Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Namun... Ia tidak jatuh.
Ling Xi justru merasakan sesuatu yang hangat melingkar di pinggangnya, menahan tubuhnya dengan mantap. Aroma samar seperti angin dingin bercampur cahaya suci menyentuh indera penciumannya.
Ia tertegun.
Ketika membuka matanya, ia melihat seorang pria berdiri di belakangnya.
Rahangnya tegas, garis wajahnya jelas seolah dipahat. Rambut berwarna putih, mata tajam seperti mata Phoenix dengan iris mata berwarna abu. Dan jangan lupa, hidungnya yang mancung sempurna dengan bibirnya berwarna merah.
"Sudah puas mengamatiku, permaisuriku?" ucap pria itu ringan, namun suaranya yang berwibawa membuat udara disekitar bergetar halus.
Ling Xi langsung tersentak. Ia pun segera berdiri dan menjauh selangkah.
"Apa maksudmu?" tanyanya waspada, dengan aura Phoenix masih berputar disekelilingnya.
Pria itu tersenyum tipis, bukan senyum menggoda, melainkan senyum yang sudah menunggu beberapa lama. "Soal itu, nanti aku jelaskan."
Matanya beralih pada iblis berkepala binatang yang kini menggeram lebih keras, jelas merasa terancam.
"Untuk sekarang..." lanjutnya, suaranya berubah dingin, "... lebih baik kita selesaikan iblis itu terlebih dahulu. Setelah itu, kita kembali ke desa."
Iblis itu meraung marah. "Manusia! Berani sekali kalian mengabaikanku!"
Pria itu melangkah maju satu langkah. Aura yang terpancar dari dirinya sangat berbeda, bukan gelap bukan pula dingin. Aura itu jelas lebih murni dan berat. Seolah langit sendiri menunduk pada dirinya.
Ling Xi menatapnya sekilas, lalu mengepalkan tangannya.
"Baik," ucapnya singkat. "Kita selesaikan ini bersama."
Tanpa aba-aba, mereka pun langsung bergerak serempak.
Ling Xi mengangkat tangannya, es dan api membentuk bilah-bilah panjang seperti tanda kunci yang kemudian mengunci pergerakan iblis itu dari depan.
Sementara pria misterius itu muncul di sisi lain dalam sekejap, gerakannya nyaris tak terlihat.
Iblis itu mencoba membuka ikatan kunci yang mengunci tubuhnya.
AAARGHHHH!
"Manusia rendahan! Berani sekali kalian berdua menekanku! Kalau berani lawan sendiri-sendiri! Bukan dengan bergabung seperti ini!" teriaknya kesal.
"HEH! Karena kami ingin menyelesaikan lebih cepat," ucap mereka berdua.
AAARGGGHHH!
"LEPASKAN AKU MANUSIA BODOH!"
"Kalau bisa, coba saja lakukan sendiri," jawab Ling Xi.
Sedangkan pria misterius yang mendengar itu langsung tersenyum.
"Itulah permaisuriku," gumamnya.
Mereka berdua pun kembali menekan iblis itu hingga akhirnya membuat ia berlutut.
Dan pada saat yang sama, Ling Xi kembali menghentakkan kakinya.
Es menjalar dari tanah, membekukan energi gelap hingga ke inti.
"Sekarang!" seru Ling Xi.
Satu hentakkan terakhir mengguncang dari pria misterius itu. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan kekuatan cahaya, perlahan cahaya itu keluar dari kecil hingga besar dan kemudian cahaya itu langsung mendorong iblis itu hingga akhirnya iblis itu hancur lebur.
Energi gelap tercerai-berai, terserap kembali ke dalam tanah yang perlahan berubah normal.
Retakan menutup, udara berat yang tadi memenuhi sekitar perlahan menghilang, digantikan dengan angin lembut yang membawa aroma tanah basah.
Pohon-pohon di sekeliling mulai terlihat hijau kembali.
Suasana langsung sunyi.
Ling Xi menghembuskan napas panjang. Ia menoleh ke pria misterius itu.
"Sekarang," katanya tegas, "kau berutang penjelasan padaku."
Pria itu menatapnya, matanya yang tajam perlahan melunak sedikit.
"Baiklah, permaisuriku," ucapnya dengan sedikit menggoda.
"Apa maksudnya permaisurimu?!" seru Ling Xi.
"Iyalah, karena kau adalah takdirku, maka kau adalah jodohku," ucapnya.
"Aku saja tidak tahu namamu, ini malah langsung klaim aku jadi permaisurimu. Huh," jawab Ling Xi sambil mendengus.
"Tapi, setelah aku memberi tahu namaku, maka kau harus mau menikah denganku," jawabnya dengan meyakinkan.
"Eh, mana bisa begitu, kita aja baru bertemu hari ini, dan aku juga gak tahu bagaimana sifat dan sikapmu," balas Ling Xi.
Dengan menurunkan sedikit egonya, pria itu akhirnya mengalah, "Baiklah, namaku..."
...... to be continued ... ...