“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kau telah melanggar ajaran paman Han!
Liu Shen menoleh perlahan. Wajahnya sedingin es, tanpa ada sedikit pun kilat penyesalan atau ketakutan. "Aku mencari uang untuk obat Paman. Jika dunia tidak mau memberi secara sukarela, maka aku akan mengambilnya dengan paksa. Aku akan merobeknya dari leher mereka jika perlu."
"Ini bukan cara kita! Kau gila!" teriak Lu Ming. Ia menerjang maju dan mencengkeram kerah baju Liu Shen yang basah. "Paman Han mengajari kita pedang untuk bertahan hidup dan melindungi diri, bukan untuk menjadi pembunuh bayangan! Kau telah mengotori semua kehormatan yang ia ajarkan pada kita!"
"Kehormatan?!" Liu Shen menghempaskan tangan Lu Ming dengan kekuatan yang mengejutkan. "Ideologimu yang sok suci itu tidak akan menyelamatkan nyawanya, Lu Ming! Kau ingin dia mati dalam kemiskinan dan kehinaan sementara orang-orang ini membuang sisa daging mereka ke anjing peliharaan? Aku lebih baik menjadi iblis dan membantai seluruh kota ini daripada harus melihat ayahku mati karena lapar!"
"Ini salah! Paman tidak akan mau hidup dengan darah orang lain!" Lu Ming melayangkan tinjunya.
Pukulan itu mendarat di pipi Liu Shen, bukan karena benci, melainkan karena rasa sakit yang luar biasa melihat saudaranya telah melewati batas yang tak bisa kembali.
Liu Shen menangkis serangan berikutnya dengan mudah.
Ia menarik bilah kayu latihannya yang kini terasa seperti senjata pembunuh sungguhan di tangannya. "Kau terlalu lemah, Lu Ming. Kau terlalu pengecut untuk mengotori tanganmu sendiri demi orang yang paling kau cintai."
Pertarungan pecah di bawah guyuran hujan badai. Itu bukan lagi latihan persaudaraan yang mereka lakukan di bawah sinar fajar.
Setiap hantaman kayu, setiap tangkisan, dan setiap tendangan membawa rasa kecewa dan duka yang mendalam.
Lu Ming bertarung dengan isak tangis yang menyesakkan, sementara Liu Shen bertarung dengan kemarahan dingin yang meluap-luap.
Brak!
Lu Ming terhempas ke tumpukan tong kayu yang hancur. Ia terengah-engah, menatap Liu Shen dengan tatapan yang hancur berkeping-keping. "Jika kau membawa uang berdarah ini pulang… Paman Han tidak akan pernah memaafkanmu. Dia akan mati dalam rasa malu."
"Aku tidak butuh dimaafkan oleh siapa pun," desis Liu Shen, matanya berkilat tajam di kegelapan. "Aku hanya butuh dia tetap bernapas."
Mereka berlari kembali ke gubuk dengan sisa tenaga yang ada. Liu Shen menggenggam erat kantong koin emas itu seolah itu adalah nyawa Paman Han sendiri.
Namun, saat pintu gubuk yang reyot itu terbuka, suasana di dalam terasa sangat berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu dingin.
Paman Han masih terbaring di atas dipannya. Namun, tidak ada lagi suara batuk yang menyiksa.
Tidak ada lagi suara napas berat yang berjuang melawan maut.
Tangannya yang kasar dan penuh kapalan terkulai lemas di samping dipan, menggenggam sepotong kain kecil yang sudah usang, jimat keberuntungan milik Lu Ming yang dulu pernah dipinjamkannya kepada Paman Han saat pria itu sakit sakitan.
Paman Han telah pergi. Ia mati dalam kesunyian yang mencekam, di tengah kemiskinan yang ia benci, hanya beberapa menit sebelum koin-koin berdarah itu sempat sampai ke hadapannya.
"Paman… tidak… Paman!" Lu Ming jatuh berlutut di samping dipan. Ia meraung, memeluk tubuh yang sudah mulai mendingin itu dengan hancur.
Isak tangisnya memenuhi ruangan sempit tersebut, menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.