BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN
Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.
Jika takdir meminta mereka bersama
Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu
Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan
Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skakmat
Seperti yang dikatakan oleh Alvaro, perempuan itu menunggu kedatangan seragamnya di toilet perempuan. Ia menatap pantulan dirinya dari cermin yang terpasang di situ. Bianca dengan rambut putih akibat tepung itu dan hoodie hitam milik Alvaro yang benar-benar menenggelamkan seragamnya.
Suara langkah kaki membuat Bianca mengalihkan pandangannya, seorang laki-laki dengan tatapan dinginnya berdiri di ambang pintu dengan memegang plastik seragam.
Bianca menghampiri laki-laki itu dan merebut seragamnya. Sebenarnya ia tak perlu berganti pakaian sebab ini bukan masalah besar, hanya saja ia sudah terlalu geram akan keadaan yang ia hadapi.
"Udah sana pergi" Usirnya pada laki-laki tersebut yang masih melempar tatapannya yang setajam elang tersebut. Ia berbalik badan hendak meninggalkan Alvaro lalu masuk ke bilik kamar mandi dan mengganti seragamnya tersebut.
Namun sebelum itu terjadi, Alvaro terlebih dulu mencekal tangannya hingga membuat Bianca meliriknya dengan tatapan sinis dan risih, "Pulang sama gue" Ucapnya dengan datar. Membuat Bianca mengangkat sebelah alisnya.
"Gue ada motor sendiri" Ucapnya sembari melepaskan cekalan tangan tersebut daripadanya, menatap pada Alvaro yang betah sekali berdiri di depan toilet perempuan.
"Tanpa penolakan" Mengucapkan hal yang sungguh memuaskan di telinga Bianca.
"Gue nggak peduli" Mengacuhkan perkataan Alvaro, lalu berbalik badan meninggalkannya.
"Gue tunggu lo di mobil"
"Terserah" Ucapnya sebelum masuk ke bilik kamar mandi paling ujung. Meninggalkan Alvaro yang berdecih kesal dan melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut sebelum ada rumor miring yang beredar.
. . .
Tatapan seisi kelas mengintimidasi Bianca yang berjalan malas dengan menenteng pakaian. Ia menggerutu dalam hati melihat tatapan tersebut yang sangat membuatnya risih. Perempuan itu duduk dengan gusar di bangkunya.
"B-Bi" Tatapan heran itu juga muncul dari wajah Hyacintha dan Brylea. Mereka berjalan mendekati perempuan tersebut.
"Apa?" Menatap malas pada dua manusia tersebut.
"Lo sehat kan?" Hyacintha memegang dahi Bianca dan juga dahinya. Memastikan jika perempuan itu sehat.
"Kenapa sih?" Menepis tangan yang membuatnya merasa terganggu tersebut.
"Seragam lo?"
Ya benar. Seragam itu membuat satu kelas menatap heran padanya, biasanya perempuan itu mengenakan pakaian pendek dan jauh dari kata sopan dan 8tu berlaku hingga pagi tadi. Dan sekarang, setelah jam istirahat berakhir seragam perempuan itu berubah menjadi lebih sopan dan setidaknya tak terlalu ketat untuk digunakan oleh tubuhnya yang elok.
"Tahu deh, gue juga malas pake beginian" Mengutuk Alvaro yang memberikannya seragam yang selama ini laki-laki itu anjurkan. Ahh, sialan.
"Tapi cocok sih Bi" Ucapan dari Brylea itu mengundang gelak tawa sekelas. Ia tak salah, hanya saja mereka tahu jika Bianca bukan tipe perempuan yang mengenakan sesuatu yang tak nyaman di tubuhnya.
"Terserah" Perempuan itu mengendong tasnya di pundak, "Gue mau bolos, titip absen" Ucapannya ia arahkan kepada semua siswa yang ada di kelas. Yang menjadi temannya, rata-rata semua siswa itu tak takut padanya hanya segan saat Bianca dalam mode serius. Selebihnya, mereka bersikap biasa saja tanpa mengenal takut jika berteman dengan seorang Bianca.
"Eh Bi, ikut" Dua perempuan itu segera mengambil tasnya dan menyusul Bianca. Sedangkan teman sekelas yang lain hanya menatap malas pada tiga perempuan yang tak pernah luput untuk dipanggil ke ruang BK terutama Bianca.
"Gue sendiri aja, kalau mau bolos jangan satu tempat sama gue" Ucap Bianca yang menginginkan waktu untuk sendiri.
Brylea menatap pada Hyacintha, "Kafe yuk" Ajaknya dengan senyum lebar.
"Ya udah ayo" Hyacintha menyetujui usulan perempuan itu. Tatapannya beralih kepada Bianca yang memasang tatapan dingin, "Lo mau kemana Bi?"
"Gue mau ke taman, udah lama nggak ke sana" Ucap Bianca masih dengan wajah datarnya.
"Oke"
. . .
Setelah berhasil menyogok satpam sekolah dengan berbagai upaya. Akhirnya Bianca berhasil mengeluarkan motornya dari parkiran sekolah dan meninggalkan tempat itu. Ia menuju tempat yang ingin ia temui, tempat yang cukup membuatnya nyaman. Mungkin ini kekanakan saat emosinya sedang tak baik ia malah pergi ke taman dan menghindar daripada Alvaro.
Perempuan itu memilih untuk mengenakan hoodie Alvaro, menyusuri area taman dengan sebotol minuman di tangannya. Ia memilih berhenti di sebuah pohon yang cukup rindang, menyandarkan tubuhnya di situ seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Membuka Instagram, dan memperhatikan segala macam postingan yang dipertontonkan kepada publik. Jarinya yang sedari tadi menscrool kini berhenti di salah satu postingan teman sekelasnya yang mempertunjukkan foto Alvaro yang tengah bermain basket dengan keringat yang membasahi badannya.
"Apakah tidak ada tombol dislike di sini?" Gerutunya, yang sudah lebih dulu muak dengan wajah Alvaro. Ia menggeser postingan tersebut ke foto selanjutnya. Tampak Alvaro tengah menyeka keringatnya menggunakan pakaiannya hingga mempertontonkan perutnya yang sixpack.
Tiba-tiba rasa malas bermain ponsel muncul. Ia memasukkan ponsel itu ke dalam kantung hoodie yang ia gunakan. Ia meneguk minumannya hingga tersisa separuh. Perempuan itu menghela nafasnya berat. Lalu pandangannya turun pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin itu tak pernah ia lepas hingga saat ini.
Jika dipikir-pikir, Alvaro saja tak mengenakannya lalu untuk apa ia masih menyematkan cincin itu? Tapi ia tak ingin disamakan oleh laki-laki tak tahu diri itu, Bianca tetap seorang Bianca. Yang melakukan apapun tanpa memikirkan omongan orang, ia melakukan apa yang membuatnya nyaman.
Waktu terus berjalan, Bianca masih betah di taman tersebut dengan menikmati hawa yang berbeda dari rumah yang membuatnya suntuk. Dan kini siang berganti senja, Bianca menatap jam dari ponselnya yang hampir kehabisan daya akibat ia gunakan untuk mengabadikan momen saat ini.
Bianca memilih untuk pulang karena ia cukup puas menikmati harinya.
. . .
"Darimana lo?" Suara itu mengundang tatapan malas daripada Bianca yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ia menatap sengit kepada Alvaro yang mengenakan baju berlengan panjang dan tengah menatap tajam ke arahnya.
"Taman" Ucapnya acuh lalu melangkah menuju ruang tengah dan mendudukkan tubuhnya di situ. Sama sekali tak peduli dengan tatapan laki-laki tersebut.
Alvaro masih mengintimidasi perempuan itu. Jujur ia lelah berurusan dengan Bianca, hanya saja perempuan itu selalu menantang dirinya hari demi hari. Ingin dibiarkan begitu saja, yang ada ia kena komplain oleh para dewan guru akibat tingkah laku Bianca.
"Bolos?" Sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi, Bianca pasti melakukannya.
"Hm" Bianca membalikkan badannya dan menatap datar kepada Alvaro. Ia iba jika laki-laki itu diacuhkan. Menyedihkan sekali.
"Kalau nggak niat sekolah itu berhenti. Jangan buang-buang uang untuk bayar sekolah lo" Ucapan itu dikatakan karena Alvaro benar-benar lelah menghadapi situasi yang ditimbulkan oleh Bianca.
"Urusan gue"
Tssh.
Setetes darah segar menodai lantai dan itu tak luput dari perhatian Bianca yang membersihkan lantai rumah tersebut.
"Kenapa tangan lo?" Ucapnya. Ia juga batu sadar jika Alvaro yang biasanya bertelanjang dada kini mengakan kaos berlengan panjang.
"Bukan urusan lo" Ketua Alvaro sambil memalingkan wajahnya.
Bianca bangkit berdiri dan menghampiri laki-laki tersebut, "Liat sini" Menggapai tangan kanan Alvaro yang tadi meneteskan darah segar.
"Lepas" Mencoba melepaskan cekalan Bianca daripada tangannya.
"Alvaro diam!" Bentakan itu lantas membuat Alvaro diam dengan tatapannya yang begitu tajam, Bianca menyingsing lengan kaos tersebut dan menemukan bekas seperti sayatan pisau yang tak terlalu dalam di permukaan kulit Alvaro, "Lo habis ngapain?" Menatap Alvaro penuh selidik.
"Sama sekali bukan urusan lo" Melepaskan tangannya dari pegangan Bianca.
Bianca tak habis pikir lagi dengan Alvaro yang malah membiarkan luka tersebut tanpa ada niat untuk mengobatinya, "Ikut gue" Ia menarik Alvaro menuju dapur, mendudukkan laki-laki itu di kursi lalu mengambil kotak P3K. Sembari mengobati luka itu, ia berbalas pesan dengan salah seorang sahabat Alvaro.
Me : Alvaro kenapa sampe bisa luka?
Gavin : Tahu darimana lo?
Me : Apa susahnya ngejawab pertanyaan gue?
Gavin : Lo ada hubungan sama Alvaro?
Me : Jangan mengalihkan pembicaraan
Gavin : Bastian nyerang
Me : Medyels?
Gavin : Yoi
Me : Masalah apa?
Gavin : Khawatir lo sama Alvaro?
Me : Nggak
Gavin : Lo pacaran sama Alvaro? Ciee
Me : Gak waras lo
Menyudahi percakapan tersebut tanpa ada rasa penasaran akan balasan selanjutnya, ia menutup luka itu dengan perban.
"Ada masalah apa lo sama Bastian?" Tanyanya sambil menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan olehnya.
Alvaro merasa jika Bianca tahu darimana asal luka ini, "Hanya perebutan kekuasaan" Ucapnya acuh.
"Oh" Menganggukkan kepalanya. Paham dengan situasi kali ini.
"Udah selesai" Ucapnya sambil bangkit berdiri dari posisi berjongkoknya. Ia membereskan obat yang ia gunakan tadi.
"Gue nunggu lo tadi" Ucap Alvaro sambil menatap perban yang menempel di lengannya.
Bianca menatap datar pada Alvaro yang masih duduk di kursinya, "Cih, naksir lo sama gue?" Ucapnya dengan datar dan nada suara judes. Ia menangkap adanya raut tak terima dari wajah Alvaro, ia mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu, "Jadi ceritanya lo naksir sama cewek sampah kayak gue? Menggelikan Alvaro" Senyum miring terpampang jelas di wajah Alvaro.
"Jangan menunjukkan kepedulian lo yang palsu itu di hadapan gue. Gue risih sama semua itu" Ucap Bianca lagi dengan melemparkan tatapan tajamnya pada Alvaro.
"Jaga omongan lo sama gue" Ucap Alvaro yang pada dasarnya tak suka direndahkan tapi sering merendahkan.
"Jaga sikap lo kalau mau gue hargai" Ucap Bianca dengan dingin, ia menatap sinis pada laki-laki yag sepertinya lupa berkaca. "...gak ada orang yang rela harga dirinya diinjak-injak sedangkan pelakunya meminta untuk dihormati, cuma manusia bodoh yang terima dengan perlakuan tersebut. Dan pastinya itu bukan gue"
"....kalau lo di posisi gue, lo bakal marah gak? Jelas iya kan? Soalnya lo lebih sulit mengontrol emosi"
Skakmat.
Ucapan itu berhasil membungkam mulut Alvaro. Bianca melangkah menjauh dari laki-laki tersebut untuk meletakkan kembali kotak obatnya.
_________
Instagram : fionakesl259