NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Gerahnya Si Musuh Lama

Kabar kemenangan kontrak V-Group dengan Mr. Chen ternyata menyebar sangat cepat, seperti api yang menyambar rumput kering. Di sebuah kantor mewah yang pencahayaannya remang-remang, Rian membanting gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping.

​"Sialan! Kok bisa tukang ojek sarungan itu yang menang?! Harusnya proyek logistik itu jatuh ke tangan saya!" bentak Rian dengan wajah merah padam.

​Anak buahnya yang bernama Baron hanya bisa menunduk ketakutan. "Maaf Bos, katanya si Guntur itu punya strategi yang nggak masuk akal. Dia bawa-bawa jaringan ojek bawah tanah, Bos."

​Rian tertawa sinis, matanya terlihat sangat licik. "Ojek bawah tanah? Halah, paling cuma gertakan sambal. Siapkan orang-orang kita! Kita kasih 'hadiah' selamat datang buat Guntur di Jakarta. Jangan biarkan satu truk pun keluar dari gudang V-Group besok!"

​Sementara itu, di kamar hotel, Guntur sedang asyik selonjoran di atas karpet bulu yang mahal. Dia sudah kembali ke "setelan pabrik": sarungan dan kaos singlet putih. Rokok kreteknya sudah habis separuh, asapnya mengepul memenuhi ruangan.

​Tok! Tok! Tok!

​Vanesha masuk ke kamar Guntur dengan pakaian santai. Dia langsung menutup hidungnya begitu mencium aroma tembakau yang kuat. "Guntur! Kamu ini di hotel bintang lima, kenapa aromanya jadi kayak pangkalan ojek begini?!"

​Guntur cuma nyengir tanpa dosa. "Walah Mbak V, hotel bintang lima itu kurang mantap kalau nggak ada aroma kreteknya. Pripun? Ada apa ke sini? Kangen ngetawain saya lagi?"

​Vanesha duduk di kursi kerja dengan raut wajah serius. "Guntur, saya baru dapat kabar. Rian sudah mulai bergerak. Besok pagi ada pengiriman pertama ke pelabuhan, dan saya yakin mereka bakal cegat truk kita di jalan."

​Guntur menarik napas dalam, lalu mengembuskan asap rokoknya pelan-pelan. "Nggeh, sudah saya duga. Rian itu tipe orang yang nggak bisa lihat orang lain makan enak. Tenang saja, Mbak V. Naga kalau sudah ngeluarin geni, preman satu kelurahan pun bakal jadi sate."

​"Kamu jangan sombong dulu! Mereka itu punya banyak massa, Guntur. Apa rencanamu?" tanya Vanesha khawatir.

​Guntur berdiri, dia mengambil ponsel jadulnya lalu mengetik pesan singkat. "Rencananya simpel. Kita buat drama 'Truk Kosong'. Biar anak buah Rian capek-capek ngerampok angin, sementara barang aslinya lewat jalur-jalur yang nggak bakal kepikiran sama otak pas-pasannya si Rian."

​Vanesha melongo. "Maksud kamu?"

​"Sampeyan cukup siapkan truk-truk yang kelihatan mewah buat umpan. Biar saya yang ngatur teman-teman ojek di sini buat ngawal barang lewat gang-gang tikus. Jakarta ini luas Mbak, tapi buat ojek, nggak ada jalan yang buntu," jelas Guntur dengan mata yang tajam.

​Vanesha terdiam sejenak, lalu mengangguk. Dia mulai percaya pada kegilaan Guntur. "Oke, saya kasih kamu wewenang penuh besok pagi. Tapi ingat, Guntur... jangan sampai kamu terluka. Saya nggak mau kehilangan mitra bisnis yang... eh, yang koplak kayak kamu."

​Guntur tertawa kencang. "Walah, Mbak V perhatian banget. Tenang saja, nyawa saya ini sudah saya laminating, nggak gampang sobek. Mending sekarang Mbak V istirahat, biar besok wajahnya nggak kayak Mak Lampir kurang tidur."

​Vanesha keluar dari kamar sambil tersenyum-senyum sendiri. Guntur kembali menatap jendela hotel yang tinggi. Dia tahu, besok bukan cuma soal bisnis, tapi soal pembuktian harga diri.

​"Rian, Rian... kamu salah pilih musuh. Melawan ojek kok di jalanan, sama saja nyemplung ke kandang macan," gumam Guntur sambil mematikan rokok kreteknya. Perang aslinya sudah dekat, dan Sang Naga sudah tidak sabar ingin menggulung musuh-musuhnya di atas aspal Jakarta.

Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Jakarta, tapi Guntur sudah sibuk di area parkir gudang V-Group. Dia kembali memakai jaket ojeknya yang legendaris di balik jas mahalnya yang sengaja dibiarkan terbuka. Di tangannya, sebatang rokok kretek sudah menyala, memberikan ketenangan sebelum badai dimulai.

​Vanesha datang dengan wajah cemas, memegang kopi kaleng. "Guntur, sepuluh truk kontainer sudah siap berangkat. Kamu yakin mereka bakal terpancing?"

​Guntur menyeringai, asap kretek keluar dari sela giginya. "Mbak V, orang serakah kayak Rian itu matanya cuma melihat yang besar-besar saja. Truk itu umpan yang terlalu manis buat dilewatkan. Sampeyan tenang saja, duduk manis di kantor dan pantau GPS."

​Iring-iringan truk kontainer mulai bergerak keluar gudang. Benar saja, baru sepuluh menit berjalan, di daerah industri yang sepi, beberapa mobil hitam mendadak memotong jalan. Puluhan pria berwajah sangar turun membawa balok kayu dan besi.

​"Berhenti! Turun kalian semua! Serahkan surat jalan dan kuncinya!" teriak Baron, anak buah kepercayaan Rian, sambil memukul kap truk terdepan.

​Guntur yang ternyata ada di dalam kabin truk pertama, turun dengan santai. Dia masih sempat-sempatnya menghisap rokok kreteknya dalam-dalam sebelum menatap Baron dengan tatapan meremehkan.

​"Walah, Mas... pagi-pagi sudah olahraga angkat besi ya? Semangat bener," ucap Guntur sambil nyengir koclok.

​Baron kaget melihat Guntur. "Oalah, jadi kamu yang mimpin pengiriman ini? Bagus! Kamu bisa lihat gimana bisnis kamu hancur hari ini. Buka pintu kontainernya!"

​Dengan gaya pasrah yang dibuat-buat, Guntur menyerahkan kunci. "Nggeh pun, kalau Masnya maksa. Tapi hati-hati ya, isinya sangat berharga. Jangan sampai kaget."

​Baron tertawa puas dan segera membuka pintu kontainer dengan kasar. Begitu pintu terbuka, matanya melotot. Bukannya tumpukan barang elektronik mahal atau suku cadang mesin, kontainer itu kosong melompong. Hanya ada satu bungkusan plastik besar di tengah-tengah.

​"Apa ini?! Kosong?!" teriak Baron marah. Dia merobek bungkusan plastik itu, dan isinya ternyata adalah ribuan brosur ojek pangkalan dengan tulisan besar: "ANDA KURANG BERUNTUNG, COBA LAGI TAHUN DEPAN!"

​Guntur tertawa terbahak-bahak sampai jongkok di aspal. "Gimana Mas? Suka hadiahnya? Barangnya sudah sampai di pelabuhan lewat jalur belakang lima belas menit yang lalu dikawal seratus motor ojek. Sampeyan sih, fokusnya ke truk gede terus, lupa kalau yang kecil-kecil itu lebih lincah."

​Wajah Baron merah padam. "Sialan! Habisi dia!"

​Namun, sebelum Baron sempat bergerak, suara raungan knalpot motor yang sangat bising terdengar dari segala arah. Ratusan ojek pangkalan muncul dari gang-gang sempit, mengepung mobil-mobil anak buah Rian. Guntur berdiri, membuang puntung rokoknya, dan menatap Baron dengan dingin.

​"Di Jakarta, sampeyan mungkin punya uang. Tapi di jalanan, saya punya saudara. Mau lanjut main atau mau saya antar pulang pakai jasa antar paket?" tantang Guntur.

​Melihat jumlah massa yang tidak seimbang, Baron dan anak buahnya lari terbirit-birit masuk ke mobil dan kabur meninggalkan lokasi. Guntur kembali menyulut rokok kretek barunya, menatap debu jalanan yang ditinggalkan musuhnya.

​Dia segera menelepon Vanesha. "Mbak V, misi sukses. Umpan dimakan, barang aman. Siapkan bonus buat teman-teman ojek ya, mereka mau makan pecel lele porsi dobel malam ini."

​Vanesha di seberang telepon menarik napas lega. "Kamu benar-benar gila, Guntur. Tapi makasih ya... Naga Sidoarjo."

​Guntur menutup teleponnya sambil tersenyum puas. Dia menatap langit Jakarta yang mulai panas. Perang babak pertama dimenangkan oleh si ojek sengklek. Sang Naga membuktikan bahwa kecerdasan jalanan jauh lebih mematikan daripada sekadar otot dan kekuasaan.

​"Rian, skor satu kosong buat anak kampung. Siap-siap serangan balik ya, karena Naga kalau sudah lapar, nggak bakal berhenti sebelum lawannya gosong," gumam Guntur sambil naik ke motornya dan melesat membelah kemacetan Jakarta.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!