Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 11: Chat yang slalu di tunggu
*Jam 10:03 pagi. Klinik Karawaci.*
Indry baru selesai input 12 berkas BPJS. Kepala berasap, maag mulai nyengat lagi karena dari pagi cuma minum air putih. Dia ambil jatah istirahat 5 menit. Duduk di kursi admin, sandarin punggung. Pegang HP pelan-pelan.
Layar nyala. Notifikasi WA. Nama “Zaki Zt”.
Jantungnya langsung aneh.
Indry tau banget notif siapa itu, nggak mungkin Meta kalo cuma sekali, atau group keluarga, atau group klinik.
Hati Indry menghangat sambil jantung deg-degan, Layar Hp di balik, Tuuuhhhkan dia.
Sebenarnya Chat yang baru-baru ini slalu di tunggu-tunggu Indry.
Zaki: _“Sudah makan?”_
Kirim jam 10:02. Satu menit lalu.
Indry baca. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tangannya gemetar sampai mau jatuhin HP.
15 tahun. Dia rindu kata itu dalam diam.
Bukan “aku kangen”. Bukan “aku cinta”. Cuma “sudah makan”. Tapi rasanya kayak ditampar pelan-pelan sama waktu.
Ventolin di tas kayak nggak perlu keluar. Dada yang tadi sesak karena BPJS, sekarang adem sendiri.
Dia balas pelan. Takut keburu-buru. Takut kedengeran pengen banget.
Indry: _“Udah. Kamu?”_
Zaki: _“Baru. Nasi Padang.”_
Kirim jam 10:08
Selesai. Tiga baris. Tapi Indry bisa duduk diam 10 menit cuma ngeliatin layar itu. Nggak balas lagi. Nggak berani.
Meta dari meja sebelah ngintip. Dia nggak butuh bukti. Dia udah hapal muka Indry kalau lagi “kesurupan Zaki”.
Meta: “WOY! ITU ZAKI KAN?! GUE LIAT NAMA DIA! DIA CHAT KAN?!”
Indry pura-pura fokus ke layar antrian pasien. “Iya. Nanya udah makan.”
Meta: “CUMA ITU?! sETELAH 15 TAHUN CUMA ‘UDAH MAKAN’?!”
Indry: “Iya Met. Cuma itu. Tapi cukup.”
Meta nggak puas. Tapi dia tau kalau Indry udah senyum, berarti dunia aman.
*Jam 6:17 sore. Perjalanan pulang.*
Indry naik ojek online.
Jalanan Karawaci macet kayak biasa. Dia nggak dengerin lagu. Dia dengerin suara HP di saku.
Getar lagi.
Zaki: _“Sampai kost an hati-hati ya.”_
Indry balas cepat, takut keburu hilang momen: _“Iya. Kamu juga.”_
Sampai kost, Ogah belum pulang sekolah.
Kost sepi.
Indry masuk kamar, taruh tas, baru berani buka chat lagi. Dia ulang baca 7 kali. Kayak lagi baca Mantra.
“Udah makan”. “Hati-hati”.
Sederhana. Tapi 15 tahun nggak ada yang ngomong gitu ke dia.
Dia nggak lapor grup. Nggak lapor Meta. Dia mau simpan sendiri dulu. 15 tahun dia simpan sendiri. Nggak apa nambah satu malam lagi.
*Jam 11:12 malam. Kost Karawaci.*
Indry baru selesai berdoa. Rosario pink muda masih di Tegal, dibawa Zaki waktu ketemuan di stasiun. Meja kosong. Tapi rasanya nggak sepi.
HP getar. Voice call dari Zaki.
Indry tarik napas panjang. Tangan gemetar waktu geser “jawab”.
“Haloo…” Suaranya pelan, takut kebesaran.
Zaki: “Indry… kamu udah tidur?”
Indry: “Belum. Baru berdoa.”
Zaki: “Aku juga. Baru selesai cuci wajan.”
Diem 5 detik. Nggak canggung. Nggak ada yang maksa ngobrol. Justru tenang. Kayak dulu duduk di teras Bu Inah pulang dari Misa.
Zaki: “Mauba gimana? Masih heboh abis wisuda?”
Indry ketawa kecil: “Masih. Tadi VC minta resep martabak kamu. Katanya mau belajar buat brangkali jadi tambahan usaha.” aaahhh sebenarnya hanya nambah bahan obrolan saja, Mauba mana rajin masak, tapi kadang suka nyoba nyoba resep kalo lagi rajin.
Zaki ketawa. Suara itu. Suara yang 15 tahun Indry simpan di kepala. Suara yang bikin dia nggak jadi lupa cara ketawa.
Mereka ngobrol 17 menit. Nggak ada yang romantis. Nggak ada yang baper. Cuma tanya kabar Carel, tanya Paul, tanya Ogah, tanya ventolin, tanya maag.
Tapi Indry nggak bisa tidur habis itu. Dia ulang baca chat Zaki dari pagi. Dia ulang denger suara Zaki di kepala.
Indry senyum senyum sendiri malam itu, seolah bibirnya gerak tanpa diperintah. Bunga-bunga di hatinya juga bermekaran sampai wanginya semerbak kecium ama Ogah yang diam- diam dari tadi ngintipin kakaknya dari balik pintu kamar.
"Dasar Bucin lewat usia... " "Si kakak kayaknya beneran lagi jatuh cinta ya... "
Ogah geleng-geleng sambil balik ke teras depan main Game lagi.
*Besoknya. Jam 6:45 pagi. Bangun tidur.*
Indry buka IG. Story Zaki: foto bahan baku jamu segerobak, Tumpukan Kelapa Tua yang siap dikupas, caption “Pagi”.
Indry upload story: foto bubur ayam di meja, caption “Sarapan”.
Zaki lihat. Indry lihat Zaki lihat. Saling tunggu. Saling nahan.
Jam 9:03 pagi,
Zaki chat: _“Buburnya habis?”_
Indry: _“Habis. Makasih.”_
Zaki: _“Besok makan nasi ya.”_
Indry senyum sendiri. Meta lewat bawa kopi, langsung nyadar.
Meta: “WOY! DIA STALKING STORY LU! DIA NGINTIP LU MAKAN APA! ROMANTIS DIAM! GUE REKAM YA!”
Indry rebut HP. “HAPUS MET! JANGAN SEMBARANGAN!”
Meta ketawa: “TENANG, GUE SIMPEN DI HATI. SAMA KAYA LU SIMPEN ZAKI 15 TAHUN.”
"Ide gak usah sebut sebut 15 taun mulu, berasa Tua percuma gua... "
Meta, "Ndry, lu kagak Tue, Kalender aja yang kecepetan Ganti. "
Indry, "Ada aja lu... "
*Malamnya. Jam 9:47.*
Indry baru pulang dari klinik. Capek. Tapi ada notif yang bikin capeknya hilang.
Zaki: _“Tidur ya Indry. Besok kerja.”_
Indry balas: _“Iya. Kamu juga.”_
Baru dia taruh HP, Meta udah nyelonong masuk kamar. Rambut acak, bawa dua gelas teh hangat.
Meta: “DRY! NGAKU! LU CHAT ZAKI KAN?! LU TELPON KAN?! LU STORY-STORYAN KAN?!”
Indry diem. Nggak bisa bohong. Muka udah ketahuan.
Meta: “WOY! GUE TUH SAHABAT! GUE BERHAK TAU! LU NGOMONG APA 17 MENIT?! LU BILANG KANGEN NGGAK?!”
Indry lempar bantal., "Meta meta....apa sih yang kamu gak tau...sini, aku lagi pengen sandaran, oleng ni aku.... "
Meta mode siap bahu,,, "ya aku taulah jangankan getar HP kamu, kentut kamu aja aku tau meski nggak bunyi.... " bathin Meta.
“Nggak Met. Cuma tanya kabar. Tanya Ogah. Tanya ventolin.”
Meta: “Gitu doank ya, apa susah nya sih kalian berdua tu,bilang kangen kek, sayang kek, ?!”
Indry ketawa. “Iya. Cuma itu. Tapi cukup.”
Meta diem. Terus ngangguk pelan. “Yaudah. Tapi gue lapor grup ya. Biar mereka nggak kepo ke lu langsung.”
*Jam 10:15 malam.
Grup WA “Keluarga AndreBetari” meledak.*
Meta yang kirim voice note panjang. Suaranya heboh kayak wartawan infotainment.
Meta: “BREAKING NEWS! KAK INDRY CHAT ZAKI! ZAKI CHAT KAK INDRY! TADI TELPON 17 MENIT! STORY-STORYAN! TANYA UDAH MAKAN! TANYA UDAH TIDUR! ROMANTIS DIAM LEVEL DEWA!”
Carel balas 2 detik kemudian.
Carel: “TELPON 17 MENIT?! KAK! JANGAN BURU-BURU! KAK BERHAK DAPAT YANG LEBIH MAPAN! ZAKI EMANG BAIK, PUNYA USAHA, GAK ADA YANG LAEN? KAK INDRY KEPALA KELUARGA! JANGAN BIKIN KAMI KECEWA!”
Paul ngetik panjang.
Paul: “CAREL BENER! KAK INDRY KATOLIK! ZAKI MUSLIM! KAK MAU PINDAH AGAMA?! JANGAN KAK! KAK KEPALA KELUARGA! KAK WALI MAUBA! KAK WALI OGAAH! KAK JANGAN BIKIN DEONI NANGIS LAGI DARI ATAS! LINGKUNGAN RUMAH KITA GIMANA?!”
Mauba ngetik pelan.
Mauba: “PAUL JANGAN NAKUTIN! ZAKI ORANG BAIK! DIA JAGA KAK WAKTU SAKIT! DIA NAIK KERETA JAM 1 MALAM! DIA BAWA BUBUR! DIA BAWA VENTOLIN! ITU LAKI-LAKI! BUKAN COWO ABAL-ABAL!”
Mauba ngomong gitu ada maunya, dia lagi Pedekate sama anak Pak Ustad di dekat kampus, katanya dah hampir jadian, Indry pernah nasehati adik-adiknya agar setia di Jalan Keselamatan yang Tuhan sudah beri.
Ogah balas pakai stiker love.
Ogah: “GUE RESTU! YANG PENTING KAK INDRY BAHAGIA! DAN MARTABAK COKLAT GRATIS! KAK ZAKI JANJI KASIH GUE MARTABAK COKLAT KAN?!”
Grup rame. Carel vs Paul vs Mauba vs Ogah.
Indry baca semua. Nggak nangis. Nggak marah.
Dia paham. Adik-adiknya takut dia kecewa lagi. Takut dia milih yang salah. Takut dia ngorbanin iman, ngorbanin keluarga.
Meta yang jadi penengah. Dia kirim voice note panjang, suaranya tiba-tiba bijak.
Meta: “UDAH YA SEMUA! DENGER GUE! KAK INDRY DEWASA! DIA KEPALA KELUARGA! DIA TAU BATAS! DIA TAU ZAKI ALIM! KALAU EMANG JODOH, NGGAK ADA YANG BISA NGEHALANGIN! KALAU BUKAN, TUHAN YANG NUTUP JALAN! YANG PENTING SEKARANG KAK INDRY MAKAN! VENTOLIN ADA! KITA TIDUR! JANGAN BIKIN KAK INDRY STRES! NANTI MAAGNYA KAMBUH! NANTI GUE YANG JAGA MALAM!”
Grup sepi 10 detik.
Carel: “...iya kak Met. Maaf Kak. Kakak tau yang terbaik.”
Paul: “...iya Kak. Maaf. Aku cuma takut.”
Mauba: “Kak, kamu bahagia ya.”
Ogah: “KAK ZAKI MARTABAK COKLAT YA KAK!”
Indry baca semua. Dia nggak balas. Dia matiin HP.
Dia pejam mata.
Dia tau adik-adiknya sayang. Dia tau mereka takut.
Tapi dia juga tau… 15 tahun dia jaga hati ini. Nggak sembarangan.
Obrolah Group kembali membuat Indry Galau, lalu ingat Mama. ingat Ayah. Ingat Deoni. Indry selalu doa kan mereka, lalu hubungan ini, rindu ini, Zaki.. harus bagaimana....
*Jam 12:03 malam. Indry belum tidur.*
HP getar lagi. Zaki: _“Tidur ya Indry. Besok kerja.”_
Indry balas: _“Iya. Kamu juga.”_
Dia pejam mata. HP di dada.
Chat itu yang selalu dia tunggu. sekaligus yang bikin galau.
Bukan kata cinta.
Bukan janji nikah.
Cuma “tidur ya”. Dari orang yang lama nggak pernah lepas dari hati Indry.
Di Tegal, Zaki juga pejam mata.
Di saku, rosario pink muda masih hangat.
Dia nggak kirim rosario dulu. Dia nggak mau Indry ngerasa dipaksa.
Dia kirim chat dulu. Chat yang 15 tahun ditahan.
Kalau Indry balas… berarti ada jalan.
Kalau nggak… dia mundur. Diam-diam.
Grup WA “Keluarga AndreBetari” udah sepi.
Meta akhirnya tidur.
Ogah mimpi martabak coklat.
Carel masih mikir masa depan Kakaknya.
Paul masih mikir iman Kakaknya.
Mauba cuma berdoa Kakaknya bahagia, dan anak Pak Ustadz yang manis berkerudung itu.
Hujan kecil di Karawaci.
Hujan kecil di Tegal.
Dua orang. Dua kota.
Satu chat.
Satu doa yang akhirnya bisa diucap.
Aku kangen, Zak.
Tapi Tuhan tau.