NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Pewaris Api

Pembalasan Sang Pewaris Api

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Spiritual
Popularitas:70.9k
Nilai: 5
Nama Author: SSERAPHIC

Mengisahkan Ling Yi, gadis desa rupawan yang kebahagiaannya direnggut oleh bencana tak terduga. Malam yang tenang tiba-tiba berubah menjadi luka mendalam saat suatu organisasi rahasia dengan sengaja membakar rumahnya hanya untuk bersenang-senang. Kebakaran itu menewaskan sang ibu dan merenggut sang ayah dengan paksa untuk dijadikan budak. Namun disanalah Ling Yi diuji lantaran menyadari keistimewaan dirinya yang kebal terhadap api. Kobaran api yang menyelimuti rumahnya malam itu seolah menjadi saksi bisu atas semua kesedihan, rasa sakit serta kebencian yang ikut mengepul dalam dirinya.

"Malam ini aku bersumpah! Kalian semua pasti akan musnah dengan apiku sendiri!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SSERAPHIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. Mengungkap Fakta

"Apa? Janji apa, ayah?"

Ling Chen meraih kedua tangan Ling Yi dan menggenggamnya erat.

"Ling Yi putriku, sekarang ini kamu adalah segalanya bagiku. Jadi kemanapun kamu pergi, dan apapun yang ingin kamu lakukan di luar sana, ayah mohon berjanjilah untuk tetap pulang dengan selamat, sayang. Itu saja, itu saja sudah lebih dari cukup. Kamu mengerti, kan?"

Ling Yi pun tersenyum cerah untuk menenangkan sang ayah, dan senang hati segera mengangguk untuk menyetujui syarat dari ayahnya itu.

"Tentu, ayah. Tenang saja. Aku berjanji, aku pasti akan selalu pulang menemuimu lagi dalam keadaan selamat. Percayalah,"

"Baiklah, ayah percaya padamu,"

Merasa puas usai mendengar sang ayah merestui langkahnya, Ling Yi pun memeluk sesosok cinta pertamanya itu untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.

"Terima kasih, ayah. Terima kasih..."

"Sama-sama, putriku,"

Setelah itu, Ling Yi menguraikan pelukannya dan menatap Ning Ning yang sedari tadi berdiri di samping sang ayah.

"Ning Ning, aku titip ayahku sebentar, ya?"

"Tentu saja, kak. Tidak perlu sungkan,"

Ling Chen lalu menatap dua pemuda di kanan dan kiri Ling Yi, dan bergantian menitipkan anak gadisnya itu pada mereka.

"Nak Xiao Feng, nak Yan Cheng, aku titip putriku juga, ya? Aku mohon jaga dia baik-baik. Aku percayakan Ling Yi pada kalian berdua,"

Xiao Feng dan Yan Cheng pun segera mengangguk untuk menuruti permintaannya itu, kemudian di lanjut oleh Xiao Feng yang angkat bicara terlebih dulu.

"Dengan senang hati, paman. Jangan khawatir, kami berdua pasti tidak akan mengecewakan paman,"

"Benar, paman. Paman tenang saja. Dia pasti aman bersama kami," sambung Yan Cheng.

Ling Chen pun mengangguk paham dan tersenyum.

"Hahaha... aku tau itu. Terima kasih banyak, ya?"

"Sama-sama, paman," sahut mereka bersamaan.

"Ya sudah, ayah. Kami pamit sekarang, ya?"

"Baiklah, berhati-hatilah,"

"Berhati-hatilah, kak, Pangeran, dan juga... kak Yan Cheng," sambung Ning Ning, dengan pandangan matanya yang berakhir pada Yan Cheng sambil tersenyum manis.

Yan Cheng pun membalas senyuman itu dengan senang hati, lalu mendapat lirikan jahil dari Ling Yi dan Xiao Feng yang saling menatap, lalu menatap ke arahnya.

Yan Cheng yang menyadari hal itu pun langsung memalingkan pandangan dan menyembunyikan wajahnya yang sedang tersenyum.

"Hihi... tenang saja, Ning Ning. Kami pasti akan menjaganya dengan baik, kok," celetuk Ling Yi dengan tatapan yang sama.

Ning Ning pun hanya bisa menunduk dan tersipu malu tanpa berani menjawabnya, begitu pula Yan Cheng yang merasakan hal yang sama.

Mereka semua pun tertawa riang bersama-sama sebelum akhirnya memutuskan untuk berangkat meninggalkan istana dengan menunggangi kuda masing-masing.

Di luar pintu gerbang istana, kemunculan Xiao Feng dan yang lainnya pun sontak mengundang perhatian dari para warga desa yang tinggal di tenda pengungsian.

Sebagian besar warga laki-laki terlihat ikut gotong-royong membantu prajurit istana membangun pemukiman untuk mereka, hingga akhirnya berkerumun saat menyadari kehadiran Xiao Feng.

Lihat! Itu pangeran!

Selamat pagi, pangeran,

Semoga anda di berkati, pangeran,

Ling Yi dan Yan Cheng pun ikut tersenyum ramah mendengar sambutan mereka.

Sebagai pemimpin di tempat itu, Xiao Feng lalu mengambil alih dan angkat bicara dengan tak kalah ramah.

"Selamat pagi, semuanya. Bagaimana? Apakah semua orang di sini sudah mendapat sarapan yang cukup?"

Tentu saja, pangeran. Semua persediaan yang anda siapkan di sini sudah lebih dari cukup bagi kami. Pangeran tidak perlu risau,

Itu benar, pangeran. Berkat anda kami tidak kekurangan apapun sama sekali di sini. Terima kasih banyak, pangeran.

Orang-orang yang terluka juga sudah membaik berkat tenaga medis yang anda kirimkan. Mereka benar-benar cekatan dalam menjalankan tugasnya, benar-benar memuaskan. Terima kasih atas segala perhatian anda, pangeran,

Terima kasih, pangeran,

"Syukurlah, syukurlah semuanya lancar. Senang bisa membantu kalian semua,"

"Prajurit, bagaimana kemajuan pembangunannya saat ini?"

Salah seorang prajurit pun langsung dengan sigap menjawab pertanyaannya.

"Semuanya berjalan lancar, pangeran. Tidak perlu risau. Berkat bantuan dari para warga di sini, proses pembangunan pun menjadi jauh lebih ringan. Dan hingga kini, tingkat pembangunan yang telah selesai di perkirakan sudah lebih dari 60%, pangeran,"

"Syukurlah. Terima kasih atas kerja keras kalian semua, prajurit, dan juga bapak-bapak sekalian,"

"Terima kasih kembali, pangeran," sahut para warga bersamaan.

"Ngomong-nyomong anda mau kemana, pangeran?" tanya seorang prajurit yang lain.

Xiao Feng lalu menoleh pada Ling Yi lantaran bingung harus menjawab apa.

Ling Yi yang melihat itu pun langsung peka dan mengambil alih untuk angkat bicara.

"Kami dan pangeran ingin berjalan-jalan sebentar keluar, itu saja kok. Sekalian juga mencari udara segar, hehe..."

"Oh... ternyata begitu," sahut prajurit tersebut.

Nikmati perjalanan kalian, tuan, nona,

Semoga di lancarkan segala urusan kalian, pangeran,

Hati-hati di jalan, pangeran,

"Terima kasih, semuanya. Ya sudah, kami berangkat dulu, ya? Sekarang teruskanlah kerja keras kalian. Semangat!" seru Xiao Feng.

"Semuanya semangat!" timpal Ling Yi kegirangan.

"Semangat!!!" sorak para warga bersamaan penuh semangat, lalu bertepuk tangan riang.

Setelah puas menyapa, Xiao Feng pun memimpin jalan dan memacu kudanya untuk memulai melanjutkan perjalanan mereka.

Perjalanan kali ini berlangsung lancar dan cukup menyenangkan.

Beberapa menit kemudian, mereka bertiga pun sampai di tempat Qian Xue dan di sambut hangat oleh sang tuan rumah.

"Selamat datang,"

"Selamat pagi, nyonya. Bagaimana kabar anda?" sahut Ling Yi ramah kemudian duduk di hadapannya bersama Xiao Feng dan Yan Cheng.

"Baik, aku baik. Bagaimana dengan kalian?"

"Kami juga baik, nyonya,"

"Syukurlah kalian baik-baik saja. Sejak kemarin aku sudah menunggu kedatangan kalian. Aku tau, kalian pasti akan berhasil melakukannya,"

"Ini semua juga berkat bantuanmu, nyonya. Berkatmu aku jadi bisa bertemu kembali dengan ayahku. Terima kasih banyak, nyonya,"

"Syukurlah, aku turut senang mendengarnya," sahut Qian Xue.

Senyuman ramah di wajah wanita itu pun sukses menjadi penghilang citra misterius nan seram yang sempat terpancar dari dirinya di saat pertemuan pertama mereka. Namun setelahnya, ia kembali memasang wajah dinginnya untuk menyampaikan keseriusan.

"Tapi ingatlah, anak-anak. Sekarang ini belum saatnya bagi kita untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena sampai sekarang, Malam Hitam masih tetap ada dan berkeliaran bebas di luar sana,"

Seketika, raut wajah mereka pun kini berubah geram.

"Benar, nyonya. Kami juga sudah menduganya. Meski markas mereka telah berhasil kami hancurkan, kami semua percaya kalau mereka pasti masih memiliki tempat persembunyian yang lain," sahut Xiao Feng serius.

"Orang yang selama ini memimpin pergerakan pasukan Malam Hitam, kalian sudah tau siapa dia, kan?" tanya Qian Xue.

"Benar, nyonya. Dia Zhang Hao. Kami berhasil menangkap basah dirinya kemarin di tempat itu. Tapi sayangnya dia justru berhasil kabur bersama pasukannya," jawab Yan Cheng.

"Kakak..." batin Yan Cheng lirih.

"Aku tau. Karena sebenarnya, aku juga ikut menyaksikan semua peristiwa kemarin dengan bola kaca milikku,"

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...BERSAMBUNG......

1
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
📢📢📢📢📢 UP UP UP UP UP
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
cieh, si paling ga mau kalah/Awkward/
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
senang di marahin? hmmmmmmmmmmmm 🌚🌚🌚
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
yang bener itu kasih selimut ga sih?
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
NAH ITU DIA! apalagi yg perlu kau pertanyakan? ☺
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
gentle sekali 🥰
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
iya sahabat, tapi satunya menyimpan rasa 😇
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
kawaiii ʚ(*´꒳`*)ɞ
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
🗿🗿 kok Xiao feng?
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
🤯🤯🤯 siapa sangka
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
mayah-mayah mulu cepet tua baginda/Curse/
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
kayak bocil kembar😭🤏
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
iya pak, sekarang tinggal... monggo mau pilih menantu yang mana? ☺🙏
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
Xiao...?
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
kok gemes ya/Facepalm/
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
tatap tatapan, berikutnya kiss boleh/Drool//Drool/ (nak bl)
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
😌 sahabat masa kecil rupanya
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
Iyeppp
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
situ mikir lah, ngapa ni anak gadis menghindar
➷🄸🅂🅃🅁🄸🄽🅈🄰 🄰🅁🄸🄾🄽💜
kyaaa, srupppppp /Drool//Drool//Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!