Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Makan Bersama
Setelah beberapa menit memilih-milih, akhirnya keranjang belanjaan penuh snack ringan, makanan dan minuman lainnya.
Mereka ke kasir hendak membayar belanjaannya.
Axel menambahkan beberapa bungkus es krim.
"Tambahan dikit doang, hehe"
Penjaga kasir menanyakan sambil scan.
"Apa ini saja? Mau tambahan roti ini? Ia sedang promo beli dua gratis satu. Dan juga apa sudah member?"
"Enggak, udah itu saja." Jawab Rachael, lalu hendak mengeluarkan dompet di dalam saku jaket.
Melihat itu, Leon langsung mengeluarkan black card nya dari saku celananya.
"Aku yang bayar."
Belum sempat Rachael menolaknya, Leon memberikan kartu itu ke kasir.
"Hei... Biar aku saja" Rachael jelas jadi tidak enak.
Sementara itu, Axel sudah memakan satu es krim sambil memasukan belanjaannya ke dalam kantong belanja.
"Sudah itu saja? totalnya 200 ribu, pembayaran melalui kartu..." kasir itu cukup lama melihat kartu dan akhirnya menggosoknya ke alat.
"Ini silahkan, terimakasih banyak dan datang lagi ke minimarket kami." Memberikan kartu itu kembali dan membungkukkan badannya dengan sopan.
Leon menerima kembali kartunya dan memasukan ke saku celananya.
"Ayo" ucapnya dengan nada santai seolah belanjaannya itu tidak berarti apa-apa, harga segitu hanya hal kecil baginya.
"Ini ku ganti uang mu"
Rachael mengeluarkan uang cash dari dompetnya.
"Tidak perlu, harganya murah, itu bukan apa-apa."
Mendengar perkataan Leon yang santai dengan semua ini, membuat Rachael sedikit merasa Leon cukup sombong untuk hal seperti ini.
Dalam hati Rachael, "Bukan apa-apa? Black card, itu kartu langka. Uang sakunya segitu? Memang orang kaya..."
Axel sudah keluar duluan.
"Lama banget. Es krim gua nanti meleleh, nih."
Leon dan Rachael keluar dan berjalan lagi. Axel membawa semua kantung belanjaan itu.
"Uang saku mu memang segitu?" Tanya Rachael sedikit hati-hati.
"Iya, itu sedikit." jawab Leon dengan sangat santai.
"Dia emang segitu uangnya, toh bahkan masih ada banyak lagi di rumahnya, karena dia jarang belanja, jadi santai aja. Leon bakal bayarin." Sahut Axel dengan senang di bayarin oleh Leon.
Rachael menoleh ke Leon lagi.
"Begitu... Tapi tetap saja, terimakasih Leon."
"Hm." Jawabnya singkat.
...----------------...
Hari sudah sore, matahari senja menyinari kota.
Mereka sampai di gedung apartemen Rachael, menaiki lift ke lantai 6.
Rumah Rachael nomor 135.
Rachael membuka pintunya, ia masuk duluan melepaskan sepatu dan meletakkan di rak sepatu.
"Masuklah, maaf ya rumah ku kecil, tidak seperti rumah mu."
Kata-kata itu bermaksud ke Leon yang rumahnya mewah, Mansion.
Leon memperhatikan sekitar, seolah ia baru pertamakali melihat rumah kecil sederhana, dan tidak mewah ini.
Axel tahu kalau Leon merasa aneh dengan hal-hal sederhana.
"Leon, tidak pernah masuk rumah kecil gini."
"Orang kaya mah beda, pasti tidak nyaman." Sahut Rachael ia meletakan tasnya di sofa.
"Mungkin, tapi menurut gua ini gak buruk."
"Kalian duduk lah, tenang saja tempat ini bersih. Selalu ku bersihkan sendiri."
"Sendiri?" Tanya Leon sedikit heran dan akhirnya duduk di sofa itu.
"Iya, karena rumah kecil begini tidak perlu menyewa pembantu." jawab Rachael.
"Maklumlah, orang kaya gak pernah beres-beres rumah." ucap Axel menyindir Leon, ia sedikit terkekeh.
Leon menatap tajam Axel, ia kesal tapi tidak bisa menyangkalnya, karena memang faktanya begitu.
Ia tidak melakukan pekerjaan rumah tangga apapun, bahkan merapikan kasurnya sendiri pun tidak pernah. Semuanya di urus oleh pelayan.
"Diamlah."
"Hahaha... Baiklah."
Axel merasa Leon benar-benar kesal tapi ia senang bisa mengejek Leon disini.
Karena biasanya Leon pasti akan memukulnya, apalagi kalau di Mansion, Axel tidak bisa meledeknya.
Sekarang di rumah Rachael, pastinya kalau ada Rachael membuat Leon menjaga image dan emosinya.
"Tunggu disini, aku akan masak"
Rachael membawa belanjaan ke dapur, ia merapikan bahan-bahan dan memilih bahan yang akan di masak.
Leon berdiri dan berjalan ke dapur menyusul Rachael.
Ia melihat Rachael sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
"Ada yang perlu ku bantu?"
Tanya Leon pelan dan menghampiri.
"Tidak perlu, kau duduk saja, oh iya es krimnya ku masukan ke freezer di kulkas. Kalau mau ambil saja"
Jawab Rachael yang sedang memotong sosis dan beberapa sayuran seperti sawi, tanpa menoleh.
Axel ikut menghampiri dan duduk di kursi meja makan. Melihat Rachael memotong sayuran.
"Kau akan memasak mie apa? Kenapa pakai sosis dan sayuran? Sayuran itu kurang enak."
"Apa? Sayuran itu enak, kenapa tidak suka sayuran? Aneh."
Jawab Rachael dengan ekspresi heran. Ia lanjut memasak air secukupnya di panci.
"Sayuran itu agak pahit, tidak enak."
Axel menunjukkan ekspresi tidak suka dengan sayuran.
"Ini akan enak, kau harus memakannya nanti."
Suara Rachael tegas dan memaksa.
"Jahat, belum tentu juga masakan mu enak." Sahut Axel pura-pura terluka dramatis.
"Apa? Awas saja kalau nanti bilang tidak enak." Rachael sedikit kesal tapi tetap sabar.
Setelah air mendidih ia memasukan tiga bungkus mie instan dan bumbunya ke dalam panci. Lalu lanjut memasukan sosis dan sayuran, terakhir memasukan tiga butir telur. Tinggal menunggu mendidih.
Tidak lama kemudian, aroma masakan memenuhi ruang dapur. Aroma harum masakan, membuat perut Axel keroncongan.
Leon juga menganggap aromanya ini tidak buruk.
Rachael membuatkan minuman, es campur.
Ia menuangkan sirup ke teko mangkuk besar untuk minuman, ia menambahkan jelly, agar-agar dan coconut, lalu menambahkan es batu. Menambahkan susu kental manis secukupnya, lalu di aduk hingga merata, minuman itu terlihat segar.
Axel memperhatikan Rachael membuat minuman,
"Wah, apa ini? terlihat enak."
"Es campur, minum saja."
Rachael mengambil gelas dan menuangkan minuman untuk Axel dan Leon, lalu memberikan mereka berdua.
"Cobain bagaimana rasanya?"
Leon mencicipi sedikit, ekspresinya sedikit berubah saat merasakan manis segar minuman itu. Ia langsung meminumnya, karena enak.
"Ini enak, manis."
Axel memperhatikan ekspresi Leon yang tampak senang.
"Lu kelihatan senang. Tapi jujur ini memang enak."
Leon kembali diam.
Rachael menyajikan mie yang sudah matang di mangkuk besar, meletakan di meja makan.
"Lihat, ini enak lho... Ayo makan."
Rachael memberikan mangkuk ke Leon dan Axel, lalu memberikan sendok garpu.
"Nah silahkan, makan"
"Woah... masih panas sih." Axel duduk lebih dekat.
Rachael duduk dan menyendok makanannya mangkuk Leon.
"Ini, cobain dulu, kalau tidak enak jangan di makan."
Leon menyendok mie, lalu meniupnya pelan dan mencicipinya. Leon diam sejenak, ia kepedasan.
"Bagaimana?"
Tanya Rachael ia berharap Leon menyukai makanannya.
"Enak, hanya saja ini cukup pedas..."
Jawab Leon tapi ia kembali memakannya, walaupun pedas tapi enak dan membuatnya ingin lagi.
Axel juga memakannya, "Enak... Gua tarik kembali kata-kata gua yang sebelumnya. Ini enak, ya tapi benar ucapan Leon, rasanya pedas."
"Tidak pedas banget kok."
Rachael pun makan juga, jelas suka sayurannya.
"Sayurannya tidak pahit... hm, enak." ucap Axel ia kembali nambah makannya, sesekali minum es.
Leon diam dan makan, tapi ia kepedasan berkeringat, gerah juga.
Rachael berdiri, lalu berjalan ke kamarnya sendiri untuk mengambil tisu dan kipas angin portabel.
Lalu kembali ia memasang kipas di meja makan, mengarah ke arahnya, lalu membuatnya berputar agar yang lain kebagian anginnya.
"Nih tisu." Ia memberikan tisu ke Leon. Lalu kembali duduk dan makan.
"Haha, kau kepedasan? Berkeringat pula. Enggak biasa makan pedas?"
Tanya Rachael, sedikit tertawa pelan melihat Leon kepedasan dan berkeringat.
"Pedas..."
Jawab Leon dan ia mengelap keringat didahinya dengan tisu. Lalu minum es, berusaha menghilangkan rasa panas pedas di mulutnya.
"Haha... kasihan, anak orang kaya di jahili begitu."
Ucap Axel sambil tertawa-tawa melihat Leon. Padahal dia sendiri juga kepedasan dan berkeringat.
Leon kesal dan melemparkan tisu yang sudah di buat bola ke wajah Axel.
"Lu juga keringatan. Lap keringat lu."
"Ah, anjir.. Entar masuk mangkuk gua."
Axel reflek menangkap tisu itu, agar tidak masuk ke dalam mangkuknya.
Suasana menjadi ramai dan ini membuat Rachael senang, rumahnya menjadi tempat yang nyaman untuk kedua orang baru.
Rachael memperhatikan Leon dan Axel berdebat dan kepedasan karena masakannya.
"Ini tidak pedas kok, ayo habiskan. Setelah ini kita mengerjakan PR."
"Bagimu tidak pedas, tapi bagi ku ini pedas."
Leon melonggarkan dasinya sedikit, membuat lehernya terlihat jelas, jakun nya pun terlihat jelas.
Ia juga mengusap rambut depannya kebelakang, karena cukup keringatan. Bibirnya pun merah sedikit karena pedas kuah mie.
Leon tampak ganteng saat ini, lebih dari biasanya.
Rachael menatap cukup lama, lalu ia tersadar sudah menatap lama dan kembali fokus ke makanannya.
Leon memperhatikan Rachael sedari tadi, ia tahu Rachael menatapnya cukup lama.
Dalam pikirannya, "Chael... menatap ku tadi, cukup lama. Tapi langsung menghindari saat aku menatapnya kembali. Apa dia malu? itu cukup menarik."
Axel yang melihat dalam diam, hanya bisa berpikir ia hanya npc tidak penting.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe