Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Tawaran Berbahaya
Bab 4 — Tawaran Berbahaya
Pagi datang bersama langit mendung yang menggantung di atas desa kecil tempat Amelia Santoso tinggal.
Udara terasa dingin.
Namun pikirannya jauh lebih berat dibanding cuaca hari itu.
Sejak semalam, Amelia hampir tidak bisa tidur.
Kartu nama hitam pemberian pria asing itu masih berada di genggamannya. Tulisan alamat di sana terlihat sederhana, tetapi entah kenapa membuat perasaannya tidak tenang.
Ia duduk di depan rumah kayu kecilnya sambil memandangi halaman yang dipenuhi bunga liar.
Biasanya tempat itu selalu membuatnya merasa damai.
Namun kali ini tidak.
Batuk keras terdengar dari dalam rumah.
Amelia langsung bangkit panik.
“Nenek!”
Ia berlari masuk menuju kamar.
Di atas ranjang, Nenek Hana terlihat kesulitan bernapas sambil memegangi dadanya.
Wajah wanita tua itu pucat.
Sangat pucat.
Amelia segera membantu neneknya duduk.
“Napas perlahan, Nek… pelan-pelan…”
Tangannya gemetar saat mengambil air minum.
Nenek Hana berusaha tersenyum kecil meski tubuhnya lemah.
“Aku tidak apa-apa…”
Namun Amelia tahu itu bohong.
Kondisi neneknya semakin memburuk setiap hari.
Dan ia tidak punya cukup uang untuk membawa neneknya ke rumah sakit kota.
Rasa takut mulai memenuhi dadanya.
Takut kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
“Nenek harus diperiksa dokter,” ucap Amelia pelan.
Nenek Hana menggeleng lemah.
“Kita tidak punya uang sebanyak itu.”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Amelia.
Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis.
Kemiskinan benar-benar kejam.
Kadang bukan hanya merampas kenyamanan…
tetapi juga harapan.
Siang harinya, Amelia pergi ke klinik kecil desa untuk membeli obat seadanya.
Namun harga obat naik lagi.
“Maaf, Amelia,” kata penjaga apotek tua itu pelan. “Aku tidak bisa memberimu utang terus-menerus.”
Amelia menunduk malu.
“Iya… aku mengerti.”
Ia menghitung uang receh di tangannya.
Tidak cukup.
Bahkan jauh dari cukup.
Dengan langkah pelan, Amelia keluar dari klinik sambil menahan sesak di dadanya.
Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik.
Ia berdiri diam cukup lama di bawah atap toko sambil memikirkan satu hal.
Pekerjaan itu.
Tawaran dari pria asing tersebut.
Entah kenapa hatinya mengatakan itu berbahaya.
Namun keadaan memaksanya.
“Amelia!”
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Raka Pradipta berjalan mendekat sambil membawa payung.
“Aku mencarimu sejak tadi.”
Amelia tersenyum kecil.
“Kau sedang tidak bekerja?”
“Ayahku yang menjaga toko hari ini.”
Raka memperhatikan wajah Amelia cukup lama.
“Kau menangis?”
Amelia cepat menggeleng.
“Tidak.”
Namun Raka tahu Amelia sedang berbohong.
Ia sudah mengenal gadis itu sejak kecil.
“Bagaimana kondisi Nenek Hana?”
Pertanyaan itu membuat Amelia terdiam.
Raka langsung mengerti jawabannya.
Pria itu menghela napas pelan lalu menyerahkan kantong kecil berisi obat.
“Aku sudah membelinya.”
Mata Amelia membesar kaget.
“Raka, aku tidak bisa menerima ini.”
“Bisa.”
“Tapi—”
“Amelia.”
Nada suara Raka berubah serius.
“Aku tidak suka melihatmu menderita seperti ini.”
Tatapan pria itu begitu tulus hingga Amelia merasa bersalah.
Namun sebelum ia sempat bicara—
“Aku akan pergi ke kota besok malam.”
Raka langsung membeku.
“Apa?”
Amelia menunduk pelan.
“Ada pekerjaan.”
“Pekerjaan apa?”
“Aku belum tahu pasti…”
“Kau bahkan tidak tahu pekerjaannya?” suara Raka mulai terdengar khawatir. “Amelia, itu berbahaya.”
“Aku tidak punya pilihan lain.”
“Kita bisa mencari cara lain!”
Amelia tersenyum pahit.
“Cara apa?”
Raka terdiam.
Karena ia sendiri tahu keadaan Amelia memang sudah terlalu sulit.
“Aku hanya ingin Nenek sembuh,” lanjut Amelia lirih.
Hujan turun semakin deras.
Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Instingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika Amelia pergi.
Namun ia juga tahu…
ia tidak punya hak menghentikannya.
Malam turun perlahan di desa kecil itu.
Hujan rintik-rintik mulai terdengar di atap rumah kayu milik Amelia. Lampu minyak kecil menerangi ruang sederhana yang terasa hangat meski penuh kekurangan.
Amelia sedang duduk di lantai sambil menghitung uang receh hasil jualannya hari ini.
Satu lembar.
Dua lembar.
Lalu beberapa koin kecil.
Hanya itu.
Dan jumlahnya bahkan belum cukup membeli obat untuk seminggu.
Amelia menunduk pelan.
Dadanya terasa sesak.
Ia sudah bekerja setiap hari tanpa berhenti.
Menjual bunga.
Membuat roti.
Membantu warga desa.
Namun kemiskinan seolah tidak pernah benar-benar meninggalkan hidup mereka.
Batuk pelan terdengar dari kamar.
Amelia segera menyimpan uangnya lalu berjalan masuk.
Nenek Hana tampak duduk sambil memegangi dadanya.
“Nenek kenapa?”
“Tidak apa-apa… hanya sedikit sesak.”
Amelia langsung mengambil air hangat.
Tatapan matanya dipenuhi kekhawatiran.
Sudah beberapa bulan terakhir kondisi neneknya semakin memburuk.
Namun mereka bahkan tidak mampu pergi ke rumah sakit besar di kota.
“Nenek harus istirahat.”
Nenek Hana tersenyum kecil sambil mengusap kepala Amelia.
“Kau lelah sekali akhir-akhir ini.”
Amelia menggeleng pelan.
“Aku tidak lelah.”
Padahal wajahnya jelas terlihat lemah.
Lingkar hitam samar muncul di bawah matanya karena kurang tidur dan terlalu banyak bekerja.
Wanita tua itu memandang cucunya cukup lama.
Lalu suaranya berubah lirih.
“Maafkan Nenek.”
Amelia langsung menatapnya bingung.
“Kenapa Nenek bilang begitu?”
“Aku membuat hidupmu sulit.”
Kalimat itu membuat hati Amelia terasa nyeri.
Ia segera menggenggam tangan neneknya erat.
“Jangan bilang seperti itu.”
“Kalau tidak ada Nenek…”
suara Amelia mulai bergetar,
“Aku sudah sendirian sejak kecil.”
Mata Nenek Hana perlahan berkaca-kaca.
Wanita tua itu tahu Amelia terlalu banyak menderita di usia muda.
Namun gadis itu tidak pernah mengeluh.
Tidak pernah membenci keadaan.
Dan justru itu yang membuatnya semakin sedih.
Tok tok.
Suara hujan semakin deras di luar.
Amelia membantu neneknya berbaring lalu menyelimuti tubuh lemahnya perlahan.
“Nenek tidur saja.”
“Kau juga harus istirahat.”
Amelia mengangguk kecil.
Namun setelah lampu kamar dimatikan…
ia tidak langsung tidur.
Ia kembali duduk sendirian di ruang depan rumah sambil memandangi kartu nama hitam pemberian pria asing tadi siang.
Tangannya gemetar pelan.
Hatiku tidak tenang…
batinnya.
Tapi ia juga tahu satu hal.
Kalau ia tidak melakukan sesuatu…
mungkin neneknya tidak akan bertahan lama.
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
Amelia buru-buru menghapusnya.
Ia tidak boleh menangis.
Ia harus kuat.
Demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Sementara itu…
di Palermo…
suasana mansion keluarga Moretti terasa jauh lebih dingin.
Lorenzo Moretti berdiri di balkon lantai atas sambil memandangi kota malam yang dipenuhi cahaya.
Di tangannya terdapat segelas whiskey.
Namun pikirannya tidak setenang wajahnya.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Marco De Luca berdiri di belakangnya.
“Anak buah Romano mulai bergerak di wilayah utara.”
Lorenzo tetap diam.
“Mereka menyerang salah satu gudang kita.”
Tatapan Lorenzo perlahan berubah dingin.
“Berapa korban?”
“Tujuh orang.”
Sunyi.
Angin malam berhembus pelan menerbangkan ujung jas hitam Lorenzo.
Lalu perlahan…
ia tersenyum tipis.
Namun senyum itu terasa lebih menyeramkan daripada kemarahan biasa.
“Kalau Romano ingin perang…”
suaranya rendah dan tenang,
“aku akan memberinya neraka.”
Marco diam.
Karena ia tahu:
saat Lorenzo bicara setenang itu…
seseorang pasti akan mati.
Malam semakin larut.
Amelia masih duduk memandangi kartu nama hitam itu.
Pikirannya penuh ketakutan.
Namun saat mendengar batuk lemah neneknya dari kamar sebelah…
ia akhirnya menutup mata pelan.
Dan mengambil keputusan.
Besok malam…
ia akan pergi ke kota.
Tanpa ia sadari—
langkah kecil itu akan membawanya langsung menuju takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.