Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Tugas sosiologi
Langkah Lylac dan Riri beriringan menyusuri koridor yang mulai ramai oleh murid-murid kelas lain yang berhamburan keluar karena jam pelajaran telah usai. Tujuan mereka satu, perpustakaan sekolah yang terletak di ujung gedung utara.
Begitu pintu kaca digeser, hembusan AC yang dingin langsung menyambut kulit, bercampur dengan aroma khas kertas-kertas tua.
Ruangan itu ternyata sudah cukup padat. Di depan meja konter pustakawan, beberapa murid tampak sedang mengantre.
Lylac dan Riri ke perpus memperpanjang kartu perpus. Mereka berdua berjalan menuju meja administrasi.
"Permisi, Bu. Mau memperpanjang kartu perpustakaan yang habis masa berlakunya," ujar Riri ramah kepada petugas perpustakaan yang sedang mencap buku.
Petugas itu mendongak, menerima kartu Riri, lalu mengetikkan sesuatu di komputer sebelum menyerahkannya kembali dengan senyum tipis. "Sudah aktif ya, silakan."
"Terima kasih, Bu," balas Riri lega.
Setelah urusan kartu selesai, mereka berdua langsung masuk lebih jauh ke area rak untuk mencari referensi tugas kelompok.
Mereka melangkah masuk ke barisan rak tinggi bermaterial kayu tebal yang memuat deretan buku Sosiologi dan Penelitian Sosial.
Di situ Riri bingung tema apa yang akan mereka angkat. Jari-jarinya menelusuri punggung-punggung buku tebal, matanya membaca satu per satu judul yang tertera dengan dahi yang sedikit berkerut.
"Banyak banget bahasannya, Ly. Ada tentang penyimpangan sosial, struktur kelompok, sampai masalah urbanisasi. Kira-kira kelompok kita mau angkat tema apa ya yang pas?" tanya Riri setengah berbisik agar tidak mengganggu ketenangan ruangan.
Lylac nyeletuk, "Daripada pacaran dan membully, lebih baik kerja sampingan."
"Apaan Ly? Itu mah bukan tema tugasmu. Itu Kisah hidupmu," ujar Mika sambil terkekeh.
"Diamlah." Lylac reflek mengayunkan tangannya demi menepis wajah Mika yang terlalu dekat. Dia mengabaikan hantu itu dan kembali menatap Riri.
Riri sempat menoleh, sedikit terkejut dengan topik yang tiba-tiba meluncur dari mulut sahabatnya itu. Cewek itu terdiam sejenak. Ia mengulang kalimat Lylac dalam benaknya, lalu matanya perlahan berbinar.
"Ly. Itu bagus." Kedua mata Riri langsung berbinar tenang, mengagumi cara berpikir Lylac yang selalu realistis dan jauh dari drama. Sebagai salah satu murid yang selalu bertahan di peringkat sepuluh besar kelas, otak Riri langsung otomatis memetakan variabel riset dari kalimat Lylac tadi.
"Apa?" tanya Lylac tidak sadar.
"Ide yang kamu katakan barusan itu bagus, Ly. Fenomena pelajar yang membagi waktu antara sekolah dan dunia kerja itu riset sosiologi yang nyata banget di sekitar kita," sahut Riri pelan sambil mengangguk setuju.
Padahal itu spontan bicara karena melihat jadwal kerjanya sambil berdiri bersandar di sisi rak buku.
"Benarkah? Kayak aku?" tanya Lylac tidak menduga Riri menggunakan celetukannya sebagai dasar tugas ini.
"Benar. Kayak kamu." Riri mengangguk. "Ayo kita cari buku yang sesuai."
"Emang ada?" tanya Lylac langsung memajukan langkahnya dengan bingung.
"Kita tidak tahu kalau tidak mencarinya."
Mika terkekeh. "Lawak banget kamu. Omongan asbun kamu di gunakan dengan baik oleh Riri. Dia memang cerdas."
Lylac mendelik.
"Coba kamu cari kata kunci yang lebih formal di katalog atau rak buku," pinta Riri bagi tugas.
Lylac mengangguk patuh lalu menggeser langkahnya ke deretan rak di sebelah kanan. Tangannya mulai menelusuri punggung buku yang berjajar rapi. Alih-alih mencari kata kerja sampingan, matanya berfokus mencari label bertuliskan Sosiologi Ekonomi atau Masalah Sosial campuran sesuai arahan Riri.
"Tuh, dengerin Riri" bisik Mika. Hantu itu sengaja melayang telungkup di atas pundak Lylac sambil ikut melihat ke arah rak buku. "Cari yang judulnya berat-berat, seberat beban hidupmu, Ly."
"Di tambah lagi dengan kemunculanmu, hidupku manik berat," balas Lylac.
"Yah, enggak asyik. Kamu kebawa emosi." Mika malah palying victim padahal ia yang memulai.
Riri dengar samar-samar bisikan Lylac. Saat ia menoleh, cewek itu bukan sedang menoleh padanya. Itu artinya dia tidak sedang mengajak bicara.
Sebenarnya tentang kebiasaan Lylac sering ngomong sendiri itu sudah sampai ke telinganya. Itu bukan hal lama tapi juga bukan hal yang sangat baru. Lylac baru begitu belakangan ini. Beberapa bulan ini.
Lalu Riri memilih abai.
Mata Lylac terpaku pada layar monitor saat hasil pencarian katalog memunculkan dua daftar buku yang tersedia di perpustakaan. Judulnya membuat kening Lylac berkerut heran karena terkesan sangat tidak biasa.
"Ada?" tanya Riri.
"Ini cocok gak ya?" tanya Lylac. Jarinya menunjuk ke arah layar monitor.
Layar itu menampilkan buku panduan tentang Sosiologi Ekonomi dan Bab Perilaku Remaja. Riri memperhatikan deretan judul di monitor, lalu tersenyum puas karena semua data yang mereka butuhkan untuk membahas fenomena pelajar yang bekerja sampingan ternyata ada di sana.
"Rak 4B dan Rak 4C," baca Riri. "Ayo, kita lihat ke rak buku."
Lylac dan Ririn menjauh dari komputer katalog dan menuju ke rak. Mika ikut melayang menuju ke rak yamg disebut Riri.
Setelah memilah, akhirnya mereka menemukannya.
"Kita ambil dua buku dulu," kata Riri. Lylac mengangguk. Mereka mencari bangku yang nyaman untuk mempelajari buku itu.
...****************...
Perpustakaan jadi terlihat padat karena tugas dari guru Sosiologi ini. Memang menggalakkan membaca agak sulit kalau tidak begini. Guru petugas perpustakaan yang biasanya tenang dan santai tampak kewalahan melihat banyaknya anak-anak yang mulai berdatangan.
Mulai dari membuat kartu perpus, perpanjang kartu dan pinjam buku.
Saat itu Evan dan gengnya muncul. Nuno yang satu kelompok dengan Evan langsung menuju rak buku karena kartu perpustakaan milik Nuno masih aktif.
Sementara Niki dan Jay kebingungan. Jay meskipun anak OSIS, tapi dia tidak serajin Nuno uang rutin memperbarui kartu perpus. Mereka tertahan di meja depan tempat antri perpanjang kartu.
Jay menghela napas panjang sambil memandangi antrean yang mengular di depan meja administrasi.
"Kenapa sih kartu perpustakaan juga ada masa berlaku segala?" gerutunya.
"Karena kalau enggak diperbarui, data anggota bisa berantakan, Jenius," sahut Niki datar.
"Aku tahu itu. Itu pertanyaan asal aja."
"Asal apanya? Mukamu kelihatan benar-benar nanya."
Jay mendecih pelan sementara Niki terkekeh.
Di depan mereka, petugas perpustakaan masih sibuk melayani satu per satu murid yang datang. Tumpukan formulir dan kartu anggota memenuhi meja.
"Aku rasa kita bakal tua duluan sebelum sampai giliran," keluh Jay lagi.
"Lebay."
"Enggak. Lihat tuh."
Niki mengikuti arah telunjuk Jay.
Antrean memang cukup panjang.
Di sisi lain perpustakaan, Nuno sudah menghilang di antara rak-rak buku mencari referensi kelompok mereka bersama Evan.
"Enak juga satu grup denganmu," kata Evan merasa beruntung. "Enggak perlu antre untuk perpanjang kartu perpus."
"Kamu kan juga punya kartu perpus," kata Nuno yang ternyata tahu Evan kadang masih nongol di perpus. Evan hanya tersenyum.
Saat itu matanya melihat ke arah lorong ujung. Ada Lylac. Cewek itu sendirian. Apakah dia tidak punya kelompok belajar? Tanya Evan merasa aneh.
"Bentar, Nuno." Evan pamit pergi. Nuno abai dengan membiarkan cowok itu pergi.