Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Linus memegang pipinya yang kini terasa memanas akibat tamparan dari mama Maya, ini mungkin yang pertama ia rasakan dari sosok mama nya, karena ini pertama kali ia menginginkan suara dan membantah keinginan Maya.
"Berani-beraninya kamu marah sama mama ya Linus, ingat semua ini mama lakukan demi kebahagiaan kamu kelak, harta lah yang bisa membuat kehidupan kamu jadi baik-baik saja sekarang, tingal di rumah mewah, punya kendaraan mahal,kamu pikir kalau mama gak gila harta kamu bisa hidup seenak ini?" sang mama menuding kan jari telunjuknya ke wajah Linus.
Linus tersenyum, ia tau sang mama sampai kapan pun tidak akan pernah merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Dan mama gak peduli, kamu harus deketin Clara agar mama bisa mendapatkan peluang untuk kerja sama dengan perusahaan Tian grup, kalau tidak kita hanya akan mengandalkan kelaurga Rena sebagai rekan bisnis kecil yang tidak berguna itu untuk membantu kita, mama juga gak peduli kalau dia pacarnya Raja, jika bisa rebut ya rebut! Kamu gak kau kan menikah dengan Rena setelah lulus nanti?" sang mama yang sangat tau kalau Linus tidak menyukai Rena menjadikan ini sebagai ancaman untuk Linus agar mendapatkan Clara.
Setelah mewanti-wanti sang anak, Maya segera keluar dari kamar Linus sambil membanting kuat pintu kamar.
Rasa kecewa semakin besar, tidak ada yang menyayangi nya di rumah itu, rasanya ingin sekali saat ini Linus segera bertemu Clara dan menjadikan wanita itu sebagai satu-satunya rumah ternyaman tempat ia pulang, namun mengingat Clara adalah pacarnya Raja ia juga tidak bisa berbuat banyak meksipun rasa cinta di hati semakin lama semakin bergejolak.
Awalnya ia memang tertarik dengan Clara karena mengingat nya dengan Cery, namun waktu merubah semuanya ia menaruh rasa cinta itu tidak peduli dengan siapa Clara sebenarnya.
"Mama memang keterlaluan, tapi aku juga gak akan mau bertunangan dengan Rena, perempuan itu sama sekali gak ada baik-baik nya sama seperti mama selalu menyimpan kelicikan. Kalau gitu gak ada cara lain selain merebut Clara dari Raja," Linus mengepalkan tangan kirinya sambil mengeratkan gigi pertanda kalau ia sudah benar-benar yakin akan apa yang harus ia lakukan.
Singkat cerita, lima hari pun segera berlalu, tidak terasa sudah hampir dua Minggu Clara merawat Linus dan tangan Linus juga sudah mulai bisa bergerak dan tidak mengunakan arm Sling lagi.
Seperti biasa hari ini Clara dan Raja berangkat sekolah bersama, karena Linus sudah bisa mengendarai mobil nya sendiri.
Saat ini Clara berjalan di samping Raja, mereka menyusuri koridor sekolah untuk pergi ke kelas masing-masing sebelum bel pelajaran di mulai.
"Linus udah sembuh kan? Lo gak perlu ngerawat dia lagi kan mulai hari ini?" tanya Raja sambil memegang pundak sang adik.
Clara menghentikan langkahnya dan menatap Raja dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kenapa? Jangan bilang dia masih belum setuju kalau Lo udah gak ngerawat dia lagi?" Raja penasaran dan hatinya mulai menebak-nebak.
"Semuanya udah selesai kak, aku gak perlu ngerawat dia lagi kok," jelas Clara sambil tersenyum hambar dan terlihat seperti terpaksa mengatakan itu.
Mendengar jawaban Clara, seketika senyum di bibir Raja mengembang hatinya yang awalnya khawatir kini segera berubah menjadi sangat lega dan puas.
"Bagus, itu artinya Lo gak perlu ke rumah dia lagi," tutur Raja sambil memegang kedua pundak Clara.
Namun Raja segera kembali bingung dengan wajah sedih dan tidak bahagia Clara.
"Lo kenapa? Ada apa? Cerita Sam gue sekarang, Lo kelihatan gak seneng," paksa Raja.
"Clara!" tiba-tiba seseorang berteriak memanggil Clara dan berjalan ke arah mereka.
"Della, ada apa?" Raja kesal dan melihat Della yang tiba-tiba memangil dan membuat obrolan mereka jadi tertunda.
"Kak Raja maaf, aku cuma di suruh Linus buat bilang sama Clara kalau nanti istirahat dia nungguin Clara di taman belakang sekolah, katanya ada yang mau di omongin sama Clara," jelas Della sedikit Terengah-engah.
"Dia mau ketemu gue? Ada apa? Bukan nya udah hampir dua Minggu ya udah selesai dong sekarang tugas gue, dia juga udah bisa bawa mobil sendiri tangan nya udah sembuh," jawab Clara sambil melirik Raja ia takut sang kakak curiga kalau sesungguhnya ia juga tidak mau mengakhiri semua ini karena terlalu nyaman dekat dengan Linus.
"Iya Clara bener, gue gak ngijinin dia buat ketemuan sama Linus," Raja mengengam erat tangan Clara.
Della yang melihat itu memasang wajah sedih, ia tau harus berusaha lebih keras lagi untuk memperjuangkan cinta mereka, ia masih berharap Raja bisa jadi milik nya dan sepupunya Linus benar-benar suka dengan Clara.
"Clara gue mohon sama Lo, keputusan ada di tangan Lo, mungkin aja dia mau bilang terima kasih karena dua Minggu terkahir Lo udah banyak bantuin dia, kak Raja juga plis jangan egois Linus juga bagian dari kak Raja karena dia sahabat kak Raja," Della berupaya membujuk Raja dengan memohon.
Raja melirik Clara, dia melihat kalau Clara sedang menyembunyikan sesuatu dari nya.
"Ini terserah Clara, gue udah gak mau ikut campur, intinya kalau setelah ini selesai gue ijini," setelah mengatakan itu, Raja kemudian melangkah kan kaki pergi dari hadapan Della dan melepaskan genggaman tangan nya dari Clara.
Clara tau kalau sang kakak sedang marah, dia juga tau itu bukan sekedar marah biasa, saat ini jelas-jelas sangat terlihat kalau Raja sedang cemburu.
Perkataan Linus kemarin saat di villa akans selalu ia ingat kalau Raja menyukai Cery dan dirinya adalah Cery meskipun sekarang berganti sebagai Clara dan posisi nya saat ini adik tiri Raja, perasaan Raja mungkin tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk di hapus begitu saja.
Saat ini Clara be benar-benar serba salah.
"Kak Raja udah setuju kayak nya, gimana sama jawaban Lo?" lirih Della.
"Oke," Clara menjawab singkat mungkin dan kemudian berlalu dari hadapan Della.
Della mengelus dada lega sambil mengacungkan jempol ke arah Linus yang sedari tadi bersembunyi dan mengawasi dari jauh.
Mendapatkan acungan jempol dari Della sungguh membuat nya sangat bahagia.
Sementara itu Rena juga melihat mereka dan mengetahui semuanya. Kalau istirahat pertama Clara dan Linus akan bertemu di taman belakang sekolah.
"Apa lagi yang bakal mereka lakuin? Gak gue gak bisa diem gini, gue harus ikutin mereka nanti dan harus tau apa yang bakal mereka omongin," batin Rena.
Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi, kini seluruh siswa dan siswi bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran pertama.
Sepanjang pelajaran pertama, Clara mulai tidak bisa fokus akan mata pelajaran, dia mulai memikirkan apa yang akan di lakukan Linus nanti, dan apa yang akan mereka bicarakan saat di taman belakang sekolah.
Della yang melihat gerak-gerik Clara tau kalau saat ini Clara sedang tidak fokus ia bisa menebak kalau Clara sedang memikirkan Linus.
"Sampai kapan mereka bakal nyembuyiin perasaan masing-masing? Si Linus gak mudah jatuh cinta, dengan Clara hanya butuh waktu dua Minggu dia bisa seantusias ini," batin Della.
"Apa yang harus gue lakuin ya? Rasanya udah capek banget jalanin sandiwara ini," batin Clara.
Tampa terasa, jam pelajaran pertama pun segera berakhir, ini adalah waktu di mana Clara dan Linus harus bertemu di taman belakang sekolah.
Clara segera membereskan buku-bukunya dan segera keluar dari kelas, ia berjalan ke arah taman belakang sekolah untuk menepati janji.
Sepuluh menit kemudian ia sudah tiba di taman belakang sekolah dan melihat kalau di sana tidak ada siapapun.
"Apa dia masih belum datang ya? Kok lama banget," batin Clara sambil sesekali melihat ke atas merasakan terik nya matahari yang menyengat kulit nya.
"Udah lama nunggu?" ujar seseorang yang tiba-tiba menepuk pundak Clara.
Hal ini membuat Clara sedikit kaget dan berbalik menatap seseorang yang menepuk pundak nya, yang ternyata orang tersebut adalah Linus.
"Linus, kok Lo lama banget, gak lihat ya seberapa panas nya ini?" ujar Clara ngedumel.
"Udah jangan ngomel, nih minum dulu," ternyata Linus membawa sebotol air mineral dingin untuk Clara ia membeli nya di kantin sebelum pergi ke taman.
"Makasih," jawab Clara sambil meraih air tersebut dari tangan Linus.
"Gak usah basa-basi,Lo ajak gue ke sini mau ngapain?" Clara tudepoin ia masih saja terlihat galak meskipun jantung nya berdegup kencang saat berhadapan dengan laki-laki yang ia amat cintai itu.
"Besok adalah hari terakhir Lo ngerawat gue, biarpun gue udah terlihat sehat tapi kan ini masih tiga belas hari masih ada dua puluh empat jam buat jadi empat belas hari atau dua Minggu,itu artinya Lo masih ada kewajiban buat gue dua puluh empat jam, iya kan?" jelas Linus panjang lebar.
"Hah? Jadi Lo ajak gue ketemu di sini cuman gara-gara waktu yang masih belum cukup? Linus Lo gila apa gimana sih? Jelas-jelas Lo udah sembuh, gue gak mau ada dua puluh empat jam atau apa lah itu semacamnya," omel Clara tidak terima.
"Clara, gue cuma mau ngabisin waktu dua puluh empat jam buat sama-sama sama Lo, karena Lo udah jagain gue dengan baik jadi gue pengen besok kita jalan-jalan lagi, sebagai tanda terima kasih gue, meskipun gak dua puluh empat jam seharihan juga gak apa-apa, gue mohon Clara pliss," Linus menyatukan dua telapak tangan nya untuk memohon kepada Clara.
"Gue gak butuh ucapan terima kasih dari Lo, gue ikhlas, emang nya elo, nolongin orang gak Ikhlas, udah lah gak perlu, lagian besok sekolah," Clara hendak berbalik pergi meninggalkan Linus.
Namun hal ini tidak membuat Linus putus asa,ia meraih pergelangan tangan Clara dan mengengam nya dengan erat, membuat langkah gadis itu terhenti.
"Gue udah ijin sama guru, plis Clara temenin gue besok ya," lagi-lagi Linus memohon.
Hal ini membuat Clara tidak tega, ia memang terlihat galak namun rasa cinta nya mengalahkan segalanya.
Bersambung ....