Queensa tak menyukai pernikahannya dengan Anjasmara. Meskipun pria itu dipilih sendiri oleh sang ayah.
Dijodohkan dengan pria yang dibencinya dengan sifat dingin, pendiam dan tegas bukanlah keinginannya. Sayang ia tak diberi pilihan.
Menikah dengan Anjasmara adalah permintaan terakhir sang ayah sebelum tutup usia.
Anjasmara yang protektif, perhatian, diam, dan selalu berusaha melindunginya tak membuat hati Queensa terbuka untuk suaminya.
Queensa terus mencari cara agar Anjasmara mau menceraikannya. Hingga suatu hari ia mengetahui satu rahasia tentang masa lalu mereka yang Anjasmara simpan rapat selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Gak malu apa, dia yang dulu nolak sekarang kelihatan mepet terus kayak kegagalan?" Queen dan Anjas baru saja turun dari anak tangga terakhir saat suara sindiran itu mampir di telinga mereka. Sangat kentara orang yang bicara sengaja ingin keduanya dengar. Seolah tidak perduli akan perasaan Queensa dan Anjasmara.
Tadinya Queensa berjalan seolah larut dalam mimpi. Dia teramat senang Anjasmara tak menepis rangkulan tangannya di lengan pria itu, tapi mimpi itu seketika lenyap dibangunkan oleh sindiran keras orang yang duduk berkumpul di ruang keluarga Ridwan.
Paruh baya lainnya bicara pelan, suaranya nyaris tidak terdengar, "Jangan bikin gara-gara, ini acara Ridwan, kalian jangan pancing keributan!"
Sebuah suara terdengar kesal dan berkata, "Siapa yang kamu bilang bikin gara-gara? Queensa memang sombong, kurang dididik! Jadinya nggak punya tata krama." Sarkas paruh baya yang bernama Murti tidak terima di tegur.
Tangan yang tadinya merangkul erat di lengan Anjasmara mulai mengendur.
Anjasmara melirik, merasa kehilangan.
"Apa hak Anda mengomentari prilaku Queensa? Apakah Anda turut berperan dalam kehidupannya selama ini? Atau hanya sekedar pintar mengulas dan mengkritiknya saja?" Suara bernada tegas dan dingin itu keluar dari bibir Anjasmara.
Ruangan yang tadinya cukup ramai seketika hening karena ucapan Anjasmara.
Mereka semua tahu betul orang seperti apa Anjasmara, jika pria itu sudah membuka suara itu berarti mereka sudah keterlaluan.
"Bukan maksud Tante Murti begitu Anjas, beliau tadi hanya salah bicara sepertinya." pria yang seusia Ridwan berdiri berusaha menengahi.
Anjasmara mengedarkan pandangannya, pada setiap orang yang berada di ruang keluarga itu, bukan tatapan sungkan seperti dia melihat Agung dan Ridwan, tapi justru tatapan ketidak sukaan yang begitu kentara.
"Paman, Tante, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada kalian, saya ingatkan untuk kali ini, jika kalian tidak menyukai Queensa dari pandangan kalian, tolong jangan menunjukkan rasa tak suka kalian terlalu terang-tetangan, kalian ini satu keluarga, Queensa yang lebih muda tidak bisa dekat dengan kalian karena mungkin kalian tidak pernah merangkul, tapi pintar memberi komentar." kalimat panjang yang keluar dari mulut Anjasmara membungkam semua orang.
Anjasmara menggenggam tangan Queensa, dan mengajaknya pulang. Queen berjalan keluar rumah Ridwan seperti orang linglung, langkahnya terasa ringan seolah menginjak kapas.
"Masuk!" Queensa dituntun Anjasmara memasuki mobilnya, tangan lelaki itu juga cepat memasangkan sabuk pengaman, sebelum akhirnya berjalan mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.
Queen memalingkan wajah, memandang sosok pria di sampingnya.
"Terima kasih telah memeluk erat perempuan rumit seperti ku, terima kasih tetap tenang menghadapi berapa riuhnya aku. Terima kasih mau direpotkan dalam semua hal. Terima kasih pernah bertahan.. Terima kasih atas rasa sabarmu yang membuatku bersyukur pernah menjadi pemilik jiwa dan ragamu, jika boleh jujur aku ingin mengulanginya... mengulangi hidup bersamamu.. " ingin sekali Queensa berujar demikian. Tapi mungkin permintaan rendah hati ini terdengar sangat menyedihkan, tapi harapan kecil dihatinya tetap muncul tanpa bisa dicegah.
"Jangan hiraukan mereka " Anjasmara mendekat. Dia memegang wajah Queensa dengan kedua tangannya dan menatap perempuan itu dengan penuh perhatian. "Kamu cukup menjadi dirimu sendiri, jika mereka tak membuatmu nyaman, maka menjaga jarak lebih baik." Wajah pria itu penuh kasih, mata coklatnya menatap Queensa hangat dan lembut. Queensa sadar, bahwa pria di hadapannya masih pria yang sama, yang pernah menjadi suaminya.
"Mas.. cium aku!"
Gubrak!
#####
Tolonggggg suara apa itu??
Bismillah ya, bisa update setiap hari...
jejak cintanya jangan lupa ya...
penyemangat Author 🥰🥰
akhirnya penantian Anjasmara berbuah manis💓