NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Duduk sendirian di kursi kayu itu, Sulthan kembali tenggelam dalam lamunannya. Suasana rumah yang sepi, hanya diisi suara angin yang berhembus pelan dari celah jendela, membuat pikirannya melayang jauh kembali pada masalah utamanya: restu orang tua dan jalan menuju pernikahan.

Dia teringat kembali kekhawatirannya tempo hari. Perbedaan status sosial yang begitu lebar, latar belakang yang bagaikan bumi dan langit, serta pandangan kaku ayahnya yang sangat menjaga gengsi keluarga Aditama. Sulthan sadar betul, jika dia datang begitu saja dan berkata ingin menikahi Nurlia, kemungkinan besar penolakan keras akan dia terima. Ayahnya pasti akan marah besar, menganggap keputusannya gegabah, dan menganggap Nurlia hanyalah gadis miskin yang ingin mencari keberuntungan.

Di tengah keheningan itu, sebuah pemikiran nakal dan licik tiba-tiba muncul begitu saja di benak Sulthan, terlintas begitu cepat namun cukup kuat untuk membuatnya terkejut sendiri.

"Bagaimana kalau aku menyetubuhinya sekarang saja?" bisik suara kecil di hatinya.

Pikiran itu terus berkembang liar tanpa bisa dia cegah.

"Kalau aku menyetubuhinya, menjadikannya wanita milikku sepenuhnya, dan membuatnya hamil anakku... semuanya akan berubah. Di keluarga kami, harga diri dan tanggung jawab adalah segalanya. Begitu Ayah dan Ibu tahu Nurlia mengandung cucu mereka, mereka pasti tidak akan berani menolak lagi. Demi nama baik keluarga, demi anak yang ada di dalam kandungan Nurlia, mereka pasti akan memaksa kami menikah secepatnya. Dengan begitu, jalan yang sulit itu akan menjadi mudah. Semua rintangan runtuh hanya dengan satu langkah..."

Bayangan itu terasa begitu menggoda sekaligus menakutkan. Dia membayangkan Nurlia yang polos dan lugu, berada sendirian di rumah kecil ini, sangat mudah untuk dia dekati dan miliki. Membayangkan tubuh ramping gadis itu, kulitnya yang halus, dan wajahnya yang memerah malu saat dipeluk, membuat hasrat dalam diri Sulthan perlahan mulai bangkit kembali.

Di balik celana jeansnya, burungnya kembali merespons imajinasi itu. Terasa hangat dan menegang, mulai berniat untuk berdiri tegak lagi seperti saat di mobil tempo hari. Rasa ingin memiliki, rasa ingin merasakan kenikmatan bersatu dengan kekasihnya itu, bergemuruh hebat di dalam dada Sulthan.

Namun...

Seketika itu juga, Sulthan mengerutkan keningnya kuat-kuat, lalu dia menggelengkan kepalanya dengan kasar seolah ingin membuang pemikiran kotor itu jauh-jauh. Wajahnya berubah menjadi serius dan sedikit menyesal telah berpikir sejauh itu.

"Gila! Apa yang aku pikirkan ini?!" hardik Sulthan pada dirinya sendiri.

Dia sadar, ide itu memang efektif dan mungkin akan menyelesaikan masalah restu dalam sekejap mata, tapi caranya sangatlah salah, sangat kotor, dan sangat tidak terpuji.

Menghamili wanita di luar nikah? Itu sama saja dengan melecehkan, mencoreng nama baik, dan memanfaatkan kepolosan wanita yang paling dia cintai dan hormati di dunia ini.

Sulthan menghela napas panjang, menekan dadanya yang terasa sesak karena rasa bersalah.

"Bagaimana mungkin aku tega melakukan itu pada Nurlia? Wanita sebaik dia, wanita sesuci dia, wanita yang begitu menjaga diri dan hidupnya dengan kejujuran... bagaimana mungkin aku malah berniat menjatuhkannya ke dalam dosa dan aib hanya demi kemudahanku sendiri?" batinnya bergumam penuh penyesalan.

Bagi Sulthan, Nurlia bukan sekadar pemuas nafsu atau benda yang bisa dimiliki sesuka hati. Nurlia adalah wanita mulia yang dia cintai dengan sepenuh jiwa. Wanita yang dia hormati, wanita yang ingin dia lindungi, dan wanita yang ingin dia jadikan ratu di dalam hidupnya.

Perbuatan seperti itu sangat tidak etis, sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya, dan sama sekali tidak mencerminkan rasa cinta sejati. Itu bukan cinta, tapi nafsu dan kepicikan semata.

"Kalau aku benar-benar mencintainya, aku harus berjuang dengan cara yang benar. Aku harus mendapatkan restu itu dengan kehormatan, bukan dengan paksaan atau jalan pintas yang kotor. Aku harus membuktikan ke Ayah dan Ibu bahwa Nurlia layak, bukan menjebak mereka dengan kenyataan pahit," tekad Sulthan semakin bulat dan jernih.

Dia tidak ingin hubungan suci mereka dimulai dengan dosa. Dia ingin menyentuh Nurlia, ingin bersatu dengannya, dan ingin melihatnya mengandung serta melahirkan anak-anak mereka kelak, tapi hanya setelah halal sudah terikat resmi di antara mereka. Hanya saat itu, sentuhan itu akan menjadi berkah dan kebahagiaan yang sempurna.

Menyadari itu, Sulthan segera berusaha sekuat tenaga untuk mengusir jauh-jauh segala bayangan kotor dan hasrat yang tadi sempat muncul. Dia menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kencang serta meredakan ketegangan di bagian bawah tubuhnya. Dia memaksa pikirannya beralih ke hal-hal lain, memikirkan pekerjaan, memikirkan rencana masa depan, apa saja asal tidak membayangkan tubuh kekasihnya.

Perlahan namun pasti, rasa panas itu mereda. Tonjolan di celananya pun kembali lunak dan tenang. Sulthan tersenyum lega pada dirinya sendiri, merasa bangga karena dia berhasil menaklukkan hawa nafsunya demi kehormatan wanita yang dicintainya.

Belum sempat pikiran-pikiran itu hilang sepenuhnya, terdengar suara langkah kaki kecil mendekat dari arah dapur.

"Maaf menunggu ya Tuan..."

Sulthan mendongak, dan melihat Adelia berjalan masuk dengan hati-hati. Di tangannya yang mungil, gadis remaja itu membawa sebuah nampan kayu sederhana. Di atasnya terdapat satu gelas kaca berisi teh hangat yang masih mengepulkan asap wangi, dan ada sedikit gula merah yang mengendap di dasarnya.

Adelia berjalan dengan penuh kehati-hatian agar airnya tidak tumpah. Wajahnya tampak serius namun sopan, berusaha melakukan yang terbaik seperti pesan kakaknya. Dia meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil yang ada di depan Sulthan, lalu menarik tangan kembali dan berdiri tegak dengan sikap hormat.

"Ini teh hangatnya Tuan. Maaf ya cuma bisa menyajikan yang sederhana saja. Tidak ada kue atau camilan apa-apa di rumah," ucap Adelia sopan, wajahnya sedikit tertunduk malu. Dia ingat betul siapa tamu ini, dan betapa besar jasanya bagi keluarga kecil mereka.

Sulthan langsung tersenyum lebar, menatap Adelia dengan pandangan yang sangat lembut dan ramah, jauh berbeda saat dia menatap karyawan atau rekan bisnisnya. Dia sangat menyayangi adik kekasihnya ini, menganggapnya seolah adik kandungnya sendiri.

"Makasih banyak ya, Del. Wah, baunya harum sekali lho. Ini sudah lebih dari cukup kok," jawab Sulthan ramah. Dia mengambil gelas itu, merasakan kehangatan menyebar ke telapak tangannya. "Jangan minta maaf terus ya. Justru ini minuman paling nikmat yang pernah aku dapatkan hari ini. Terima kasih sudah bersusah payah membuatkan untukku."

Mendengar pujian itu, wajah Adelia langsung berseri-seri. Rasa gugup dan malunya hilang seketika. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Sulthan dengan kagum. Ternyata benar kata Kak Nurlia, Tuan Sulthan ini memang orang yang sangat baik, ramah, dan tidak sombong sama sekali meski orangnya kaya raya.

"Sama-sama Tuan. Kakak Nur lagi cuci muka dan ganti baju sebentar kok, nanti pasti sudah datang lagi," kata Adelia ceria, berani mengajak ngobrol tamu istimewa itu.

Sulthan mengangguk, menyesap sedikit teh hangat itu, rasanya manis dan sederhana namun terasa begitu nikmat di tenggorokannya. Dia merasa lega, pemikiran buruk tadi sudah hilang digantikan oleh suasana hangat dan kekeluargaan yang mulai terjalin di rumah kecil ini.

Beberapa menit berlalu, suara langkah kaki halus terdengar mendekat dari arah belakang rumah. Sulthan yang sedang menyesap teh hangat buatan Adelia, langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah pintu penghubung ruang tengah.

Munculah Nurlia.

Kini penampilannya sudah jauh berbeda dibanding saat baru pulang tadi. Wajahnya sudah bersih sepenuhnya dari debu dan keringat, terlihat segar dan bercahaya alami. Rambut hitam panjangnya yang tadi dikuncir kuda, kini dibiarkan terurai jatuh indah menutupi bahu, disisir rapi dan berkilau terkena sinar matahari sore yang masuk dari celah jendela.

Baju yang dia kenakan pun sudah berganti. Itu adalah baju terbaik dan terbagus yang dia miliki, simpan rapi di dalam lemari kecilnya untuk dipakai saat ada acara penting atau tamu datang. Berbahan katun halus berwarna biru muda bermotif bunga kecil-kecil, modelnya sederhana, potongannya longgar dan sopan. Bagi Nurlia, ini adalah baju paling istimewa yang dia punya. Namun, dia sadar benar, di mata Sulthan yang biasa dikelilingi kemewahan, baju ini mungkin terlihat biasa saja, sederhana, dan tidak berharga apa-apa. Nurlia pun sedikit menunduk, merasa canggung dan khawatir penampilannya masih kurang pantas.

Tapi bagi Sulthan, pemandangan di hadapannya itu jauh lebih berharga daripada wanita-wanita cantik bergaun mahal dan penuh perhiasan yang biasa dia temui di acara pesta mewah.

Sulthan terpaku sejenak, matanya tak berkedip menatap kekasihnya itu. Wajah Nurlia yang bersih tanpa riasan sedikit pun justru memancarkan keindahan yang tulus dan suci. Kulitnya halus, matanya bening dan bersinar, serta senyum manis yang selalu terpasang di bibirnya itu... sungguh pesona yang tak dimiliki wanita lain mana pun.

"Ya Allah... cantik sekali kamu, Nur," ucap Sulthan lirih, suaranya penuh kekaguman yang tak disembunyikan.

Kalimat pujian itu keluar begitu saja dari mulutnya, jujur dan murni dari lubuk hatinya yang paling dalam. Bukan karena bajunya, tapi karena wajah dan jiwanya. Bagi Sulthan, Nurlia saat ini terlihat jauh lebih cantik daripada siapa pun yang pernah dia kenal.

Mendengar pujian itu, wajah Nurlia seketika memerah padam hingga ke telinga. Dia menundukkan wajahnya semakin dalam, jari-jarinya saling meremas di depan perutnya karena malu bercampur bahagia.

"Ah... Tuan ini ada-ada saja," jawab Nurlia pelan, suaranya terdengar malu-malu namun sangat manja. "Baju saya ini cuma kain biasa saja... Tuan pasti sudah biasa lihat wanita cantik dan berpakaian bagus. Jangan menggoda saya terus ya..."

Sulthan tertawa renyah melihat tingkah polah kekasihnya itu. Dia menggeleng pelan, lalu mengulurkan tangan kanannya, memberi isyarat agar Nurlia mendekat.

"Siapa yang menggoda? Aku bicara apa adanya kok. Di mataku, kamu selalu yang tercantik, apa pun yang kamu pakai," jawab Sulthan lembut. "Ayo sini, duduklah di sebelahku. Jangan berdiri terus di sana."

Nurlia mengangguk pelan, lalu melangkah ragu-ragu mendekat. Dia pun duduk di sisi sebelah kanan Sulthan, di ujung kursi kayu itu, duduknya sangat sopan dan rapat, masih terasa ada jarak sedikit meski sudah diizinkan duduk berdampingan.

Sementara itu, di sudut ruangan sebelah, di balik dinding pembatas yang tidak terlalu tinggi, terlihat ujung kepala dan bahu Adelia yang sedang mengintip diam-diam. Gadis remaja itu pura-pura sibuk menunduk melihat layar ponselnya, jari-jarinya bergerak seolah sedang bermain atau menggeser layar, tapi matanya sesekali melirik tajam ke arah kakaknya dan tamu istimewa itu.

Adelia tersenyum-senyum sendiri menahan tawa. Dia melihat betapa lembut dan perhatiannya Tuan Sulthan pada kakaknya, dan betapa malu serta bahagianya wajah Nurlia. Di hati Adelia, dia merasa sangat senang. Dia berharap tamu baik hati ini memang benar-benar jodoh terbaik untuk kakaknya yang sudah berjuang mati-matian demi dirinya. Melihat kedekatan mereka berdua, hati Adelia terasa hangat dan lega.

Di ruang tamu, obrolan pun mengalir hangat dan akrab. Sulthan memulai percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan ringan namun mendalam. Dia ingin mengenal lebih jauh kehidupan wanita yang dicintainya ini.

"Gimana sekolah Adelia sekarang, Nur? Lancar kan pelajarannya? Ada kesulitan nggak?" tanya Sulthan lembut, matanya menatap Adelia sekilas yang langsung menunduk malu saat ketahuan mengintip.

"Alhamdulillah lancar sekali, Tuan. Adelia itu pintar dan rajin. Nilai-nilainya selalu bagus. Dia memang suka belajar kok," jawab Nurlia dengan nada bangga. "Kehidupan kami sehari-hari ya begini saja Tuan. Saya berangkat pagi ke restoran, pulang sore, terus bersih-bersih rumah. Adelia ke sekolah, pulang belajar, bantu saya di rumah kalau ada waktu luang. Kami berdua cukup bahagia kok dengan apa yang ada, meski kadang pas keuangan lagi sempit ya... ya makan seadanya saja. Yang penting bisa bertahan dan Adelia tetap sekolah."

Sulthan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Nurlia dengan saksama. Hatinya kembali terasa perih mendengar perjuangan mereka, namun juga kagum luar biasa atas ketabahan dan rasa syukur Nurlia. Gadis ini tidak pernah mengeluh, selalu menerima takdirnya dengan senyum dan keikhlasan.

"Kamu hebat sekali, Nur... benar-benar wanita luar biasa," puji Sulthan tulus.

Lalu, Sulthan sedikit menggeser duduknya, mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Nurlia, membuat jantung gadis itu kembali berdegup kencang. Sulthan menatap mata Nurlia dalam-dalam, tatapan yang penuh kasih sayang dan kepemilikan.

"Nur... ada satu hal yang mau aku minta sama kamu," ucap Sulthan pelan namun tegas.

"Apa itu Tuan? Apa saja yang Tuan minta, akan saya usahakan sebisa saya," jawab Nurlia sigap.

Sulthan tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.

"Nah, itu dia. Mulai sekarang, jangan panggil aku 'Tuan' lagi ya," kata Sulthan lembut tapi sungguh-sungguh.

Nurlia tertegun, matanya mengerut bingung. "Lho... lho terus kalau bukan Tuan... lalu apa, Tuan?"

"Kan sekarang status kita sudah berubah," jelas Sulthan sabar. "Kamu sudah jadi kekasihku, pacarku, wanita yang aku cintai. Sudah bukan lagi hubungan majikan dan pelayan, bukan lagi orang asing. Masa pacaran masih dipanggil 'Tuan'? Rasanya kaku sekali, jauh sekali. Aku ingin kamu memanggilku 'Mas' saja. Sama seperti pasangan lain pada umumnya. Aku ingin kita dekat, akrab, dan santai satu sama lain."

Mendengar permintaan itu, wajah Nurlia langsung berubah merah padam lagi. Dia menunduk gugup, tangannya meremas ujung bajunya.

"Ma-maaf... tapi rasanya canggung sekali, Tuan... eh ma-maksud saya..." Nurlia terbata-bata, salah sebut karena gugup. "Saya kan cuma gadis biasa, miskin, sedangkan Tuan... eh Mas... eh, saya bingung. Tuan kan orang besar, orang kaya, terhormat. Rasanya tidak pantas kalau saya panggil 'Mas', itu panggilan untuk orang yang setara saja kan? Saya jadi merasa tidak sopan."

Bagi Nurlia, memanggil seorang CEO besar, anak orang terkaya di Surabaya, dengan sebutan akrab seperti 'Mas' terasa sangat berat dan tidak layak. Dia merasa ada dinding tebal yang memisahkan status mereka.

Tapi Sulthan tidak mau mendengar alasan itu. Dia mengangkat tangan besarnya, meraih tangan kecil Nurlia, menggenggamnya erat dan hangat. Sentuhan itu membuat getaran hangat menjalar ke seluruh tubuh Nurlia.

"Buatku, perbedaan harta dan jabatan itu tidak ada artinya sama sekali, Nur. Di matamu, aku cuma laki-laki biasa yang jatuh cinta padamu. Dan di mataku, kamu adalah wanita paling mulia dan berharga, jauh lebih berharga dari semua hartaku. Jadi jangan merasa rendah diri ya," bujuk Sulthan lembut. "Ayo coba panggil sekali saja. Coba ucapkan... 'Mas'."

Nurlia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Sulthan yang memohon dengan penuh harap. Dia melihat ketulusan di sana, melihat betapa Sulthan menginginkan keakraban itu. Dia menarik napas panjang, memberanikan diri sekuat tenaga, menyingkirkan rasa canggung dan rasa tidak pantas itu.

Bibirnya bergetar pelan, suara halus dan manja pun terdengar nyaris berbisik.

"Ma... Mas..."

Itu terdengar sangat pelan, sangat lemah, dan penuh rasa malu, tapi jelas terdengar di telinga Sulthan.

Seketika itu juga, senyum paling lebar dan paling bahagia merekah di wajah tampan Sulthan. Matanya berbinar cerah, hatinya terasa sangat puas dan bahagia mendengar panggilan itu keluar dari mulut kekasihnya. Rasanya begitu manis, begitu akrab, dan begitu pas.

"Nah... gitu dong. Bagus sekali," ucap Sulthan senang, sambil mengusap punggung tangan Nurlia dengan ibu jarinya penuh kasih sayang. "Terus begini saja ya panggilnya. Biar kita makin dekat, makin akrab, dan makin mengerti satu sama lain. Mas sangat suka mendengarnya."

Nurlia tersenyum lega dan bahagia, meski masih tersisa rasa malunya. Di sudut ruangan, Adelia yang mendengar itu pun tersenyum makin lebar, kembali menunduk ke layar ponselnya sambil bergumam pelan, "Nah gitu dong... enak didengarnya. Semoga langgeng ya Kak, Mas Sulthan..."

Suasana sore itu di rumah kecil itu terasa begitu hangat, damai, dan penuh cinta, seolah kemewahan dunia luar tidak ada artinya dibandingkan kebersamaan mereka yang sederhana namun tulus.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
Cimut (Kelinci Imut): Soalnya harus ada proses pendekatan dulu dong, gak tiba-tiba langsung pacaran, nanti kesannya alurnya maksa..
••
Apalagi Nurlia dan Sulthan awalnya orang asing yang belum kenal dekat.🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!