NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Chocker

Elysianne mencoba bangkit, tapi Cyprian kembali menjatuhkan tubuh Elysianne ke atas tumpukan bantal sutra, mengunci pergelangan tangan wanita itu dengan satu tangan besarnya yang dingin. Aura kegelapan di dalam kamar semakin pekat, menekan sisa-sisa keberanian yang tadi sempat membuat Elysianne berlari kencang.

Di atas meja rias, sebuah mangkuk perak berisi potongan buah pir yang berair tampak berkilau. Namun, cairan yang menyelimuti buah itu bukan madu; itu adalah pendar Darah Putih milik Cyprian yang kental dan bercahaya redup.

"Kau lapar, Duchess-ku?" bisik Cyprian, suaranya parau dan berbahaya.

Ia mengambil sepotong buah itu dan menekannya ke bibir Elysianne. "Makan. Ini adalah satu-satunya hal yang akan memastikan kau tetap membumi. Tanpa ini, jiwamu yang labil akan terus mencoba terbang ke tempat yang sudah membuangmu."

Elysianne menggeleng, merapatkan bibirnya dengan sisa harga diri seorang dewi. Namun, Cyprian mencengkeram rahangnya dengan jari-jari kuat, memaksanya terbuka. Cairan putih itu terasa manis sekaligus membakar saat tertelan paksa ke kerongkongan Elysianne. Seketika, rasa hangat yang memabukkan menjalar ke seluruh nadinya, melumpuhkan kekuatan ototnya dan membuat pandangannya mulai kabur oleh kabut ungu.

Melihat efek obat dan darahnya mulai bekerja, seringai kemenangan menghiasi wajah tampan Cyprian. Ia tidak lagi menunggu. Dengan gerakan kasar namun penuh obsesi, ia merenggut gaun tipis yang tadi tersingkap di koridor hingga hancur berkeping-keping.

Cyprian menanggalkan pakaiannya sendiri, menampakkan tubuh tegapnya yang kini dipenuhi rajah sihir hitam yang berdenyut merah. Ia merangkak di atas tubuh Elysianne, membiarkan kulit mereka bersentuhan—kontras antara panas tubuh manusia baru Elysianne dan dinginnya aura iblis Cyprian.

"Ingat rasa sakit ini, Elysianne," geram Cyprian saat ia memaksakan dirinya masuk kembali ke dalam tubuh wanita itu. "Ingat bahwa setiap inci dari dirimu adalah milikku. Bukan milik langit, bukan milik Aetherion."

Elysianne mendongak, punggungnya melengkung saat rasa asing yang luar biasa kembali menghantamnya. Ia ingin berteriak, namun yang keluar hanyalah desahan yang terputus-putas. Efek darah putih itu membuatnya tidak bisa membedakan antara rasa sakit, takut, dan nikmat yang dipaksakan.

Cyprian bergerak dengan ritme yang menuntut, setiap dorongannya adalah segel baru yang ia tanamkan pada jiwa Elysianne. Ia menciumi pundak dan dada istrinya, meninggalkan tanda-tanda merah yang mencolok di atas kulit porselen itu—tanda kepemilikan yang tidak akan hilang dalam semalam.

Di tengah penyatuan yang intens itu, sayap hitam Cyprian yang tadi ia sembunyikan tiba-tiba muncul kembali, membentang luas menutupi mereka berdua seperti kepompong kegelapan. Ia ingin mengisolasi Elysianne dari seluruh dunia, bahkan dari cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.

Saat puncaknya tiba, Cyprian mengerang rendah, menyandarkan dahinya pada dahi Elysianne yang berkeringat. Ia menatap mata ungu istrinya yang kini berkabut, mencari sisa-sisa pemberontakan yang tadi ia lihat di koridor.

Elysianne hanya bisa terengah-engah, jemarinya mencengkeram lengan berotot Cyprian demi mencari pegangan di tengah badai sensasi yang merenggut kesadarannya.

Cyprian menjauhkan tubuhnya sedikit, membiarkan napasnya yang memburu menyapu kulit leher Elysianne yang memerah. Di tengah remang cahaya lilin yang hampir padam, ia merogoh saku jubah hitamnya yang tergeletak di lantai dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.

Di dalamnya melingkar sebuah choker hitam dari kain sutra terkutuk yang sangat halus, dengan sebuah permata merah ruby besar di tengahnya. Permata itu tidak sekadar berkilau; di dalamnya terdapat pendar cahaya yang berdenyut lambat, seolah-olah ada jantung yang berdetak di sana. Itu adalah esensi jiwa Cyprian yang ia belah sendiri demi mengunci sang dewi.

"Ini adalah janjiku, Duchess-ku," bisik Cyprian, suaranya parau oleh gairah yang belum sepenuhnya reda.

Dengan jemari yang gemetar namun pasti, Cyprian melingkarkan choker itu di leher jenjang Elysianne. Begitu pengait peraknya terkunci, permata merah itu tiba-tiba menyala terang.

Elysianne tersentak, punggungnya melengkung saat ia merasakan sensasi dingin yang tajam merambat dari lehernya menuju jantungnya. Ia merasa seolah ada ribuan benang tak kasat mata yang ditarik kencang, menghubungkan setiap saraf di tubuhnya langsung ke pusat keberadaan Cyprian.

Sejak detik ini, Elysianne tidak akan bisa menjauh lebih dari seratus langkah dari Cyprian tanpa merasakan rasa sakit yang luar biasa, seolah paru-parunya diremas oleh tangan raksasa.

Cyprian kini bisa merasakan setiap getaran emosi Elysianne—ketakutannya, kebenciannya, bahkan hasrat manusianya yang terkubur dalam.

Cyprian menciumi permata merah di leher Elysianne, membiarkan bibirnya menyentuh segel itu dengan penuh pemujaan.

"Cantik sekali," puji Cyprian, menatap mata ungu Elysianne yang kini berkabut oleh pengaruh sihir permata itu. "Sekarang, ke mana pun aku pergi, kau akan selalu ada di bayanganku. Kau tidak akan pernah merasa kesepian lagi, karena jiwaku ada di nadimu."

Elysianne mencoba menyentuh choker itu dengan jemari pucatnya, namun tangannya terasa lemas. Ia merasa berat, seolah-olah identitasnya sebagai individu telah ditelan oleh keberadaan Cyprian yang dominan. Ia bukan lagi seorang dewi, bukan lagi seorang wanita bebas. Ia adalah bagian dari koleksi pribadi sang Lord Demon.

Cyprian kembali menarik tubuh Elysianne ke dalam pelukannya, menyelimuti wanita itu dengan sayap hitamnya yang besar dan hangat. "Istirahatlah, My Love. Besok, seluruh dunia akan tahu bahwa Duchess of Skyrosia telah kembali ke tempat yang seharusnya."

1
❄Snow white❄IG@titaputri98
Semangat Thor😍😍😍
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!