NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Laporan awal

Lama menangis mengakibatkan mata Laura sembab, kini gadis itu sudah terlelap dengan bantalan paha ibu mertuanya. Adeline senantiasa mengelus rambut menantunya dengan sayang. Tangan lembut itu merasakan hawa hangat pada tubuh Laura. Di pastikan jika Laura kembali demam.

Maka dari itu, Adeline memerintahkan pelayan Kim untuk membawakan plester menurun demam.

Adeline dengan telaten menempelkan plester penurun demam itu di dahi Laura yang tampak berkerut, bahkan dalam tidurnya. Napas gadis itu masih berat, sesekali tubuhnya tersentak kecil seperti orang yang tengah bermimpi buruk. Bahkan terkadang, bibir gadis itu bergumam lirih memanggil nama Rahel.

“Kasihan sekali, lihat.. kamu kembali demam karena banyak pikiran,” gumam Adeline lirih, matanya berkaca-kaca menatap wajah sayu Laura. Ia menoleh ke arah Gaharu yang masih setia berada di samping sofa. “Gaharu, suhu badannya naik lagi. Sebaiknya Laura dipindahkan ke kamar agar bisa istirahat lebih nyaman.”

Gaharu tidak langsung menjawab. Sepasang matanya menatap lekat plester yang menempel di dahi istrinya, lalu beralih pada perban baru di lutut Laura. Rasa hangat yang menjalar di tubuh Laura bahkan bisa ia rasakan saat jemarinya menyentuh punggung tangan gadis itu.

“Biar aku yang membawanya ke kamar, Ibu,” ucap Gaharu datar namun terselip nada tegas yang tak terbantahkan.

Adeline sempat tertegun. Ia melirik sekilas ke arah kursi roda yang di duduki putranya. “Tapi Gaharu, kakimu—”

“Aku masih memiliki tangan yang kuat untuk mendekap istriku. Juan bisa membantuku untuk memindahkannya ke ranjang setelah ini,” potong Gaharu pelan, enggan mendebat dalam situasi tegang seperti ini.

Gaharu memajukan kursi rodanya hingga benar-benar menempel dengan pinggiran sofa. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur Laura, ia menyelipkan kedua lengannya yang kekar di bawah tengkuk dan lipatan lutut sang istri. Tentunya, Adeline ikut membantu. Dengan satu hentakan napas, Gaharu mengangkat tubuh mungil Laura ke dalam pangkuannya.

Ah, tubuh Laura benar-benar ringan.

“Eungh...” Laura melenguh kecil, kepalanya secara alami bersandar di dada bidang Gaharu, mencari posisi nyaman sembari menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan.

“Sstt... ini aku. Tidurlah,” bisik Gaharu rendah. Ia kemudian menatap ibunya. “Ibu istirahatlah. Biar pelayan Kim yang menyiapkan kompresan tambahan atau makanan hangat jika nanti Laura terbangun.”

“Baiklah. Jaga istrimu baik-baik, Gaharu. Ibu sangat mengkhawatirkan kondisinya,” balas Adeline sembari berdiri, memberikan ruang bagi Gaharu untuk memutar kursi rodanya menuju lift khusus yang menghubungkan langsung ke lantai atas.

Di dalam kamar, Gaharu baru saja selesai memindahkan Laura dengan di bantu oleh sekertaris Juan. Setelah menyelimuti istrinya hingga sebatas dada, Gaharu memutar kursi rodanya ke arah sofa. Ia memerintahkan Juan untuk duduk dan memulai laporannya.

“Tuan Muda, Arlo sudah menunggu di ruang kerja Anda. Dan... tim IT baru saja mengirimkan laporan awal mengenai pelacakan akun tersebut,” lapor Juan dengan suara yang sengaja di rendahkan agar tidak mengganggu tidur Nyonya mudanya.

“Bagaimana dengan pria bernama Baskoro itu?” tanya Gaharu, suaranya berbisik namun sarat akan ancaman.

“Dia orang yang Anda kenal, Tuan. Baskoro Adhiarja.” Juan membuka tab-nya lalu menyerahkan tab tersebut kepada Gaharu.

“Keluarga Adhiarja sudah menjalin bisnis dengan keluarga Gardapati cukup lama. Reputasinya cukup baik, namun tentang berita tersebut, saya meragukan jika beliau melakukannya.”

Gaharu menerima tab dari tangan Juan, matanya menyipit tajam menatap barisan data dan foto profil pria yang tertera di layar. Nama 'Baskoro Adhiarja' bukanlah nama yang asing di telinganya. Hubungan bisnis antara keluarga Gardapati dan keluarga Adhiarja sudah berjalan hampir satu dekade.

“Baskoro Adhiarja...” Gaharu menggumamkan nama itu, nadanya terdengar berbahaya. Ada jeda beberapa detik sebelum ia kembali bersuara. “Aku juga meragukannya. Baskoro adalah pria yang terlalu kaku dan gila hormat pada reputasinya sendiri. Dia tidak akan sebodoh itu mempertaruhkan karier akademis dan nama baik keluarganya hanya untuk skandal murahan di kampus.”

Gaharu menggeser layar tab, membaca analisis awal dari tim IT-nya. “Lalu, bagaimana dengan akun penyebar pertamanya?”

“Akun tersebut menggunakan virtual private network berlapis dan nomor sekali pakai dari luar negeri saat mendaftar, Tuan,” jawab Juan. “Namun, tim IT kita berhasil melacak jejak digital IP address asli yang sempat bocor beberapa detik sebelum VPN itu diaktifkan sepenuhnya. Seseorang mengaksesnya dari area yang tidak jauh dari lingkungan kampus fakultas seni.”

Gaharu mendengus sinis. Tatapannya beralih sekilas pada Laura yang bergerak gelisah di atas ranjang king size miliknya, sebelum matanya kembali fokus pada tab di tangannya.

“Artinya, ini bukan sekedar kebetulan. Pelakunya adalah orang dalam, atau setidaknya seseorang yang tahu betul seluk-beluk fakultas seni. Memanfaatkan popularitas dan nama besar Baskoro agar skandal ini meledak dengan cepat, sekaligus menghancurkan nama baik gadis bernama Rahel.”

“Benar, Tuan muda. Rumor skandal ini langsung meledak dalam satu malam. Media bahkan mempertanyakan kebenarannya atas berita yang beredar. Bahkan, saat ini media berdemo di depan perusahaan utama keluarga Adhiarja.”

Gaharu menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang sarat akan hawa membunuh. Jemarinya mengetuk pinggiran tab dengan ritme yang lambat namun konstan, menciptakan ketukan yang terasa mengintimidasi di dalam keheningan kamar.

“Media berdemo di depan perusahaan Adhiarja?” Gaharu mendengus, menyerahkan kembali tab itu kepada Juan dengan gerakan kasar.

“Bodoh. Mereka benar-benar bergerak cepat. Ini bukan lagi sekedar rumor kampus, Juan. Ini adalah serangan terstruktur. Siapa pun dalang di balik semua ini, tujuannya bukan hanya menghancurkan masa depan Rahel, tapi juga menjatuhkan saham dan reputasi bisnis keluarga Adhiarja.”

Gaharu memutar kursi rodanya, mendekat ke sisi ranjang. Ia mengulurkan tangan besarnya, mengusap pelan pipi Laura yang kini terasa panas. Menyaksikan sang istri yang mengigau cemas dalam tidurnya membuat dada Gaharu bergemuruh oleh amarah yang tertahan.

“Mereka ingin bermain kotor di wilayahku, bahkan sampai menyeret ketenangan istriku,” bisik Gaharu rendah, suaranya terdengar seperti desisan singa yang terusik. Ia kembali menatap Juan dengan netra yang menggelap.

“Gunakan otoritas Gardapati. Perintahkan tim IT untuk meretas dan men-take down semua artikel berita, utas, maupun foto editan itu dari seluruh platform digital. Bersihkan semuanya tanpa tersisa. Jika ada media yang berani menolak atau menaikkan berita itu lagi, beli saham mayoritas perusahaan mereka besok pagi dan pecat jurnalisnya.”

Juan berdiri dan membungkuk dalam, memahami betul bahwa jika Tuan mudanya sudah mengeluarkan perintah seperti ini, artinya tidak boleh ada satu pun kesalahan.

“Baik, Tuan Muda. Akan segera saya koordinasikan dengan divisi hukum dan IT.”

“Lalu, bagaimana dengan keberadaan Rahel? Di mana gadis itu sekarang?” tanya Gaharu, kilat matanya menuntut jawaban.

“Ponselnya mati total, Tuan. Namun, informan kita menemukan koordinat terakhir kendaraan yang ditumpanginya mengarah ke area jembatan pinggiran kota sekitar tiga jam yang lalu. Tim lapangan sudah saya kerahkan untuk menyisir area tersebut sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi.”

Mendengar lokasi jembatan pinggiran kota disebut, rahang Gaharu mengetat sempurna. Mengingat kondisi psikologis gadis seumur Rahel yang mendadak dihantam fitnah sekeji itu, kemungkinan terburuk langsung melintas di kepalanya. Jika sesuatu terjadi pada Rahel, Laura dipastikan akan terpuruk. Dan Gaharu tidak akan membiarkan air mata istrinya mengalir lagi karena kelalaian orang-orangnya.

“Bawa Arlo, biarkan dia memimpin tim lapangan, aku rasa pria itu cukup berguna. Hidup atau mati, bawa gadis itu ke tempat yang aman. Dan pastikan.. tidak ada media yang meliput hal tersebut.”

“Di mengerti, Tuan.”

***

Double up karena otak author sedang encer. Juga.. author sedang merasa senang karena melihat view pembaca meningkat. Jika kedepannya terus meningkat, mungkin author dapat update rajin-rajin demi kalian para pembaca. Terimakasih 🫶🏻

Sabtu, 23 Mei 2026

Published : Sabtu, 23 Mei 2026

1
Umi Kolifah
semoga cepat sembuh kak semangat buat nulis lagi💪💪💪💪
Umi Kolifah
jangan lama2 kak punya seru nich ceritanya
merry
bnr kt Bpk y jendra akhir cucu y alias ank dr ank angkt y jdi sumber mslh ya
Juna Dong
menarik
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!