NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELUBUNG BADAI KORPORAT

Debu yang beterbangan di area parkir dermaga seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya harga diri Anton. Pria yang biasanya tampil necis dengan setelan jas mahal itu kini berdiri mematung, menatap nanar ke arah kerumunan sopir yang telah dipisahkan secara paksa oleh Bima. Penjelasan Bima tentang "infiltrasi alien" awalnya terdengar seperti dongeng gila, namun bukti teknis yang dipaparkan di database tadi mulai merayap masuk ke logikanya yang paling dalam.

Bima meludah kecil ke samping, menatap Anton dengan pandangan yang sangat meremehkan. "Lain kali cari sopir jangan dari planet namek cari sopir yang dari planet bumi saja bodoh," kata Bima dengan ketus kepada Anton yang berdiri terpaku.

Bima lalu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Anton yang masih terdiam menahan malu dan amarah yang campur aduk. Kalimat "Planet Namek" itu terus terngiang di telinganya, sebuah ejekan telak yang menghujam kenaifan Anton dalam mengelola SDM logistiknya sendiri.

Anton menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya yang sedang di titik nadir. Ia melangkah perlahan, mendekati kelompok sopir dari perusahaannya yang sedang berkumpul di satu titik. Ia berhenti di jarak aman, sekitar lima meter, mengamati mereka satu per satu dengan mata yang kini lebih waspada daripada sebelumnya.

Di sana, Anton mulai memperhatikan sesuatu yang ganjil. Sopir-sopirnya—yang seharusnya hanya loyal pada perusahaannya—justru terlihat sangat akrab dengan sopir-sopir dari perusahaan rekanan lain yang juga ditahan oleh Bima. Mereka saling berbisik, melempar kode mata rahasia, dan seakan-akan sudah saling kenal sejak lama. Padahal, setiap perusahaan memiliki seragam sopir khusus yang berbeda warna dan logo.

Anton membandingkan mereka dengan kelompok sopir lain yang berada di sisi berbeda. Di kelompok itu, tidak ada interaksi mencurigakan seperti yang dilakukan oleh sopir-sopirnya. Mereka hanya duduk diam atau menggerutu kesal karena pekerjaan mereka terhambat.

Melihat hal demikian, Anton akhirnya benar-benar percaya dengan ucapan yang diucapkan oleh Bima. Memang benar terdapat sopirnya yang bertingkah laku aneh hari ini, dan kemungkinan besar juga di hari-hari sebelumnya saat penyelundupan itu terjadi. Anton merasa seperti pecundang yang selama ini memelihara ular di dalam rumahnya sendiri.

Sementara Anton sibuk dengan kenyataan pahitnya, Bima sudah kembali ke "pos komando"-nya di depan gerbang. Ia duduk santai di kursi plastik reyotnya, kembali menikmati kopi hitam dan gorengan bakwan yang masih hangat. Matanya menyipit, memandang barisan truk yang parkir manis menutup akses pelabuhan hingga ratusan meter ke belakang.

"Nah kalau begini kan bagus biar nanti lubang hitam menyedot kalian semua para bergajulan," celoteh Bima sambil mengunyah gorengannya dengan nikmat. Baginya, pembersihan frekuensi ini harus dilakukan secara total, meskipun harus mengorbankan kelancaran jalur logistik Jakarta untuk sementara.

Namun, ketenangannya terusik saat puluhan orang berjalan cepat mengarah kepadanya dari arah kejauhan. Mereka adalah rombongan pimpinan perusahaan rekanan Wiratama Trading yang sudah tidak sabar menuntut penjelasan. Wajah mereka merah padam, penuh keringat, dan memancarkan aura permusuhan.

Bima tetap duduk diam, membiarkan gerombolan orang perlente itu mendekat. Saat mereka sampai di depannya, Bima mengangkat kepalanya sedikit tanpa niat untuk berdiri.

"Eh bapak-bapak ibu-ibu anda mencari siapa ya di area khusus makhluk dari alam lain dilarang masuk," kata Bima seenaknya kepada kumpulan orang itu.

Para pimpinan perusahaan itu mendengus jengkel. Mereka merasa ucapan Bima hanya igauan orang gila yang tidak perlu ditanggapi. Dengan sombong, mereka mengabaikan Bima dan langsung merangsek masuk ke dalam area kantor lapangan, berniat menemui Tino untuk meluapkan kemarahan mereka.

Namun, langkah mereka terhenti mendadak. Belum juga sempat salah satu dari mereka menggenggam gagang pintu ruangan Tino, sekelompok pekerja pelabuhan bertubuh kekar langsung berdiri melintang. Mereka bergerak serentak membentuk barisan barikade atas instruksi yang diberikan oleh Bima lewat kode gerakan mata yang sangat halus.

Ketegangan pun terjadi di depan pintu masuk ruangan itu. Para bos besar itu berteriak-teriak, mencoba mendorong masuk, namun para buruh tetap diam membisu seperti tembok baja yang mustahil ditembus.

Bima perlahan berdiri dari kursinya, berjalan santai menghampiri kerumunan yang sedang bersitegang itu. Ia berdiri tepat di tengah, membelah para pimpinan perusahaan yang sedang emosi tersebut.

"Kalau mau masuk rumah aja ketuk pintu dulu lah sampeyan ditanyain kok diam saja apa kalian ini semua dedemit," tanya Bima dengan nada kesal yang sangat kentara.

Mendengar ucapan Bima yang terdengar sangat berkuasa atas para buruh tersebut, orang-orang itu mengira Bima adalah kepala security atau pimpinan lapangan yang ditunjuk oleh pusat. Salah satu dari mereka mencoba menjelaskan dengan nada bicara yang masih tinggi, "Kami mau bertemu Tino! Kami mau penjelasan segera!"

Bima hanya mendengus, lalu menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil bersedekap. "Tino sedang bersemedi tidak bisa diganggu," jawab Bima enteng.

"Apa?! Bersemedi?! Jangan bercanda kamu!" teriak salah satu pimpinan perusahaan yang badannya paling tambun dan tinggi besar, mencoba mengintimidasi Bima dengan postur tubuhnya.

Bima menatap pria tambun itu dengan tatapan dingin. Ia merasa sangat kesal melihat tingkah laku orang-orang yang tidak bisa diberi paham ini. Baginya, orang-orang ini hanya membawa kebisingan yang merusak frekuensi kerjanya. Tanpa peringatan, Bima langsung melayangkan satu tinju keras tepat ke arah pria tambun tersebut.

BUGH!

Pria itu terjerembap ke belakang, memegang pipinya yang mulai membiru. Rekan-rekannya yang lain tersentak diam karena kaget melihat keberanian Bima.

"Memang kalau makhluk dunia Lain tidak bisa dikasih tahu," kata Bima sambil menggenggam tangannya kembali setelah meninju orang itu. "Lebih baik kalian pergi saja atau diam saja di depan sana, berbaris. Nanti kalau Tino sudah selesai meditasi pasti dia akan menemui kalian," kata Bima sambil menunjuk ke arah lapangan terbuka yang terlihat sangat panas dan terik karena sinar matahari tepat berada di atas kepala.

Keputusan Bima untuk melakukan kekerasan fisik menjadi pemantik ledakan emosi yang lebih besar. Kegaduhan pecah seketika. Para pimpinan perusahaan itu merasa tidak terima pimpinan mereka dipukul, namun para buruh pelabuhan juga tidak tinggal diam. Mereka merasa Bima sedang membela kehormatan dermaga.

Pertikaian kecil namun brutal mulai terjadi di depan kantor operasional. Saling dorong, umpatan, hingga beberapa baku hantam terjadi antara pemimpin perusahaan rekanan Wiratama Trading dan para buruh pekerja di pelabuhan. Debu pelabuhan kembali mengepul, menutupi wajah-wajah penuh amarah yang sedang bertarung di bawah terik matahari.

1
ALWINDO BM
..........
sitanggang
novel stress pantesan sepi👎🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!