Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.
Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Darah di Puncak Langit
Gema suara Ye Chen bagaikan guntur surga baru mereda, namun getarannya masih menembus hingga tulang sumsum setiap orang. Di atas singgasana tertinggi, Xiao Ling perlahan berdiri tegak. Gerakannya lembut, namun memancarkan hawa sedingin es dan setajam pisau yang baru diasah. Jubah putihnya berkibar pelan seiring angin tak kasat mata, dan seketika udara di seluruh ruangan menjadi berat dan menekan, seolah gunung purba turun menindih bumi. Ia menatap lurus ke kejauhan, seolah menembus dinding tebal aula itu, menatap tepat ke arah wilayah Sekte Naga Api dan Sekte Pedang Hitam yang kini bersorak dalam kesombongan buta. Sepasang matanya yang indah namun tajam memancarkan kilatan merah samar yaitu tanda kemarahan yang telah mendidih lama dan tak lagi sanggup dibendung.
"Benar, Yang Mulia..." Suaranya terdengar rendah namun jelas terdengar hingga ke sudut terjauh ruangan, dingin dan bergetar hebat menahan amarah yang meluap-luap di dalam dadanya.
"Mereka berani menghina Kaisarku... berani menginjak-injak harga diri Sekte Langit yang telah dijunjung tinggi selama ribuan tahun... dan berani menumpahkan darah saudara-saudara kita yang tak berdosa." Rahangnya terkatup rapat, seolah setiap kata yang keluar tercabut dari lubuk hatinya yang paling dalam dan paling perih.
"Itu bukan sekadar kesalahan yang bisa dimaafkan... Melainkan dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan nyawa mereka sendiri!" Bentak Xiao Ling, tangannya mencengkeram gagang pedang hingga buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meluap.
"Bahkan membakar tubuh mereka hingga menjadi abu pun belum cukup! Belum cukup untuk menghapus noda hitam penghinaan yang telah mereka torehkan!" Suaranya melengking, matanya menyala merah menatap kejauhan seolah sudah bisa melihat musuh-musuhnya terbakar di hadapannya.
Xiao Ling perlahan mengangkat tangan kanannya. Udara di sekelilingnya seketika berputar kencang, menciptakan pusaran angin yang menyapu seluruh ruangan, dan seketika itu juga sebilah pedang panjang berwarna putih bersih yang dihiasi ukiran awan surgawi muncul berkilauan di genggamannya. Itulah Pedang Awan Putih yaitu senjata pusaka yang legendaris, yang kini akhirnya mengakui dia sebagai tuannya. Cahaya yang dipancarkannya begitu menyilaukan mata, namun di balik keindahannya yang memukau tersimpan kekuatan yang sanggup membelah langit dan bumi sekaligus.
"Selama ini, aku diam dan bersabar..." Lanjut Xiao Ling, suaranya perlahan meninggi, bergema megah dan penuh tekad yang membara tak terbendung.
"Aku diam saat mereka mengira aku hanyalah bayangan yang tak berharga di belakangmu..." Ucapnya perlahan, rahangnya terkatup rapat hingga urat di pelipisnya menonjol, jari-jarinya mencengkeram gagang pedang hingga berbunyi nyaring karena tekanan yang luar biasa.
"Aku diam saat mereka meremehkan kekuatan yang tersembunyi di balik sosokku yang tampak rapuh dan lemah..." Suaranya perlahan meninggi dan bergetar menahan amarah yang meluap, sepasang matanya perlahan menyala merah menyala bagaikan bara api, hawa dingin mematikan mulai menyembur dari seluruh tubuhnya hingga membuat udara di sekelilingnya bergetar.
"Aku diam saat mereka berani berbicara kasar seolah aku tak berdaya..." Ia perlahan mengangkat pedangnya setinggi bahu, ujung mata pedang itu bergetar hebat seolah ikut merasakan kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya.
"Namun hari ini... kesabaran itu telah habis sampai ke akarnya!" Ia tiba-tiba menebas ke udara dengan kekuatan penuh, menciptakan gelombang angin yang menggelegar dan membelah ruang di hadapannya, matanya menatap tajam seolah sudah bisa merobek musuhnya dari kejauhan.
"Mereka mengira keheninganku adalah tanda ketakutan? Mereka keliru besar! Keheninganku itu hanyalah badai yang diam-diam sedang mengumpulkan seluruh kekuatannya sebelum meluluhlantakkan dan menghancurkan segalanya!" Ia mendengus keras, urat-urat di lehernya menegang kencang, darah di pembuluh nadinya berdenyut hebat seolah siap meledak menahan amarah yang tak tertahan.
"Mereka mengira aku tak berani angkat kepala? Hari ini aku akan biarkan mereka melihat... Bahwa bayangan yang selama ini mereka remehkan itu, kini telah berubah menjadi maut yang akan menelan seluruh nyawa mereka hingga tak tersisa satu pun!" Suaranya melengking tajam, menembus langit-langit aula hingga bergema di seluruh penjuru, setiap kata mengandung niat membunuh yang pekat dan tak terbendung.
"Tak ada lagi belas kasihan! Tak ada lagi kata maaf! Mulai detik ini... Setiap napas yang mereka hembuskan akan menjadi penyesalan terbesar yang pernah mereka rasakan seumur hidup!" Ia mengacungkan pedangnya tinggi ke arah ufuk seolah sedang menatap dan menantang seluruh musuh di seberang sana, hawa pembunuhnya menebal hingga terasa nyata, membuat udara di sekeliling menjadi berat seolah menindih bahu setiap orang yang hadir
Ia berbalik perlahan menatap Ye Chen. Gerakannya begitu lembut, namun setiap inci tubuhnya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. Di dalam sepasang matanya yang jernih namun kini menyala penuh semangat itu, tak ada lagi sedikit pun keraguan, tak ada lagi bayang-bayang rasa takut tapi hanya ada kesetiaan mutlak yang tak akan pernah luntur, dan cinta yang sedalam samudra raya, begitu luas dan dalam hingga tak terukur. Perasaan itu kini menyatu sempurna dengan tekad yang sekeras baja gunung tertinggi, takkan pernah bisa dibengkokkan, dipatahkan, atau diubah oleh apa pun di bawah langit ini. Tatapan itu seolah berkata seperti di mana pun kau berada, di sanalah tempatku berdiri karena apa pun yang kau hadapi, akulah yang akan mendampingimu sampai akhir waktu.
"Yang Mulia..." Ucapnya lembut namun tegas, seolah sedang mengucapkan sumpah suci di hadapan seluruh alam semesta dan para dewa yang menyaksikan dari atas langit.
"Di sini, di hadapan singgasana ini, di hadapan para tetua dan seluruh saudara kita yang setia..." ucapnya dengan suara yang bergetar penuh kesungguhan, perlahan ia berlutut dengan satu kaki di atas lantai batu, kepalanya sedikit menundukkan tanda penghormatan tertinggi, kedua tangannya menggenggam gagang pedang lalu menempelkannya ke dada kiri tepat di atas jantungnya yang berdebar kencang.
"Aku bersumpah... Segala kekuatan yang kumiliki, nyawa yang kusandang, akal budi yang ada di kepalaku, dan masa depan yang terbentang di hadapanku... semuanya adalah milikmu sepenuhnya, tak ada sedikit pun yang tersisa untuk diriku sendiri!" Suaranya meninggi, bergema megah hingga memenuhi seluruh penjuru ruangan, matanya menatap lurus ke manik mata Ye Chen dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Tak ada satu pun kekuatan, tak ada satu pun napas, dan tak ada satu pun mimpi yang bukan milikmu... Mulai detik ini, aku bukan lagi milik diriku sendiri. Aku adalah senjatamu yang takkan pernah tumpul, adalah perisaimu yang takkan pernah retak, dan adalah bayanganmu yang takkan pernah terpisah meski langit runtuh sekalipun!" Lanjutnya dengan nada yang makin dalam dan suci, tubuhnya sedikit membungkuk seolah mempersembahkan seluruh jiwanya.
"Jika kau membutuhkanku untuk menembus kawah neraka... Aku akan melangkah tanpa ragu sedikit pun, meski api neraka itu membakar seluruh tubuhku sekalipun!" Ucapnya dengan suara yang rendah namun bergetar kuat, tangannya yang menggenggam gagang pedang makin menekan ke dadanya, seolah ingin menancapkan janji itu tepat ke dalam jantungnya
"Jika kau memerintahkanku untuk mendaki puncak surga... Aku akan mendaki tanpa henti, meski langit itu sendiri harus aku robek demi mencapai sisimu!" Lanjutnya, suaranya perlahan meninggi hingga bergema di seluruh ruangan
"Tak ada permintaan yang terlalu berat, tak ada bahaya yang terlalu menakutkan... Karena di dalam diriku, hanya ada satu tujuan yang takkan pernah pudar yaitu melayanimu sepenuh hati, melindungimu sampai tetes darah terakhirku, dan menemanimu melangkah sampai akhir segala masa!" Ucapnya dengan nada yang tak tergoyahkan, setiap kata terasa sekeras batu karang
"Jika kau ingin membakar langit hingga menjadi abu... Aku akan menjadi api yang paling dahsyat, yang turut membakarnya bersamamu hingga tak ada satu pun yang tersisa!" Ucapnya dengan suara yang bergetar penuh semangat, tangannya mencengkeram gagang pedang hingga buku-buku jarinya memutih, seolah-olah ia sudah bisa merasakan panasnya nyala api yang melahap angkasa
"Jika kau ingin meratakan bumi hingga menjadi debu halus... Aku akan menjadi gempa yang paling hebat, yang turut menghancurkannya bersamamu hingga tak ada satu pun bukit yang mampu berdiri tegak!" Ia menghentakkan kakinya ke lantai batu, menimbulkan getaran yang menjalar ke sekeliling,
"Jika kau ingin menenggelamkan samudra hingga kering kerontang... Aku akan menjadi ombak raksasa yang paling ganas, yang turut menelan segala isinya bersamamu hingga dasar laut pun terbuka telanjang!" Ia mengayunkan pedangnya perlahan, seolah sedang memanggil kekuatan ombak yang tak terhingga, suaranya kini bergema megah memenuhi seluruh ruangan
Ia menatap lurus ke manik mata Ye Chen, tatapannya begitu dalam dan tak tergoyahkan, seolah jiwanya telah menyatu sepenuhnya dengan pria di hadapannya itu. "Ke mana pun kau melangkah, aku akan mengikuti tanpa ragu sedikit pun... Apa pun yang kau lakukan, aku akan mendukungnya sepenuh hati dan segenap nyawaku!"
"Di medan perang nanti, aku tak akan pernah berdiri di belakangmu untuk dilindungi..." Ucapnya tegas, matanya menyala berapi-api, dadanya membusung penuh keberanian, seolah sudah bisa merasakan hawa panas pertempuran yang akan datang.
"Aku akan berjalan di barisan terdepan, tepat di sampingmu... Menjadi perisai pertama yang menahan setiap serangan mematikan musuh, meski harus menampung ribuan bilah tajam sekaligus!" Ia melangkah maju selangkah, tubuhnya memancarkan keganasan yang tak tertandingi, gagang pedang dicengkeramnya makin erat seolah menjadi perpanjangan dari tangannya sendiri.
Suaranya melengking tajam, bergema penuh niat membunuh yang pekat. "Dan menjadi pedang pertama yang menebas leher serta memenggal kepala pemimpin mereka yang paling sombong itu! Aku akan pastikan ia merasakan betapa mahalnya kesombongannya, tepat di ujung pedangku ini!"
"Biarkan seluruh dunia tahu... Bahwa Ratu Pedang yang selama ini mereka anggap sekadar mitos belaka, tak lebih dari dongeng... Kini telah bangkit dari kesunyiannya yang panjang, telah terbangun dari diamnya yang menipu!" Ia mengangkat kepala setinggi langit, rambut putihnya beterbangan tertiup angin yang tiba-tiba mengamuk di sekelilingnya, matanya menyala merah menyala bagaikan mata bara yang tak pernah padam.
"Dan aku telah berdiri di sini, siap menuntut balas untuk menuntut hutang nyawa, menuntut hutang kehormatan, atas setiap tetes darah saudara kita yang telah tumpah dan takkan pernah bisa kembali!" Suaranya meledak bagaikan petir yang menyambar, bergema hingga mengguncang pondasi gunung tempat mereka berdiri.
Mendengar sumpah yang begitu tulus, begitu berani, sekaligus begitu dahsyat yang meluncur dari bibirnya itu, seluruh orang yang hadir di dalam aula itu seketika berlutut serentak, seolah terpesona dan tertunduk oleh keagungan kata-katanya yang mengguncang jiwa. Tidak ada satu pun yang tertinggal berdiri yaitu mulai dari para tetua yang telah hidup ratusan tahun, hingga para prajurit termuda yang baru mengangkat senjata yaitu semuanya menundukan kepala hingga menyentuh lantai batu, merasakan getaran suci yang menjalar hingga ke tulang sumsum mereka. Suasana seketika berubah menjadi hening total, begitu sunyi hingga seolah dapat terdengar jatuhnya sebutir debu di lantai. Hanya terdengar suara napas yang berat, terengah-engah, bercampur dengan rasa haru dan kekaguman yang mendalam hingga membuat dada setiap orang terasa sesak. Mereka merasakan dengan sepenuh hati bahwa apa yang baru saja mereka saksikan bukanlah sekadar janji biasa, melainkan sebuah ikatan yang dibentuk oleh darah, jiwa, dan takdir yang takkan pernah bisa diputuskan oleh kekuatan apa pun di bawah langit ini. Di dalam keheningan itu, setiap orang sadar sepenuhnya yaitu hari ini, di hadapan mata langit dan bumi, sebuah kekuatan yang tak terkalahkan telah lahir sepenuhnya.
"Sungguh sumpah yang agung dan suci... Selama ratusan tahun kami hidup, belum pernah kami mendengar janji yang begitu murni dan begitu kuat. Kini kami tahu... Sekte Langit tidak hanya memiliki Kaisar yang tak terkalahkan di seluruh penjuru dunia, tetapi juga memiliki Ratu yang tak tertandingi keberanian dan kekuatannya!" Bisik Tetua Tertinggi dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca karena haru dan bangga.
"Benar sekali! Dengan dua kekuatan raksasa ini bersatu menjadi satu... tak ada satu pun musuh, tak ada satu pun sekte, dan tak ada satu pun kekuatan di bawah langit ini yang mampu bertahan hidup atau melawan kehendak kalian berdua!"Seru tetua lainnya dengan suara lantang yang bergema.
"Kami siap berjuang di bawah panji kalian berdua! Kami siap menumpahkan darah kami, siap mempertaruhkan nyawa kami, dan siap berjuang sampai tetes darah terakhir kami demi kejayaan Sekte Langit dan demi Kaisar serta Ratu kami!" Teriak para pemimpin pasukan dengan semangat yang meluap-luap hingga nyaris meledak.
"Kami takkan mundur selangkah pun! Di mana kalian berdiri, di sanalah kami akan berjuang sampai nafas terakhir kami terhembus!" Tambah para murid elit dengan suara yang bergetar penuh keyakinan.
Mata Ye Chen menatap wanita di hadapannya dengan pandangan yang begitu dalam, begitu tajam, seolah ingin meresapi seluruh jiwa dan raganya hingga ke bagian yang paling tersembunyi. Di dalam hatinya, rasa bangga meluap-luap hingga nyaris meledak dari dadanya. Ia sadar sepenuhnya... ia telah menemukan harta paling berharga, paling murni, dan paling kuat yang pernah dimiliki oleh siapa pun sepanjang sejarah dunia ini. Perlahan, Ye Chen pun mengangkat tangannya ke udara. Sebilah pedang hitam pekat yang memancarkan aura kegelapan yang tak tertembus, seolah menelan segala cahaya di sekelilingnya, muncul dengan megah di genggamannya. Cahaya hitam yang mematikan itu bertabrakan dengan cahaya putih milik Xiao Ling, menciptakan getaran dahsyat yang mengguncang seluruh pondasi bangunan megah itu hingga ke akar-akarnya.
"Bagus... Itulah kata-kata yang paling ingin aku dengar seumur hidupku" Ucap Ye Chen pelan namun bergema kuat, matanya bersinar terang penuh kekaguman dan cinta yang tak terhingga.
"Kau bukan sekadar pendampingku, Ling'er..." Ucap Ye Chen perlahan, suaranya rendah namun bergetar penuh perasaan yang mendalam. Ia melangkah maju perlahan, tangannya yang besar dan kokoh terulur lembut untuk menggenggam tangan Xiao Ling dengan erat, seolah takkan pernah membiarkannya terlepas selamanya.
"Kau adalah separuh jiwaku, belahan napasku, dan bagian yang melengkapi seluruh keberadaanku yang tadinya terasa hampa dan tak berarti... Tanpaku, kau takkan ada. Namun tanpamu... aku pun takkan pernah menjadi apa pun yang aku miliki dan aku banggakan saat ini." Lanjutnya, matanya menatap tajam namun penuh kelembutan ke dalam manik mata wanita itu, seolah ingin meresapi setiap inci dari sosok yang paling berharga di hadapannya.
"Dan bersama kita... Adalah kehancuran mutlak, azab yang tak terelakkan, bagi siapa pun yang berani melawan kita atau menghalangi jalan kita!" Suaranya tiba-tiba meledak penuh kekuatan dan keganasan, bergema menggetarkan seluruh ruangan
"Mereka mengira hanya aku yang harus mereka takuti?Mereka keliru besar... keliru yang sangat fatal hingga nyawa mereka pun takkan cukup untuk menebusnya!" Seru Ye Chen tiba-tiba, matanya menyala tajam bagaikan bara api yang menyala-nyala, kepalan tangannya terkunci erat hingga urat-urat di lengannya menonjol menahan amarah yang meluap.
"Karena saat kau bangkit... kau adalah bencana yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan daripada segala badai yang pernah melanda dunia ini! Jauh lebih mematikan, jauh lebih menghancurkan daripada petir yang menyambar dari puncak langit tertinggi!" Suaranya melengking dan bergema menggetarkan seluruh ruangan, seolah langit sendiri ikut bergetar mendengarnya
Ye Chen perlahan mengangkat pedang hitamnya setinggi langit, lengannya tegak dan kokoh seolah menopang seluruh beratnya alam semesta. Seiring gerakannya, cahaya hitam pekat yang memancar dari bilah itu meluas deras, menelan segala cahaya di sekelilingnya hingga menimbulkan rasa ngeri yang menembus tulang sumsum. Di sisinya, Xiao Ling pun melakukan hal yang sama persis seperti ia mengangkat Pedang Awan Putih ke puncak tertinggi, gerakannya anggun namun penuh kekuatan yang tak tergoyahkan, hingga cahaya putih bersih yang menyilaukan memancar terang bagaikan matahari yang baru lahir. Dua kekuatan yang bertolak belakang itu bersinar makin terang, saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain, seolah menyatu menjadi satu kekuatan mutlak yang tak tertandingi. Sinar putih dan hitam itu melesat ke atas dengan kecepatan yang tak terbayangkan, menembus atap aula yang tebal, merobek lapisan awan kelabu yang menyelimuti langit luar, hingga menembus jauh ke angkasa yang tak bertepi. Langit yang tadinya kelabu seketika terbelah dua seperti sisi satu bersinar terang bagaikan surga, sisi lain diselimuti kegelapan yang menakutkan yang seolah alam semesta sendiri sedang bersiap menunduk hormat di hadapan dua sosok yang kini memegang takdir dunia di ujung pedang mereka.
"Maka dengan ini... Aku, Ye Chen, Pemimpin Sekte Langit, Kaisar Perang yang tak terkalahkan sepanjang masa... dan kau, Xiao Ling, Ratu Pedang yang tak tertandingi keberanian dan kekuatannya... kita bersumpah di sini, di hadapan langit dan bumi, di hadapan para dewa dan seluruh makhluk yang menyaksikan sumpah suci ini." Seru Ye Chen lantang, suaranya memerintah seluruh alam semesta, seolah langit dan bumi pun harus tunduk mendengarnya.
"Kita akan bergerak sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan selamanya... Tak ada kekuatan apa pun di bawah langit ini yang sanggup memisahkan kita, tak ada bahaya yang mampu memecah ikatan darah yang telah kita bina!" Seru Ye Chen lantang, pedang hitam di tangannya bergetar hebat seolah turut merasakan tekad yang membara, aura kegelapannya meluas menelan seluruh ruangan.
Ia menatap tajam ke arah kejauhan, matanya menyala penuh api pembalasan. "Kita akan menghancurkan Sekte Naga Api hingga tak tersisa satu batu pun yang utuh berdiri! Kita akan membumihanguskan setiap bangunan, setiap lorong, hingga tak ada sedikit pun bekas yang membuktikan bahwa mereka pernah ada di dunia ini!"
Suaranya makin melengking, bergema menggetarkan seluruh pondasi gunung. "Dan kita akan meratakan Sekte Pedang Hitam menjadi debu halus yang tertiup angin... hingga tak ada jejaknya lagi di muka bumi ini! Nama mereka akan dihapus dari catatan sejarah, seolah mereka hanyalah mimpi buruk yang telah lenyap selamanya!"
"Kita akan membuat siapa pun yang pernah berani menghina nama kita, meragukan kekuatan kita, atau menyakiti orang-orang yang kita cintai..." Seru Ye Chen dengan suara yang menggelegar bagaikan guntur surga, ujung pedang hitamnya menunjuk tajam ke arah kejauhan seolah sudah menancap tepat di dada setiap musuh yang berani menentang mereka, hawa pembunuhnya menebal hingga membuat udara terasa berat menindih.
"Mereka yang pernah meludahi kehormatan kita, mereka yang menertawakan kekuatan kita, dan mereka yang menumpahkan darah orang-orang yang kita sayangi... Akan kita buat merasakan penderitaan yang melampaui rasa sakit kematian itu sendiri yaitu rasa perih yang takkan pernah berakhir, siksaan yang takkan pernah terhapus!" Suaranya makin menajam, bergetar menahan amarah yang nyaris meledak, setiap kata terasa sebilah pisau yang menancap dalam
Ia mengayunkan pedangnya ke bawah dengan gerakan yang mematikan, seolah sedang menindas seluruh harapan hidup musuh-musuhnya. "Hingga di setiap detik yang mereka jalani, mereka hanya akan meratap dan berharap... berharap tak pernah lahir ke dunia ini selamanya, berharap lenyap sepenuhnya agar tak perlu lagi menanggung balasan pedih yang kita bawa!"
Ye Chen perlahan memutar tubuhnya, menoleh ke arah para tetua dan ribuan pasukan yang masih berlutut dengan kepala tertunduk di bawah sana. Saat itu juga, seluruh aura kepemimpinannya yang terpendam meledak sepenuhnya seperti luas, dahsyat, dan tak terukur yang menyapu serta menyelimuti seluruh ruangan bagaikan samudra tak terbatas yang bergulung hebat. Kekuatan itu begitu berat dan menindih, seolah seluruh gunung tempat mereka berdiri turut menekan bahu setiap orang yang hadir, membuat napas terasa sesak namun sekaligus membangkitkan semangat yang membara di dada. Tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah, karena di hadapan keagungan itu, mereka sadar sepenuhnya siapa yang berdiri di hadapan mereka bukan sekadar seorang pemimpin, melainkan penguasa mutlak yang memegang takdir hidup dan mati di tangannya.
"Dengar perintahku!" Serunya, suaranya bagaikan tiupan sang maut yang membangunkan setiap kekuatan tidur di dalam tubuh setiap orang yang mendengarnya.
"Besok, tepat saat matahari pertama kali muncul di ufuk timur dan menyinari bumi kita berangkat!" Seru Ye Chen dengan suara yang menggelegar bagaikan guntur yang mengguncang bumi, tangannya yang menggenggam pedang hitam terangkat tegak, auranya meluap menekan seluruh ruangan
"Kita takkan datang sebagai tamu yang membawa hadiah manis... melainkan sebagai penghakim yang membawa kehancuran mutlak! Kehancuran yang takkan menyisakan ampun bagi siapa pun yang berani melawan atau menghalangi langkah kita!" Suaranya menajam, penuh dingin dan ketegasan
"Siapkan seluruh pasukan tempur terbaik yang kita miliki! Jangan tinggalkan satu pun prajurit yang tangguh di belakang! Kerahkan setiap kekuatan yang kita miliki!" Bentak Ye Chen dengan suara yang menggelegar hingga dinding-dinding aula bergetar, matanya menyala tajam bagaikan bara api yang tak terpadamkan, kepalan tangannya di gagang pedang hitam makin erat seolah hendak meremukkan logam itu.
"Asah setiap mata pedang hingga setajam mungkin... hingga sanggup membelah besi, merobek baja, dan menembus pertahanan paling kokoh sekaligus! Pastikan tak ada satu pun senjata yang tumpul saat kita melangkah ke medan pertempuran!" Suaranya makin meninggi, bergetar menuntut kepatuhan mutlak, seolah ia sudah melihat kilatan bilah-bilah tajam itu
"Isi perbekalan hingga penuh! Karena perang ini takkan berhenti, takkan ada jeda, sampai tugas kita selesai sepenuhnya dan musuh kita runtuh sepenuhnya di kaki kita!" Ia menghentakkan kakinya ke lantai batu, menimbulkan getaran yang menjalar ke seluruh ruangan, auranya meluas menindih bahu setiap orang yang mendengarnya.
Ia menunjuk ke arah kejauhan dengan gerakan yang penuh amarah yang meluap, suaranya melengking tajam menembus langit: "Biarkan mereka sadar sepenuhnya... bahwa kemarahan Sekte Langit bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ringan oleh makhluk rendahan yang tak tahu diri dan berani menantang maut!"
"Kita takkan berhenti sampai bendera naga dan pedang mereka robek, dicabut, dan diinjak-injak di bawah telapak kaki kita! Takkan ada satu pun kain yang tersisa untuk menutupi aib kekalahan mereka!" Bentak Ye Chen dengan suara yang menggelegar bagaikan guntur surga, pedang hitam di tangannya terayun keras menebas udara, seolah sedang merobek dan menginjak lambang kesombongan musuh hingga hancur lebur.
"Kita takkan berhenti sampai darah musuh membasahi seluruh tanah tempat mereka berdiri sekarang... hingga berubah menjadi rawa merah yang takkan pernah kering, selamanya menjadi saksi bisu betapa mahalnya kesalahan yang telah mereka perbuat!" Suaranya melengking menembus langit, setiap kata meneteskan niat membunuh yang pekat
"Kami mengerti dan akan melaksanakannya dengan sepenuh hati, Yang Mulia! Kami akan memastikan tak ada satu pun musuh yang tertinggal hidup untuk menceritakan kekeliruan mereka! Pembalasan ini akan menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh dunia selamanya!" Jawab Tetua Tertinggi dengan suara lantang dan tegas.
"Kami siap mati demi Sekte Langit! Kami siap mati demi Kaisar dan Ratu kami! Di mana kalian melangkah, kami akan mengikuti! Apa pun yang kalian perintahkan, kami akan melaksanakannya tanpa ragu sedikit pun!" Seru seluruh pasukan dengan suara yang bergetar penuh semangat yang membara hingga mengguncang langit.
Tiba-tiba, Xiao Ling melangkah maju dengan langkah yang mantap dan tak tergoyahkan, hingga ia berdiri tepat di sisi kiri Ye Chen yaitu posisi yang paling mulia dan paling setia, seolah takdir itu sendiri telah menentukan agar mereka takkan pernah terpisah. Perlahan namun penuh kekuatan, ia mengangkat Pedang Awan Putih setinggi langit, hingga ujungnya seolah menyentuh puncak cakrawala. Cahaya putih yang memancar dari bilah itu makin terang, menyilaukan mata, seolah menantang seluruh kekuatan gelap yang ada di dunia ini. Wajahnya yang selama ini dikenal lembut dan memikat hati, kini berubah sepenuhnya yaitu dingin bagaikan es abadi yang takkan pernah mencair, mengerikan bagaikan dewi maut yang baru bangkit dari tidur panjang. Namun di balik kedinginan dan keganasan itu, masih terpancar keindahan yang tak tertandingi, keindahan yang mematikan yang mampu membuat siapa pun yang memandangnya tertegun sekaligus gemetar ketakutan. Ia berdiri di sana, sempurna dan dahsyat yaitu bukan lagi sekadar wanita yang lemah lembut, melainkan perwujudan kemarahan suci yang siap menyapu bersih segala penghinaan yang pernah dilontarkan kepada mereka berdua.
"Dan ingatlah baik-baik! Siapa pun yang berani menantang kita... akan hancur lebur tanpa sisa! Siapa pun yang berani menghalangi jalan kita... akan menjadi debu halus di bawah langkah kita! Karena hari ini... sejarah baru akan ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan darah musuh kita yang sombong!" Serunya, suaranya kini menyatu sepenuhnya dengan suara Ye Chen seperti seolah satu jiwa yang berbicara melalui dua tubuh yang berbeda.
"KEHANCURAN MUTLAK BAGI MEREKA YANG BERANI MELAWAN!" Teriak seluruh pasukan serentak. Suara mereka bergemuruh hingga mengguncang seluruh gunung tempat Sekte Langit berdiri kokoh. Semangat mereka membara, dan api pertempuran telah menyala hebat di dada setiap orang yang hadir.
Di luar aula, angin kencang tiba-tiba bertiup ganas, menggulung awan hitam tebal yang menutupi langit siang hingga menjadi gelap gulita seperti malam. Petir menyambar berkali-kali dengan suara yang memekakkan telinga, seolah langit pun turut meluapkan kemarahan yang terpancar dari dalam Aula Utama. Alam semesta sendiri seolah bersiap menyaksikan pembalasan paling dahsyat yang pernah terjadi di dunia persilatan selama ratusan tahun terakhir. Perlahan, Ye Chen dan Xiao Ling menurunkan pedang mereka yang masih berkilauan. Tatapan mereka bertemu kembali, dan kali ini tak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan mereka saling memahami sudah lebih dari cukup untuk mengisi seluruh hati dan pikiran mereka. Besok, dunia persilatan akan berubah selamanya. Besok, nama mereka akan ditakuti bukan lagi sekadar sebagai legenda, melainkan sebagai kenyataan yang mematikan bagi siapa pun yang berani menentang mereka. Ye Chen menoleh sedikit ke arahnya, matanya yang tadi tajam dan dingin kini kembali melembut seolah tak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
"Kau tahu, Ling'er... Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah tahu... kau bukanlah bunga yang rapuh yang butuh dilindungi di balik punggungku. Kau adalah badai dahsyat yang hanya menungguku untuk melepaskannya ke seluruh dunia ini." Bisiknya pelan, hanya terdengar oleh telinga wanita itu seorang.
"Dan kau pun tahu, Yang Mulia... Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah bersumpah di dalam hatiku... nyawaku, kekuatanku, pikiranku, dan seluruh hidupku... semuanya ada di genggamanmu sepenuhnya. Di manapun kau melangkah, aku akan mengikutimu tanpa ragu. Di mana pun kau berhenti, aku akan berdiri di sampingmu untuk selamanya." Seru Xiao Ling tersenyum tipis yaitu senyum yang dingin namun penuh cinta yang tak terhingga. Ia mengangguk perlahan, matanya menatap manik mata kekasihnya dengan penuh kekaguman.
"Kau adalah hadiah terindah yang pernah diberikan langit kepadaku, denganmu di sisiku, aku merasa seolah aku mampu menaklukkan seluruh alam semesta ini sendirian." Bisiknya lagi dengan suara yang penuh kelembutan.
"Dan denganmu di sisiku, aku merasa tak ada satu pun hal yang mustahil bagiku, bersamamu, neraka pun akan terasa seperti surga. Tanpamu, surga pun akan terasa seperti neraka yang sunyi." Jawab Xiao Ling lembut namun tegas.
"Malam ini, beristirahatlah dengan tenang, Ling'er... Karena saat fajar menyingsing di ufuk timur nanti... kita takkan lagi menjadi manusia biasa yang berjalan di atas tanah. Kita akan menjadi badai yang tak ada satu pun makhluk yang sanggup menahannya. Kita akan menjadi kehancuran yang tak ada satu pun tembok yang sanggup menolaknya. Kita akan menjadi takdir yang tak ada satu pun kekuatan yang sanggup mengubahnya." Bisik Ye Chen lembut, suaranya kembali penuh kelembutan yang hanya terdengar oleh wanita itu seorang.
"Tenanglah, Yang Mulia... karena di sampingmu, aku akan berdiri kokoh seperti gunung abadi yang takkan pernah tergoyahkan, dan di sampingku, kau akan menemukan pedang yang tak pernah tumpul, tak pernah mundur selangkah pun, dan takkan pernah patah meski dihantam serangan ribuan musuh sekaligus." Jawab Xiao Ling dengan lembut namun penuh tekad baja.
"Baiklah... Bersiaplah, Ratuku, Karena besok, kita akan membuat seluruh dunia berlutut di hadapan kita dan menyadari betapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat." Gumam Ye Chen penuh pesona dan harapan yang meluap-luap.
"Aku sudah siap sejak lama, Yang Mulia, bahkan jika aku harus melangkah ke dalam neraka yang paling dalam sekalipun... selama kau ada di sisiku, aku takkan pernah merasa takut atau menyesal sedikit pun." Jawab Xiao Ling dengan senyum yang semakin melebar namun tetap dingin dan mematikan.