Pernikahan adalah impian setiap wanita dan termasuk aku sendiri. Akan tetapi aku tidak pernah mengharapkan pernikahan ku datang dengan secepat ini dan dalam keadaan yang seperti ini pula. Di umur ku yang masih sangat muda seharusnya saat ini adalah waktu yang pas untuk menikmati kebahagiaan ku sebagai seorang gadis muda, akan tetapi aku harus mengorbankan masa indah itu demi sebuah pernikahan yang tidak bisa aku hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Selesai makan malam, Meskipun suasananya terasa dingin kami masih tetap berada di teras belakang rumah.
Kakek dan nenek berulang kali mengajakku masuk akan tetapi melihat cuaca yang cerah, bulan begitu terang dan bahkan bintang bertebaran dilangit, dan suara-suara nyanyian dari beberapa kafe yang ada di sekitar rumah nenekku membuat ku masih ingin tetap berada diluar.
Melihatku kedinginan kakek pun membuatkan api unggun untuk kami berdua, aku berbaring di kursi dan menyandarkan kepala ku di kedua paha nenekku dan kini nenekku membelai rambutku.
" jadi setiap malam mereka bernyanyi begini nek"
" iya ...." kata nenekku
" biasanya sampai jam berapa?"
" sampai jam berapa kau bilang, pokoknya sampai pagi karena semua kafe dan restoran disini bukanya 24 jam" kata nenek ku.
" loh.... Apa tidak mengganggu, misalnya jika sampai tengah malam begini pasti terganggu lah orang yang aktifitas nya tidak 24 jam seperti nenek misalnya."
" itu terdengar karena kita diluar rumah , kalau didalam kan tidak. "
" lagi pula seandainya pun misalnya terganggu ya kita harus terima lah. Namanya juga kita tinggal dilingkungan seperti ini, mereka juga cari rejeki kan kita tidak boleh halangi juga, ya jika misalnya tidak tahan kita boleh pindah" kata nenek
" oppung kenapa tidak buka usaha yang lain, kafe atau restoran, penginapan misalnya pasti itu akan berkembang pesat jika oppung membukanya disini, karena tempat ini kan daerah wisata "
" siapa yang kelola, toko ini aja aku udah kewalahan. "
" makanya setelah wisuda kau nanti kesini lah biar nenek buat usaha mu" kata nenek
" ada rupanya uang oppung untuk modalku buka usaha"
" iya adalah....."
" kalau soal uang kau enggak usah takut, asal kau mau pulang tinggal disini" kata nenek
" berarti banyak uang oppung iya, bagilah aku oppung"
" berapa sama kau" kata nenekku akupun tertawa mendengar perkataan nenekku.
" jadi Grace yang sudah ada nya rencana mu ito" kata kakekku yang kini menyela pembicaraan kami berdua.
" rencana apa oppung?" aku pun tidak mengerti maksud dari pertanyaan kakekku.
" mau menikah, " kata oppung ku dan kini aku dan Davin pandangan kami sama-sama bertemu.
" aku lihat kau tiba-tiba datang dan membawa pasangan mu kesini " kata kakekku
" hahahaha " akupun tertawa lalu mengubah posisi ku untuk duduk.
" jadi jika seandainya aku menikah sekarang apa cukup uang oppung buat pesta?" aku pun mulai mengerjai kakekku.
" cukup..... "
" kalau untuk kau apa yang tidak bisa, kami pun bekerja seperti ini hanya untukmu nya."
" kamu tahu sendirinya cuman mamakmu nya anakku dan itupun udah meninggal jadi tinggal kau satu-satunya keturunan ku."
" jangan kan untuk pesta, bahkan buat usaha seperti yang kau bilang tadi oppung sanggup" kata kakekku
" ternyata selama ini oppung ku orang kaya rupanya, aku tidak tahu itu" akupun tersenyum.
" jadi kapan rupanya rencana kalian" kata nenekku dan aku pun kembali tertawa.
" rencana apa lagi?"
" untuk menikah" kata nenekku
" hahahaha ...."
" siapa yang mau menikah" sementara Davin terdiam dan malu.
" oppung dia ini bukan pacarku, sebenarnya dia ini atasanku " aku pun menjelaskan tentang hubungan kami kepada mereka berdua.
" atasan bagaimana??"
" udah kerja kau rupanya?" kata nenek
" aku kan praktek oppung selama 6 bulan dan tinggal 2 bulan lagi lah, jadi kebetulan perusahaan tempat ku magang ada proyek di Parapat. Jadi karena aku orang Sumatera utara ini jadi aku ikut di bawa kerja disini" aku pun menjelaskan kepada kakek dan nenekku.
" oh.... Iya nya...."
" aku pikir kalian pacaran " kata nenekku
" kamu kenapa tidak bilang dari tadi padaku, bahkan aku sudah berbicara serius padamu. Kamu malah diam saja, seharusnya dari awal kamu bilang pada ku bahwa kamu atasannya Grace" kata kakekku kepada Davin namun Davin hanya tersenyum canggung.
" memangnya kakek bilang apa?"
" udah lah itu" kata kakek dengan ekspresi kecewa.
Kini kami pun mengobrol bersama, nenekku pun pamit lebih dulu karena sudah waktunya untuk menutup toko. Akan tetapi melihat nenekku pamit kami pun akhirnya bubar dan kembali kedalam kamar masing-masing.