Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Burung-burung berkicau dengan merdunya, membangunkan jiwa-jiwa yang masih terlelap di balik selimut yang mendekap tubuh.
Arumi membuka kelopak matanya dengan perlahan, merasakan tempat yang sedikit asing.
Namun, kala nyawa mulai terkumpul, dan ingatan mulai menyusup masuk seperti potongan vuzle, gadis itu mengingat semuanya.
Sekarang, ia tak berada di rumah kedua orang tuanya, melainkan di rumah Ustadz Abdullah dan Umi Farida.
Di singkapnya selimut tebal, lalu netranya tertambat pada sebuah jam dinding yang menunjuk angka 04.14.
Rupanya, jam 5 Subuh pun belum, akan tetapi sepagi ini burung-burung telah memperdengarkan suara, belum lagi ayam jantan yang berkokok.
Suara para hewan itu seolah menjadi alarm alami yang membangunkannya.
Tak perlu benda pipih yang bercahaya untuk menyalakannya, hanya perlu telinga dan jiwa yang terbiasa.
Arumi menepuk-nepuk tangan Bella untuk membangunkan gadis itu.
Bella menggeliat pelan, kali ini gadis itu tidak sulit untuk dibangunkan, tidak seperti biasanya yang harus diteriaki.
"Udah pagi ya, Kak?" tanya Bella, suaranya serak khas orang bangun tidur.
"Udah, Dek. Ayo bangun, soalnya kita di rumah orang, nggak enak kalau bangun semaunya sendiri," jawab Arumi.
"Iya, Kak," Bella mengangguk.
Bella beranjak duduk, gadis itu tampaknya masih sedikit mengantuk.
Di wajah Arumi dan Bella, masih tersirat kelelahan yang mendalam bekas pertarungan kemarin.
Tetapi, mereka harus beranjak dari peraduan, sebab tak tahu juga di sini adzan Subuh jam berapa.
Arumi dan Bella memakai jilbab terlebih dahulu sebelum keluar, sebab di luar pasti ada sang Ustadz.
Lalu, setelah itu, barulah keduanya berjalan keluar dengan langkah pelan.
Saat melewati dapur, sudah tercium bau masakan yang amat menggugah selera.
Rupanya, Bi Inah sudah siap berkutat di dapur.
"Selamat pagi, Bi, eh Bibi udah tanginas aja," ucap Bella.
"Muhun atuh, Neng, Bibi mah kudu masak," jawab Bi Inah.
(Iyalah, Neng. Bibi mah harus masak,)
"Umi sama Ustadz Abdullah ke mana, Bi?" tanya Arumi, pasalnya ia belum melihat kemunculan pemilik rumah sedari tadi.
"Mereka masih di kamar kayaknya, Neng," jawab Bi Inah.
"Oh, iya. Ya udah, Bi, aku ke kamar mandi dulu ya," pamit Arumi.
Gadis itu langsung berjalan ke kamar mandi, sebelum Bella akan ke kamar mandi juga.
"Kayaknya, ini salatnya di masjid, deh. Kalau gitu, aku mandi dululah, masa ke masjid tapi jelek," gumam Arumi.
Byur.
Segayung air disiramkan pada tubuh Arumi, dan rasa dingin langsung menyergapnya tanpa ampun.
Selain rasa dingin dari air, rasa dingin dari sela-sela pintu juga begitu terasa.
"Kak, kamu ngapain sih lama banget di kamar mandi?" tanya Bella dengan sedikit berteriak.
Rupanya, gadis itu sedari tadi sudah ada di dekat kamar mandi, dan ia menunggu Arumi yang tak kunjung keluar dari kamar mandi itu.
"Lagi mandi aku, Bell," jawab Arumi dari dalam.
"Ya ampun, Kak, emang nggak dingin apa? Aku aja dingin loh!" seru Bella.
"Dingin, tapi nggak papa, biar kuat," jawab Arumi asal.
Setelahnya, tak ada lagi sahutan dari Bella, sepertinya gadis itu heran juga dengan jawaban kakaknya itu.
***
Lima belas menit kemudian.
Arumi keluar dengan memakai baju gamis berwarna biru.
Gamis itu tampak cantik membalut tubuhnya, dipadukan dengan jilbab instan berwarna merah maroon.
Saat ia keluar, rupanya sudah tak ada lagi Bella di sana, mungkin ia bosan menunggu, sehingga kembali lagi ke dapur.
Saat kaki jenjang itu melangkah melewati dapur, rupanya Umi Farida sudah ada di sana, ikut memasak bersama Bi Inah.
"Kamu habis mandi, Rum?" tanya Umi Farida.
"Iya, Umi, aku baru selesai mandi," jawab Arumi.
"Oh gitu, pantesan kok adikmu itu kayak agak kesel, nungguin kamu katanya lama banget," ucap Umi Farida.
Mendengar itu, Arumi hanya bisa tersenyum saja.
"Ah, dia emang gitu, Umi, nggak sabaran," jawab Arumi.
Saat mereka masih berbincang-bincang, suara Adzan terdengar, mengalihkan atensi mereka, dan membuat kegiatan terhenti.
Suara Adzan tersebut begitu dekat, mungkin berasal dari masjid pondok.
"Panggil adikmu, Arumi, kita Salat berjamaah di masjid pondok," titah Umi Farida.
"Iya, Umi,"
Belum Arumi beranjak, Bella sudah datang, gadis itu sepertinya dari kamar.
Bajunya pun sudah rapi, dan ia wangi.
"Kakak, gimana dong aku nggak sempet mandi, habisnya kamu lama banget sih," ucap Bella, wajahnya merengut kesal.
"Nggak papa, Bell, mandinya habis Salat aja, kita bisa wudu di masjid," jawab Arumi.
"Ih, aku teh rasanya nggak pede atuh," ucap Bella.
"Udah, kalian ini kok malah debat seperti itu? Kamu bisa mandi habis Salat, Bell," ucap Umi Farida yang merasa jengah mendengar perdebatan kedua gadis itu.
"Hehehe, siap, Umi," jawab Bella akhirnya mengangguk pasrah.
***
Saat mereka tiba di serambi masjid, suara Adzan telah berhenti.
Mereka semua Salat berjamaah, diimami oleh Ustadz Abdullah selaku pemilik pondok.
Maaf banget dikit up-nya, ya.