SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF
Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.
Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.
Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.
Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRANDALAN POSESIF
BAB 35: Singgasana di Tengah Badai yang Tenang.
Mansion Elangga biasanya terasa seperti benteng pertahanan yang dingin, namun siang ini, suasananya berubah menjadi medan magnet yang penuh energi. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika deru mesin mobil mewah yang familiar terdengar memasuki halaman luas mansion. Itu bukan raungan knalpot motor The Lions, melainkan suara halus dari Rolls-Royce yang menandakan kepulangan penguasa lama.
Bramasta Elangga, Ratna, dan Nenek Savitri telah kembali dari perjalanan bisnis sekaligus peristirahatannya di luar negeri.
Begitu pintu ganda mansion terbuka, keheningan yang sempat diciptakan Davindra selama berjam-jam di dalam kamar utama seketika pecah oleh langkah kaki yang tegas.
Kepulangan Para Tetua.
Ratna melangkah masuk dengan anggun, matanya langsung menyapu ruang tengah yang tampak terlalu sunyi.
"Di mana mereka? Jangan bilang Davindra masih membawa Shania 'kabur' ke markas gudang itu," ucapnya dengan nada khawatir yang bercampur rindu.
Nenek Savitri, yang berjalan menggunakan tongkat kayu cendana berukir, hanya tersenyum tipis.
"Tenanglah, Ratna. Davindra sudah berjanji padaku untuk menjaga Shania di bawah atap ini. Jika mansion ini sesunyi ini, artinya singa itu sedang menjaga wilayahnya dengan sangat ketat."
Bramasta tidak banyak bicara. Ia hanya menyerahkan jasnya kepada pelayan dan duduk di kursi kebesarannya.
"Panggil, Davindra. Aku, perlu laporan tentang perkembangan bisnis yang dijalaninya selama kami tidak ada."
"Maaf, Tuan Besar..." asisten rumah tangga mendekat dengan kepala tertunduk. "Tuan Muda Davindra, memberikan perintah mutlak. Tidak ada yang boleh mengetuk pintu kamar utama sampai ia sendiri yang keluar. Beliau bilang... sedang ada 'urusan negara' yang tidak bisa diganggu."
Bramasta mengangkat alisnya, sementara Ratna menutup mulut dengan tangan, menahan senyum. Mereka tahu persis apa arti 'urusan negara' bagi seorang Davindra Elangga jika itu melibatkan Shania.
Labirin Hangat di Balik Pintu Jati.
Di dalam kamar utama, dunia luar benar-benar tidak eksis. Davindra masih setia pada posisinya, memeluk Shania dari belakang di bawah selimut sutra yang lembut. Shania sudah terbangun sepenuhnya, namun setiap kali ia mencoba bergeser, pelukan Davindra justru semakin mengencang.
"Dav, Papa, Mama dan Nenek sudah pulang. Aku, mendengar suara mobil di bawah," bisik Shania, suaranya teredam oleh bantal.
"Biarkan saja. Papa punya dunianya, aku punya duniaku. Dan duniaku saat ini hanya seluas ranjang ini," sahut Davindra dengan suara berat khas bangun tidur.
Ia membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Shania, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang menenangkan.
Shania berbalik, menghadap suaminya yang tampak begitu tenang tanpa gurat amarah yang biasanya menghiasi wajahnya. Ia memberanikan diri menyentuh bekas luka kecil di dekat alis Davindra.
"Kamu tahu, kalau Papa masuk ke sini dan melihat kita belum mandi jam segini, dia bisa marah besar."
Davindra membuka satu matanya, menatap Shania dengan binar posesif yang kini jauh lebih lembut.
"Dia, tidak akan berani. Dia, tahu putranya baru saja memenangkan pertempuran paling sulit dalam hidupnya, menaklukkan hati seorang calon dokter yang keras kepala."
Davindra meraih tangan Shania, mengecup telapak tangannya satu per satu.
"Semalam... terima kasih, Sha. Terima kasih sudah percaya padaku, meskipun aku adalah pria paling berengsek yang pernah kamu kenal."
Shania merasakan matanya memanas.
"Kamu, bukan berengsek, Dav. Kamu hanya... terlalu takut kehilangan sampai lupa cara meminta dengan lembut."
Davindra terkekeh pelan, menarik Shania hingga dahi mereka bersentuhan.
"Mulai sekarang, aku akan belajar. Tapi jangan harap aku akan melepasmu. Satu senti pun kamu menjauh, aku akan menarikmu kembali sepuluh senti lebih dekat."
Pertemuan di Meja Perjamuan.
Satu jam kemudian, setelah ritual mandi yang (lagi-lagi) memakan waktu lama karena kejahilan Davindra, keduanya turun ke ruang makan. Shania mengenakan gamis berwarna sage green yang membuatnya tampak segar, sementara Davindra tampil santai dengan kaos hitam polos yang tetap menonjolkan aura intimidasi alaminya.
Di meja makan, Nenek Savitri langsung menyambut mereka dengan tatapan menyelidik yang jenaka.
"Sepertinya ada yang tidurnya sangat nyenyak sampai lupa kalau matahari sudah di atas kepala," sindir Nenek.
Shania menunduk malu, wajahnya memerah hingga ke telinga. Namun Davindra, dengan santainya, menarik kursi untuk Shania lalu duduk di sampingnya sambil merangkul bahu istrinya di depan semua orang.
"Nenek, tahu sendiri, menjaga Shania itu butuh energi ekstra," jawab Davindra tanpa dosa.
Bramasta berdeham, mencoba mengembalikan wibawa di meja makan.
"Duduklah. Kita makan siang bersama. Ratna, sudah merindukan menantunya."
Suasana makan siang itu terasa jauh lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan. Ratna terus mengambilkan lauk untuk Shania, sementara Davindra sibuk memastikan Shania menghabiskan sayurnya—sebuah pemandangan yang membuat Bramasta hanya bisa menggelengkan kepala.
"Davindra," panggil Bramasta setelah sesi makan selesai. "Bagaimana perkembangan proyek kamu tangani?"
"Sangat lancar, Pa."
Bramasta mengangguk-anggukkan kepala.
Janji di Taman Belakang.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Davindra mengajak Shania berjalan-jalan di taman belakang mansion yang luasnya menyerupai hutan kecil pribadi. Mereka berhenti di depan sebuah ayunan kayu besar yang menghadap ke kolam ikan koi.
Davindra duduk di ayunan, lalu menarik Shania untuk duduk di antara kedua kakinya, memeluknya dari belakang sambil menyandarkan dagu di bahu Shania.
"Sha," panggilnya lembut.
"Ya?"
"Besok saat di kampus aku sudah menyiapkan dua pengawal yang menyamar jadi mahasiswa di sana. Kamu, tidak akan melihat mereka, tapi mereka akan selalu ada di jarak sepuluh meter darimu."
Shania menghela napas.
"Masih dengan sifat posesifmu, ya?"
"Ini bukan posesif, Sha. Ini proteksi. Dunia ini jahat, dan aku adalah penjahat yang tahu bagaimana cara melindungi hartanya dari penjahat lain."
Davindra mengeratkan pelukannya.
"Tapi aku janji, aku tidak akan mengganggumu saat koas. Aku hanya akan menunggu di gerbang setiap jam lima sore."
Shania berbalik sedikit, menangkup wajah Davindra.
"Terima kasih, Dav. Terima kasih sudah memberiku ruang untuk tetap meraih mimpiku."
"Mimpimu adalah mimpiku juga, Sha. Kalau kamu mau jadi dokter, aku akan membangunkan rumah sakit untukmu. Kalau kamu mau jadi menteri kesehatan, aku akan membelikan kursinya untukmu. Apa pun, asal kamu tetap menjadi milikku."
Shania tertawa kecil, ia kini sadar bahwa mencintai Davindra Elangga berarti harus siap dengan segala kegilaannya. Namun, di balik kegilaan itu, ada sebuah rasa aman yang tidak akan ia temukan pada pria mana pun di dunia ini.
"Aku, tidak butuh rumah sakit atau kursi menteri, Dav. Aku, cuma butuh kamu tetap pulang ke rumah, tanpa luka baru, tanpa berita tawuran, dan tetap menjadi Davindra-ku yang... sedikit manis kalau sedang tidur."
Davindra tersenyum, sebuah senyum tulus yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia mengecup bibir Shania singkat namun penuh perasaan.
"Deal. Tapi syaratnya satu, setiap malam, kamu harus tidur di pelukanku seperti semalam. Tidak ada bantalan pembatas, tidak ada alasan capek."
"Davindra!"
Shania memukul pelan dada suaminya, namun wajahnya berseri-seri.
Di balkon lantai dua, Nenek Savitri dan Ratna memperhatikan pasangan muda itu dari kejauhan.
"Dia benar-benar berubah, ya, Ma?" bisik Ratna pada ibu mertuanya.
Nenek Savitri mengangguk.
"Cinta memang bisa menjinakkan singa yang paling liar sekalipun. Tapi ingat, singa tetaplah singa. Dia hanya menjadi kucing di depan betinanya, namun tetap menjadi predator bagi siapa saja yang berani mengusik sarangnya."
Matahari terbenam di cakrawala Jakarta, meninggalkan semburat warna oranye yang indah. Di taman itu, di balik dinding mansion yang megah, sang Brandalan Posesif telah benar-benar menemukan pelabuhannya.
Labirin kasih yang mereka bangun mungkin penuh dengan belokan tajam dan dinding yang tinggi, namun bagi Davindra dan Shania, itu adalah satu-satunya tempat di mana mereka merasa benar-benar bebas.
Bersambung ....