NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anonim yang Semakin Berani

Ekantika membalas tatapan itu dengan wajah datar, tanpa senyum, tanpa emosi. Tubuhnya tegak, kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia sengaja tidak berdiri menyambutnya, membiarkan Riton merasa kecil di hadapannya.

"Selamat pagi, Pak Riton," Ekantika berkata, suaranya tajam dan formal. "Silakan duduk." Ia menunjuk kursi di depan mejanya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Riton mengangguk canggung, lalu berjalan mendekat. Matanya memindai ruangan, lalu kembali ke Ekantika. Ada sedikit gurat kelelahan di bawah matanya, seolah ia juga tidak tidur nyenyak. Aku tahu rasanya, Ton.

"Selamat pagi, Bu Ekantika," Riton membalas, suaranya lebih rendah dari biasanya. Ia mengeluarkan kartu akses Ekantika dari saku kemejanya. "Saya datang untuk mengembalikan kartu akses Ibu yang tertinggal semalam."

Ekantika tidak bergerak. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya, telapak tangan terbuka, tanpa ekspresi. "Terima kasih atas bantuan Anda. Itu sangat penting bagi saya."

Riton meletakkan kartu itu di telapak tangan Ekantika. Jemarinya sekilas menyentuh kulit Ekantika, dan sebuah sensasi listrik menjalari lengan Ekantika. Ia cepat-cepat menarik tangannya, seolah sentuhan itu membakar. Jangan, Ekantika. Jangan hancurkan semua usahamu.

"Lain kali, tolong lebih berhati-hati, Pak Riton," Ekantika berkata, suaranya dingin dan menusuk. "Kartu ini berisi akses ke seluruh sistem keamanan perusahaan. Jika jatuh ke tangan yang salah, dampaknya bisa sangat besar."

Riton mengerutkan keningnya. "Saya mengerti, Bu. Maafkan saya. Saya akan lebih berhati-hati lain kali."

"Tidak ada lain kali," Ekantika membalas, nadanya final. Ia meletakkan kartu itu di samping laptopnya, seolah benda itu tidak berarti apa-apa baginya. "Lagipula, mengapa Anda masih di sana selarut itu? Apa Anda ada urusan khusus dengan pemilik kafe?" Ia sengaja melontarkan pertanyaan itu, untuk melihat reaksinya.

Riton terlihat sedikit terkejut. "Saya... hanya mengobrol sebentar, Bu. Soal hal umum." Ia tampak mencari kata-kata yang tepat. "Lagipula, saya melihat 'Tante Nana'—maksud saya, Nona Nana—kembali ke kafe untuk mencari kartu itu. Jadi saya pikir sekalian saja saya kembalikan hari ini."

"Nona Nana?" Ekantika bertanya, pura-pura tidak mengerti. "Siapa Nona Nana?" Ia sengaja menggunakan aksen yang lebih berat, lebih formal.

Riton menatapnya bingung. "Itu... keponakan Ibu, kan? Yang semalam bilang kartu ini tertukar di tasnya."

Ekantika menatapnya lurus, tanpa berkedip. "Saya tidak punya keponakan bernama Nana. Dan saya juga tidak pernah menitipkan tas saya pada siapa pun." Nadanya datar, seolah menyatakan fakta yang tak terbantahkan. Maafkan aku, Riton. Maafkan aku sudah berbohong padamu. Maafkan aku harus sekejam ini.

Wajah Riton berubah pucat. Matanya melebar, dan ia memandang Ekantika seolah Ekantika adalah orang asing yang baru ia temui. Sebuah bayangan pahit melintas di wajahnya. Ekspresi itu, ekspresi terluka yang mengingatkan Ekantika pada cerita Riton tentang mantan pacarnya yang manipulatif. Hati Ekantika mencelos. Aku menghancurkannya lagi.

"Tapi... dia bilang," Riton tergagap, suaranya tercekat. "Dia bilang Ibu adalah tantenya. Dia juga mirip sekali dengan Ibu."

Ekantika tertawa sinis, tawa yang kering dan tanpa kehangatan. "Mirip? Saya rasa Anda salah orang, Pak Riton. Saya Ekantika Asna. Saya tidak punya waktu untuk permainan seperti itu. Mungkin keponakan fiktif Anda itu hanya modus penipuan." Ia sengaja menekan kata "penipuan," berharap Riton akan mengaitkannya dengan Nana dan membencinya.

Riton terdiam. Ia menatap Ekantika, mencoba mencari celah, mencoba mencari kehangatan yang ia rasakan semalam dari Nana. Tapi yang ia lihat hanyalah seorang CEO yang dingin dan tanpa belas kasihan, terbungkus dalam riasan tebal dan power suit mahal. Ekantika bisa melihat Riton berusaha keras untuk menyangkal apa yang ia dengar, namun kata-katanya terlalu tajam.

"Baik, Bu Ekantika," Riton akhirnya berkata, suaranya terdengar hampa. Ia berdiri dari kursinya. "Kalau begitu, saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktu Anda."

Ia berbalik, hendak melangkah keluar. Setiap langkahnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk hati Ekantika. Ia ingin memanggilnya, ingin menjelaskan, ingin memeluknya dan mengatakan bahwa ini semua adalah bohong. Tapi ia tidak bisa. Ia sudah terlalu jauh.

"Tunggu, Pak Riton," Ekantika memanggil, suaranya kembali ke nada CEO yang berwibawa. "Saya mendengar perusahaan Anda, Aksara Digital, akan mengikuti tender Proyek Garuda kami. Saya harap Anda akan bersaing secara profesional. Saya tidak suka kekalahan."

Riton menoleh sedikit, tatapan matanya kini bercampur antara kekecewaan dan sedikit rasa jengkel. "Tentu saja, Bu Ekantika. Kami akan bersaing secara profesional. Saya juga tidak suka bermain curang." Kata "curang" itu seolah dilontarkan khusus untuk Ekantika, menusuk langsung ke ulu hatinya.

Ia berjalan ke pintu. Tangan Ekantika mengepal di bawah meja, kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Jangan lihat ke belakang, Riton. Pergi saja.

Tiba-tiba, Riton berhenti di ambang pintu. Ia tidak berbalik, namun ia menghirup udara dalam-dalam, seolah mencium sesuatu.

"Bu Ekantika," Riton berkata, suaranya pelan, nyaris berbisik. "Parfum ini... sangat familiar."

Ekantika membeku. Parfum itu. Parfum yang ia pakai, yang Dimas pilihkan khusus agar berbeda dari Nana. Aroma melati dan kayu cendana itu kini terasa seperti jerat.

Riton berbalik, tatapan matanya kini menembus riasan tebal Ekantika, menembus topeng dinginnya. Ada kilatan baru di matanya. Kilatan dari seseorang yang mencari.

"Parfum ini... sangat familiar," ulang Riton, matanya menyipit, menatap langsung ke mata Ekantika.

Ekantika merasakan seluruh tubuhnya menegang, seolah setiap ototnya membatu. Aroma melati dan kayu cendana itu kini terasa mencekik, bukan lagi misterius seperti yang Dimas janjikan. Dia curiga. Dia tahu. Habislah aku. Namun, di hadapan tatapan menusuk Riton, instingnya sebagai CEO yang tangguh menolak untuk menyerah. Ia tidak akan membiarkan Riton melihat kerentanan itu.

"Apa yang Anda maksud, Pak Riton?" Ekantika berkata, suaranya sedingin es, berusaha keras untuk terdengar tidak terpengaruh. "Parfum ini adalah edisi terbatas. Mungkin kebetulan Anda pernah menciumnya di tempat lain. Banyak orang memakai parfum branded."

Riton tidak mengalihkan pandangannya. Ada yang bergejolak di matanya, seperti badai yang baru mulai terbentuk. "Mungkin. Atau mungkin saya hanya terlalu cepat menarik kesimpulan." Ia menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba mencerna sesuatu yang terasa janggal. "Saya permisi, Bu Ekantika. Terima kasih untuk... waktu Anda."

Ia berbalik, melangkah keluar. Setiap langkahnya terasa seperti gema di koridor hati Ekantika. Ia memperhatikan Riton berjalan keluar, punggungnya tegak, namun ada aura kekecewaan yang kentara. Pintu tertutup, meninggalkan Ekantika sendirian di ruangan yang terasa begitu dingin.

Ekantika ambruk di kursinya, mengembuskan napas panjang. Tangan gemetar. Rasa dingin menjalar dari ujung kepala hingga kaki. Dia curiga. Dia tahu. Dia pasti sudah mulai menghubungkan semua potongan puzzle. Keheningan di ruangan itu terasa memekakkan, dipenuhi oleh bisikan rasa bersalah dan ketakutan yang menggerogoti.

"Dimas," Ekantika memanggil, suaranya serak. Ia tahu Dimas pasti masih menguping di luar.

Pintu terbuka, dan Dimas masuk dengan wajah cemas. "Bu? Apa semuanya baik-baik saja?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!