NovelToon NovelToon
CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Dark Romance / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:136.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 TIM

Salsa bergegas bersiap untuk menemui ibu tirinya. Meski hatinya dipenuhi kekesalan, ia tahu tidak punya pilihan selain patuh. Sebelum pergi, ia menatap Raka sejenak dengan tatapan penuh cinta.

"Sayang, sepertinya aku harus pulang sekarang. Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan." ucap Salsa, lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi Raka.

Raka memberikan anggukan kecil sambil tersenyum tipis.

"Baiklah, hati-hati di jalan ya, Sayang."

Namun, begitu Salsa melangkah keluar dan pintu apartemen tertutup rapat, senyum di wajah Raka menghilang seketika. Ia menatap kosong ke arah gadis itu pergi.

"Aku merindukanmu Li." gumamnya pelan, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

Di sisi lain kini Salsa dengan langkah berat. Ia berjalan menyusuri koridor yang sunyi hingga tiba di basemen tempat mobilnya terparkir.

Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan melajukan kendaraan itu meninggalkan area gedung tersebut.

​Selama perjalanan, ia tidak henti-hentinya menggerutu. Cengkeraman tangannya pada kemudi semakin erat, menyalurkan rasa frustrasi yang memuncak.

​"Sampai kapan aku harus terus menuruti perintahnya?!" teriak Salsa frustrasi.

Setelah lima belas menit berlalu...

Ia akhirnya sampai di kediaman ayahnya. Ia turun dari mobil dengan tergesa, melangkah cepat masuk ke dalam rumah untuk menghampiri ibu tirinya.

​Sesampainya di ruang tamu, ia disambut oleh pemandangan yang selalu membuatnya muak. Siska duduk di sana, menyesap wine dengan tenang sembari menyilangkan kakinya dengan angkuh. Tatapannya tajam, seolah sedang menyusun rencana besar di kepalanya.

​Salsa perlahan melangkah mendekat, namun sebelum ia sempat membuka suara, Siska sudah mendahuluinya.

​"Nggak perlu basa-basi." ucap Siska dengan suara dingin yang menusuk.

Ia meletakkan gelasnya perlahan, lalu menatap Salsa dengan pandangan tajam.

"Hari ini Prayudha ada di rumah sakit. Cari cara untuk membuatnya menjauh dari anak dan istrinya."

​Siska mengatakannya dengan nada perintah dan tegas, tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi gadis itu untuk membantah.

Diam-diam Salsa meremas gaun di samping tubuhnya, ia menetap ibu tirinya dengan tajam. Jika ia menuruti perintah Siska, itu artinya ia harus berhadapan langsung dengan keluarga Liora, orang-orang yang sangat membencinya atas pengkhianatan yang telah ia lakukan.

"Tapi... bagaimana caranya aku membuat mereka menjauh?"

​"Bodoh! Hal sekecil itu saja masih kamu tanyakan?" cibir Siska dengan nada menghina.

​Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan mendekat ke arah Salsa.

"Gunakan apa yang kamu punya, Salsa. Air mata buayamu, atau kalau perlu, buat sebuah kekacauan kecil yang memaksa anak dan istrinya harus menjauh darinya. Aku nggak peduli bagaimana caranya, yang aku mau adalah hasilnya."

Salsa hanya bisa menunduk dalam, menyembunyikan kilatan kemarahan di matanya.

​"Sial! Selalu saja seperti ini. Ingin sekali aku menjambak rambutnya sampai habis." batin Salsa geram, memaki ibu tirinya di dalam hati.

​Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak emosi yang nyaris meluap. Meski hatinya berteriak ingin melawan, Salsa sadar bahwa saat ini ia belum cukup kuat untuk menentang wanita di hadapannya itu.

"Baik, aku mengerti." putus Salsa akhirnya dengan nada pasrah.

​"Bagus. Kenapa tidak dari tadi? Kamu terlalu banyak berpikir." cibir Siska sambil menyunggingkan senyum tipis.

Ia melangkah semakin mendekat, menatap Salsa dengan tatapan merendahkan.

​"Anggap saja ini bayaran karena aku sudah membantumu meredam awak media atas skandal perselingkuhanmu itu. Tanpa bantuanku, namamu sudah hancur di luar sana, Salsa." bisik Siska tanpa perasaan dengan penuh penekanan.

Jika di kediaman Bisma, Salsa dan Siska tengah menyusun rencana licik untuk memecah belah keluarga Liora.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara di tempat lain, suasana tampak jauh berbeda.

​Liora dan Kevandra kini berada di tengah perjalanan. Waktu sudah menunjukkan siang hari, dengan matahari yang mulai terik.

Kevandra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang membelah daerah pemukiman warga menuju lokasi proyek yang bermasalah.

​Di dalam mobil keheningan kembali menyelimuti mereka. Liora menghadap pandangannya ke luar jendela, memperhatikan deretan rumah dan aktivitas warga yang mereka lewati.

Sementara pikirannya masih dipenuhi oleh kesepakatan yang baru saja ia setujui.

Kini mereka telah sampai di lokasi proyek tersebut. Kevandra menghentikan mobilnya beberapa meter dari gerbang lokasi proyek.

Di hadapan mereka, suasana tampak kacau. Beberapa warga masih bertahan, melakukan aksi unjuk rasa di bawah terik matahari demi mempertahankan bangunan yang selama ini mereka sebut rumah.

Liora menatap kerumunan itu dari balik kaca mobil dengan perasaan campur aduk.

"Sepertinya mereka menolak untuk dipindahkan Kevan." bisik Liora pelan, pada dirinya sendiri.

Kevandra yang mendengar apa yang Liora katakan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah kerumunan itu, jemarinya masih memegang kemudi mobil dengan erat.

"Itulah alasan kita di sini. Untuk memberikan mereka penjelasan dan pengertian, bahwa lahan itu bukan milik mereka."

Kini mereka turun dari mobil dan beberapa warga langsung menghampiri Liora dan Kevandra.

"Maaf, Tuan dan Nona. Kami tetap pada pendirian kami. Kami menolak untuk dipindahkan dari sini!"

Salah satu dari mereka menolak dengan keras seorang pria paruh baya yang tampak sebagai perwakilan warga. Suaranya bergetar antara amarah dan permohonan.

Warga yang lain mulai mengikuti dan mengerumuni Liora dan Kevandra.

Kevandra tetap berdiri tegak dengan ekspresi datar yang sulit dibaca ia menatap para warga yang kini mendekat ke arahnya.

Liora yang berada di samping Kevandra tetap tenang sambil mengamati para warga namun tatapannya tertuju pada satu arah, perlahan ia mendekati kerumunan ibu-ibu yang tengah menggendong anak kecil di bawah terik matahari.

Dengan gerakan lembut, ia menuntun mereka menuju tempat yang lebih teduh dan layak. Setelah memastikan mereka nyaman, Liora membalikkan badannya kembali menghadapi para warga dengan tatapan tenang namun penuh empati.

"Saya mengerti alasan kalian menolak." suara Liora terdengar sedikit lebih keras, mencoba meredam kebisingan para warga.

"Untuk itu, saya di sini ingin meluruskan bahwa perusahaan kami tidak akan semena-mena memindahkan kalian begitu saja. Kami telah menyiapkan kompensasi yang layak untuk masa depan kalian." lanjutnya dengan nada meyakinkan.

​"Tidak! Kami tidak butuh itu!" sahut salah seorang warga dengan nada tinggi, memotong ucapan Liora.

"Kalian para orang kaya hanya tahu cara menyelesaikan masalah dengan uang! Ini bukan soal angka, ini soal tempat tinggal kami!"

​Suasana kembali memanas. Penolakan itu terdengar lebih keras dari sebelumnya, membuat Liora terdiam sejenak, kemudian ia menatap Kevandra.

Seolah mengerti dari tatapan tersebut, Kevandra memberikan anggukan kecil dan melangkah maju ke samping Liora, memberikan aura kepemimpinan yang kuat dan diam-diam melindungi gadis itu.

1
Dewi 1234
2 manusia biadap gk.punya malu...
Tulisan__mawar
punya calon yang menjaga Marwah malah pilih cewek jadi-jadian kayak salsa. orang lain mah Bangga punya calon yang bisa jaga diri, puji selingkuhan secara terang-terangan. kata-kata buaya. sudah tau kali, Liora nggak se goblok kamu.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
insting seorang Bi Ratih emang tajam
yolan
semangat Liora membalas mereka yang mengkhianatimu
yolan
untung Liora gak bodoh bisa tau perselingkuhan tunangannya
Agatha soul
anjay
ArsyilaQi
semangat banget kamu raka
mama Al
kayaknya Liora punya strategi tersendiri 🤭
mama Al
Ini mah Pagar makan tanaman
yolan
baru awal udah wut wut, aish sahabat apaan tuh.
Mingyu gf😘
waosww kejutaannn
Mingyu gf😘
lio, kamu jangan menaruh simpati sama salsa
Mingyu gf😘
heleh heleh😆blm resmi loh
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
sungguh membingungkan cinta segi empat ini
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
balas jasa yang tepat sepertinya, memberikan makan pada yang baik
Agatha soul
udah maen enak aja
Tulisan__mawar
Menantang banget yah, itu sahabat kamu loh salsa. benar-benar yah.
ArsyilaQi
bagus !!
ArsyilaQi
baru baca Uda begini
Ibu Rasyidd
jangan pernah memperkenalkan pasangan kita kepada sahabat kita, pasti akan di embat🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!