"Menarik...!" seringai misterius seorang Ardiaz menghiasi wajah tampannya.
"Jangan panggil gue Ardiaz, kalau untuk mendapatkannya saja gue nggak bisa!!" imbuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Alea tidak habis pikir, bagaimana bisa Tito mencurigai Zura. Alea juga heran dengan dirinya sendiri. Dia lebih lama mengenal Zura daripada Tito, tapi kenapa seolah dia lebih percaya dengan Tito. Dan mulai meragukan Zura.
"Nona, kok makanannya didiamkan saja...?" ujar Laras yang sejak tadi memperhatikan Alea.
"Ah..." Alea tersentak, lalu dia melanjutkan makan malamnya.
"Chiko sudah makan malam?" tanya Alea kemudian.
"Paling juga sudah. Chiko sedang menginap di rumah nak Diaz. Kalau di sana tidak akan kekurangan makanan. Bu Tere sangat senang menjamu anak-anak itu." Laras tampak tersenyum, mengingat semua kebaikan keluarga Ardiaz.
Alea hanya diam dan mendengarkan.
"Tapi, nona. Apa tidak apa-apa ya, Chiko menginap terlalu lama di sana...? Katanya mulai banyak les untuk persiapan ujian. Sementara jarak dari sekolah ke sini jauh. Terus bagaimana dengan pekerjaannya sebagai bodyguard nona?" ujar Laras lagi.
"Tidak ada masalah, Bu. Biarkan Chiko fokus dengan sekolahnya dulu. Lagian tidak ada urusan yang urgent banget kok." balas Alea.
"Ah..., syukurlah..." sahut Laras kemudian mengusap dadanya.
"Baguslah. Dengan begini, Ardiaz jadi nggak sering datang kemari. Setidaknya saat ini Ardiaz terhindar dari Marcel."
"Tapi, nona sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" kata Laras lagi.
"Aku hanya lelah Bu, banyak sekali pertemuan hari ini." begitulah balasan Alea.
"Nanti saya pijitin, biar lebih rileks." sahut Laras.
"Terimakasih, bu. Tapi aku nggak terbiasa dipijit." balas Alea.
"Tidak apa-apa, dicoba dulu. Biar non Alea tahu dulu rasanya." ujar Laras sambil tersenyum.
Alea pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Dia bisa melihat adanya ketulusan dalam diri Laras. Segala sikap baik Laras pada dirinya, tak terlihat sedikitpun adanya upaya untuk cari muka. Karena itu Alea sangat menyukai Laras.
___
Di rumah Roger...
"Papa lihat orangmu berada di sekitar kantor Alea. Apa yang kamu rencanakan, Marcel?" tanya Roger.
"Aku hanya menyuruh mereka menjaga Alea. Apa itu salah?" balas Marcel.
"Menjaga untuk apa? Papa sudah kerahkan orang untuk menjaga Alea dua puluh empat jam." sahut Roger.
"Dan papa tidak melibatkan aku?! Calon suaminya?!" balas Marcel tak terima. "Oh, aku lupa. Jangankan dilibatkan. Bahkan papa saja merahasiakan alamat Alea dariku kan..." Marcel tersenyum miring.
"Semua itu atas permintaan Alea. Dia tidak ingin privasinya diganggu." balas Roger.
"Tidak masalah." sahut Marcel. "Bukan Marcel namanya, kalau tidak bisa menemukan keberadaan Alea." katanya dengan tinggi hati.
Bersamaan dengan itu, handphone Marcel berbunyi.
"Saya sangat yakin, nona Alea tinggal di apartemen itu. Karena setelah dari apartemen itu, Tito mampir ke kafe dan keluar seorang diri. Dia juga berbelanja ke swalayan. Saya mengikutinya sampai dia tiba di rumahnya. Dan benar-benar tidak ada keberadaan nona Alea."
Marcel menatap Roger yang masih duduk di sofa, lalu dia tersenyum miring pada Roger.
"Papa lihat kan? Padahal aku baru saja bicara, tapi orangku sudah melaporkan hasil kerjanya." ujar Marcel semakin sombong.
"Ingat, Marcel...!" kata Roger. "Jangan sampai salah ambil sikap karena cintamu yang berlebihan. Alea sudah cukup terpukul karena perbuatan mu pada Iqbal. Apa kamu lupa itu?!"
"Tidakkah kamu berpikir, Alea sangat terpukul karena dia mencintai Iqbal?!"
"Alea...?! Cinta Iqbal?!! Konyol...!!" balas Marcel.
"Alea itu sejak kecil hanya mengenal dan tergantung pada seorang Marcel. Tidak semudah itu dia jatuh cinta pada yang lain." imbuhnya membantah sang papa.
"Seorang introvert seperti Alea, memang tidak akan mudah bergaul dengan orang asing. Tapi bukan berarti dia hanya bisa tergantung sama kamu. Dan tidak menutup kemungkinan juga, dia jatuh cinta pada pria lain. Yang membuat dia merasa nyaman." tutur Roger menegaskan.
"Omong kosong. Sampai kapanpun dia hanya akan mencari ku dan membutuhkan aku. Omnya saja yang kurang ajar, karena gila uang dia sampai mau jual ponakannya sendiri. Ini jadinya, Alea semakin jadi penyendiri. Dan papa..." Marcel menunjuk papanya.
"Bisa-bisanya, papa justru mendukung keputusan Alea untuk menghindari ku." katanya.
"Sekarang lihat. Apapun upaya papa, gak akan ada gunanya. Aku akan buat Alea kembali padaku, apapun caranya!!" ujar Marcel, lalu pergi meninggalkan Roger.
"Keras kepala..." gerutu Roger.
......................