NovelToon NovelToon
King Mafia Di Zaman Kuno

King Mafia Di Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: BUBBLEBUNY

Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.

Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Balik Ketenangan

Diiringi sorak-sorai dan hormat seluruh penghuni sekte, Ye Chen dan Xiao Ling melangkah gagah memasuki wilayah inti. Setiap langkah mereka memancarkan wibawa mutlak, membuat bumi seolah ikut tunduk. Mereka berjalan beriringan melewati barisan murid yang berdiri tegak penuh khidmat. Xiao Ling merasa bangga, menyadari bahwa tempat ini kini adalah rumah dan kerajaannya sendiri. Bersama Ye Chen, dia merasa siap memimpin segalanya. Akhirnya, mereka tiba di depan Aula Utama yang megah. Pintu kayu raksasa itu terbuka lebar dengan sendirinya. Suasana di dalam hening total namun mencekam, menanti kedatangan dua penguasa tertinggi untuk menaiki singgasana mereka.

"Dipersilakan, Yang Mulia... Dipersilakan, Nyonya Muda." Ucap Tetua Tertinggi dengan suara bergetar, mempersilakan mereka naik ke puncak.

"Semua persiapan telah kami lakukan dengan sebaik mungkin demi kenyamanan dan kehormatan kalian berdua." Lanjutnya dengan penuh hormat, membungkukkan badannya sedikit lebih dalam.

"Silakan menempati singgasana yang telah menanti kehadiran kalian selama ini." Ujarnya sambil menunjuk ke arah dua kursi kebesaran yang megah dan setara, menandakan bahwa mereka berdua adalah penguasa mutlak di tempat ini.

"Kami semua siap mendengarkan setiap titah dan arahan dari Kaisar dan Ratu kita!" Seru para tetua lainnya serentak, memberikan jalan yang lebar dan megah bagi pasangan legendaris itu untuk melangkah maju.

"Langkah kalian akan menjadi awal dari kebangkitan kita! Seluruh dunia persilatan akan mendengarkan!" Timpal mereka dengan penuh semangat.

"Biarkan sejarah mencatat hari ini... sebagai hari di mana dua matahari bersinar bersamaan!" Seru mereka lantang, menyambut kedatangan penguasa mereka dengan segala kemegahan.

"Silakan naik, Yang Mulia! Aula ini dan seluruh isi di dalamnya... adalah milik kalian!" Gumam mereka serentak dengan penuh ketundukan dan rasa hormat yang tak terhingga.

Dengan langkah yang anggun dan perlahan, Ye Chen menuntun Xiao Ling menaiki anak tangga itu satu per satu. Setiap kali mereka naik selangkah, rasa hormat dari orang-orang di bawah semakin memuncak. Akhirnya, mereka tiba di puncak. Ye Chen duduk di singgasana utama yang terbuat dari batu giok hitam yang memancarkan dinginnya malam. Namun, kali ini dia tidak duduk sendirian. Di sebelah kanannya, tepat di sampingnya, terdapat singgasana lain yang sama megahnya, sama tingginya, dan sama indahnya. Xiao Ling duduk dengan penuh wibawa. Punggungnya tegak, bahunya rileks, namun matanya memancarkan cahaya yang tajam dan dingin. Dia tidak tampak canggung atau kewalahan. Dia tampak seolah memang lahir untuk duduk di sana. Seolah sejak jutaan tahun yang lalu, kursi itu memang diciptakan khusus hanya untuknya. Melihat pemandangan di atas singgasana itu seorang Kaisar yang gagah dan dingin, dan seorang Ratu yang cantik serta mematikan seluruh orang yang hadir di aula itu merasakan bulu kuduk mereka meremang. Itu adalah pemandangan yang sempurna, sebuah harmoni kekuatan yang tak terpecahkan.

"Baiklah..." Suara Ye Chen memecah keheningan yang mencekam. Suaranya tidak terlalu keras, namun bergema jelas di setiap sudut ruangan, menembus telinga setiap orang yang hadir.

"Karena semua sudah berkumpul, mari kita mulai." Ucapnya dingin, matanya menyapu seluruh hadirin dengan tatapan tajam yang mampu menembus jiwa.

"Waktunya tidak bisa disia-siakan lagi. Kita punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, dan dunia yang harus ditata ulang." Lanjutnya dengan nada yang berat dan penuh otoritas.

"Duduklah dengan tenang dan dengarkan baik-baik. Karena mulai detik ini... segalanya akan berubah!" Serunya lantang, menandai dimulainya pertemuan penting yang akan mengguncang seluruh alam semesta.

"Siapa yang setia akan dihargai, dan siapa yang berkhianat... akan kucabut nyawanya dengan tanganku sendiri!" Ucapnya pelan namun setiap kata terasa seperti pukulan palu yang menghantam dada.

"Jadi, berhati-hatilah dalam memilih kata-kata. Karena satu kesalahan kecil saja... bisa berakibat fatal bagi nyawa kalian!" Lanjutnya dengan senyum tipis yang justru membuat suasana menjadi semakin mencekam dan dingin.

"Mari kita buka lembaran baru sejarah... dengan darah dan kemenangan!" Serunya dengan mata yang memancarkan kilatan pertempuran yang dahsyat.

Wajah Ye Chen kembali berubah menjadi datar dan serius seketika. Senyum hangat dan penuh kasih sayang yang tadi ia tunjukkan di hadapan Xiao Ling kini telah lenyap tanpa bekas, seakan tak pernah ada sebelumnya. Ia kembali menjadi sosok yang dingin, tak tersentuh, dan menakutkan. Matanya yang tadi memancarkan kelembutan, kini berubah menjadi dua pusaran es yang dalam dan tajam, memancarkan wibawa mutlak sang Penguasa yang siap menata kembali tatanan dunia. Setiap otot di wajahnya tampak tegang dan tegas, tidak ada sedikit pun kelonggaran. Ia kini bukan lagi sekadar seorang kekasih, melainkan seorang Kaisar Perang yang duduk di atas singgasana tertinggi, memandang rendah seluruh makhluk di bawah kakinya. Aura kekuatannya yang tadi terpendam kini mulai merambat perlahan, membuat udara di dalam aula terasa semakin berat dan menekan. Ia siap mendengar segalanya, siap menghakimi segalanya, dan siap bertindak tegas demi memulihkan kehormatan yang mungkin telah ternoda selama ia tiada. Di hadapan tatapan itu, seluruh orang yang hadir merasa seolah-olah sedang berdiri di hadapan langit dan bumi yang siap menelan mereka hidup-hidup.

"Aku sudah mendengar sedikit kabar di jalan, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulut kalian sendiri." Mata Ye Chen menyapu wajah para tetua dan pemimpin divisi yang berdiri berjajar rapi di bawah.

"Bagaimana situasi Sekte Langit selama aku pergi? Dan bagaimana keadaan dunia persilatan saat ini? Jangan ada yang ditutup-tutupi. Bicaralah sejujur-jujurnya." Ucapnya dingin dan tegas, suaranya bergema berat menekan dada setiap orang yang mendengarnya.

"Aku ingin tahu segalanya, mulai dari urusan dalam negeri hingga ancaman dari luar. Jangan ada yang berani menyembunyikan fakta atau memanipulasi data hanya untuk terlihat baik-baik saja." Lanjutnya dengan tatapan tajam yang seolah mampu membaca isi pikiran mereka.

"Karena bagiku, kejujuran adalah hal terpenting. Jika ada masalah, katakan. Jika ada musuh, sebutkan. Aku di sini bukan untuk mendengar pujian, tapi untuk menyelesaikan segalanya!" Serunya lantang, memberikan peringatan keras agar mereka berbicara apa adanya.

"Jika kalian berkata jujur, maka semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Tapi jika aku menemukan satu kata bohong pun..." Gumamnya pelan namun penuh ancaman maut.

"Maka hukuman yang akan kalian terima jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri!" Tambahnya dingin, membuat seluruh orang di bawah sana menelan ludah secara bersamaan.

"Jadi, pikirkan baik-baik sebelum kalian membuka mulut. Karena nyawa kalian bergantung pada apa yang akan kalian katakan detik ini juga!" Serunya dengan aura yang semakin meledak, membuat suasana di aula menjadi membeku.

Perintah itu keluar begitu ringan dari bibir Ye Chen, namun membawa tekanan yang begitu dahsyat hingga membuat dada setiap orang yang hadir terasa sesak dan berat, seakan ada gunung yang menimpa bahu mereka. Suasana di dalam Aula Utama menjadi hening total, mematikan, dan penuh ketegangan yang tak terlukiskan. Para tetua dan pemimpin divisi yang berdiri berjajar di bawah saling berpandangan sejenak, waj mereka tampak tegang dan serius. Mereka bisa merasakan bahwa pemimpin mereka tidak sedang main-main. Ini adalah momen krusial di mana satu kata saja bisa menentukan nasib seluruh sekte. Setelah keheningan yang terasa begitu panjang, akhirnya Tetua Tertinggi menghela napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia melangkah maju selangkah dengan gerakan yang penuh hormat, lalu membungkukkan badannya dalam-dalam hingga hampir menyentuh tanah. Dengan suara yang bergetar namun berusaha tetap tegas dan jelas, ia mulai membuka mulutnya untuk menyampaikan segala hal yang telah terjadi selama Ye Chen tiada.

"Lapor, Yang Mulia..." Ucapnya pelan namun jelas.

"Secara umum, struktur sekte masih berdiri kokoh dan aman. Kami terus melatih murid-murid baru, memperkuat pertahanan, dan menjaga perdagangan serta wilayah kekuasaan kami." Ujarnya dengan nada tenang, berusaha melaporkan hal-hal positif terlebih dahulu.

"Namun..." Ia terdengar sejenak, wajahnya berubah menjadi lebih serius dan sedikit masam.

"Belakangan ini situasi mulai berubah menjadi tidak menentu dan cukup memprihatinkan, Yang Mulia." Lanjutnya dengan hati-hati, memilih kata-kata dengan sangat teliti.

"Ada beberapa kekuatan yang mulai berani berulah dan mengganggu stabilitas yang selama ini kami bangun dengan susah payah." Tambahnya lagi, menandakan bahwa masalah yang dihadapi tidaklah kecil.

"Mereka seolah-olah merasa bahwa karena Yang Mulia tidak berada di sini untuk waktu yang cukup lama, maka Sekte Langit sudah kehilangan taring dan kekuatannya." Ucap tetua itu dengan nada yang sedikit kesal dan marah.

"Mereka mulai bertindak semena-mena, merongrong wewenang kita, dan bahkan berani mengirimkan pesan-pesan yang sangat menghina dan menantang." Lanjutnya menjelaskan, membuat suasana di aula semakin terasa tegang dan mencekam.

"Namun, belakangan ini angin mulai berubah arah, Yang Mulia. Sejak kabar menyebar bahwa Anda sedang dalam pengasingan dan fokus melatih murid pribadi, banyak kekuatan lain yang mulai berani mengangkat kepala." Ujarnya dengan nada yang penuh keprihatinan mendalam.

"Mereka merasa bahwa tanpa kehadiran Anda secara langsung, Sekte Langit telah kehilangan taring dan cakarnya. Mereka mulai bertindak semena-mena." Lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar menahan amarah atas penghinaan yang diterima.

"Mereka tidak hanya mengganggu perdagangan dan wilayah perbatasan, tapi juga berani menyebarkan isu bahwa era kekuasaan Anda sudah berakhir." Tambahnya lagi, memperjelas betapa beraninya musuh-musuh tersebut.

"Mereka mengklaim bahwa dunia persilatan kini waktunya dipimpin oleh generasi baru yang lebih muda dan lebih kuat, serta menuntut kita untuk tunduk dan membayar upeti!" Serunya dengan nada yang semakin serius dan mencekam.

"Oh? Begitu ya?" Gumam Ye Chen pelan, suaranya terdengar tenang namun nada dinginnya membuat suhu di dalam aula turun drastis.

"Dan siapa yang berani bertindak kurang ajar seperti itu?" Tanyanya lagi, matanya memancarkan kilatan mematikan yang siap melahap siapa saja yang menjadi musuhnya.

"Mereka pikir dengan aku tidak berada di sini, maka mereka bisa bebas melakukan apa pun sesuka hati ya?" Lanjutnya dengan nada mengejek, namun setiap kata terasa seperti pisau yang tajam.

"Rupanya dunia ini sudah terlalu lama damai, sehingga mereka mulai lupa rasa sakit apa itu dihancurkan oleh kekuatan mutlak!" Ucapnya dengan suara berat, aura pembunuhnya mulai meledak perlahan.

"Katakan padaku siapa dalangnya! Hari ini juga... aku akan menghapus nama mereka dari peta dunia persilatan!" Serunya lantang, memberikan keputusan yang tak tergoyahkan.

"Biarkan mereka merasakan penderitaan yang luar biasa! Biarkan mereka berlutut dan memohon ampun sampai darah keluar dari mata mereka!" Tambahnya dengan suara yang terdengar seperti bisikan iblis, membuat seluruh orang di bawah gemetar ketakutan.

"Siapa pun mereka, tidak peduli seberapa besar kekuatan atau sekte yang mereka miliki... di mataku, mereka hanyalah sampah yang harus dibersihkan!" Lanjutnya dengan tatapan yang semakin dingin dan membekukan.

"Mereka menantangku? Bagus... Sangat bagus! Karena itu berarti mereka sudah menandatangani surat kematian mereka sendiri dengan tangan mereka!" Gumamnya penuh keyakinan, siap meluncurkan pembantaian yang dahsyat.

"Ada dua kekuatan utama yang menjadi dalang di balik semua kekacauan ini, Yang Mulia. Yang pertama adalah Sekte Naga Api, dan yang kedua adalah Sekte Pedang Hitam." Ucap Tetua Tertinggi dengan cepat dan tegas, menyebutkan nama-nama musuh tersebut tanpa ragu sedikit pun.

"Mereka berdua telah membentuk aliansi yang sangat kuat dan berbahaya, dan merekalah yang menjadi otak di balik pemberontakan sekte-sekte kecil lainnya." Lanjutnya menjelaskan, wajahnya tampak sangat serius.

"Pemimpin mereka berdua terkenal sangat sombong dan kejam. Mereka berani menyebarkan isu bahwa darah tua seperti kita sudah saatnya diganti dan disingkirkan." Tambahnya lagi, memperjelas betapa besar keberanian dan kebodohan musuh-musuh tersebut.

"Mereka bahkan dengan terang-terangan mengumumkan bahwa hanya merekalah yang pantas memegang kekuasaan tertinggi di dunia persilatan saat ini." Lanjutnya dengan nada yang penuh kebencian.

"Mereka menganggap keberadaan Sekte Langit sebagai penghalang utama yang harus dihancurkan secepat mungkin agar ambisi mereka bisa terwujud." Tambahnya lagi, membuat suasana di aula menjadi semakin mencekam dan tegang.

"Berani sekali mereka..." Gumam Xiao Ling pelan, namun suaranya cukup terdengar jelas. Suaranya dingin, mengandung kemarahan yang tertahan. Bagaimana mungkin makhluk-makhluk rendahan itu berani menghina kekasihnya?

"Benar, Nyonya Muda. Mereka sangat berani, atau bisa dibilang sudah tidak takut mati." Ucap Tetua Tertinggi dengan nada yang penuh kepahitan dan amarah.

"Beberapa bulan terakhir ini, mereka sering mengirimkan pasukan mereka untuk mengganggu wilayah perbatasan kita. Mereka merampok karavan, membakar desa-desa yang setia pada kita, dan bahkan... mereka dengan kejam membunuh beberapa murid elit kita yang sedang bertugas." Lanjutnya dengan suara bergetar, mengingat kembali kekejaman yang dilakukan musuh.

"Mereka melakukan itu semua hanya untuk memancing amarah kita, berharap kita akan menyerang tanpa perhitungan matang sehingga mereka bisa menjebak kita." Tambahnya lagi menjelaskan strategi licik yang digunakan oleh musuh.

"Mereka bahkan berani menangkap beberapa keluarga murid kita sebagai sandera, dan mempermalukan mereka di depan umum hanya untuk menunjukkan seberapa besar kekuatan mereka saat ini." Serunya dengan mata memancarkan api kemarahan.

"Kami sudah berusaha menahan diri sebisa mungkin, menanti kepulangan Yang Mulia. Karena kami tahu... hanya tangan Kaisar kita yang mampu membasmi kejahatan ini sampai ke akar-akarnya!" Gumamnya penuh harap, menaruh seluruh harapan pada Ye Chen.

"Mereka tidak hanya mengambil harta, tapi juga menghancurkan mental dan semangat orang-orang yang selama ini setia menjaga wilayah kita." Lanjutnya dengan nada yang sangat sedih dan marah.

"Mereka ingin membuat kita merasa putus asa dan tak berdaya, agar kita mau menyerahkan seluruh wilayah kekuasaan kita tanpa perlawanan yang berarti." Tambahnya lagi, memperjelas betapa jahatnya rencana yang telah disusun oleh musuh-musuh tersebut.

"Mereka bahkan mengirimkan surat tantangan beberapa waktu lalu, Yang Mulia." Tambah salah satu tetua dengan wajah memerah menahan marah.

"Mereka menulis... 'Kembalilah ke dalam gua dan tidurlah, Kaisar Tua. Dunia ini terlalu luas untuk tikus-tikus tua sepertimu. Serahkan tahta itu sebelum kami datang mengambilnya dengan darah!'" Ucapnya dengan suara bergetar hebat, membacakan kembali kata-kata hinaan yang menyakitkan itu.

"Mereka benar-benar sudah gila dan kehilangan akal sehat! Mereka mengira bahwa dengan berbicara besar seperti itu, kami akan gemetar dan menyerah begitu saja." Lanjutnya dengan napas memburu menahan amarah yang meledak-ledak.

"Mereka bahkan menambahkan bahwa jika Yang Mulia berani kembali, mereka akan memenggal kepala Anda dan menjadikannya sebagai piala kemenangan mereka!" Serunya lagi, melontarkan informasi yang begitu memancing kematian bagi musuh-musuh tersebut.

"Kami sangat ingin merobek surat itu dan langsung menyerbu tempat mereka saat itu juga, tapi kami menahan diri demi menanti keputusan agung dari Yang Mulia sendiri!" Gumamnya penuh ketundukan, siap mendengar perintah pembantaian dari singgasana.

Tangan Ye Chen yang bertumpu dengan santai di sandaran singgasana tiba-tiba mencengkeram erat dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Batu giok murni yang sekeras baja dan berharga selangit itu pun tak mampu menahan tekanan dahsyat tersebut, retak berjejer-jejer hingga hancur berkeping-keping di genggamannya! Suara retakan itu terdengar begitu nyaring dan tajam, memecah keheningan yang mencekam, bagaikan guntur yang menyambar tepat di tengah ruangan. Seluruh orang yang hadir seketika menahan napas secara bersamaan, tubuh mereka menegang kaku, dan buru-buru menundukkan kepala mereka dalam-dalam ketakutan. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajah untuk menatap sosok mengerikan di atas singgasana itu. Mereka bisa merasakannya dengan sangat jelas... Kemarahan Ye Chen sudah mencapai titik puncaknya, meledak-ledak dan siap melahap segalanya! Udara di dalam aula yang tadinya terasa berat, kini berubah menjadi panas membara bak tengah berada di dalam kawah gunung berapi, namun di saat yang sama bercampur dengan dinginnya es abadi yang menusuk sampai ke tulang sumsum. Aura pembunuh yang dipancarkan oleh Ye Chen begitu pekat dan menekan, membuat seluruh dinding dan pilar aula ikut bergetar hebat. Debu-debu halus berjatuhan tanpa henti dari langit-langit, seakan bangunan megah ini tak sanggup lagi menampung kekuatan seekor naga yang sedang murka. Di saat ini, Ye Chen bukan lagi sekadar seorang pemimpin, melainkan Dewa Kematian yang telah bangkit dari kediamannya untuk menuntut balas!

"Haha... Hahaha!" Tawa Ye Chen meledak, namun bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang membuat bulu kuduk seluruh orang di sana berdiri tegak.

"Bagus... Sangat bagus." Ucapnya pelan, setiap kata keluar bagaikan embusan angin neraka yang membekukan.

"Sudah bertahun-tahun aku tidak menumpahkan darah. Aku pikir dunia sudah cukup tenang dan damai. Ternyata... aku salah besar." Lanjutnya dengan nada yang penuh kekecewaan dan ancaman maut.

"Rupanya ketenangan yang aku berikan justru diartikan sebagai kelemahan oleh sampah-sampah ini. Mereka mulai lupa siapa yang sebenarnya memegang kendali atas hidup dan mati mereka." Gumamnya pelan, matanya memancarkan kilatan api pembantaian.

"Mereka menyebutku Kaisar Tua? Hah! Biarkan mereka melihat sendiri... seberapa mematikan dan dahsyatnya kekuatan seorang 'Tua' yang sudah bosan bermain-main!" Serunya dengan aura yang semakin meledak, membuat seluruh aula terasa gemetar hebat.

"Hari ini... aku akan mengajarkan mereka pelajaran terakhir yang tak akan pernah mereka lupakan sampai kiamat datang!" Tambahnya lantang, menandakan bahwa pertumpahan darah besar tak terelakkan lagi.

"Mereka ingin darah? Baiklah! Aku akan memberinya lautan darah yang tak akan pernah kering!" Ucapnya dengan suara berat yang bergema di hati setiap orang.

"Biarkan mereka bersatu menjadi satu kekuatan besar sekalipun... itu hanya akan membuat pekerjaan rumahku menjadi lebih menarik dan menyenangkan!" Lanjutnya dengan tatapan gila namun penuh keyakinan mutlak.

"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi ampunan. Siapa yang bukan temanku... adalah musuh yang harus dimusnahkan tanpa sisa!" Serunya lantang, menandai dimulainya era pembantaian yang dahsyat.

Perlahan namun pasti, Ye Chen mendongakkan kepalanya. Gerakan itu terlihat begitu santai, namun membawa tekanan yang membuat jantung seluruh orang yang hadir seakan berhenti berdetak. Matanya yang tadinya gelap dan tajam, kini perlahan berubah memancarkan kilatan cahaya merah darah yang menakutkan. Dua bola mata itu bagaikan dua bulan sabit yang terbuat dari api neraka, memancarkan hawa membunuh yang pekat dan mematikan. Di saat itulah, sosok manusia sepenuhnya hilang dari dirinya. Yang tersisa kini hanyalah sosok iblis purba yang bangkit dari kedalaman jurang maut, siap menelan seluruh dunia dalam kemarahan yang tak terhingga. Tatapan itu bukan lagi tatapan manusia biasa, melainkan tatapan seorang pembantai yang telah memutuskan untuk menghapus segala kejahatan dari muka bumi. Siapa pun yang berani menatap mata itu secara langsung, akan merasa seolah-olah jiwa mereka sedang dicabut perlahan-lahan.

"Mereka bilang aku sudah tua? Mereka bilang aku tikus tua?" Tanyanya dengan nada dingin yang penuh ejekan, seolah-olah ia baru saja mendengar lelucon paling lucu sekaligus paling menyedihkan.

"Rupanya mereka sudah terlalu lama hidup dalam kemewahan dan ketakutan yang palsu. Mereka sudah lupa rasa sakit apa itu ketika kaki mereka diinjak-injak ke dalam lumpur oleh kekuatan mutlak!" Ucapnya dengan suara berat yang bergema di seluruh penjuru aula.

"Mereka pikir dengan aku sedikit menyembunyikan diri, maka dunia ini sudah berubah pemiliknya? Mereka benar-benar buta dan tuli!" Lanjutnya dengan tatapan yang semakin memerah membara.

"Baiklah... Biarkan aku mengingatkan mereka kembali. Biarkan aku menanamkan rasa takut yang begitu dalam hingga turun-temurun mereka akan gemetar hanya dengan mendengar namaku!" Serunya lantang, siap meluncurkan malapetaka yang dahsyat.

"Aku akan tunjukkan pada mereka... Bahwa sampai kapan pun, selama aku masih bernapas, akulah Raja di tempat ini! Dan mereka... hanyalah semut-semut kecil yang siap kuinjak sampai hancur!" Gumamnya penuh keyakinan mutlak, menandakan bahwa kematian sudah menanti di depan mata musuh-musuhnya.

"Mereka mengira api di dadaku sudah padam? Mereka salah besar! Api itu justru kini membakar jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya!" Tambahnya dengan suara yang bergemuruh, memancarkan dominasi yang tak tertandingi.

"Dan hari ini... aku akan membakar habis semua kesombongan mereka sampai tak menyisakan satu pun abu!" Serunya lantang, matanya memancarkan tekad yang siap menghancurkan segalanya.

"Biarkan mereka bersiap! Karena badai pembalasan yang akan aku bawa... jauh lebih mengerikan daripada apa yang pernah mereka bayangkan dalam mimpi terburuk mereka!" Gumamnya dingin, menandakan bahwa akhir dari musuh-musuhnya sudah sangat dekat.

Perlahan namun penuh makna, Ye Chen menolehkan kepalanya ke samping. Tatapan dingin dan mematikan yang tadi ia berikan kepada para bawahannya kini bertemu langsung dengan sepasang mata indah milik Xiao Ling. Di sana, ia tidak melihat rasa takut. Sebaliknya, ia justru melihat kilatan api pertempuran yang berkobar hebat, sama besarnya dengan api yang membara di dalam dadanya sendiri. Mata Xiao Ling memancarkan tekad yang bulat, keganasan yang siap menerkam, dan cinta yang mendalam. Ia seolah berkata tanpa suara bahwa ia siap mengangkat pedangnya, siap menumpahkan darah, dan siap berdiri di sisi pria itu menghadapi seluruh dunia tanpa ragu sedikit pun. Pemandangan itu membuat hati Ye Chen terasa hangat di tengah dinginnya kemarahan. Ia menyadari bahwa gadis di hadapannya ini bukan sekadar bunga yang perlu dilindungi, melainkan seorang pejuang sejati yang sama ganasnya dengan dirinya. Mereka saling bertatapan sejenak, dan dalam keheningan itu, sebuah pemahaman mutlak terjalin. Mereka berdua adalah satu jiwa, satu tujuan, dan satu kekuatan yang tak terpisahkan.

"Kau mendengarnya, Ling'er? Sampah-sampah ini butuh pelajaran keras." Gumam Ye Chen pelan, namun suaranya penuh getaran dahsyat.

"Mari kita bersihkan dunia ini bersama-sama. Biarkan darah mereka menjadi tinta yang akan menulis ulang sejarah kita!" Ucapnya dengan nada yang penuh gairah pertempuran dan cinta yang mendalam.

"Mereka menantangku? Itu sama saja menantang kita berdua. Dan biarkan mereka merasakan... betapa mengerikannya ketika Kaisar dan Ratu Pedang sama-sama mencabut senjata mereka!" Lanjutnya dengan mata berbinar ganas.

"Bersamamu, aku tidak butuh alasan lain untuk berperang. Kita akan hancurkan segalanya dan bangun kerajaan yang jauh lebih agung di atas puing-puing musuh kita!" Serunya lantang, membuat suasana di aula berubah menjadi penuh semangat yang membara.

"Biarkan seluruh alam semesta gemetar melihat kekuatan kita! Tidak ada satu pun halangan yang mampu memisahkan atau mengalahkan kita berdua!" Tambahnya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Kita adalah pasangan yang ditakdirkan untuk menaklukkan segalanya. Dan hari ini... kita akan mulai dengan membasmi dua sekte bodoh itu!" Gumamnya penuh semangat, siap meluncurkan invasi besar-besaran.

"Aku akan menjadi pedangmu, dan kau akan menjadi perisaiku. Bersatu, kita adalah takdir yang tak bisa diubah oleh siapa pun!" Serunya lantang, membuat hati seluruh orang di bawah terbakar semangat.

1
Fajar Fathur rizky
thor mau tanya ranah Kultivasi ada berapa ranah
BUBBLEBUNY: oh itu ada 6
total 3 replies
BUBBLEBUNY
Bener 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
sekte Hua Shan sedang mengali kubur sendiri🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
baru singgah.. keren thor ceritanya.
BUBBLEBUNY: bagus kalo suka dengan ceritanya
total 1 replies
BUBBLEBUNY
betul 👍
🌹Widian,🧕🧕🌹
ohhh ternyata Ye tianhong adalah ayahnya Ye. Chen ?
BUBBLEBUNY
sabar masih permulaan
🌹Widian,🧕🧕🌹
sekte iblis, tapi pemimpinnya masih punya rasa kemanusiaan..... gimana inih ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!