Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Pernikahan
*
*
Mobil hitam milik Satria melaju kencang, setelah sebelumnya mengantarkan Dygta ke sekolah pagi itu. Kendaraan beroda empat itu memasuki halaman sebuah rumah berlantai dua.
Bangunan tidak terlalu luas berdisain minimalis dengan beberapa jendela besar di setiap dindingnya. Membuat orang dari luar bisa melihat kedalam ruangan dengan jelas.
Mereka turun dari mobil. Satria meraih tangan Sofia, membimbingnya berjalan ke teras.
"Ini rumah siapa?" Sofia bertanya, ketika mereka telah sampai di depan pintu.
Satria tak menjawab. Pria itu mengeluarkan kunci dari saku jasnya, memasukkannya kedalam lubang kunci, memutarnya kekiri, dan pintu pun terbuka.
Satria mendorong pintu hingga terbuka lebar. Pria itu menggendikkan kepala, mengisyaratkan agar Sofia mengikutinya masuk kedalam.
Perempuan itu, mengerutkan dahi. Namun tak urung juga dia mengikuti langkah lebar suaminya masuk kedalam rumah tersebut.
"Welcome home." katanya, berdiri tegap ditengah ruangan yang diperkirakan merupakan ruang tamu. Terdapat satu set sofa kecil dan beberapa lukisan abstrak.
Sofia masih mengerutkan dahi. Belum mengerti.
"Ini rumah kita." ucap Satria, merentangkan kedua tangannya.
"Rumah kita?" Sofia mengulangi kata-kata suaminya.
Satria mengangguk. "Ya. Rumah kita."
Mereka berkeliling memasuki setiap ruangan yang ada. Ruang keluarga, ruang makan, juga dapur. Yang sepertinya sudah siap huni karena segala perabotan dan barang yang dibutuhkan sudah tersedia.
Sofia tertegun menatap suaminya tak percaya.
"Kamu tidak suka? terlalu kecil? atau rumahnya jelek? oke nanti kita cari yang lebih bagus." Satria mendekati istrinya yang terdiam.
"Aku pikir kamu tidak terlalu suka rumah yang terlalu besar dan mewah, jadi aku pilih rumah ini." sambung pria itu.
Sedetik kemudian sebuah senyuman terbit di sudut bibir Sofia.
"Rumah kita?" ulangnya lagi, "Kita akan tinggal disini?" tanyanya.
Satria mengangguk. "Bukankah sebaiknya setelah menikah kita keluar dari rumah orang tua?" ujar pria itu.
"Tapi,... bagaimana ... kenapa ..." Sofia kehabisan kata-kata.
Satria terkekeh. "Hadiah pernikahan." katanya, mengedipkan sebelah matanya. Membuat perempuan di hadapannya tersipu malu, mengingat kejadian gagal semalam. Kemudian pria itu tergelak.
Satria meraih tangan Sofia, berjalan menaiki tangga, menarik perempuan itu ke lantai dua.
Ada beberapa ruangan yang di perkirakan adalah kamar. Satria membuka pintu kamar pertama yang mereka lewati.
Dinding bercat hijau tosca dengan gambar-gambar tokoh kartun. Tempat tidur dengan bedcover berwarna pink bermotif gambar littleponny terletak di tengah ruangan. Gorden berwana pink pula bercorak hello Kitty yang cantik menghiasi jendela.
Ada dua lemari berukuran sedang dengan warna cerah khas untuk anak-anak pula.
"Kamar Dygta." ucap Satria, menoleh ke arah istrinya yang masih tertegun. "Mudah-mudahan dia suka."
Sofia tersenyum. "Dygta boleh ikut kita?" katanya, merasa ragu.
Satria mengerutkan dahi. "Kenapa Dygta tidak boleh ikut kita? Dia kan anak kamu, jadi sekarang dia anakku juga."
Sofia mendongak. Matanya berkaca-kaca.
"Aku janji dia akan jadi anak yang manis. Dia baik. Dia juga penurut." lanjut Sofia, merasakan hatinya menghangat.
Satria tersenyum, "Aku akan menyayangi dia seperti aku menyayangi anakku sendiri." ucapnya.
Sofia menghambur kepelukan Satria, memeluknya dengan erat.
"Terimakasih." katanya.
"Tidak perlu berterimakasih. Kalian tanggung jawab aku sekarang. Sudah kewajiban aku memberikan apa yang kalian butuhkan." Satria membalas pelukan hangat istrinya.
"Mau lihat kamar utama?" tanya Satria, sebelah matanya mengedip genit. Seringaian muncul disudut bibirnya.
Sofia tak menjawab, hanya mengikuti langkah lebar Satria yang tak melepaskan genggaman tangannya, keluar dari kamar Dygta, menuju ke sebuah kamar di ujung.
Ruangan yang cukup luas untuk ukuran sebuah kamar. Dengan jendela besar menghadap ke depan dan samping. Dimana pemandangan hutan pinus tersuguh menyegarkan mata. Sofia baru sadar rumah itu berada di dekat sebuah perbukitan.
Keduanya menelusuri ruangan itu, segera Sofia dibuat takjub dengan pemandangan di dalam. Kamar mandi dengan bathub dan ruang berbilas yang lumayan besar. Cukup nyaman pula untuk ukuran kamar mandi di dalam sebuah rumah tinggal.
Masuk keruang ganti, lagi-lagi perempuan itu dibuat terbelalak. Lemari yang ada telah dipenuhi berbagai pakaian yang nampaknya masih baru. Berbagai kebutuhan mandi dan makeup sudah tersedia.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, kita bisa pindah hari ini juga." Satria membuyarkan lamunan istrinya.
"Kamu ....Hari ini?" Sofia terbata.
"Kamu dan Dygta tidak usah membawa terlalu banyak barang. Semuanya sudah aku siapkan. Punya Dygta juga." lanjut Satria.
Sofia benar-benar tak dapat berkata. Dirinya masih terkejut dan tak percaya dengan apa yang diterimanya secara bertubi-tubi dalam beberapa hari ini.
Lamaran dan pernikahan dadakan, kemudian ini. Rasanya ini seperti mimpi.
*********
"Sepertinya tempat ini sepi." Sofia berdiri di depan jendela, menatap sekeliling rumah yang halamannya dikelilingi pepohonan. Hujan mulai mengguyur pada hampir siang itu.
"Aku suka tempat sepi. Jauh dari keramaian." Satria ikut berdiri disampingnya, memandang rintik-rintik air yang menetes di jendela.
Sofia menoleh, menatap wajah suaminya dari samping. Dia tampak lebih tampan dari sebelumnya. Maksudnya, Satria memang tampan, tapi hari ini suaminya itu terlihat lebih tampan. Apa karena kini mereka sudah menikah?
Sofia terkekeh, merasa lucu dengan pikiran konyolnya.
"Ada yang lucu?" tanpa sadar ternyata Satria tengah memperhatikan.
Sofia terdiam. Masih menatap suaminya dengan pikiran yang dipenuhi banyak hal.
"Kadang aku merasa ini seperti mimpi."
Satria mengernyit.
"Aku hanya orang biasa, berasal dari tempat biasa dengan hidup yang biasa. Hanya karena sesuatu hal kita dipertemukan. Dalam waktu semalam hidupku berubah total. Dan sekarang, disinilah aku." sofia menerawang ke cakrawala yang begitu kelabu padahal waktu belum sampai tengah hari. Ditambah hujan yang mengguyur begitu deras membuat suasana sedikit syahdu.
Satria menatap wajah polos yang tengah merenung itu.
"Kamu tahu, kamu telah mengubah aku menjadi seseorang yang bahkan tidak berani aku bayangkan sebelumnya." lanjut Sofia.
"Memberikan aku hal yang mungkin hanya bisa aku hayalkan selama ini."
Satria mengubah posisi mereka menjadi berhadapan. Menatap kedalam mata coklat istrinya.
"Kamu bahagia?" tanyanya.
Sofia mengernyit.
"Aku bahagia."
Satria tersenyum.
"Terimakasih." lanjut Sofia, mendekatkan dirinya, berusaha menghapus jarak, "Untuk semuanya." katanya lagi.
Hening.
Hanya napas yang terdengar menghembus.
"Bisa aku meminta hadiahku sekarang?" Satria kemudian, merapatkan tubuh mereka berdua. Kedua tangannya melingkar di pinggang ramping istrinya.
Kening mereka bertemu, seketika rasa hangat menyebar ke seluruh tubuh. Tatapan mereka bersirobok.
"Sofia Anna," Satria berbisik.
Sofia tersenyum. Kemudian mendongakkan wajahnya, mempertemukan bibir mereka berdua. Kedua tangannya merangkul pundak lebar sang suami dengan posesif.
Kecupan lembut yang membuai, seketika meningkat menjadi ciuman yang semakin dalam. Yang kemudian memanas ketika tangan keduanya tak tinggal diam. Saling menyentuh bagian tubuh masing-masing.
Sekejap kemudian pakaian mereka telah terlepas berserakan dilantai. Dan entah sejak kapan keduanya telah berpindah ke ranjang besar diujung kamar. Saling menempel dengan erat. Tak membiarkan satu sama lain menjauh.
"Sayang!!"
Sofia selalu hampir menjerit setiap kali milik Satria menerobos memasuki inti tubuhnya. Yang kemudian menghentak tanpa ampun. Membuatnya kehilangan akal.
"Ya, teriakan namaku, sayang!!" Satria berbisik ditelinga istrinya.
Hujan turun semakin deras ditambah angin bertiup kencang, membuat suasana semakin syahdu. Udara dingin berhembus disela ventilasi udara, namun tak membuat pasangan yang dimabuk asmara ini kedinginan. Malah bergumul semakin panas. Walaupun keringat mulai bercucuran tapi tak terlihat tanda-tanda pergumulan itu akan berakhir.
Satria terus menghentak semakin kuat, sementara Sofia bergerak semakin liar mengimbangi suaminya. Keduanya benar-benar kehilangan akal.
Suara-suara erotis terus menggema dilangit-langit kamar. Erangan dan desahan saling bersahutan. Tak terganggu dengan deru angin dan petir yang berkilat diangkasa. Mereka asyik dengan dunianya sendiri. Saling meneriakan nama pasangannya diantara desahan yang mengudara.
Hingga pada puncaknya ketika mereka hampir meledak. Satu hentakan keras yang begitu dalam disusul lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya.
"Aarrrrggghh, Fiaaaaa!!!" Satria menyurukkan wajahnya di ceruk leher Sofia yang tubuhnya mengejang hebat menerima pelepasan, yang juga meneriakkan namanya.
"Kak Nik-ko, ...!!!"
*
*
*
Bersambung ...
like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭