Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mission 2
Happy reading...
Hampir seluruh pengawal bisa dilumpuhkan oleh Benny and the genk. Mereka sudah terlatih untuk melumpuhkan lawan tanpa ada suara.
Mereka menyergap masuk ke dalam dan mulai menggeledah setiap ruangan. Tak terkecuali kamar Ainun yang sudah ada Robby dan anak buahnya yang sudah memanjat sejak tadi.
Para pengawal yang tersisa, hanya diam. Mereka sama sekali tidak menunjukkan perlawanan, mengikuti perintah Rekha.
"Semua tiarap, dan jangan bergerak!" perintah Benny pada beberapa pengawal dan pelayan yang medadak terjaga karena penyergapan tiba tiba ini.
"Semua sisi kosong!" Ucap salah seorang anak buah Benny.
"Periksa bagian atas!" Perintahnya lagi.
Semua sudah menggeledah dan memeriksa kesegala tempat, tapi tak menemukan yang dicari.
Robby sedikit terheran, kenapa para pengawal sama sekali tidak melakukan perlawanan? Mereka pun sama sekali tidak mendapati Rekha maupun Ambara.
Mereka benar benar kecolongan. Mereka lebih cerdik.
Pagi yang mulai menyapa dan matahari yang mulai menyingsing kan sinarnya, memperjelas waktu sudah berganti.
Reza yang masih tetap setia dibelakang Robby mendengus kesal, karena tidak mendapati Ainun. Ia menuju kearah pintu belakang, tempat dimana ia masuk tadi.
Reza meneliti setiap jengkal tanah yang ia pijak seperti tidak semestinya. terdapat koyakan pada rumput yang diinjak paksa, Reza kembali menghadap Robby memberitahukan semua yang dilihatnya.
"Benny, amankan semuanya! Aku akan segera kembali." Perintah Robby segera di beri Anggukan oleh Benny.
Robby mengikuti Reza, perhatiannya kini berada di bawah balkon yang terdapat juntaian kain yang saling bersambung.
"Mereka melarikan diri." ucap Reza.
"Tidak, bukan mereka tapi gadis itu. Kain ini sudah terjuntai saat kita datang. Itu artinya ia sudah berhasil pergi dari sini." Tukas Robby.
Ia kemudian mengamati setiap jejak dan menelusurinya. Sampai di luar pagar pun mereka dibuat tercengang karena mendapati tanah yang terdapat banyaknya jejak disana mengarah ke perkebunan teh.
Robby dan Reza berlari mengikuti arah jalanan bekas jejak Ainun. Sampai di satu tempat yang sedikit miring Reza menemukan sepasang sandal yang berjauhan sepertinya terlepas paksa.
Robby berjongkok sedikit mendapati beberapa rumput yang miring seperti bekas terinjak atau tertimpa sesuatu.
"Sepertinya Dia terjatuh, lihat lah!" tunjuk Robby membuat Reza semakin merasakan kekhawatirannya.
"Grup B, segera kebelakang villa! kita telusuri jejak!"
"Siap!" sahut seseorang.
Beberapa orang sudah datang untuk membantu misi pencarian selanjutnya. Misi yang sama sekali tidak ada dalam rencana.
"Gadis itu cukup cerdik, untuk bisa melarikan diri. Dia bisa saja sendirian dibawah sana, dan bisa juga beberapa pengawal sudah mengejarnya. Kalian tetap waspada!"
Mereka semua turun ke bawah mengikuti jejak bekas terperosoknya Ainun dan Dika. Jarak yang tidak dekat untuk keduanya bisa selamat saat terjadi penggelindingan ditambah medan yang curam dipenuhi rumput liar dan semak yang meninggi.
Flashback off
Di pinggiran hutan, Ainun yang masih tercengang dengan pemandangan didepannya yang membuatnya seribu kali lebih ketakutan.
Dika yang tertohok melihat ekspresi Ainun dengan pias wajah ketakutannya, segera memakai kembali kemejanya.
"Nona, kau kenapa?" tanya Dika melihat air muka Ainun bak melihat hantu disiang bolong.
"Jangan mendekat! jangan berani mendekat!" Hunus nya pada tangannya menunjuk Dika.
Ainun berlari terpincang kearah dalam hutan, ia berlari menghindari Dika. Tapi Dika dengan cepat mengejar kembali Ainun dengan kemeja yang sudah terpasang namun belum sempat ia mengaitkan kancingnya.
Tangannya segera mencekal Ainun yang berlari ke dalam hutan, Ainun menolaknya dan memukul dada Dika. Dika mencekal kembali tangan yang terus menerus menghujaminya dengan pukulan, menyeretnya kemudian menekan tubuh Ainun pada sebuah pohon besar dengan tanpa melepas cekalan pada kedua tangannya.
"Jangan seperti ini nona, aku bisa mengeluarkanmu dari hutan ini. Kita akan keluar bersama."
"Huaa... hiks hiks" Ainun sudah tidak bisa menahan ketakutannya, ia lepaskan lewat tangisnya yang sudah tidak terbendung lagi.
"Sssttttttt." Dika menempelkan telunjuknya pada bibirnya dan memasang telinganya tajam.
"Ka-kau mau a---?" Pekik nya saat Dika segera membekap mulut Ainun dengan telapak tangannya, tubuhnya kini sudah pepet maksimal. Ainun bahkan bisa merasakan tubuh kekar Dika yang menempel erat pada tubuhnya.
Krosek krosek
"Ada yang mengikuti kita, mungkin mereka adalah pengawal Nyonya besar." Bisiknya pada Ainun, bibirnya yang hampir menempel pada telinga Ainun terasa menggelikan.
"Ikuti aku, jangan lepaskan tanganku. Aku akan menyelamatkanmu seperti yang kau mau," Bisiknya lagi.
Ainun masih belum memahami situasi yang terjadi, otaknya masih belum bisa mencerna dengan cepat apa yang diucapkan Pria didepannya. Jantungnya seperti sudah tidak berdetak lagi, darahnya mengalir sangat panas. Mambuat otaknya lamban merespon setiap perkataan Dika.
Dika menarik paksa tangan Ainun, kemudian pergi mengedap endap ke arah hutan. Ainun yang masih dipenuhi segala perasaan takut dan hampa secara bersamaan hanya bisa mengikuti kemana Dika berlari, ia pun mengeratkan genggaman pada tautan jemari Dika.
Entahlah, Ainun sudah pasrah dibawa kemanapun oleh Dika, kakinya yang polos dan menginjak banyaknya ranting hanya bisa ia rasakan lewat ringisannya yang menahan sakit dan perih.
Dika yang menyadari segera menghentikan langkahnya, ia melepas sepatunya kemudian diberikan pada Ainun untuk dipakainya.
Ainun hanya menurut dan memakai sepatu kebesaran milik Dika. Kini kaki Dika yang polos tanpa apapun sebagai alasnya. Karena ia sudah membuang kaus kaki luchnut nya yang membuat mual perutnya.
Mereka berlari mengikuti arah arus angin, tidak ada tujuan pasti. Hanya berlari menghindari kejaran orang yang seperti mengetahui keberadaan mereka.
"Aduh kakiku..." Ainun meringis kesakitan saat kakinya tersandung sebuah batu dan lututnya mengeluarkan darah.
Dika tidak lagi menghiraukan penolakan Ainun, ia segera membopong Ainun dan membawanya kembali berlari.
"Turunkan aku! Turunkan aku!" pukulnya pada bahu Dika untuk segera menurunkannya.
Dika menoleh kesana kemari, memeriksa situasi apakah sudah aman. Kemudian ia menurunkan Ainun.
"Disana ada sungai, sebaiknya kita kesana. Luka mu harus segera diobati dan Aku juga haus." Ucap Dika kembali menggendong Ainun.
Dibatu besar, Ainun didudukkan. Reza merobek ujung kemeja bagian bawanya. kemudian membasahinya untuk mengelap luka pada lutut Ainun.
"Ssshhhhh Aaawwww!! pelan pelan periiiih!" Desah Ainun mendapati lukanya dibasuh dan dibersihkan oleh Dika.
"Tahan sedikit, ini hanya luka lecet, nona!" Ujarnya sembari membersihkan luka dan kaki Ainun yang lain.
"Kenapa kau mau menolongku?" tanya Ainun kemudian.
Dika mengangkat wajahnya mensejajarkan pada wajah Ainun, menatap lamat mata bulat dan indah milik Ainun. Ia seperti tersihir oleh tatapan polos Ainun. Ada perasaan ingin melindungi bukan hanya sekedar pengawal terhadap nona mudanya.
"Karena aku adalah pengawalmu, aku wajib memastikan keselamatanmu, nona." Jawabnya sembari tersenyum.
Ainun terdiam mendapati jawaban Dika yang membuatnya tidak puas atas pertanyaanya.
"Sebenarnya kau ini bekerja atau mengabdi pada nyonya besarmu itu?" sindir Ainun.
"Dua duanya." Jawabnya singkat.
Dika mencuci mukanya, membersihkan tangan dan kaki nya yang kotor. Dan minum dari aliran sungai yang sama.
"Kenapa dua duanya?" Tanya Ainun penuh selidik.
Dika menoleh ke arah Ainun, yang memasang wajah penuh penasarannya.
"Cucilah dulu wajah usangmu itu, dan minumlah air ini, karena hanya ini yang bisa kita konsumsi saat seperti ini." elaknya pada pertanyaan Ainun.
Haruskah aku menceritakan pada nya tentang kehidupanku? tentang masalaluku? Apakah aku bisa mempercayainya?
To be continue....
Ada apa dengan masalalu Dika?
Ada yang tau??
Cekidot di up an selanjutnya yaa...
Terima kasih banyak untuk yang selalu setia membaca dan memberikan support like dan vote nya untuk novel ini... Semoga kebaikan selalu bersama kalian...
Author sayang kaliaaaan... luuuuvvvv
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu