"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tiga Jam di Ambang Maut
Pukul lima subuh, lorong Rumah Sakit Pusat Tenggara diselimuti oleh keheningan yang dingin dan mencekam. Kabut tipis sisa hujan semalam masih menempel di jendela-jendela kaca besar. Bunyi roda brankar yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar begitu nyaring, memotong kesunyian subuh itu.
Aurora berbaring di atas brankar dengan gaun operasi berwarna hijau muda. Wajahnya tampak sewarna kertas, sangat pucat, dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajah mungilnya. Di atas dadanya, mesin VAD portabel terus berdesis konstan, menjaga sisa detak jantungnya sebelum diserahkan sepenuhnya pada pisau bedah.
Meskipun efek obat penenang pra-operasi sudah mulai membuatnya setengah mengantuk, sepasang mata bulat Aurora masih terbuka sedikit. Tangannya mendekap erat ponsel Oppo miliknya di atas dada, tempat pesan terakhir dari klien anonimnya tertera di layar yang sudah mati.
[Klien_Anonim]: Gambarmu sangat indah, Aura. Kamu adalah seniman yang luar biasa kuat. Sekarang, simpan ponselmu dan istirahatlah. Besok pagi kamu akan menjalani pengobatan terakhir agar bisa sembuh total. Jangan takut, lampu petromak yang kamu gambar akan menjagamu sepanjang malam. Kamu pasti bisa melewati ini.
Pesan itu menjadi jimat kecil yang menguatkan jiwanya yang rapuh saat pintu ruang operasi utama yang berlapis baja itu terbuka di hadapannya.
Di luar garis batas ruang steril, keempat abang Tenggara berdiri berjejer, mengawal brankar adiknya hingga batas maksimal yang diizinkan.
Saat brankar itu hendak didorong masuk, Arvin tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia maju satu langkah, air matanya menetes bebas.
"Aurora... bertahan ya, Dek. Kakak tunggu di sini. Jangan menyerah," bisiknya parau, meskipun ia tahu Aurora mungkin tidak ingin mendengar suaranya yang pernah menorehkan trauma.
Gavin berdiri tepat di samping Arvin. Matanya yang merah menatap lekat-lekat wajah adik bungsunya yang perlahan menghilang di balik pintu baja yang menutup otomatis dengan bunyi klik yang berat.
Lampu indikator di atas pintu seketika berubah warna dari hijau menjadi merah menyala: 'ON OPERATION'.
"Pembedahan dada terbuka dimulai. Waktu perkiraan: tiga hingga empat jam," ucap Juna datar, namun tangannya yang memegang tablet pantau medis tampak bergetar. Ia langsung duduk di kursi tunggu, .
mengoneksikan sistemnya ke server ruang operasi untuk memantau grafik tanda vital Aurora secara real-time.
Tak jauh dari mereka, sebuah bayangan melangkah mendekat dari sudut koridor yang remang-remang. Sosok itu adalah Bramantyo Tenggara. Pria paruh baya yang dulunya selalu tampil parlente dan berwibawa itu kini tampak sangat kacau. Kemeja mewahnya kusut, jenggot tipisnya mulai tumbuh tak terawat, dan matanya cekung karena tidak tidur berhari-hari.
Ia tidak berani mendekati keempat putranya. Bramantyo memilih duduk bersimpuh di lantai koridor yang dingin, bersandar pada pilar beton, beberapa meter jauhnya dari pintu operasi. Di tangannya yang gemetar, ia menggenggam sebuah tasbih kecil dan foto masa kecil Aurora yang bernoda darah. Sang penguasa dinasti yang hancur itu kini hanya bisa merapal doa dalam tangis penyesalan yang terlambat.
Di dalam ruang operasi, suasananya berubah menjadi medan tempur yang sesungguhnya. Profesor Gunawan berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh belasan dokter spesialis dan perawat yang mengenakan gaun bedah steril. Puluhan monitor medis berkedip-kedip, menampilkan parameter tubuh Aurora yang berada di batas kritis.
"Pisau," pinta Profesor Gunawan tegas.
Asisten bedah menyerahkan pisau bedah steril. Dengan gerakan yang sangat presisi dan hati-hati, Profesor Gunawan mulai membuat sayatan vertikal di tengah dada Aurora, membuka jaringan kulit dan memisahkan tulang sternum untuk menjangkau jantungnya yang membengkak.
"Siapkan mesin heart-lung bypass (mesin jantung-paru buatan). Kita akan menghentikan detak jantung pasien dalam hitungan mundur," perintah Profesor Gunawan. "Kita harus bekerja cepat. Katup mitralnya sudah sangat rapuh karena peradangan, kita harus memotongnya dan menjahit katup mekanis baru ini dengan akurasi seratus persen."
Satu jam berlalu. Di luar ruangan, lampu merah operasi masih menyala. Arvin mondar-mandir tak keruan, sementara Gavin duduk diam dengan kepala tertunduk di antara kedua lututnya.
Tiba-tiba, Juna berdiri dari kursi tunggunya dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Layar tablet di tangannya menampilkan grafik jantung Aurora yang mendadak berubah menjadi garis lurus yang bergelombang acak (Ventricular Fibrillation).
"Sialan... Jantung Aurora mengalami fibrilasi," bisik Juna, suaranya tercekat.
Di dalam ruangan, alarm kematian melengking tinggi.
"Tekanan darah drop ke nol! Jantung pasien tidak merespons mesin bypass!" teriak dokter anestesi dengan panik. "Terjadi pendarahan hebat di dinding belakang atrium kiri!"
Profesor Gunawan tidak kehilangan ketenangannya, meskipun peluh sebesar biji jagung mulai membanjiri keningnya yang ditutupi masker. "Siapkan defibrilator! Atur di 20 Joule!"
Dua lempeng besi diletakkan langsung di atas otot jantung Aurora yang terbuka dan ringkih.
"Clear!"
Dug! Tubuh mungil Aurora tersentak di atas meja operasi. Namun, garis di monitor tetap berantakan, menunjukkan sisa-sisa kehidupan yang perlahan-lahan mulai menguap. Nyawa Aurora berada tepat di ambang maut, tergantung pada seutas benang tipis di tengah badai dosa keluarganya yang belum sempat dimaafkan.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹