NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

Jolina berjalan tepat di belakang Jeremy, langkahnya cepat dan gelisah.

“Lo yang rusakin jaketnya Kak Rama, ya, Jer?” tanyanya pelan tapi mendesak.

Jeremy terus berjalan tanpa menoleh.

“Jeremy?” Jolina makin kesal. “Jangan diem aja, jawab pertanyaan gue.”

Jeremy akhirnya berhenti sebentar, menoleh setengah malas. “Apa sih, Jo?”

“Ngaku, Jeremy,” desak Jolina. “Pasti Lo kan?”

Jeremy mendengus. “Lo aneh deh.”

“Jeremy—”

Ia kembali berjalan, seolah tidak ingin melanjutkan percakapan itu. Jolina masih mengikutinya, mulutnya hampir kembali terbuka. Namun langkah mereka terhenti di ujung tangga.

Mama sudah duduk di meja makan dan menatap ke arah mereka.

Jolina langsung terdiam.

Ia menelan semua pertanyaan yang sejak tadi berdesakan di kepalanya.

Jeremy menuruni tangga lebih dulu, wajahnya berubah begitu cepat—seolah ia mengganti topeng. Nada datarnya lenyap, digantikan sikap ramah yang jarang Jolina lihat akhir-akhir ini.

“Waaahhh... Ini mama yang masak semuanya?” tanya Jeremy sambil duduk.

“Iya dong... tanpa bantuan bibik” jawab mama.

“Oh ya?” Jeremy tersenyum tipis. “Jo, Lo mau ayam goreng apa sayur dulu?”

Jolina tertegun.

Ia berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk perlahan di kursinya.

“Eh… ayam aja,” jawabnya pendek.

Jeremy mengambilkan lauk itu, bahkan mendorong piring ke arahnya.

“Ini sambalnya pedes, tapi enak,” katanya santai.

Mama memperhatikan mereka dengan alis sedikit terangkat, lalu tersenyum kecil.

“Nah gitu dong,” katanya. “Kakak dan adik itu memang harus akur. Mama senang banget lihat kalian seperti ini”

Jolina menunduk, menatap nasinya tanpa selera.

Di satu sisi, sikap Jeremy malam ini terasa asing. Terlalu normal. Terlalu baik.

Di sisi lain, jaket Rama—yang kini rusak dan tersembunyi di kamarnya—terus menghantui pikirannya.

Jolina melirik Jeremy sekilas.

Jeremy sedang makan dengan tenang, seolah tidak ada apa-apa.

Dan justru itulah yang membuat Jolina semakin yakin—

Ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah makan malam selesai, Jeremy memilih menonton televisi di ruang keluarga bersama Mama. Keduanya terlihat berbincang dengan begitu akrab, seolah tak ada apa pun yang terjadi. Sementara itu, Papa sibuk menatap layar laptopnya di ruang kerja.

Keadaan itu membuat Jolina tak memiliki kesempatan untuk bertanya pada Jeremy. Dengan perasaan yang masih gelisah, ia akhirnya memilih pergi ke kamar. Namun sebelum melangkah, Mama sempat memanggilnya, mengajak berbincang. Jolina menolak halus, berdalih masih memiliki banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan.

Jolina pun menaiki anak tangga satu per satu, membawa rasa penasaran yang belum juga mengendap. Di tengah langkahnya, ia menoleh ke ruang keluarga. Jeremy tampak santai, menikmati camilan sambil sesekali tertawa bersama Mama. Pemandangan yang begitu kontras dengan kegelisahan di dada Jolina.

Sesaat, pandangan mereka bertemu. Namun Jeremy segera mengalihkan matanya, seolah menghindari tatapan Jolina.

Sikap itu justru membuat keyakinan Jolina semakin menguat.

Jeremy adalah dalangnya.

***

Waktu menunjukkan pukul 23.30. Dengan langkah gontai dan mata setengah terpejam, Jeremy berjalan menuju kamarnya. Tubuhnya lelah, pikirannya kosong, yang ia inginkan hanya satu—tidur.

Namun saat pintu kamar terbuka, langkahnya terhenti.

Jolina sudah ada di sana.

Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap jendela, siluet tubuhnya samar diterpa cahaya lampu luar. Jeremy menghembuskan napas panjang, jelas malas.

“Lo ngapain di sini?” tanyanya datar.

Jolina menoleh. “Udah siap nontonnya?”

“Apa urusannya sama Lo?”

Tanpa menjawab, Jolina mencampakkan jaket itu ke arah Jeremy. Jaket hitam itu jatuh di lantai, tepat di depan kakinya.

“Jelasin. Apa maksudnya ini?”

Jeremy melirik sekilas. “Jaket siapa nih? Jelek banget.”

“Ga usah pura-pura ga tau. Lo kan yang rusakin jaketnya? Ngaku aja.”

Jeremy mendengus pelan. “Emang lo punya bukti kalo gue yang ngerusak?”

“Ga ada. Tapi gue yakin seratus persen lo pelakunya.”

“Itu jatuhnya fitnah.”

Jolina melangkah mendekat. “Lo beneran ga mau ngakuin kesalahan lo?”

Jeremy menatapnya malas, lalu berkata dingin, “Keluar dari kamar gue.”

“Gue ga bakal keluar sebelum lo ngaku.”

“Ya udah.” Jeremy mengangkat bahu. “Lo berdiri aja di situ sampai besok pagi. Gue mau tidur.”

Ia melangkah menuju ranjang, dengan santainya melangkahi jaket yang tergeletak di lantai.

“Eh, Jeremy! Gue lagi ngomong sama lo!”

“Ya lo ngomong aja,” jawabnya sambil rebahan. “Gue dengerin kok.”

“Lo bener-bener ga punya etika!”

“Lebih ga beretika mana? Lo masuk ke kamar gue terus liatin gue tidur?”

“Makanya lo bangun!”

“Gue ngantuk.”

“Lo apa-apaan sih, Jer! Bangun, ga, lo? Gue masih mau ngomong!”

Jeremy tak menggubris. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya lalu membelakangi Jolina. Kesabaran Jolina habis. Dengan kesal, ia naik ke atas ranjang dan mengguncang tubuh Jeremy.

“Gue masih mau ngomong!”

“Gue mau tidur.”

“Bangun, Jeremy! Bangun!”

Ia terus menggoyangkan bahu pria itu.

“Jolina, lo apa-apaan sih!”

“Bangun! Bangun ga, lo?!”

“Gue ngantuk. Besok pagi aja kita bahas.”

“Gue ga mau! Selesain sekarang!”

Jolina terus menarik selimut dan berbicara tanpa henti. Jeremy mengepalkan tangan, jelas kehilangan kesabaran.

“Gue ga bakal berhenti sebelum lo—”

Kalimat itu terpotong.

Dalam satu gerakan cepat, Jeremy berbalik. Kedua tangannya memegang pipi Jolina, lalu—ia mencium bibir gadis itu.

“Bisa berhenti sekarang?” tanya Jeremy pelan.

Segalanya terasa berhenti.

Jolina terpaku. Napasnya tertahan. Dunia seakan membeku.

Jeremy bangun, lalu duduk. Wajah mereka kini berhadapan, jarak begitu dekat.

“Lo jahat…” suara Jolina bergetar.

“Maaf, Jo…”

“Lo jahat…”

Jolina menyentuh bibirnya sendiri, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Tanpa berkata apa pun lagi, ia turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar Jeremy.

Meninggalkan keheningan—dan sebuah perasaan yang tak lagi sama.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!