NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 (21+)

Di dalam kamar, Syifa masih berdiri kaku di sudut ruangan sembari meremas ujung bajunya. Jantungnya bergemuruh hebat, berdegup sekencang genderang perang setelah tidak sengaja melihat siluet tubuh polos suaminya selama beberapa detik tadi.

'Ya Allah, malu-maluin banget! Kenapa handuknya harus lepas segala sih? Harusnya tadi aku ketuk pintu dulu sebelum masuk!' batin Syifa merutuki kecerobohannya sendiri.

​Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Fadhlan keluar dengan penampilan yang sudah rapi, mengenakan setelan baju tidur satin polos berwarna biru dongker. Tanpa berkata apa-apa untuk mencairkan kecanggungan tadi, ia langsung berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Di tengah ranjang, sebuah guling panjang sudah kembali terpasang kokoh sebagai pembatas wilayah, persis seperti aturan main malam sebelumnya.

​Fadhlan berbalik, menatap punggung kaku Syifa yang kini sudah ikut naik ke atas ranjang dan tidur membelakanginya. "Sudah tidur?" tanya Fadhlan, suaranya terdengar sedikit kaku dan serak.

​"Belum," jawab Syifa lirih, enggan membalikkan badan karena sisa malunya belum menguap.

​Fadhlan perlahan bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk tegak menghadap punggung istrinya. "Bisa minta tolong pijatkan punggung saya? Badan saya terasa sedikit pegal," ujar Fadhlan lembut.

​Mendengar permintaan yang sah dari sang suami, Syifa tidak punya alasan untuk menolak. Dengan jantung yang kembali berpacu cepat, ia memberanikan diri untuk bangun dan duduk bersila. Namun, pertahanan mental Syifa kembali diuji saat Fadhlan, tepat di hadapannya, mulai membuka kancing baju tidurnya satu per satu dari atas ke bawah.

​Syifa membulatkan kedua matanya, menahan napas saat kain satin itu terbuka, kembali memamerkan dada bidang dan deretan "roti sobek" milik suaminya dalam jarak pandang yang sangat dekat.

​"Belakang..." ucap Syifa terbata-bata, matanya seolah terhipnotis oleh pemandangan indah di depannya. "A-itu... maksud saya, hadap belakang, M-Mas..." ralat Syifa mendadak gagap, buru-buru memalingkan wajahnya yang merona merah.

​Fadhlan hanya diam, memulas senyum tipis melihat kegugupan istrinya, lalu memutar tubuhnya membelakangi Syifa.

​"Di-di sebelah mana yang pegal tadi?" tanya Syifa, tangannya bergetar saat meraih botol essential oil aromaterapi di atas nakas. Bagaimanapun tangguhnya Fadhlan di kampus sebagai dosen dingin yang paling disegani, malam ini ia tetaplah seorang pria normal yang sedang berhadapan dengan wanita yang dicintainya.

​"Kemarikan tanganmu," titah Fadhlan. Pria itu meraih jemari lembut Syifa, lalu membimbing tangan istrinya untuk menyentuh langsung area tengah punggung hingga turun ke bagian pinggangnya.

​Syifa menahan napas saat kulit telapak tangannya bersentuhan langsung dengan kulit punggung Fadhlan. 'Ya Allah... padahal dia laki-laki, tapi kenapa kulitnya bisa seputih dan semulus ini?' batin Syifa menjerit heran. Sebisa mungkin ia mengontrol degup jantungnya agar tidak terdengar oleh Fadhlan. Syifa mulai menuangkan essential oil, lalu mengoleskannya dengan gerakan memijat lembut yang telaten dari punggung atas, perlahan-lahan turun meraba area pinggang suaminya.

​Minyak hangat dan pijatan telaten jemari lentik Syifa yang terasa menari-nari di atas kulitnya seketika membuat giliran Fadhlan yang harus menahan diri. Sentuhan itu memberikan sensasi hangat yang menjalar ekstrem, memicu gejolak yang sangat kuat di dalam dadanya hingga membuat Fadhlan frustrasi sendiri menahan napasnya yang mulai memburu.

'​Kuatkan hamba untuk menahan ini, Ya Allah... Aku tidak ingin terburu-buru memaksa wanita yang belum sepenuhnya siap,' pungkas Fadhlan dalam hati, meremas ujung selimutnya kuat-kuat untuk menyalurkan ketegangan tubuhnya.

...----------------...

Saat Syifa masih sibuk dan fokus memijat bagian pinggangnya dengan penuh ketelatenan, Fadhlan tiba-tiba memutar tubuhnya, berbalik seratus delapan puluh derajat menghadap ke arah istrinya.

​Malam ini, Syifa sudah melepaskan hijabnya. Rambut panjangnya yang hitam kecoklatan tergerai sebagian, membingkai wajah polosnya yang bersih tanpa polesan make-up sedikit pun. Di bawah temaram lampu tidur resort, kecantikan alami Syifa justru memancar begitu nyata, berhasil mengunci seluruh atensi Fadhlan hingga pria itu terpesona tanpa kata.

​"Sakit ya, Mas?" tanya Syifa terkejut, menghentikan gerakan tangannya karena takut pijatannya terlalu keras.

​Fadhlan menggelengkan kepalanya perlahan. Netra hitam pekatnya menatap lekat ke dalam manik mata Syifa. "Tidak... saya hanya ingin memandang wajah istri saya lebih lama," jawab Fadhlan dengan suara rendah yang sarat akan ketulusan.

​"Ba-balik badan lagi, Mas... ini masih belum selesai dipijat—" kalimat Syifa langsung terputus di udara.

​Tanpa aba-aba, Fadhlan memajukan tubuh tegapnya, menghimpit tubuh ramping Syifa hingga punggung gadis itu bersandar sepenuhnya pada kepala ranjang yang empuk. Jarak mereka seketika lenyap. Syifa merasa seperti terkena serangan jantung mendadak, napasnya tertahan di tenggorokan.

​Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh afeksi, jemari Fadhlan terulur melepas ikat rambut Syifa, membiarkan mahkota hitam istrinya terjatuh indah di bahunya. Ia menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi kening Syifa ke belakang telinga, lalu menunduk, mengecup lembut kening istrinya dengan durasi yang lama, disusul kecupan hangat di kedua belah pipi Syifa. Perlakuan yang begitu manis dan protektif itu sukses membuat tubuh Syifa sedikit gemetar dilanda salah tingkah yang luar biasa.

​Kini, pandangan Fadhlan turun, mengunci fokusnya pada bibir mungil merah muda milik Syifa. Ibu jari Fadhlan bergerak perlahan, mengusap permukaan bibir istrinya dengan kelembutan yang memabukkan.

​"Ketika seorang suami dan istri saling berpandangan dengan penuh rasa cinta, maka Allah akan menatap mereka berdua dengan pandangan penuh belas kasih," tutur Fadhlan pelan, suaranya begitu menenangkan, membuat Syifa mendongak, terpaku menatap mata suaminya yang memancarkan binar perlindungan yang begitu besar.

​Chu~

​Fadhlan menundukkan kepalanya, melayangkan sebuah kecupan manis tepat di atas bibir Syifa. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Fadhlan menahan kecupan itu cukup lama, memperdalam sentuhannya dengan penuh kelembutan yang tulus tanpa paksaan.

​Syifa terhenyak, matanya berkedip lambat sebelum akhirnya terpejam rapat. 'My first kiss...' batin Syifa berbisik dengan dada yang bergemuruh hebat.

Rasanya seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang menyengat seluruh saraf tubuhnya, membuatnya kaku sekaligus hangat. Logikanya menyuruh untuk mendorong dada Fadhlan menjauh demi mempertahankan gengsi, namun respons tubuhnya justru mengkhianati pikirannya sendiri; ia sama sekali tidak bisa menolak kehangatan ini.

​Tanpa sadar, dalam keadaan terbuai, tangan mungil Syifa yang awalnya berada di sisi tubuh justru bergerak turun, menyentuh langsung guratan otot perut six-pack suaminya yang masih terekspos terbuka. Tekstur keras dan kokoh di bawah telapak tangannya seketika membuat Fadhlan mengeluarkan lenguhan geraman rendah karena merasa geli sekaligus tersengat oleh sentuhan istrinya.

​"M-maaf..." cicit Syifa buru-buru menarik tangannya setelah tersadar dari kekhilafannya sendiri.

​Fadhlan tersenyum sangat tipis, matanya terbuka menatap wajah panik istrinya yang menggemaskan. "Tidak masalah... jika kamu ingin menyentuhnya, sentuh saja," ujar Fadhlan lembut. Ia meraih kembali tangan Syifa, membimbing jemari lentik itu untuk kembali meraba dada bidang dan perut kotak-kotaknya.

'​Argh! Otakku menyuruh berhenti, tapi kenapa tanganku malah betah terus bergerak di sini! Pak Fadhlan pasti rajin olahraga... dadanya bidang sekali, perutnya kotak-kotak... Huh, kenapa dia terlihat tampan dan seksi sekali malam ini!' rutuk Syifa habis-habisan pada dirinya sendiri di dalam hati.

​Fadhlan kembali memejamkan matanya, menikmati setiap jengkal sentuhan polos nan lembut dari jemari istrinya yang bergerak malu-malu di atas perutnya. Sensasi geli yang menghanyutkan itu membuat pertahanannya goyah.

​"Sayang..." lenguh Fadhlan pelan tanpa sadar, suara baritonnya yang serak terdengar begitu dalam memenuhi keheningan kamar.

​Syifa terkesiap hebat. Jantungnya mencelos mendengar rintihan suaminya, terlebih karena pria itu baru saja memanggilnya dengan sebutan "Sayang" dengan nada yang begitu candu. 'E-eh... barusan Pak Fadhlan panggil sayang? Dia... dia ngga suka atau sebenarnya lagi nyuruh aku berhenti ya?' batin Syifa bingung dan gugup setengah mati.

​Sebelum Syifa sempat mencerna pikirannya, Fadhlan kembali menunduk, mengecup mesra bibir mungil istrinya untuk beberapa saat sebagai penutup yang manis, sebelum akhirnya ia menarik diri perlahan.

​"Selamat malam," ujar Fadhlan tersenyum tipis, lalu membetulkan letak baju tidurnya dan langsung merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur dengan posisi santai.

​Syifa masih terpaku di posisinya, benar-benar syok dan mati kutu oleh serangan romantis bertubi-tubi dari suaminya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat melayang. "Hm, selamat malam juga, Pak... eh, M-Mas..." jawab Syifa terbata-bata.

​Dengan perasaan campur aduk yang tidak karuan, Syifa akhirnya ikut merebahkan badannya di sebelah Fadhlan. Ia dengan cepat menarik selimut, lalu memilih posisi tidur miring membelakangi Fadhlan, mencoba meredakan debaran jantungnya yang masih menggila. Ia sangsi apakah malam ini bisa memejamkan mata atau tidak.

​"Suamimu ada di sebelah sini, Dek... bukan di sebelah tembok sana," ucap Fadhlan enteng dari balik punggungnya.

​Mendengar sindiran halus itu, Syifa spontan langsung berbalik badan menghadap Fadhlan. Begitu ia berbalik, seketika itu juga pandangan mata mereka kembali bertemu dalam jarak dekat.

​"Kamu marah dengan perlakuan saya tadi?" tanya Fadhlan lembut, tangannya bergerak membelai mesra pipi Syifa yang masih terasa hangat.

​Syifa menggelengkan kepalanya pelan, menatap mata teduh suaminya. "Engga, Mas..."

​"Kalau begitu, kemarilah. Ayo tidur," titah Fadhlan membuka lengan kirinya.

​"Hmm... iya, Mas," jawab Syifa lirih.

​Fadhlan menarik tubuh ramping Syifa, menuntun gadis itu masuk ke dalam dekapan pelukan hangatnya. Tangan kekarnya melingkar posesif di pinggang Syifa, menyandarkan kepala istrinya tepat di dada bidangnya. Berada di dalam dekapan pria yang baru kemarin resmi menjadi suaminya itu, anehnya, perlahan memunculkan rasa nyaman dan aman yang luar biasa di hati Syifa, meskipun debar jantungnya belum sepenuhnya normal.

​Karena tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapa pun sebelumnya, ditambah proses perkenalan mereka yang terhitung singkat dan penuh teka-teki, membuat Syifa selalu merasa kaku tiap kali berduaan. Namun malam ini, dalam pelukan Fadhlan, ada rasa familier yang aneh menjalar di jiwanya. 'Rasanya... seperti sedang dipeluk oleh seseorang yang sudah sangat lama aku kenal di masa lalu. Entah sihir apa yang sudah dilakukan Pak Fadhlan padaku... tapi aku rasa, aku benar-benar sudah tertarik sepenuhnya oleh pesonanya. Mas Fadhlanku...' batin Syifa tersenyum tulus, mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan di dada suaminya.

​Fadhlan merapatkan dekapannya, merasakan balasan pelukan dari sang istri. Pria itu menunduk, mendaratkan satu kecupan dalam di puncak kepala Syifa sembari menghirup aroma harum rambut istrinya. 'Dek... semoga ingatanmu tentang masa kecil kita segera kembali. Aku sangat merindukanmu, gadis kecilku...' bisik Fadhlan penuh kerinduan tersembunyi dalam hatinya.

​Di tengah kehangatan pelukan yang saling mengunci, rasa lelah dan kantuk yang teramat sangat setelah seharian beraktivitas di pantai akhirnya mulai menyerang pertahanan mereka. Perlahan namun pasti, kedua insan itu tertidur lelap dengan napas yang teratur, melupakan keberadaan guling pembatas yang kini sudah terabaikan dan terhimpit di ujung kaki ranjang mereka.

...****************...

1
Ulfa 168
lanjut
Ulfa 168
lanjut thor
Chani Bae ✨: ditunggu updatenya ya kaka ☺🧡
total 1 replies
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Chani Bae ✨: terimakasih kakak 🥰🙏 siapp...
total 1 replies
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Chani Bae ✨: alhamdulillah 😭🥰
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!