“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Sahabat paling ribut
"NAURA ALEESHA MAHENDRA!"
Teriakan itu membelah keheningan taman seperti petir di siang bolong. Naura sampai terlonjak kaget, hampir menjatuhkan terrarium dari pangkuannya.
Ia menoleh ke arah pintu samping rumah dan melihat sosok yang berlari melingkar di halaman seperti orang kesurupan kaki panjang, rambut diikat dua kuncir tidak rapi, hoodie abu-abu kebesaran, dan topi baseball yang dipakai terbalik. Di tangannya tergenggam ponsel dengan cover berwajah karakter anime.
Cipa Rahmania datang dengan seluruh kemegahan kacau yang biasa ia bawa.
"GILA LO, NAU!" Cipa berlari mendekat, wajahnya merah padam, matanya melotot seperti akan meledak. "GUE TELPON LO LIMA PULUH KALI! LO NGGAK ANGKAT! LO MAU BUNUH GUE KARENA KHAWATIR?!"
Naura menghela napas panjang. "Cipa, jangan teriak—"
"JANGAN TERIAK?!" Cipa berdiri di depan Naura, menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "GUE LIAT FOTO LO DI INTERNET! LO DI-BODY-SHAME, DI-HARAM-SHAME, DI-SEMUA-SHAME! TERUS LO SURUH GUE JANGAN TERIAK?!"
Naura mengusap pelipisnya. "Cipa, tenang—"
"JANGAN SURUH GUE TENANG!" Cipa menjatuhkan diri di bangku taman di seberang Naura, mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. "Gue panick attack nih! Lo tahu nggak gue scroll Twitter tadi terus nemu thread tentang lo? Thread lho! Dengan FOTO! Orang pesantren bikin thread tentang lo! Zaman gue dulu thread itu buat k-pop, buat fanwar, buat ngomongin bias! Bukan buat ngomongin temen gue!"
Naura tak bisa menahan senyum tipis. Cipa adalah badai yang justru menenangkannya karena badai Cipa berbeda dengan badai masalahnya. Badai Cipa lucu.
"Lo senyum?!" Cipa melongo. "LO SENYUM?! Lo dihina di internet, lo senyum?! Apa lo sudah gila, Nau? Apa lo udah lost it?"
"Nggak," Naura menggeleng pelan, menaruh terrarium di sampingnya. "Gue cuma... senang lo datang."
Cipa terdiam, melongo. Tiba-tiba amarahnya meleleh. Ia menjatuhkan topi baseball-nya ke pangkuan, rambutnya berantakan, dan wajahnya berubah dari panik menjadi khawatir tulus.
"Gue khawatir, Nau," suara Cipa turun, kali ini benar-benar serius. Jarang-jarang sekali. "Gue baca komentar-komentarnya. Kerasa banget, mereka nggak kenal lo tapi udah nghakimi. Lo oke?"
Naura menatap sahabatnya itu lama-lama, lalu menghela napas. "Jujur? Nggak oke. Tapi nggak seburuk kemarin."
Ceritanya mengalir. Naura menceritakan semuanya mulai dari kunjungan Azzam yang membawa terrarium, hujan dan jubah yang diberikan, sampai kunjungan Kyai Hanan sore itu. Ia bercerita dengan detail, sementara Cipa mendengarkan dengan mata yang semakin melebarkan.
"...terus Kyai Hanan bilang, Azzam itu hidupnya sepi. Hitam-putih. Dan gue ini... warnanua."
Hening.
Lalu Cipa menarik napas panjang, memegang dada kirinya seperti orang sakit jantung.
"NAURA!" Cipa menerkam, menggenggam bahu sahabatnya. "ITU MAH BUKAN PESAN TEGA! ITU MAH MARRIAGE PROPOSAL BERSKALA EPIK! THE CHOSEN ONE LOH! KAYAK NOVEL FANTASI! LO TUH THE ONE WHO WILL BRING COLOR TO HIS MONOCHROME WORLD! "
"Cipa! Berhenti!" Naura mendorong wajah Cipa yang terlalu dekat. "Gue cerita ini bukan supaya lo fangirlin!"
"GUE NGGAK BISA FANGIRLING?!" Cipa melepaskan diri, berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan ayunan. "Lo cerita Gus tampan bawa terrarium, lindungin lo dari hujan pake jubahnya, terus AYAHNYA datang ke rumah lo bilang lo tuh the missing color in his son's life?! " Cipa berhenti, menoleh ke Naura dengan mata berkilat. "NAURA! ITU MAH GREEN FLAG YANG NYANGKUT DI TALI TENDA! BUKAN RED FLAG!"
Naura memijat pelipisnya. "Cipa, dia tetap orang yang mau merampas kebebasanku—"
"DIA NGGAK MAKSA LO KEMARIN KAN?!" Cipa menunjuk Naura. "Dia bilang 'baik' terus pergi! Dia bawa hadiah! Dia lindungin lo dari hujan! Dia nggak marah waktu lo nolak! HELLO?! EARTH TO NAURA?! MANA ADA ORANG SEBAIK ITU DI DUNIA INI?!"
"Dia tetap bagian dari wasiat yang nggak gue minta!" Naura membantah, meski suaranya mulai kehilangan tenaga.
Cipa mendecakkan lidah, duduk kembali di bangku dengan pose squat yang sangat tak sopan. Matanya menatap Naura dengan tatapan I-know-you-better-than-you-know-yourself.
"Naura Aleesha," ucap Cipa dengan suara rendah yang sangat jarang digunakannya suara ketika ia benar-benar serius. "Gue kenal lo sejak SMP. Lo tuh orangnya keras kepala, lo suka nolak bantuan, lo suka pura-pura kuat. Tapi gue juga tahu lo tuh softie. Lo nangis liat anak kucing kesasar. Lo beliin makanan pengemis tiap lewat jembatan. Lo rawat bunga yang hampir mati sampai hidup lagi."
Naura terdiam, menunduk.
"Lo bisa pura-pura benci sama Gus Azzam itu," Cipa melanjutkan, "tapi gue liat cara lo cerita tentang dia. Mata lo berbinar, Nau. Lo nggak benci dia. Lo penasaran dan lo takut karena lo penasaran."
Perkataan itu menghujam jantung Naura lebih keras dari api panas mana pun.
'Lo takut karena lo penasaran.'
"Cipa, gue—"
"Shhh!" Cipa tiba-tiba mengangkat tangan, memotong. Matanya menyipit, memandang Naura dari atas ke bawah dengan ekspresi yang berubah menjadi jahil. "Tunggu sebentar. Lo bilang dia bawa terrarium? Taneman dalam kaca?"
"Iya." Naura bingung dengan perubahan topik.
"Dan dia bilang dia suka putih karena putih itu bersih?"
"Iya..."
"Dan dia ngasih jubahnya waktu hujan?" Cipa mulai senyum lebar, senyum yang Naura kenali sebagai senyum matchmaker-nya. "DAN dia nggak marah waktu lo nolak dia di depan semua orang?"
"Iya, tapi—" Naura menyadari kemana arah pembicaraan ini. "Oh, nggak, Cipa. Jangan."
"SHIP!" Cipa meneriakkan kata itu sambil meninju udara. "GUE SHIP! HARD! TITANIC AJA KALAH! GUS AZZAM X NAURA! GUSNAU! AZZURA! TEAM COLD GUS AND REBELLIOUS NAURA!"
"CIPA!" Naura melompat berdiri, wajahnya merah padam. "HENTIKAN ITU! Ini bukan waktu untuk shipping!"
"Ini selalu waktu untuk shipping!" Cipa berbalik menatap Naura dengan mata berbinar, lalu tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi mencurigakan. "Eh, tunggu. Lo bilang baret lo jatuh waktu hujan?"
Naura terkesima. "I-iya."
"Lo ambil lagi?"
"Nggak. Gue lupa, langsung masuk rumah."
Cipa menatap Naura lama-lama, lalu senyumnya melebar menjadi menyeringai yang menyebalkan banget. "Berarti... baret lo sekarang ada di tangan Gus Azzam? Pria itu pegang barang pribadi lo? Baret yang kepalanya lo pakai? Yang pasti udah kecium parfum lo?"
Naura mengerahkan seluruh kekuatan willpower-nya untuk tak memukul sahabatnya saat ini juga.
"Cipa. Satu kata lagi tentang baret itu dan gue akan mencekik lo dengan topi baseball lo sendiri."
Cipa mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, tapi senyumnya tidak hilang sedikit pun. "Baik, baik. Gue berhenti. Untuk sekarang."
Naura mendengus, duduk kembali di ayunan dengan lengan disilangkan. Pipinya masih merah, dan ia sangat bersyukur bahwa Gus Azzam tidak ada di sini untuk melihatnya.
Cipa mengambil terrarium dari samping Naura, mengamatinya dengan mata penuh perhatian. "Cantik sih. Kerajinan tangan ya? Ini aesthetic banget. Pinterest-worthy."
"Azzam yang buat," Naura melirik ke samping.
"Azzam?" Cipa mengangkat alis, menatap Naura dengan senyum menggoda. "Azzam? Bukan 'Gus Azzam'? Wow, kemajuan!"
Naura membelalak. "Itu—itu cuma keceplosan!"
"Keceplosan yang mengungkapkan" Cipa terkekeh, meletakkan terrarium kembali dengan hati-hati. Lalu ia kembali serius, menatap Naura. "Nau, gue serius sekarang."
"Lo baru bisa serius setelah 10 menit roasting?"
"Iya, iya." Cipa menghela napas, meletakkan tangan di atas tangan Naura. "Dengarkan gue. Apapun keputusan lo nolak, terima, kabur, atau apa pun gue ada di sini. Gue nggak akan pernah ninggalin lo. Lo tahu itu kan?"
Mata Naura terasa perih. Ia menunduk, mengangguk pelan.
"Tapi," Cipa melanjutkan, "jangan biarkan rasa takut membuat keputusan untuk lo. Lo takut kehilangan kebebasan? Lo takut berubah? Lo takut orang-orang nge-judge lo? Itu benar. Tapi jangan biarkan ketakutan itu yang ngejawab. Biarkan hati lo yang ngejawab."
Naura menatap sahabatnya. Di balik semua candaan dan kekacauannya, Cipa adalah orang yang paling memahaminya. Mungkin karena mereka berdua sama-sama kaca hanya dalam cara yang berbeda.
"Lo tau nggak," Naura tersenyum tipis, "kadang lo bijak banget. Annoyingly bijak."
"Itu karena lo terlalu bodoh buat sadar sendiri," Cipa menunjuk hidung Naura, lalu tertawa. "Sekarang, gue ajak lo makan! Gue laper! Emotional distress bikin gue laper!"
"Lo selalu laper, Cipa."
"Maka dari itu, tertekan secara emosional itu redundan buat gue!" Cipa menarik tangan Naura, memaksanya berdiri. "Yuk! French fries dan milkshake! On you!"
"Gue yang bayar?"
"Lo yang kaya! Gue cuma influencer social media yang nggak punya penghasilan!" Cipa sudah menyeret Naura ke arah garasi. "Yuk naik mobil lo! Mobil konvertibel yang lo banggain itu!"
Naura menggeleng, tapi senyumnya kali ini tulus. Ia mengambil kunci mobil dari saku jaketnya, lalu mengikuti sahabatnya yang sudah berlari ke garasi seperti anak kecil yang diberi es krim.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu di drive-thru, makan kentang goreng di atap mobil di tempat parkir cafe langganan, dan tertawa sampai perut kram karena Cipa menceritakan meme Gus Azzam yang beredar di fandom pesantren.
Dan untuk sesaat, sangat singkat Naura melupakan beban di pundaknya.
Tapi di tengah tawa dan obrolan, saat angin malam menerpa rambutnya, pikiran Naura kembali melayang.
Ia mengingat jubah hitam yang menutupi kepalanya. Aroma attar dan hujan. Mata hitam yang tenang. Suara yang berkata 'aku tidak datang untuk merampas kebebasanmu.'
Dan senyum Lesung pipi yang menyebalkan itu. 'Gue ship kalian, Nau.'
Kata-kata Cipa bergema di kepalanya.
Naura menggigit kentang goreng-nya, menatap bintang-bintang yang mulai muncul di langit malam.
"Jangan," bisiknya dalam hati. "Jangan buat aku mulai memikirkannya."
Tapi sudah terlambat.
Benih itu sudah tumbuh dan akarnya mulai merayap masuk ke dalam hati yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
.
.
.