NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Ascension

Lokasi: Ruang Pribadi Varian (Sanctum), Jauh di Balik Markas Void Sect.

Waktu: Menjelang Pagi, Saat Dunia Luar Masih Tertidur.

​Keheningan di dalam ruangan batu obsidian itu begitu pekat hingga menekan gendang telinga. Pintu masuk telah disegel dengan tujuh lapis sihir pelindung kedap suara dan anti-deteksi. Tidak ada satu pun bawahan Varian—bahkan Loid sekalipun—yang diizinkan mendekat dalam radius seratus meter.

​Varian berdiri sendirian di tengah ruangan.

​Dia masih mengenakan celana tempur hitamnya, namun dia telah menanggalkan jubah Shadow Lord dan kemejanya, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka. Kulitnya yang pucat dipenuhi oleh tato rune sihir hitam yang rumit—sirkuit mana eksternal yang telah dia ukir sendiri dengan rasa sakit selama bertahun-tahun. Topeng porselen putihnya tergeletak di meja di sampingnya, menatap kosong ke arah tuannya.

​Di hadapan Varian, di atas altar batu, terletak sumber obsesinya malam ini.

​Jantung Naga Magma Kuno.

​Organ itu seukuran kepala manusia dewasa, masih merah membara dan memancarkan hawa panas yang membuat udara di ruangan itu bergelombang. Meskipun pemiliknya sudah mati, jantung itu masih berdenyut pelan, DUM... DUM..., digerakkan oleh sisa-sisa mana naga yang keras kepala dan menolak untuk padam.

​Varian menatap jantung itu dengan mata ungunya yang dingin dan penuh perhitungan. Di samping altar, terbuka sebuah kitab kuno bersampul kulit manusia yang dia curi dari arsip terlarang akademi: "Theory of God-Slaying" (Teori Pembunuhan Dewa).

​"Halaman terakhir sudah terkonfirmasi," gumam Varian, suaranya serak di ruangan tertutup itu. "Legenda tentang Pedang Pembunuh Dewa di Reruntuhan Langit adalah omong kosong. Senjata fisik itu sudah dihancurkan oleh Dewa Perang ribuan tahun lalu karena ketakutan mereka."

​Varian menutup kitab itu dengan kasar. Brak.

​"Jika dunia ini tidak menyediakan senjata yang bisa membunuh Dewa, maka aku tidak punya pilihan lain."

​Varian mengambil pisau belati ritual yang terbuat dari Void-Iron murni. Dia mengangkat tangan kirinya di atas Jantung Naga.

​"Aku akan menjadikan diriku sendiri senjatanya."

​Tanpa keraguan sedikit pun, Varian mengiris telapak tangannya dalam-dalam.

​Darah mengucur. Itu bukan darah merah manusia biasa. Darahnya berwarna merah tua yang nyaris hitam, kental, dan berbau ozon—hasil dari bertahun-tahun memanipulasi energi Void.

​Dia mengepalkan tangannya, membiarkan darah hitamnya menetes dan membanjiri Jantung Naga yang panas itu.

​CSSSST!

​Terdengar suara mendesis tajam saat darah Void bertemu dengan daging naga berunsur api. Asap ungu beracun mengepul. Jantung naga itu mengejang hebat, mencoba melawan korupsi asing yang masuk ke dalam sistemnya.

​"Diam dan terima takdirmu," desis Varian. Dia menyalurkan tekad (Willpower) dan mananya secara brutal untuk menekan perlawanan sisa jiwa naga itu.

​Varian kemudian mengambil kantong berisi material langka yang dia beli di pasar gelap Nocturnus—debu kristal Soul Stone ungu, serpihan Star Metal, dan inti mana dari berbagai monster tingkat tinggi. Dia menaburkan semuanya ke atas jantung yang sedang bermutasi itu.

​"Alchemical Process: Void Crystallization (Proses Alkimia: Kristalisasi Hampa)."

​WUUUNG...

​Aura ungu pekat meledak di dalam ruangan. Jantung naga itu mulai berubah bentuk secara mengerikan. Daging organiknya yang merah menyusut, memadat, dan mengeras dengan cepat. Warnanya berubah dari merah menyala menjadi ungu gelap, lalu menjadi bening seperti kaca, dan akhirnya menjadi Hitam Pekat yang menyerap semua cahaya di ruangan itu.

​Sebuah permata tercipta.

​Sebuah Void Prism (Permata Hampa) berbentuk dodecahedron (bersegi dua belas sempurna), berukuran sebesar kepalan tangan, melayang di udara di atas altar. Ia berdenyut dengan energi yang dingin dan menakutkan, seolah-olah itu adalah jantung dari lubang hitam mini.

​Varian menjatuhkan pisau bedahnya. Dia mengambil permata itu dengan tangan kanannya. Rasanya dingin luar biasa, sensasi beku yang membakar kulit, seolah dia sedang memegang inti dari bintang yang mati.

​Napas Varian memburu. Ini adalah titik di mana tidak ada jalan kembali. Jika dia gagal, tubuhnya akan meledak karena ketidakstabilan mana, atau lebih buruk, jiwanya akan terkoyak oleh energi naga yang marah.

​"Untuk melampaui kemanusiaan..." bisik Varian, matanya menatap liar ke arah permata itu.

​Tanpa ragu sedetik pun, Varian menekan sudut tajam dari Void Prism itu tepat ke tengah dadanya sendiri—di atas tulang dada (sternum), tepat di mana jantung biologisnya berada di baliknya.

​"...MASUKLAH!"

​Varian mendorong dengan seluruh tenaganya.

​KREK! JLEB!

​Suara tulang rusuk dan tulang dada yang retak terdengar mengerikan di ruangan sunyi itu. Permata itu tidak menempel di kulit; ia menembus daging, merobek otot, menghancurkan tulang, dan memaksa masuk ke dalam rongga dadanya seperti parasit asing.

​"ARGHHHHHH!!!"

​Jeritan Varian tertahan di tenggorokan, berubah menjadi geraman basah. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah dia rasakan. Ini bukan sekadar luka fisik. Ini adalah invasi magis.

​Permata itu bersarang di sebelah jantung aslinya, lalu mulai menumbuhkan "akar" berupa benang-benang mana hitam yang menusuk ke dalam jantung biologisnya, menyatukan kedua organ itu menjadi satu sistem ganda yang mengerikan.

​Varian jatuh berlutut, mencengkeram dadanya. Tubuhnya kejang-kejang di lantai batu.

​Di dalam tubuhnya, perang sedang terjadi. Energi api naga purba berbenturan dengan energi dingin Void. Sirkuit sihir di tubuh Varian—yang tadinya hanya selebar sungai kecil—kini dipaksa melebar menjadi lautan untuk menampung banjir kekuatan ini. Pembuluh darahnya menonjol, matanya memerah, dan asap hitam keluar dari setiap pori-porinya.

​Dia merasa seperti sedang dibakar hidup-hidup dan dibekukan secara bersamaan.

​Bertahan... Jangan pingsan... Jika kau kehilangan kesadaran, energi ini akan memakanmu...

​Varian menggigit lidahnya hingga berdarah untuk tetap sadar. Dia memfokuskan seluruh pikirannya untuk mengendalikan arus mana yang liar itu, menjinakkannya seperti menjinakkan kuda liar.

​Satu jam berlalu dalam penderitaan murni di dalam Sanctum yang terkunci itu.

​Perlahan, kejang-kejang di tubuh Varian berhenti. Asap hitam menipis. Napasnya yang tersengal-sengal mulai teratur kembali, meskipun kini setiap tarikan napas terasa jauh lebih dalam dan berat.

​Di dadanya, luka robek mengerikan tempat permata itu masuk telah menutup dengan cepat berkat regenerasi barunya. Kini, di tengah dadanya, terdapat bekas luka permanen berbentuk bintang hitam bersudut dua belas. Dan di bawah kulitnya, Void Prism itu berdenyut pelan, seirama dengan jantung aslinya.

​Dum-dum... Dum-dum...

​Varian membuka matanya. Dia masih berlutut di lantai, keringat dingin membasahi tubuhnya.

​Dia mengangkat tangannya, menatapnya dengan tatapan asing. Dia merasa... berbeda. Dia merasa ringan, seolah gravitasi tidak lagi mengikatnya sepenuhnya. Namun di saat yang sama, dia merasa sangat padat dan berbobot.

​Indranya meluas. Dia bisa mendengar tetesan air di gua yang jauhnya satu kilometer. Dia bisa merasakan aliran mana di dalam batu obsidian di bawah lututnya.

​Varian perlahan berdiri. Kakinya sedikit goyah, tapi dia segera mendapatkan keseimbangannya. Dia berjalan menuju meja, mengambil Topeng Porselen Putihnya.

​Dia menatap topeng itu sejenak, melihat pantulan wajah manusianya yang pucat dan lelah di permukaannya yang mengkilap.

​"Varian Valdris sudah mati di ngarai itu," bisiknya pada topeng itu.

​Dia mengenakan topeng itu kembali ke wajahnya. Klik.

​"Dan yang tersisa hanyalah Raja."

​Varian mengambil jubah hitamnya dan mengenakannya. Dia siap menemui pasukannya.

1
Qisthia el-huda
rekomemdasi buat baca.
Tania Tania Azkayira
bagusssss
neko
karya ini bagus banget seru jugak cocok kalau lagi bosan, coba baca sendiri deh
neko
Varian serem banget dah udah op pinter memanipulasi lagi
Frank muhamad alafadilah
Rencana Varian sedikit kejam seperti biasa😅
pengemar novel
Novel ini bagus (walau ada beberapa hal yang di luar dugaan😅) tapi bagus ni aku rekomendasikan😁
pengemar novel
Gareth nyebelin banget 😡
aku jugak penasaran apa rencana Varian selanjutnya ya🤔
pengemar novel
wih... kuat banget
pengemar novel
endingnya di luar dugaan di kirain bakal berpetualang bersama adiknya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!