.
Maura tetap diam tak bergeming, lalu ia berkata dengan nada dingin."Kenapa tidak Mamih Cherly saja yang menguncir rambutku? Kenapa harus bibi? Bukankah sebelum hamil, Mamih lah yang selalu datang ke kamar ku untuk membangunkan ku?"
Raut wajah Maura terlihat penuh kepedihan sekarang ini.