Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar—33
Suasana di dalam ruang tamu mansion pinggiran London yang semula tenang mendadak beralih fokus ketika Danny melangkah mendekati sebuah televisi layar berukuran besar yang tertempel di dinding ruang tengah. Pria jangkung itu mengambil kendali jarak jauh di atas meja, lalu menekan tombol daya.
"Semuanya, liat ini," ujar Danny rendah, menarik perhatian Pak Adinata, Jessica, dan Aletha yang masih duduk berkumpul di sofa.
Layar televisi itu seketika menyala, menampilkan siaran langsung dari salah satu stasiun berita internasional terkemuka, BBC World News. Di bagian bawah layar, sebuah teks berjalan berwarna merah menyala dengan tulisan berkedip—BREAKING NEWS.
Seorang reporter berita wanita berwajah serius dengan setelan blazer formal mulai berbicara dengan nada suara yang menggebu-gebu, menyampaikan informasi yang langsung membuat seisi ruangan itu menahan napas.
"Kami baru saja menerima laporan eksklusif mengenai skandal kemanusiaan terbesar tahun ini di wilayah hukum internasional. Sebuah dokumen rahasia yang bocor dari jaringan gelap mengungkap adanya operasi penculikan sistematis terhadap belasan ilmuwan dan peneliti kelas atas dunia yang sempat dinyatakan hilang atau tewas dalam kecelakaan misterius selama tiga tahun terakhir. Menurut sumber intelijen independen yang enggan disebutkan namanya, para ilmuwan ini diduga kuat masih hidup dan disekap di sebuah fasilitas laboratorium bawah tanah ilegal untuk dipaksa bekerja di bawah tekanan....."
Di belakang reporter berita tersebut, layar menampilkan beberapa foto buram dari fasilitas Elysium Project yang diambil dari sudut pandang satelit militer, lengkap dengan daftar nama serta foto beberapa ilmuwan dunia yang selama ini dianggap telah meninggal oleh publik.
Jessica melebarkan matanya sempurna, tangannya yang kurus membekap mulutnya sendiri karena rasa syok yang luar biasa. "Itu... itu foto-foto rekan penelitiku di laboratorium, Pah... Bagaimana bisa berita ini keluar di stasiun TV internasional?"
Pak Adinata juga tidak kalah terkejut. Pria paruh baya itu menatap layar televisi lalu beralih menatap calon menantunya dengan pandangan takjub. "Danny... jangan bilang kalau ini semua..."
Aletha menoleh ke arah Danny, menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman tipis yang penuh tebakan. Mode Ratu Kampusnya yang cerdas langsung bisa membaca arah permainan pria di sebelahnya ini. "Lo yang sengaja melempar bom ini ke media, kan, Dan?"
Danny tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas sebuah seringai tipisnya yang sangat menawan sekaligus berbahaya, lalu melirik ke arah Ody yang sedang berdiri tegak di dekat pintu dengan laptop taktis yang masih menyala di dekapannya.
"Berita itu memang sengaja di-up sama Ody atas perintah gue beberapa jam yang lalu, Tante, Om," jawab Danny santai, seolah baru saja menyelesaikan urusan kecil yang remeh. Pria jangkung itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memancarkan aura seorang penguasa sejati yang sedang mengendalikan jalannya papan catur.
Ody melangkah maju satu langkah, memberikan penjelasan tambahan dengan nadanya yang dingin namun profesional. "Betul, Nyonya Jessica. Atas perintah Tuan Danny, saya meretas jaringan komunikasi utama milik stasiun berita global dan mengirimkan sebagian berkas bukti tawanan Elysium Project yang sudah dikumpulkan oleh Samuel semalam. Kami sengaja menyebarkannya menggunakan jalur rahasua agar tidak bisa dilacak kembali ke markas kita."
"Tapi, Dan... apa gak bahaya kalau berita ini meledak?" tanya Aletha, nadanya terdengar sangsi meski matanya berkilat kagum. "Kalau organisasi hitam itu tahu datanya bocor, mereka bisa aja langsung memindahkan semua ilmuwan yang tersisa atau bahkan... melenyapkan mereka buat menghilangkan jejak."
Danny berjalan mendekati sofa, berdiri menjulang di depan Aletha lalu menatap lekat mata maroon gadis itu. "Justru itu poin utamanya, Tha. Ini yang dinamakan strategi mengunci pergerakan lawan sebelum mereka sempat melangkah."
Danny beralih menatap Pak Adinata dan Jessica secara bergantian, menjelaskan taktik bisnis dan militer tingkat tingginya yang sangat rapi.
"Gue sengaja menyuruh Ody naikkin berita ini ke media internasional sebagai bentuk serangan psikologis dan perlindungan buat Tante Jessica. Dengan meledaknya berita penculikan para ilmuwan ini di TV seluruh dunia, perhatian publik, interpol, dan lembaga kemanusiaan internasional sekarang bakal tertuju penuh pada kasus ini," jelas Danny panjang lebar, suara baritonnya terdengar begitu berwibawa.
"Organisasi hitam yang mengelola Elysium Project itu bergerak di bawah tanah karena mereka butuh kerahasiaan. Sekarang, setelah kedok mereka ditelanjangi di depan jutaan pasang mata, mereka gak bakal punya ruang buat bergerak bebas. Mereka gak bakal berani melenyapkan ilmuwan yang tersisa karena itu sama saja dengan bunuh diri di bawah pengawasan interpol yang mulai menyelidiki titik koordinat satelit tersebut," lanjut Danny dengan kilat mata elangnya yang tajam.
Samuel ikut menimpali dari balik laptopnya, "Dan yang paling penting, Nyonya Jessica... status Anda sekarang di mata dunia telah berubah dari 'korban tewas kecelakaan' menjadi 'korban penculikan yang sedang dicari'. Jika organisasi itu mencoba memburu Anda di London sekarang, mereka tidak lagi berhadapan dengan masalah, melainkan mereka akan memicu kasus kriminal internasional terbesar yang diawasi langsung oleh pemerintah Inggris dan otoritas global. Ditambah perlindungan dari Dirgantara Group, posisi Anda saat ini benar-benar tidak tersentuh."
Mendengar penjelasan yang begitu matang, taktis, dan tanpa celah dari Danny dan timnya, Pak Adinata menarik napas lega yang teramat dalam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, benar-benar kagum dengan cara kerja calon menantunya yang jauh lebih visioner dan berani daripada dirinya.
"Danny... Papa bener-bener gak tahu harus bilang apa lagi," ucap Pak Adinata dengan suara yang sarat akan rasa terima kasih yang tak terhingga. Pria paruh baya itu meremas pundak Jessica dengan erat. "Kamu bukan cuma menyelamatkan istriku dari tempat terkutuk itu, tapi kamu juga sudah mengunci mati pergerakan musuh-musuh kita sebelum mereka sempat membalas."
Jessica menatap Danny dengan pandangan yang penuh rasa haru dan takjub. Sebagai seorang ilmuwan yang terbiasa berpikir logis, ia tahu bahwa operasi yang dilakukan Danny melibatkan teknologi, biaya, dan risiko yang sangat masif. "Danny... terima kasih ya, Nak. Kamu bener-bener laki-laki yang luar biasa."
Danny hanya menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan, menerima pujian itu dengan ketenangan seorang pemimpin. "Ini sudah menjadi kewajiban saya, Tante. Sejak cincin pertunangan itu melingkar di jari Aletha, keselamatan keluarga ini adalah prioritas mutlak bagi saya."
Aletha yang mendengarkan kalimat itu merasa dadanya kembali berdesir hebat. Ia mendongak, menatap samping wajah tegas Danny yang tampak sangat tampan di bawah bias cahaya layar televisi yang masih menampilkan berita kepanikan dunia luar. Skenario kontrak pernikahan yang awalnya ia susun di pojokan kantin kampus sebagai bentuk pelarian ego, kini telah bertransformasi menjadi sebuah benteng pertahanan yang paling kokoh di dalam hidupnya.
Aletha bangkit berdiri dari sofa, melangkah mendekati Danny hingga jarak mereka mengikis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Danny dengan senyuman seringai tipisnya yang menawan—jiwa Ratu manipulasi yang tangguh telah kembali seutuhnya.
"Strategi yang bagus," bisik Aletha santai, nadanya terdengar menantang namun penuh rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. "Satu Jakarta semalam gempar gara-gara pertunangan kita, dan sekarang satu dunia gempar gara-gara berita lo. Lo bener-bener hobi bikin kekacauan yang estetik, ya?"
Danny terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar sangat renyah di antara dengung suara televisi. Ia menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Aletha hingga aroma mawar dari tubuh gadis itu kembali menyapa indra penciumannya.
"Kekacauan ini baru permulaan, Aletha," balas Danny dengan nada rendah yang penuh arti. "Besok, saat kita mulai menyiapkan pernikahan privat kita di London, gue bakal pastikan semua bajingan yang terlibat dalam kasus nyokap lo bakal berlutut di depan keluarga lo tanpa sisa. Jadi, persiapkan diri lo buat drama terbesar di hidup lo setelah ini."
Aletha tersenyum lebar, sebuah binar kemenangan terpancar dari sepasang mata maroon-nya. Di balik dinding mansion rahasia di London, dengan gema berita dunia yang sedang diguncang oleh taktik mereka, kedua orang yang keras kepala ini siap melangkah bersama menuju altar pernikahan—bukan lagi sebagai tawanan kontrak, melainkan sebagai sepasang penguasa baru yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan keluarga mereka.