NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 : Mobilnya di ikuti

Rosline masih berdiri kikuk di depan meja kerja Bara setelah mendengar perintah pria itu.

“Jangan pergi sendirian.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya entah kenapa.

Daniel yang sejak tadi berdiri di samping meja akhirnya angkat bicara. “Saya akan menyiapkan mobil, Tuan.”

"Iya."

Rosline mengangguk sopan. “Kalau begitu saya permisi dulu.”

Baru saja Rosline keluar dari ruang kerja dan kembali ke ruang tengah.

“Kau sudah mendapat izin?” tanya Kakek Alberto cepat penuh semangat.

Rosline mengangguk pelan. “Sudah, Tuan Besar.”

“Bagus!” Pria tua itu langsung tersenyum puas. “Cepat pergi sebelum Bara berubah pikiran.”

Rosline hanya bisa pasrah.

Beberapa menit kemudian Daniel sudah berdiri siap di dekat pintu depan mansion sambil memegang kunci mobil.

“Nona Rosline, mari.”

Namun tepat saat Rosline hendak melangkah keluar.

“Tunggu.” Suara Kakek Alberto membuat semua orang menoleh.

Pria tua itu menekan tombol pada kursi roda elektriknya untuk mendekati mereka, lalu menatap Daniel.

“Kau saja yang mengantar?”

Daniel langsung menunduk hormat. “Iya, Tuan Besar.”

Kakek Alberto langsung mendecak kecil. “Tidak bisa.”

Rosline berkedip bingung. “Hah, kenapa?”

Pria tua itu lalu menoleh ke arah ruang kerja Bara sambil berkata keras tanpa peduli, “Bara! Keluar sebentar!”

Rosline langsung panik kecil. Sedangkan Daniel hanya diam seperti sudah terbiasa.

Beberapa detik kemudian Bara keluar dari ruang kerjanya dengan wajah datar. “Ada apa lagi, Opa?”

“Kau yang mengantar Rosline.”

Rosline langsung membelalak. “Hah?!”

Bara juga langsung mengernyit tipis. “Untuk apa?”

“Kau pikir aku percaya pada Daniel soal makanan viral begitu?” gerutu Alberto santai. “Nanti dia asal membeli.”

Daniel tetap diam tanpa ekspresi.

Rosline buru-buru menggeleng cepat. “Ti-tidak perlu Tuan Besar! Pak Daniel saja sudah cukup!”

Namun Alberto justru menunjuk Rosline santai. “Lagipula aku takut gadis kurus itu melarikan diri.”

Rosline langsung melotot kesal. “Saya tidak akan pergi, Tuan!”

“Hahaha!” Alberto malah tertawa puas melihat reaksi spontan Rosline.

Wajah Rosline langsung cemberut kesal sendiri. “Tuan Besar menyebalkan,” ucapnya pelan nyaris tak terdengar.

Namun Alberto makin tertawa senang.

Sedangkan Bara berdiri diam sambil memperhatikan mereka beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar, “Aku sibuk.”

“Kau itu ketua Mafia kelas atas, kalau dia pergi dengan kau. Aku yakin semua aman terkendali.” balas Alberto santai.

Tatapan Bara sedikit berubah.

Pria tua itu lalu melanjutkan dengan nada lebih serius sekarang. “Semalam ada penyusup.” ucap Alberto pelan. “Kalau Rosline pergi hanya dengan Daniel, bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya di luar?”

Rosline langsung terdiam.

Daniel juga sedikit menunduk memahami maksud pria tua itu. Sedangkan Bara perlahan melirik Rosline yang kini berdiri kikuk sambil memegang tas kecilnya dengan erat.

Wajah gadis itu langsung tegang saat tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik suasana hening. Lalu…

“Siapkan mobil.” ucap Bara akhirnya singkat.

Daniel langsung mengangguk hormat. “Mobil sudah siap, Tuan.”

Rosline langsung membeku. Eh? Tunggu. Jadi…

“Tuan Bara ikut?” tanyanya pelan tidak percaya.

Bara berjalan melewatinya santai sambil mengambil kunci mobil dari tangan Daniel. “Ada masalah?”

Rosline langsung panik menggeleng cepat. “Ti-tidak ada!”

Namun dalam hati gadis itu justru menjerit sendiri. Astaga, kenapa malah jadi pergi berdua dengan pria menyeramkan itu?!

Rosline masih berdiri kaku dekat pintu mansion sambil memegang tas kecilnya erat. Sedangkan Bara sudah berjalan lebih dulu keluar tanpa menoleh sedikit pun.

Aura pria itu tetap dingin seperti biasa. Membuat Rosline langsung gugup sendiri.

Daniel segera membukakan pintu mobil hitam mewah itu dengan hormat. “Silakan Tuan. Nona.”

Rosline masuk perlahan ke kursi belakang. Namun beberapa detik kemudian ia langsung bengong saat Bara justru ikut duduk di sampingnya, bukan di depan. Jarak mereka otomatis jadi terlalu dekat. Rosline langsung duduk tegak kaku seperti papan.

Sedangkan Bara tetap tenang sambil membuka ponselnya lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Mobil mulai berjalan keluar dari gerbang besar mansion Alexander. Suasana di dalam mobil langsung hening total.

Rosline diam-diam melirik Bara sebentar. Pria itu terlihat sibuk membaca sesuatu di layar ponselnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi.

Namun justru itu yang membuat Rosline semakin gugup. “Kenapa justru jadi canggung begini sih…” gerutunya sangat pelan tanpa sadar.

“Hm?”

Rosline langsung membelalak panik. “Ti-tidak ada!”

Bara bahkan tidak menoleh. “Kau terlalu sering berbicara sendiri.”

Rosline langsung manyun, ia jadi malu sendiri.

Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya memasuki jalanan kota yang jauh lebih ramai. Banyak pusat perbelanjaan dan lampu toko terlihat di sepanjang jalan.

Rosline perlahan mulai sedikit tenang melihat suasana normal di luar sana. Sampai akhirnya…

“Kita ingin ke mana dulu?” tanya Bara tiba-tiba.

Rosline langsung tersentak kecil. “Hah?”

“Membeli makanan viral untuk Opa.” ulang Bara datar. “Tempatnya di mana?”

“Oh!” Rosline buru-buru membuka ponsel Kakek Alberto yang tadi masih ia pegang. “Sepertinya di pusat perbelanjaan daerah sini ada.”

Ia mulai membaca alamat dengan serius. Sedangkan Bara diam memperhatikannya sekilas.

“Kau sering makan makanan seperti itu?” tanya pria itu tiba-tiba.

Rosline menggeleng cepat. “Tidak juga…”

“Lalu kenapa kau tahu?”

“Karena teman-teman minimarket sering membicarakannya.”

“Oh...”

Rosline kembali melirik pria itu diam-diam. “Tuan Bara sendiri belum pernah makan, makanan seperti itu?”

“Tidak tertarik.”

Rosline langsung refleks bergumam kecil, “Pantas saja hidupnya tegang terus…”

Tatapan Bara langsung bergeser padanya perlahan.

Rosline langsung menutup mulut sendiri panik. “Sa-saya tidak bilang apa-apa!”

Daniel yang menyetir di depan sampai hampir tersedak menahan tawa. Sedangkan Bara hanya menatap Rosline beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil.

“Kalau kau takut padaku…” ucapnya rendah. “Kenapa mulutmu tetap berani?”

Rosline langsung salah tingkah luar biasa. “Itu refleks…”

Bara kembali melihat keluar jendela santai. “Refleks yang aneh.”

Rosline langsung cemberut kecil sendiri. Namun beberapa saat kemudian mobil tiba-tiba melambat.

Tatapan Bara langsung berubah tajam. “Ada apa?” tanyanya dingin.

Daniel sedikit mengernyit sambil melihat kaca spion. “Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita sejak keluar dari mansion, Tuan.”

Rosline langsung menegang. “Hah?”

Bara perlahan menoleh ke belakang melalui kaca mobil. Dan benar saja, sebuah mobil hitam lain terlihat tetap berada beberapa kendaraan di belakang mereka sejak tadi.

Tatapan Bara langsung berubah dingin menekan. “Jangan panik.” ucapnya singkat pada Rosline.

Namun justru ucapan itu membuat Rosline semakin panik. “Tu-Tuan…” suaranya mengecil. “Kita benar-benar sedang diikuti mafia ya?”

Tatapan Bara tetap lurus ke arah kaca belakang mobil. Wajahnya berubah jauh lebih dingin sekarang.

“Daniel.”

“Ya, Tuan.”

“Percepat.”

“Baik.”

Dan detik berikutnya…

Brummm!

Mobil hitam itu langsung melesat cepat membelah jalan raya.

“Ahh?!” Rosline refleks berpegangan kuat pada kursi karena tubuhnya terdorong ke belakang mendadak.

Matanya langsung membesar panik saat melihat pemandangan luar bergerak semakin cepat.

“Pa-Pak Daniel pelan sedikit!” serunya panik.

Namun Daniel tetap fokus menyetir dengan wajah serius. Sedangkan Bara masih memperhatikan mobil belakang melalui kaca spion dengan tatapan tajam.

Mobil hitam di belakang ternyata ikut mempercepat laju kendaraan mereka.

Rosline semakin pucat. “Dia... dia masih mengikuti kita?!”

“Hm.”

Jawaban Bara yang terlalu tenang justru membuat Rosline hampir menangis sekarang. Mobil kembali berbelok tajam melewati persimpangan jalan.

Sreettt!

“Ahhh!”

Rosline refleks kehilangan keseimbangan dan tanpa sadar langsung mencengkeram lengan Bara erat-erat.

“Tuan Bara saya mau turun saja!” ucapnya panik hampir menangis. “Saya tidak jadi beli makanan viralnya!”

Bara melirik sekilas tangan Rosline yang mencengkeram lengannya itu.

“Diam.” ucapnya rendah.

Rosline langsung makin ingin menangis. “Bagaimana saya bisa diam kalau hidup saya terasa seperti film mafia begini!”

Daniel sampai diam menahan ekspresi di depan. Sedangkan Bara justru terlihat tetap tenang luar biasa di tengah situasi itu.

Tatapannya kembali ke arah belakang. “Mobil plat hitam.” gumamnya dingin. “Sudah mengikuti sejak tiga lampu merah lalu.”

Rosline langsung makin merinding. “Tu-Tuan…” suaranya mulai gemetar sekarang. “Mereka mau membunuh kita?”

Bara menoleh padanya perlahan. “Kalau mereka memang berniat begitu…” ucapnya tenang tanpa emosi. “Mobil mereka sudah menabrak kita dari tadi.”

Rosline malah semakin pucat mendengar penjelasan setenang itu. “Tolong jangan bicara menyeramkan dengan nada sedatar itu…” lirihnya lemas.

Tiba-tiba Daniel kembali membelokkan mobil cepat ke jalur lain. Tubuh Rosline langsung oleng lagi. Dan kali ini tanpa sadar ia benar-benar menempel ke sisi Bara sambil memejam ketakutan.

“Nona Rosline.” suara Daniel terdengar hati-hati dari depan. “Maaf.”

“Ini bukan waktunya minta maaf Pak Daniel!” jawab Rosline hampir menangis.

Kini sudut bibir Bara terlihat bergerak tipis seperti hampir tersenyum melihat kepanikan gadis itu. Namun ekspresinya langsung kembali dingin saat ponselnya bergetar.

Bara mengangkat telepon cepat. “Ya.”

Suara salah satu anak buahnya terdengar dari seberang sana. “Tuan, mobil itu terdaftar menggunakan identitas palsu.”

Tatapan Bara langsung berubah tajam. “Mereka mulai bergerak lebih cepat dari perkiraan.”

Rosline yang mendengar itu langsung menelan ludah takut. Mulai bergerak? Perkiraan apa?!

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh…

“Sial.” Daniel mendadak bergumam pelan.

Bara langsung menatap depan.

Dan Rosline ikut membeku saat melihat dari kejauhan… satu mobil hitam lain perlahan berhenti melintang di tengah jalan seolah sengaja menghalangi mereka.

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!