NovelToon NovelToon
Dari Terpaksa Jadi Cinta

Dari Terpaksa Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romantis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amillea24

"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."

Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Satu minggu telah berlalu sejak tanah makam Adisti dan Rendy masih basah, namun mendung di hati Aruna seolah enggan bergeser. Apartemen mewah milik Gavin yang biasanya sunyi, kini menjelma menjadi medan tempur baru bagi dua orang yang mendadak "turun pangkat" menjadi orang tua asuh.

Bagi Aruna, kehilangan Adisti adalah kehilangan seluruh dunianya. Namun, ia tidak punya waktu untuk terus-menerus tenggelam dalam tangis. Ada Kenzie yang setiap malam terbangun, menangis histeris mencari pelukan bundanya.

Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Di kamar tengah, suara tangisan Kenzie kembali pecah, melengking tinggi membelah keheningan malam.

"Una... hiks... Eji mau Cama Una... Yayah..." tangis bocah dua tahun itu begitu menyayat hati. Badannya agak demam, efek dari rasa rindu dan bingung yang belum mampu dicerna oleh logika kecilnya.

Aruna terbangun dengan mata sepet dan kepala yang berdenyut pening. Seminggu ini dia hampir tidak pernah tidur nyenyak lebih dari tiga jam. Dengan langkah gontai, ia menggendong Kenzie, menepuk-nepuk punggungnya sambil menggoyangkan badan pelan.

"Cup, cup, Sayang... Ini Ante di sini. Kenzie bobo lagi ya," bisik Aruna dengan suara serak. Air matanya sendiri nyaris ikut menetes melihat wajah keponakannya yang memerah dan basah oleh air mata.

Aruna keluar dari dalam kamar sambil menimang Kenzie yang masih menangis. Ia melirik ke arah pintu kamar Gavin yang tertutup rapat. Mengingat kesepakatan yang sudah mereka buat tiga hari lalu, dada Aruna mulai terasa sesak oleh kejengkelan.

Demi bisa mengurus Kenzie tanpa menelantarkan tanggung jawab masing-masing, Aruna dan Gavin telah membuat perjanjian dimana pembagian tugas memomong Kenzie yang ditempel di pintu kulkas. Seharusnya malam ini bagian Gavin menemani Kenzie. Tapi pria itu malah tidur nyenyak di dalam kamarnya tanpa terusik dengan tangisan Kenzie.

Dengan sisa-sisa tenaga, Aruna berjalan ke dapur, bermaksud membuatkan susu hangat untuk Kenzie guna menenangkannya. Mengingat catatan di buku biru muda peninggalan Adisti, Kenzie hanya mau minum susu formula dengan suhu suam-suam kuku, tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin. Di tengah rasa kantuk yang luar biasa, tangan Aruna gemetar saat menakar bubuk susu.

Prang!

Botol susu itu justru tersenggol tangan Aruna saking panik dirinya ketika membuat susu sang keponakan dan jatuh ke lantai, membuat susu tersebut tumpah. Kenzie yang terkejut justru menangis semakin kencang.

"Hwaaa! Unaaa!"

"Cup, cup, cup maafkan Ante sayang. Maaf maaf" ucap Aruna dengan suara bergetar hebat sambil menenangkan Kenzie di dalam gendongan nya.

Pertahanan Aruna runtuh. Di depan meja dapur yang berantakan, di bawah temaram lampu, Aruna ikut menangis sesenggukan sambil mendekap Kenzie erat-erat. Ia merasa begitu tidak berguna, begitu merindukan kakaknya, dan begitu lelah secara fisik maupun mental.

"Kak Adisti... Aru harus gimana? Aru ngga bisa..." bisiknya lirih di sela tangis.

---

Keesokan paginya, suasana di apartemen tidak menjadi lebih baik. Aruna duduk di meja makan dengan kantung mata hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Kenzie sudah agak tenang setelah memakan sedikit bubur, kini sedang duduk di karpet memainkan mobil-mobilannya dengan lesu.

Pukul delapan pagi, pintu kamar utama baru terbuka. Gavin keluar dengan penampilan yang sudah rapi, wangi, dan rambut yang tertata klimis. Kemeja flanelnya yang tidak dikancingkan memperlihatkan kaus putih di dalamnya, membuat penampilannya tampak sangat modis—khas Gavin yang selalu peduli pada citra dirinya di depan publik.

"Pagi, Aruna. Pagi, jagoan Oom," sapa Gavin dengan senyum menawan yang biasa ia gunakan untuk memikat wanita. Ia tampak segar bugar, sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang baru saja kehilangan anggota keluarga seminggu lalu.

Aruna menatap Gavin dengan pandangan menusuk. "Semalam giliran kamu yang jaga Kenzie, Vin. Jam dua pagi dia nangis kejer sampai jam empat. Kamu ke mana aja?"

"Apa kuping kamu itu tuli ? Sampai tidak mendengar suara tangisan Kenzie semalam ?"

Gavin merapikan kerah bajunya di depan cermin dekat lorong, lalu menoleh dengan wajah tanpa dosa. "Aduh, Una... sori banget. Semalam aku bener-bener capek banget setelah seharian mengurus perusahaan milik Kak Rendy. Aku pasang earphone pas tidur, jadi ngga kedengaran. Sorry, ya?"

"Ngga kedengaran atau sengaja ngga mau dengar?" sahut Aruna dingin. "Kita udah bikin perjanjian, Gavin. Aku juga capek. Aku kehilangan kakakku, dan aku harus nahan ego aku demi jagain keponakan kita. Tapi kamu? Kamu kelihatan santai banget."

Gavin menghela napas, berjalan mendekati Aruna lalu bersandar di pinggiran meja makan dengan pose yang—menurutnya—karismatik. Ia menatap Aruna dengan mata yang dibuat seolah-olah penuh simpati, lalu mengusap puncak kepala Aruna lembut.

"Jangan galak-galak dong, nanti cantiknya hilang. Kita kan sama-sama berduka, tapi hidup harus terus berjalan, kan? Aku juga harus mengurus perusahaan kak Rendy dan milik ku sendiri. Kalau aku tak mengerus keduanya, bisa - bisa perusahaan ku dan kak Rendy bisa gulung tikar. Lagian, hari ini aku ada janji penting," ucap Gavin santai, melirik jam tangan mewahnya.

Aruna menepis tangan Gavin dari kepalanya. Rasa kesal di dadanya sudah mencapai ubun-ubun. "Janji penting apa? Hari ini kan hari Selasa. Sesuai jadwal, hari ini giliran kamu yang memomong Kenzie dan antar dia cek up ke dokter anak jam sepuluh nanti! Aku ada urusan yang tidak bisa di tunda."

Gavin menepuk jidatnya pelan, berakting seolah-olah baru teringat sesuatu. "Aduh, iya ya? Tapi aduh... gimana ya, Na? Hari ini aku ada janji temu sama klien jam sepuluh juga. Ini project gede banget, ngga bisa di reschedule. Kamu tahu sendiri kan, setelah Kak Rendy ngga ada, aku yang harus nopang finansial kita semua, termasuk biaya Kenzie ke depan."

"Tapi jadwal dokter ini udah di-booking dari dua minggu lalu sama Kak Adisti sebelum... sebelum kecelakaan itu, Gavin!" suara Aruna mulai bergetar, menahan tangis sekaligus amarah. "Ini jadwal imunisasi penting Kenzie!"

"Ya kamu kan bisa bawa Kenzie pakai taksi online dulu, Na. Nanti biayanya aku transfer, oke? Atau minta tolong Pak Sidiq buat anterin," jawab Gavin enteng. Ia melangkah mendekati Kenzie yang sedang duduk di lantai, lalu berlutut di depannya.

"Oom Apin pergi kerja dulu ya, Kenzie Sayang. Cari uang yang banyak buat beli mainan baru. Jangan nakal sama Ante Una, oke?" Gavin mengacak rambut Kenzie, lalu mencium pipi bocah itu sekilas sebelum berdiri dan membetulkan letak kacamata hitamnya.

"Gavin, kamu egois!" seru Aruna dengan mata berkaca-kaca.

Gavin hanya membalikkan badan, memberikan kedipan mata sekilas yang biasa ia gunakan untuk merayu, seolah menganggap kemarahan Aruna hanyalah angin lalu. "Aku pergi dulu ya, Una. Jangan kangen. Jaga kesehatan kamu juga."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Gavin melangkah lebar keluar dari apartemen, meninggalkan bunyi pintu yang tertutup rapat.

Aruna terpekur di tempatnya. Memandangi pintu yang tertutup, rasa sepi dan beban berat kembali menghimpit dadanya. Ia melihat ke arah Kenzie yang kini menatapnya dengan mata bulat yang polos, seolah bertanya mengapa rumah mereka kini terasa begitu asing dan dingin.

Dengan air mata yang kembali menetes perlahan, Aruna menghampiri Kenzie, memeluk tubuh mungil itu erat-erat. Di dalam hati, ia berjanji akan bertahan demi anak ini, meski harus berjuang sendirian menghadapi dunia—dan menghadapi kedangkalan sikap Gavin.

"Tak apa, sayang. Ada Ante Aru disini. Ante akan memberikan kasih sayang yang seperti Bunda dan Ayah mu berikan. Doa kan Ante Aru bisa menjalani hari - hari berat ini yang sayang." Ucap Aruna lalu melabuhkan sebuah kecupan lama di kening Kenzie.

----

" Besok aku akan mulai mengajar lagi..."

Bersambung...

1
partini
lihat yg dia beli atuh ,dia beli buat kamu juga ga semua buat dirinya sendiri
partini
semangat Thor ,semoga di kontrak novel nya
partini
siapa wanita itu yg bikin salah faham
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
partini
diem itu lebih baik dari pada cuap 👍👍
partini
dalam bahaya Tah
partini
paling bagus tuh diem sih dari pada bertengkar ga bagus buat anak" dengar kata" kasar
lagi dong Thor
partini
run semoga ga cinta duluan kamu , soal nya yg kebanyakan terjadi cewe yang suka duluan makanya nyesek
Namjachinggu: tenang aja kak, Aruna ngga akan cinta duluan ko 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!