Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
"Bagus. Jam berapa ini, Aira Maheswari?"
Suara berat itu tidak meledak, namun tajamnya sanggup mengiris keheningan ruang tamu yang luas dan dingin. Aku terpaku di ambang pintu, jemariku masih mematung di gagang pintu kayu ek yang kokoh. Di depanku, Prasetya—pria yang secara biologis adalah ayahku—berdiri membelakangi lampu gantung kristal. Bayangannya memanjang, menelan tubuhku yang terasa sangat kecil.
Bau tembakau dan aroma kayu cendana dari jaket Bara masih tertinggal di indra penciumanku, memberikan rasa aman yang semu. Namun, begitu aku melangkah masuk, aroma parfum ruangan melati yang mahal namun menyesakkan langsung menyergap, mengingatkanku bahwa aku telah kembali ke penjara.
"Aku... aku tadi ada urusan sebentar, Pa," bisikku parau. Kepalaku tertunduk, bukan karena malu, tapi karena aku tidak sanggup melihat kebencian di mata pria itu.
"Urusan apa? Urusan mencoreng muka Papa di depan tetangga?" Prasetya melangkah maju. Setiap ketukan pantofelnya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian. "Alvaro sudah cerita. Dia lihat kamu turun dari motor butut itu dengan pria berandalan. Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja ingin menunjukkan pada dunia kalau keluarga Maheswari gagal mendidik anaknya?"
"Varo cuma khawatir, Pa. Dia bilang Aira tadi... ah, aku nggak enak mengatakannya."
Suara melengking itu muncul dari balik pilar. Airin berjalan pelan, mengenakan gaun tidur sutra putih yang membuatnya tampak seperti malaikat tanpa dosa. Ia merangkul lengan Papa, menyandarkan kepalanya di sana sembari menatapku dengan binar kemenangan yang tersembunyi di balik raut wajah "prihatin".
"Katakan saja, Airin. Biar dia sadar betapa rendah kelakuannya malam ini!" bentak Prasetya.
Airin menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca—sebuah akting yang sudah dia asah selama belasan tahun. "Pa, aku tadi tidak sengaja melihat dari jendela atas. Aira... dia pelukan sangat erat dengan cowok itu di depan gerbang. Di tempat terbuka, Pa. Bagaimana kalau ada tetangga yang lihat? Bagaimana kalau keluarga Alvaro dengar? Mereka pasti pikir Aira gadis gampangan, dan aku... aku sebagai kembarannya pasti kena getahnya."
Brak!
Prasetya menghantam meja konsol di sampingnya hingga vas bunga lili terjatuh dan pecah berkeping-keping. Aku tersentak, bahuku bergetar hebat. Namun, Airin tetap tenang dalam rangkulan Papa, bahkan ia sempat memberikan senyuman miring yang sangat tipis padaku—senyum yang mengatakan bahwa aku sudah tamat.
"Pelukan di depan gerbang?! Benar-benar tidak tahu malu!" Prasetya menunjuk wajahku dengan jari yang bergetar karena amarah. "Kamu itu aib, Aira! Kamu parasit yang merusak citra keluarga ini! Papa sudah susah payah membangun reputasi, dan kamu dengan mudahnya menyeret nama Maheswari ke jalanan bersama sampah sekolah itu!"
"Pa, aku nggak pelukan, tadi cuma—"
"Cukup! Papa tidak butuh pembelaan dari mulut pembohongmu!" Prasetya memotong kalimatku dengan teriakan yang membuat telingaku berdenging. "Dengarkan Papa baik-baik. Kalau sampai Papa dengar kamu berhubungan lagi dengan preman itu, Papa tidak akan segan-segan mengeluarkan kamu dari SMA Garuda. Papa akan pindahkan kamu ke sekolah asrama di pelosok, atau sekalian Papa coret nama kamu dari kartu keluarga ini. Mengerti?!"
Aku terdiam. Dadaku sesak, seperti ada tangan raksasa yang meremas paru-paruku. Aku menatap mata pria itu, mencari setitik saja rasa sayang, namun yang kutemukan hanyalah rasa malu yang mendalam karena memiliki anak sepertiku. Tanpa kata, aku berbalik dan berlari menuju kamarku—bukan, menuju gudang belakang yang sekarang menjadi tempat tidurku.
*
Aku mengunci pintu gudang dan merosot ke lantai yang dingin. Kamar ini gelap, hanya ada cahaya bulan yang merembes lewat celah ventilasi. Namun, badai belum berakhir.
Tok, tok, tok.
Pintu gudang terbuka pelan. Mama masuk. Ia membawa segelas susu hangat, wajahnya tampak tenang, bahkan terlihat lembut di bawah temaram cahaya lampu kecil. Ia duduk di pinggir ranjang tipisku, lalu mengelus rambutku yang berantakan.
"Aira... Mama sayang sekali sama kamu," bisiknya lembut.
Untuk sesaat, aku ingin percaya. Aku ingin memeluknya dan menangis di pangkuannya. Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang dihunus tepat di hulu hatiku.
"Makanya, Mama mau kamu berubah, sayang. Jangan jadi parasit buat Airin. Kamu tahu kan, Airin itu masa depan keluarga kita. Dia cantik, berprestasi, dan dia akan menikah dengan Alvaro nanti. Itu akan mengangkat martabat kita semua." Ratna menatapku dengan mata yang dingin, meski bibirnya tersenyum. "Kalau kamu terus-menerus bertingkah seperti ini, bergaul dengan preman, kamu cuma jadi noda hitam di atas gaun putih Airin. Kasihan kembaranmu, dia harus menanggung malu karena ulahmu."
Aku menarik kepalaku dari sentuhannya. "Jadi... aku ini cuma noda buat kalian?"
Ratna menghela napas, seolah ia adalah ibu yang paling sabar menghadapi anak yang sulit. "Aira, berpikirlah realistis. Airin itu 'putri pemenang'. Dunia mencintai dia. Sedangkan kamu... kamu cuma 'putri asli' yang tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi citra keluarga. Jadi, tolong... mengertilah posisi kamu. Diamlah, jadilah bayangan, dan jangan rusak panggung Airin."
Mama berdiri, meletakkan gelas susu itu di meja kayu yang lapuk. "Minum susunya, lalu tidurlah. Jangan membuat Papa marah lagi besok."
Pintu ditutup. Hening kembali menyergap.
Aku menatap gelas susu itu. Aku tidak menangis. Anehnya, air mataku seolah sudah menguap habis. Rasa perih yang biasanya membuatku sesak kini berganti menjadi rasa hampa yang dingin. Aku menyadari satu hal yang mutlak malam ini: Di rumah ini, aku bukan anak. Aku adalah cacat produksi yang ingin mereka sembunyikan. Mereka lebih memilih memuja kebohongan Airin daripada mengakui keberadaanku.
Aku meraih tasku, merogoh bagian paling dalam di balik lipatan kain. Aku mengeluarkan sebuah ponsel kecil berlayar hitam putih yang dibelikan Bara secara diam-diam kemarin.
Drrt... drrt...
Sebuah pesan masuk. Dari "Si Berandal".
Aku membukanya dengan tangan gemetar. Bara mengirimkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan dirinya sedang duduk di meja kayu yang berantakan di kamarnya yang sederhana. Rambut hitamnya acak-acakan, ia mengenakan kaus hitam polos yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Di depannya, ada tumpukan buku pelajaran matematika dan secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
Bara menatap kamera dengan tatapan yang sangat cool—tajam, liar, namun entah kenapa terasa begitu tulus. Di bawah foto itu, ada sebuah pesan singkat:
"Gue lagi berusaha jadi menteri buat loe, jadi loe jangan nyerah di rumah itu. Gue tahu loe lagi dikepung badai, tapi inget... Serigala nggak akan biarin mangsanya mati konyol. Tidur, Ra. Besok gue jemput, lewat jalur belakang kalau perlu."
Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat. Sebuah senyum tipis yang terasa sangat manis di tengah pahitnya malam ini. Aku bisa membayangkan bagaimana Bara yang biasanya memegang kunci inggris atau kepalan tangan, kini harus bergelut dengan rumus-rumus rumit hanya karena janji 'gila' yang aku berikan padanya.
Dia sangat tampan di foto itu. Bukan tampan yang rapi dan palsu seperti Alvaro, tapi tampan yang beringas dan nyata. Rasanya seperti mengingat cinta masa muda yang sangat manis, di mana hanya dengan satu pesan singkat, seluruh dunia yang runtuh seolah terbangun kembali.
Aku mengetik balasan dengan jemari yang terasa lebih ringan.
"Aku nggak akan nyerah, Bara. Jangan belajar terlalu keras, nanti otakmu meledak. Aku tunggu besok."
Aku meletakkan ponsel itu di bawah bantal. Aku berbaring, menatap langit-langit gudang yang suram. Tapi kali ini, aku tidak merasa takut.
Papa ingin aku diam? Mama ingin aku jadi bayangan? Airin ingin aku hancur?
Silakan. Aku akan bermain sesuai aturan mereka untuk sementara. Aku akan menjadi bayangan yang paling gelap, bayangan yang diam-diam mengumpulkan setiap serpihan bukti kejahatan Airin. Mulai dari desain yang dicuri, kebohongan masa kecil, hingga manipulasi yang dia lakukan pada Alvaro.
Aku akan menghancurkan panggung emas Airin tepat saat dia berada di puncaknya. Dan saat itu terjadi, aku ingin melihat wajah Papa dan Mama ketika mereka menyadari bahwa mereka telah membuang permata demi segumpal kotoran yang mereka poles dengan air mata palsu.
Aku memejamkan mata, membayangkan deru mesin motor Bara yang jantan. Malam ini, badai di dalam rumah Maheswari memang masih mengamuk, tapi di dalam dadaku, api perlawanan baru saja menyala. Dan api itu... tidak akan pernah padam sampai semuanya rata dengan tanah.