“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Entah ini hanya perasaan Elowen saja, atau memang sejak tadi Marquess Lucien sudah memperhatikannya. Mata mereka sempat bertemu ketika pria itu mengajak bicara Cassian.
Beberapa pelayan datang membawa nampan berisi sarapan.
“Karena makanannya sudah disiapkan. Bagaimana kalau kita mengisi perut dulu sebelum berkuda?” ujar Marquess Lucien tenang. “Silahkan, Duke Cassian, Duchess Elowen,” mata Marquess Lucien melihat Elowen dengan tatapan penuh arti.
Elowen tidak begitu menanggapinya, dia mengangguk hormat kemudian mengikuti langkah Cassian. Melingkarkan tangannya ke lengan Cassian tiba-tiba.
Cassian menoleh sekilas ke arah Elowen, kemudian menatap lurus kembali.
Marquess Lucien tersenyum tipis. Kemudian mempersilahkan Lady Valerie dan juga Putri Lidya.
Meja panjang itu dipenuhi hidangan hangat, namun suasana di atasnya jauh dari nyaman.
Marquess Lucien duduk di ujung meja. Sikapnya santai dengan satu tangan menopang dagunya.
Matanya melihat ke semua orang satu per satu. Tatapan misterius yang menyimpan banyak hal di dalamnya, bibirnya melengkungkan senyum tipis.
Ketika pandangannya jatuh pada Elowen, tatapan itu berubah. Sedikit menghangat, lama, dan dalam. Seolah dia sedang menemukan sesuatu yang sudah lama dicarinya.
Elowen menunduk, masih tidak nyaman dengan adanya Lady Valerie dan Putri Lidya.
“Duchess Elowen? Apa makanannya tidak sesuai dengan selera anda?” tanya Lucien.
Semua orang melihat ke arah Elowen. Begitupun Elowen yang langsung mengangkat kepalanya.
Ditanya tiba-tiba seperti itu membuatnya kebingungan. Tangannya meremas lipatan gaunnya. Bagaimana menjawab pertanyaan Marquess Lucien, sedangkan dia tidak bisa bicara.
Cassian yang duduk di samping Elowen langsung menoleh ke arah istrinya itu.
Elowen menggeleng pelan.
Cassian membisikkan sesuatu ke telinganya. “Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman?”
Bagaimana ini… Seharusnya dia tidak mengundang perhatian seperti ini, batin Elowen.
Belum juga sempat menjawab.
Lady Valerie lebih dulu memotong. “Kenapa membawa istri yang merepotkan seperti ini, kasihan sekali Duke of Clyvedon.” Katanya melihat ke arah Cassian.
Cassian mengeraskan rahangnya. “Ibu…” suaranya berat seolah memperingatkan agar ibunya tidak memancing keributan sekarang, terlebih di kediaman Marquess Lucien.
“Ah, sepertinya Duchess of Clyvedon ini pemilih tentang makanan, ya…” timpal Putri Lidya. “Bisakah pelayan membawakan menu yang lain, sepertinya daging panggang di pagi hari tidak sesuai dengan perut sang duchess. Mungkin sepotong scone dan teh akan menenangkan Duchess.”
Putri Lidya mengangkat tangannya berniat memanggil pelayan. Dia membuat seolah Elowen wanita yang sangat merepotkan hingga membuat orang lain harus mengurusnya.
“Kenapa repot-repot Putri Lidya yang memanggil pelayan? Biarkan duchess sendiri yang memanggil,” sindir Lady Valerie.
Elowen menghela napas pendek. Mereka sengaja membuat Elowen memiliki kesan buruk di mata Marquess Lucien.
Cassian mengetatkan rahangnya. Menatap tajam ke arah sang ibu.
“Bu, Cukup…!” ujar Cassian memperingatkan Lady Valerie agar tidak menyerang istrinya.
Lucien tersenyum tipis. Tanpa berkomentar apa-apa. Dia malah fokus melihat ke arah Elowen.
Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas saat melihat ke arah Elowen. “Ternyata kamu masih sama seperti dulu,” bisiknya dalam hati.
Cassian menyadari tatapan yang tak biasa dari Lucien kepada istrinya, dan ia tidak menyukainya.
Spontan Cassian meraih tangan Elowen yang menggenggam napkin di pangkuannya. Sontak Elowen menoleh ke arah suaminya.
Tatapan mereka bertemu.
Lalu, sesuatu yang jarang terjadi muncul. Cassian tersenyum ke arahnya. Kemudian pria itu melihat ke semua orang sembari mengangkat genggamannya di tangan Elowen ke atas meja.
“Maaf Marquess Lucien soal kegaduhan ini. Sepertinya pesona istri saya sangat tidak bisa dihindari sehingga banyak orang iri,” ucap Cassian menyindir ibunya dan Putri Lidya.
Lucien tertawa kecil. “Saya setuju Duke Cassian, istri anda ini memang memiliki pesona yang luar biasa.”
Lady Valerie kesal setengah mati. Begitu juga Putri Lidya, ekspresi wajahnya berubah datar dari yang semula tersenyum.
***
Setelah ketegangan di meja makan, Marquess Lucien mengajak Duke Cassian dan yang lainnya untuk mulai melakukan kegiatan utama mereka. Berkuda.
Elowen sudah berdiri di samping kuda Andalusian yang sudah dipilihkan Cassian untuknya. Elowen mencoba melakukan pendekatan lebih dulu dengan mengelus binatang berkaki empat itu.
Kuda dengan warna putih itu seolah menggambarkan Elowen secara pas. Wanita yang tenang dan elegan, begitulah karakter Andalusian horse.
Sedangkan, Cassian sudah berdiri di samping kuda hitam jenis Friesian. Sungguh pancaran dominasi yang kuat untuk seorang gagah seperti Sang Duke.
Lady Valerie dengan Lippizaner horse, kesan klasik yang masih berkuasa sungguh merepresentasikan siapa Dowager Duchess sebenarnya.
Putri Lidya dengan Akhal-Teke horse warna emas yang siapapun akan setuju dengan daya tarik yang kuat itu. Melambangkan bahwa dia adalah Putri dari Kerajaan Lysandria.
Sementara Tuan Rumah, Marquess Lucien Ravenhearst dengan Thoroughbred horse yang terkenal cerdik dan penuh perhitungan.
Kegiatan berkuda ini bukan hanya olahraga biasa, tapi untuk menegaskan bahwa status mereka di masyarakat.
Mereka menaiki kuda masing-masing untuk mengelilingi danau dan padang rumput yang luas milik Marquess Lucien.
Elowen menikmati pemandangan yang sangat indah itu sambil memuji dalam hati. Seumur hidupnya, Elowen tidak pernah melihat pemandangan seindah ini.
Jadi, wanita itu menunggangi kuda lebih pelan dari yang lain untuk menikmati lebih lama pemandangan yang seperti lukisan itu.
Saat Elowen fokus melihat langit biru dan padang rumput yang teduh. Tanpa dia sadari, Putri Lidya tersenyum licik. Ia memacu kudanya lebih cepat dari arah belakang Elowen.
Dan, sedetik kemudian…
Byur…
Elowen terjatuh ke danau dari atas kudanya. Air danau yang dingin langsung menelan tubuhnya. Semuanya terjadi terlalu cepat.
Tubuhnya tenggelam sebelum ia sempat bernapas dengan benar. Riding habit yang panjang terasa berat di dalam air, menariknya turun semakin dalam.
Elowen tidak bisa berenang, bukan. Ia dilarang mempelajari olahraga ini sejak kejadian itu.
Kini, dirinya hanya bisa menggerakkan tangan, mencoba naik ke permukaan. Tapi kain di tubuhnya membelit kaki, membuat gerakannya kacau. Seolah setiap gerakannya sia-sia.
Dia tidak bisa berteriak. Tidak, dia mencoba berteriak, tapi tak ada suara yang keluar, hanya gelembung-gelembung kecil dari bibirnya.
“Ya Tuhan, apa ini akhir cerita hidupku? Mati seperti Ibuku dulu…” ucapnya dalam hati.
Gerakannya mulai melemah, tangannya terangkat lalu jatuh kembali. Dan, saat Elowen sudah mulai kehilangan kesadaran.
Sesuatu menyentuh pergelangan tangannya dari dalam air. Siapapun itu… Elowen akan sangat berterima kasih sudah menolongnya.
***
you're amazing writer