Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam berdarah
SINOPSIS
"Sudah bertahun-tahun kita berjuang untuk merebut kekuasaannya. Sekarang, di usianya yang ke-25 tahun, dia belum pernah dekat dengan wanita mana pun. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyingkirkan satu keturunan Erlangga, dan kita tinggal mengurus sisanya."
Sosok itu menjeda kalimatnya, tatapannya tajam penuh ambisi.
"Tinggal lima tahun lagi kita harus bertahan untuk pengalihan harta. Pastikan dia dekat dengan seorang wanita yang bisa melahirkan anak untuknya, tapi pastikan anak itu bukan darah dagingnya. Jika dalam jangka waktu lima tahun kita tetap gagal, mau jadi apa kita? Apakah perjuangan kita selama bertahun-tahun ini harus sia-sia?"
Ia mengepalkan tangan, suaranya merendah namun penuh penekanan.
"Mulai hari ini, kita harus berusaha keras sebelum waktu lima tahun itu tiba. Pastikan Arlan Erlangga sudah menikah dan istrinya melahirkan anak yang bukan dari keturunannya. Kita harus memutus silsilah keturunan Erlangga sehingga semuanya tamat, dan mereka tidak tersisa lagi!"
_______________________________________________________
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arkh!!"
Terdengar teriakan dari seorang gadis yang seumuran dengan Adira.
Crat!
Percikan darah segar menyembur tepat ke wajah Adira, seketika melumpuhkan seluruh saraf geraknya.
Langkah lesu Adira setelah pulang dari kelas tambahan terhenti di ambang pintu. Meski jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan ransel masih berat membebani pundaknya, rasa lelah itu hilang seketika. Bukan kehangatan rumah yang ia temukan, melainkan pemandangan mengerikan. Ceceran darah melimpah, merayap di sepanjang lantai rumahnya yang dingin.
Napasnya tercekat. Rasa dingin yang asing tiba-tiba merayap di punggungnya, membuat tubuh kaku seketika. Dengan sisa tenaga yang ada, ia ambruk ke lantai yang bersimbah cairan pekat. Dunianya seolah runtuh saat pandangannya jatuh pada sesosok tubuh di depan sana—pria itu, dengan pakaian yang sangat ia kenali, terlihat persis seperti sang ayah.
"A-Ayah! A-apa yang Ayah perbuat... pada temanku?!" Pekikan itu lolos dari bibir Adira yang pucat pasi. Seluruh tubuhnya menggigil hebat. Ia berusaha memundurkan tubuh di atas lantai yang licin, tak sanggup menerima kenyataan pahit yang tersaji di depan matanya.
Cahaya remang menyelimuti ruang tamu yang sebagian lampunya dibiarkan mati. Di tengah kegelapan itu, Adira masih bisa menangkap kilatan merah yang membanjiri lantai, mengelilingi sosok ayahnya yang berdiri mematung.
"Ayah tidak membunuhnya," gumam Sutra Santoso dengan suara parau. Tanpa penjelasan lebih lanjut, pria itu berbalik dan kabur, menghilang di balik pintu dan lenyap ditelan kegelapan malam.
Adira tak sanggup mengejar. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menyeret tubuhnya mendekati sosok yang tergeletak di lantai. Berharap masih ada secercah nyawa yang tertinggal, Adira mengguncang bahu gadis itu dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Anisa? Anisa, bangun! Hei, ini aku... bangunlah!"
Adira terus memanggil, suaranya makin meninggi dan pecah menjadi isakan. Ia berharap keajaiban datang, berharap Anisa akan membuka mata dan tersenyum padanya. Namun, harapannya hancur berkeping-keping. Di bawah jemarinya, tak ada lagi denyut nadi yang terasa. Dada Anisa tetap bergeming; napasnya telah terhenti selamanya.
"Anisa, bangun! Kumohon, bangunlah..." Suara Adira pecah, berubah menjadi raungan pilu di kesunyian rumah. Ia mengguncang bahu sahabatnya itu berkali-kali.
"Anisa, ini aku... bangun! Maafkan aku, aku terlambat pulang. Seharusnya aku ada di sini!" Isak tangisnya makin tak terkendali. Tangan Adira yang bergetar kini mendekap wajah Anisa yang kian mendingin. "Jangan tinggalkan aku sendiri, Anisa! Bangun!"
Adira terus meneriakkan nama gadis yang sudah ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri itu. Ia memeluk erat tubuh kaku Anisa, berharap kehangatan tubuhnya bisa memicu detak jantung yang telah berhenti. Namun, hanya keheningan yang menjawab setiap rintihan dan permohonan maafnya yang terlambat.
Di sela isak tangisnya, mata sembab Adira tak sengaja menangkap kilatan logam di lantai. Sebilah senjata tajam yang masih menyisakan jejak kemerahan—benda yang baru saja digunakan ayahnya. Tanpa sadar, dengan satu tangan masih mendekap erat tubuh Anisa, tangan Adira yang lain meraih gagang dingin benda itu, menggenggamnya dengan jemari yang bergetar hebat.
Tepat saat jemarinya melingkari senjata itu, sebuah hantaman keras menghantam pintu depan.
BRAK!
Pintu terbuka paksa. Sorot lampu senter yang menyilaukan segera membanjiri ruangan, disusul derap langkah sepatu bot yang berat. Beberapa petugas berseragam merangsek masuk dengan senjata yang mengarah tepat ke arahnya.
Adira mematung. Cahaya lampu itu menyinari tangannya yang bersimbah merah, juga benda tajam yang kini berada dalam genggamannya. Ia terperangkap.
Di mata hukum yang baru saja tiba, Adira bukanlah korban yang sedang berduka, melainkan tersangka utama yang tertangkap basah. Gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa kepergian ayahnya dan keberadaan benda itu di tangannya adalah sebuah jebakan yang telah dirancang dengan sempurna.
TIDAK!!!!
Batin Adira hanya bisa menjerit tanpa bisa membela diri karena ia benar-benar terperangkap dalam lingkaran merah yang tidak bisa ia hindari lagi.
***
8 TAHUN KEMUDIAN...
Srek... Krang!
Suara pintu jeruji besi yang sengaja dibuka oleh seorang petugas bergema di lorong.
Di balik jeruji besi yang kokoh itu, terlihatlah seorang gadis dengan kecantikan luar biasa. Mata lebar yang jernih, alis yang terukir rapi, serta dagu lancip nan indah menggambarkan betapa jelitanya gadis itu. Namun, pesonanya seolah luntur oleh duka. Dengan rambut bergelombang yang menutupi sebagian wajahnya yang penuh luka, gadis itu hanya menatap kosong ke arah lantai, tak lagi peduli pada dunia di sekitarnya.
Selama delapan tahun berada di penjara, ia terus mendapat siksaan dari para narapidana lainnya. Tentu saja gadis itu tahu bahwa apa yang ia dapatkan tidak lepas dari campur tangan keluarga Anisa yang berniat membalas dendam padanya.
"Narapidana Adira Anasya Sutra Santosa, hari ini kamu dibebaskan!" ucap petugas, meminta Adira untuk segera berdiri.
Bebas? bisik batin gadis itu yang hanya menampakkan wajah datar tanpa tanda-tanda kehidupan.
Seharusnya, berita itu menjadi mukjizat. Adira telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, mendekam di balik jeruji yang dingin hingga akhir hayatnya. Namun, saat pintu sel terbuka dan sebuah suara mengumumkan kebebasannya secara tiba-tiba, tak ada binar di mata gadis itu. Ia tidak terperanjat, tidak pula bertanya-tanya mengapa keajaiban itu datang.
Bagi Adira, dunia di luar sana atau kegelapan di dalam sel ini terasa sama saja. Harapannya telah lama padam, terkubur bersama kenangan pahit malam itu. Ia tidak lagi peduli pada langit biru atau udara bebas karena baginya, tak ada lagi tempat yang bisa disebut rumah. Keluarganya telah hancur berkeping-keping; ia tidak lagi memiliki tujuan untuk pulang. Kebebasan itu hanyalah perpindahan dari satu penjara besi ke penjara kesunyian yang lebih luas.
Langkah kaki Adira bergema lirih menyusuri lorong panjang menuju pintu keluar. Kepalanya tertunduk lesu. Saat jeruji besi itu pertama kali mengurungnya, ia hanyalah seorang gadis belia berusia enam belas tahun yang penuh mimpi. Namun kini, saat ia melangkah keluar, delapan tahun telah terenggut darinya. Di usianya yang kini menginjak 24 tahun, tak ada lagi binar masa muda di matanya. Segala cita-cita dan impian yang pernah ia bangun dulu kini telah terkubur sedalam-dalamnya. Baginya, masa depan hanyalah sebuah kata kosong.
Bertahun-tahun mendekam di balik jeruji besi membuat Adira tak lagi memiliki apa pun, bahkan sepotong pakaian layak untuk pulang. Selama delapan tahun ini, raganya hanya dibalut seragam penjara kusam yang telah menjadi kulit keduanya.
"Pakai ini," ujar seorang petugas wanita sambil mengangsurkan setelan pakaian warga sipil.
Adira menerima pakaian itu. Namun, setelah selesai berganti, gadis itu tetap bergeming di tempatnya. Ia mematung, menatap dinding sel yang kini terasa asing.
"Ada apa lagi?" tanya petugas wanita itu, sedikit heran melihat Adira yang tak kunjung melangkah.
"Bisa saya... minta jilbab?" Suara Adira terdengar sangat lirih, nyaris berupa bisikan. Di balik wajahnya yang pucat, ia tetap ingin menutupi kepalanya, setia pada prinsip yang ia pegang teguh saat masih menjadi gadis belia dulu.
Salah seorang petugas wanita segera memberikan jilbab padanya. "Pakai ini. Di luar sana mungkin akan jauh lebih sulit daripada di sini. Berusahalah untuk bertahan. Saya yakin kamu itu anak baik, hanya saja takdir jalan kehidupanmu tidak seindah wajahmu. Maka berhati-hatilah," ucap petugas wanita yang selama ini selalu baik pada Adira.
Adira hanya diam tanpa ekspresi, kemudian melangkah pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun setelah selesai mengenakan hijabnya.
"Kasihan, gadis yang malang," gumam petugas wanita itu.
Setibanya di luar, Adira sudah disambut oleh seorang pria berjas rapi dengan wajah yang tidak ia kenal. Gadis itu menarik satu sudut bibirnya—pertama kalinya ia menunjukkan ekspresi setelah delapan tahun.
"Mana ada di dunia ini yang gratis, Adira..." gumamnya pada diri sendiri, menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih mengerikan menantinya di luar sana.
💓💓💓
Makasih banyak ya udah sempetin mampir dan kasih support yang luar biasa buat aku, say! 🥰 Jujur, kehadiran kamu tuh berarti banget dan bikin aku makin semangat buat lanjutin ini semua. Jangan bosen-bosen ya buat kawal dan dukung terus karya aku sampai bener-bener selesai nanti, I really need your energy! 😘 Anyway, biar makin asik dan nggak kaku, sekalian salam kenal ya buat kamu! 🙏🙏🤭
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang