"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Kematian Mirasih
Duka besar menyelimuti keluarga Narti saat ini setelah mereka dapat memastikan bahwa yang meninggal dunia dengan cara sadis itu memang Mirasih anak gadis mereka, Narti sudah berulang kali pingsan karena dia tidak sanggup melihat sendiri bagaimana keadaan sang anak yang begitu brutal sekali mengalami kematian, bahkan mereka tidak tahu siapa yang sudah membunuh Mirasih.
Nanti nya juga akan sangat sulit ketika mereka harus mencari tahu siapa yang telah menjadi pelaku dalam kematian ini, tentu saja karena hukum membutuhkan uang juga untuk menindak lanjuti tegas dalam hal tersebut, sedangkan mereka sama sekali tidak memiliki uang untuk melakukan itu semua di kampung ini.
Jangan kan untuk membayar aparat kepolisian agar masalah tersebut bisa diurus dengan tuntas, untuk makan sehari-hari saja terkadang mereka begitu kesulitan sehingga jelas tidak mungkin kasus ini bisa diungkap dengan benar, banyak warga yang sudah menebak bahwa kasus tersebut akan mengambang di tengah jalan karena Narti yang tidak memiliki uang.
Mereka hanya bisa meratap ketika melihat sosok Mirasih seorang gadis cantik yang selama ini bisa dikatakan sebagai bunga desa di kampung mereka, namun sekarang dia harus mengalami nasib yang begitu tragis dan bahkan mereka tidak tahu kemana Jarwo pergi saat ini, karena sebenarnya mereka ingin bertanya kepada Jarwo tentang tragedi Mirasih tersebut.
Tapi banyak juga yang mengatakan bahwa Mirasih tidak pergi bersama dengan Jarwo ketika dia sedang menonton organ tunggal malam itu, beberapa teman menyebut bahwa Jarwo ada bersama dengan mereka dan minum alkohol bersama juga, namun mereka tidak melihat keberadaan Mirasih ada di sana sehingga jelas Jarwo tidak terlibat dalam hal ini.
Namun Narti sendiri kekeh mengatakan bahwa kematian Mirasih jelas ada sangkut paut dengan Jarwo itu, kalau bukan Jarwo yang sebagai pelaku namun pasti nanti Jarwo akan mengetahui juga bagaimana kejadian itu bisa berlangsung dan Mirasih mengalami hal buruk seperti ini, setidaknya dia sebagai kekasih tentu saja bisa melindungi Mirasih bila memang Jarwo mencintai gadis tersebut.
Tapi untuk meluruskan prasangka itu tentu saja tidak mudah karena keluarga Jarwo yang bisa di katakan kaya raya pasti tidak akan terima, bahkan selama ini saja sudah banyak desas-desus yang mengatakan bahwa keluarga Jarwo tidak pernah bisa menerima Mirasih sebagai calon menantu.
Jadi bagaimana mungkin ini Narti bisa mendesak keluarga Jarwo untuk mengakui bahwa ini semua ada sangkut paut dengan pemuda itu, sekarang baru mereka semua merasakan bahwa hidup menjadi orang miskin begitu menderita sekali karena mereka tidak memiliki hak untuk berbicara, semua orang memang memiliki hak untuk berbicara namun suara mereka akan di dengar bila memiliki uang.
"Anak kuuuuu.... ini semua pasti Jarwo yang sudah mengetahui tentang kematian Mirasih." Narti berteriak sambil memeluk jasad sang anak.
"Istigfar, jangan terlalu larut dalam sedih seperti ini." Hamdan sebenarnya juga sedih namun dia tidak tega melihat sang istri.
"Aku tidak mau kehilangan anak dengan cara seperti ini, Kenapa dia membunuh Mirasih dengan cara yang begitu keji?!" teriak Narti seperti orang gila.
"Aduh aku kasihan sekali melihat dia." Kinan dari desa sebelah juga datang melayat karena dia adalah teman Narti dekat.
"Kami sama sekali tidak menyangka juga kalau Mirasih akan mengalami nasib buruk seperti ini." sambung Puspita.
"Kok bisa ada orang yang begitu tega melakukan pembunuhan seperti ini." Kinan menahan rasa perih di dalam hati.
"Eh terlebih lagi saat dia masih tergantung di pohon kapuk itu, Ya Allah rasanya begitu ngeri membayangkan rasa sakit yang Mirasih alami." Puspita berkata dengan tubuh merinding.
Kinan menahan nafas karena dia juga merasa ngeri walau tadi dia hanya melihat sekali lewat tentang keadaan tubuh Mirasih, namun mendengar dari cerita mereka semua saja sudah cukup membuat hati ini berdebar kencang dan dia merasa tidak sanggup untuk berkata banyak tentang keadaan Mirasih saat ini, lebih ketika dia melihat Narti yang begitu histeris.
...****************...
Udara malam terasa begitu mencekam ketika tadi siang baru ada seorang gadis yang meninggal dunia dengan cara sadis, usai tahlilan dari rumah Narti maka seluruh warga tidak ada yang berani keluar dari rumah karena mereka merasa malam ini terasa ada yang berbeda dan lebih baik untuk mendekam saja di dalam rumah.
Padahal belum ada yang pernah melihat keberadaan hantu Mirasih namun mereka sudah memiliki firasat tersendiri, lagi pula walau dia menjadi hantu maka tidak mungkin dalam waktu yang begitu dekat karena baru tadi siang dia dikuburkan dan tidak mungkin dalam waktu begitu singkat dia langsung menjadi arwah gentayangan.
"Mas apa memang Mirasih meninggal karena disakiti Jarwo ya?" Laila bertanya kepada Arifin.
"Ya Mas juga tidak tahu dia meninggal karena apa, siapa pelaku dari kejadian ini pun masih belum bisa ditebak." Arifin berkata dengan nada pelan.
"Mirasih ini juga kadang keras kepala, Mbak Narti sudah sering ngomong sama aku kalau dia itu kadang pusing sekali memikirkan Mirasih." kesal Laila.
"Itu lah yang aku pusing juga, lagian dia kok ya bisa nekat tidak pulang." keluh Arifin.
"Salah Mirasih memang, udah tau orang tua susah malah bukannya membantu tapi justru membuat masalah semakin rumit saja." kesal Laila karena dia mengetahui bagaimana tabiat Mirasih.
"Anak zaman sekarang begitu sulit memahami orang tua, malah kadang justru semakin memaksa tanpa mengetahui bahwa orang tua mencari uang sampai jungkir balik." ucap Arifin.
"Iya, kadang aku juga tidak paham kenapa dia bisa bersikap demikian tanpa memahami kalau Mbak Narti itu tidak punya uang." rutuk Laila.
Mirasih memang tipe yang tidak tahu diri sehingga kadang orang lain yang melihat dia menjadi kesal bukan main, padahal dia juga bisa bekerja untuk membantu keluarga agar bisa mendapat tambahan uang, setidaknya bisa untuk membeli keperluan dia sendiri sebagai seorang gadis namun itu tidak pernah Mirasih lakukan selama ini.
"Jarwo banyak memberi dia uang sehingga dia malas untuk bekerja." timpal Laila.
"Eh jangan ngomong sembarangan seperti itu karena kita tidak tahu juga hubungan Mirasih dan Jarwo." Arifin menegur sang istri.
"Aku tidak berbicara sembarangan, saat Jarwo memberikan uang untuk Mirasih maka aku melihat kejadian itu." cetus Laila karena dia memang melihat.
Arifin menarik nafas panjang karena memang Laila tidak akan berbicara demikian bila dia tidak melihat dengan mata kepala dia sendiri, terlebih lagi Arifin pun mengenal bagaimana tabiat sang istri, Laila tidak akan berbicara sembarangan sebelum dia melihat secara langsung bagaimana kejadian itu telah terjadi dan ini juga menyangkut saudara mereka sendiri.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻