NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jino dan Marco

Pintu utama yang terbuat dari kayu jati hitam setinggi tiga meter terbuka dengan suara klik elektronik yang halus. Saat Cassie melangkah masuk, ia merasa seperti baru saja berpindah dimensi. Jika Apartemen Raven's Gate adalah neraka yang berdebu, maka rumah ini adalah istana es yang megah namun dingin.

​Lantai marmer putih tanpa sambungan membentang luas, memantulkan cahaya lampu gantung kristal minimalis yang menggantung di langit-langit setinggi dua lantai. Di ruang tengah, ada dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan hutan pinus yang diselimuti kabut, sangat dramatis, sangat mahal, dan sangat... luas.

​Cassie berdiri mematung di atas marmer itu, mencengkeram erat tali tas ranselnya. Matanya menyapu setiap sudut. Furnitur berbahan kulit asli, karya seni abstrak yang terpajang di dinding, hingga dapur kering dengan peralatan stainless steel yang mengkilap tanpa noda sedikit pun.

​"Kau sedang menunggu karpet merah?" suara Liam membuyarkan kekagumannya. Pria itu meletakkan kuncinya di atas meja konsol marmer dengan santai.

​Cassie menoleh ke arah Liam, lalu kembali menatap hamparan lantai yang berkilau itu. Rasa ragu mulai merayap di hatinya. Gila, pikirnya. Bagaimana mungkin aku bisa membersihkan rumah sebesar ini sendirian? Membayangkan harus mengepel seluruh lantai ini saja sudah membuat pinggangnya terasa pegal.

​Hati Cassie mulai berisik. Ia melirik Liam sekilas yang sedang melepas kemejanya hingga menyisakan kaos dalam hitam, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh.

​Lagian pria ini aneh sekali, keluh Cassie dalam hati. Punya mobil harga milyaran, rumah seperti di film-film Hollywood, tapi kenapa tidak ada pelayan satupun? Apa dia sepelit itu sampai harus mempekerjakan mahasiswi malang sepertiku hanya untuk menghemat biaya?

​"Kenapa rumah ini sepi sekali?" tanya Cassie akhirnya, suaranya bergema di ruangan yang luas itu. "Maksudku... kau tidak punya asisten atau tukang kebun tetap?"

​Liam berhenti melangkah, menoleh ke arah Cassie dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "Aku tidak suka orang asing berlalu-lalang di tempat pribadiku. Aku butuh privasi, dan aku butuh seseorang yang... bisa tutup mulut."

​Liam berjalan mendekat, membuat Cassie reflex mundur satu langkah. Liam menunjuk ke arah tangga spiral di sudut ruangan.

​"Kamarmu di atas, nomor dua dari ujung. Jangan masuk ke kamar paling ujung, itu ruang kerjaku," perintah Liam. "Dan tenang saja, Cassie. Aku tidak akan menyuruhmu membersihkan semuanya dalam satu hari. Aku tidak mau kau pingsan dan aku harus repot-repot membuang mayatmu ke hutan belakang."

​Cassie mendengus, mencoba menutupi rasa ngerinya dengan keberanian palsu. "Tadi katanya tidak boleh kasar, baru lima menit sudah bicara soal mayat!"

​Liam hanya mengangkat bahu sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. "Itu bukan kasar, itu peringatan. Cepat simpan barangmu, lalu turun. Aku lapar, dan aku harap kemampuan memasakmu lebih baik daripada kemampuanmu menguping."

***

Langkah Cassie terhenti tepat di depan pintu kamar barunya. Saat daun pintu terbuka, ia nyaris menjatuhkan tas ranselnya. Kamar ini luas, dengan tempat tidur berukuran king size yang tampak sangat empuk, serta jendela besar yang mengarah langsung ke taman belakang.

​"Ini kamar pelayan? Yang benar saja," gumam Cassie. Ia merasa kamar ini bahkan jauh lebih mewah daripada seluruh rumah keluarganya di kampung halaman. Perasaan ragu kembali muncul, apakah Liam benar-benar menganggapnya pekerja, atau ada alasan lain di balik kemewahan ini?

​Namun, perutnya yang mulai berbunyi memaksa Cassie turun ke dapur.

Jari-jarinya sesekali meraba meja countertop marmer yang terasa dingin dan mahal. Dengan penuh ekspektasi, ia membuka kulkas dua pintu yang berukuran raksasa di sana.

​Zuuuung...

​Hanya ada deretan botol air mineral yang tertata rapi. Tidak ada daging, tidak ada sayur, bahkan tidak ada telur sebutir pun.

​"Liam! Kau bilang kau lapar, tapi kulkasmu isinya cuma air!" teriak Cassie dari dapur.

​Liam muncul sambil menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. "Yah, aku jarang di rumah beberapa minggu ini. Kan aku sibuk menemanimu di apartemen rongsokan itu," jawabnya dengan nada santai tanpa beban.

​Cassie memasang ekspresi 'Lah?' yang sangat jelas. "Menemaniku?"

​Liam hanya mengedipkan sebelah matanya, lalu melirik jam tangan peraknya. "Tunggu saja. Sebentar lagi dua orang kepercayaanku datang membawa bahan makanan."

***

​Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar di halaman depan. Dua pria masuk ke dapur membawa beberapa kantong belanjaan besar berisi bahan makanan segar bermerek mahal.

​"Wah, jadi ini 'Gadis Apartemen' yang sering Liam ceritakan?" suara ceria menyambar pendengaran Cassie.

​Seorang pria muda dengan jaket denim dan senyum lebar menghampiri Cassie. Namanya Jino. Ia terlihat dua tahun lebih muda dari Liam, wajahnya sangat ramah "Hai, Aku Jino. Akhirnya rumah suram ini punya penghuni yang cantik juga."

​"Aku Cassie," jawab Cassie sedikit canggung namun merasa nyaman dengan energi Jino.

​Di belakang Jino, seorang pria lain berjalan dalam diam. Ia seumuran dengan Liam, namun auranya jauh lebih berat. Ia hanya meletakkan kantong daging di atas meja tanpa sepatah kata pun. Matanya yang tajam menatap Cassie sekilas—tatapan yang dingin, efisien, dan tanpa basa-basi.

Pria ini bernama Marco. Ia hanya mengangguk tipis sebagai sapaan sebelum mulai membongkar belanjaan dengan gerakan cekatan.

​"Abaikan saja si Kaku itu," bisik Jino pada Cassie sambil tertawa. "Marco memang hanya bicara kalau dunia mau kiamat."

​"Nah, Cassie," Liam menepuk meja makan. "Bahan sudah ada. Jino dan Marco akan ikut makan di sini. Tunjukkan kalau kau pantas mendapatkan bayaran mahalku."

***

Meja makan panjang di rumah mewah itu kini penuh dengan aroma harum pasta dan tumis daging yang dimasak Cassie. Suasana yang biasanya sunyi senyap, kini berubah menjadi penuh suara, terutama berkat kehadiran Jino.

​Cassie memperhatikan mereka bertiga dengan saksama sambil mengunyah makanannya. Benar-benar pemandangan yang aneh.

​Liam duduk di kepala meja. Seperti biasa, mulutnya tidak mengeluarkan satu pun kata pujian. Ia memakan pastanya dengan tenang, sesekali melirik Cassie dengan tatapan meremehkan yang khas. Namun, Cassie menyadari satu hal, piring Liam adalah yang paling pertama bersih. Pria itu bahkan mengambil porsi kedua tanpa berkomentar, seolah-olah tangannya bergerak sendiri sementara harga dirinya tetap menolak untuk bilang "enak".

​"Wah, Cassie! Ini gila!" seru Jino dengan mulut yang masih penuh. "Kau tahu, selama ini kami cuma makan makanan pesan antar yang rasanya seperti kardus kalau Liam sedang malas keluar. Masakanmu benar-benar menyelamatkan lidahku!"

​Jino sangat ekspresif. Ia bercerita tentang banyak hal. Tentang bagaimana cuaca Verovska yang buruk hingga candaan tentang mobil baru Liam, seolah-olah ia sudah mengenal Cassie bertahun-tahun.

​Berbanding terbalik dengan Marco. Pria itu duduk di sebelah Jino dan sejak tadi belum mengeluarkan suara satu kata pun. Marco makan dengan gerakan yang sangat efisien, rapi, dan matanya terus waspada, sesekali melirik ponselnya yang diletakkan di atas meja. Cassie bahkan mulai ragu apakah Marco benar-benar punya pita suara.

​Cassie menyandarkan punggungnya, menatap mereka bergantian. Dalam hatinya, ia merasa sangat heran. Bagaimana mungkin manusia dengan tiga sifat yang sangat kontras ini bisa menjadi tim?

​Liam yang sombong dan penuh rahasia, Jino yang ceria dan kelewat ramah, serta Marco yang dingin dan kaku seperti robot. Mereka terlihat seperti potongan puzzle yang tidak seharusnya menyatu, tapi entah bagaimana, di rumah ini mereka terlihat sangat serasi.

​"Kenapa kau melihat kami seperti itu?" tanya Liam tiba-tiba, menyadari tatapan penuh selidik dari Cassie. "Mau minta tambahan gaji karena sudah memberi makan dua orang tambahan?"

​"Bukan begitu," sahut Cassie sambil memutar garpunya. "Aku hanya heran. Kalian bertiga benar-benar berbeda. Bagaimana bisa kalian berteman atau apa pun itu namanya?"

​Jino tertawa lepas mendengar pertanyaan jujur Cassie. "Kami bukan cuma teman, Cassie. Kami ini saudara yang sudah melewati banyak lumpur bersama. Marco mungkin diam, tapi dia adalah otak di balik semua jalur perjalanan kami. Dan aku? Aku adalah wajah tampan yang membuat orang-orang percaya untuk menaruh barang mereka pada kami."

​Marco hanya melirik Jino sekilas dengan tatapan datar, lalu kembali fokus pada piringnya. Tidak ada bantahan, tidak ada konfirmasi.

​"Sudah, jangan banyak tanya," potong Liam sambil mengelap bibirnya dengan serbet. "Habiskan makananmu. Marco dan Jino punya urusan yang harus dibahas denganku di ruang kerja. Kau, bereskan meja ini, lalu istirahatlah."

​Cassie memperhatikan saat mereka bertiga berdiri secara bersamaan, sebuah gerakan yang sangat sinkron. Saat mereka berjalan menuju tangga, Liam sempat berhenti dan menoleh.

​"Masakanmu... lumayan," gumam Liam pelan, nyaris tak terdengar, sebelum ia melanjutkan langkahnya mengikuti Jino dan Marco yang sudah naik duluan.

​Cassie terpaku di kursinya. "Lumayan?" bisiknya sambil tersenyum kecil. Untuk ukuran pria sekaku Liam, kata "lumayan" itu setara dengan bintang lima.

​Sambil membereskan piring, Cassie kembali teringat peringatan Ethan. Di rumah ini, di antara tawa Jino dan diamnya Marco, ia merasa ada sebuah tembok besar berisi rahasia yang sengaja mereka bangun.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!