NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Jebakan

Pak Damar, guru Sejarah, melangkah masuk ke kelas XI-B sambil membawa beberapa lembar kertas.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak," jawab seluruh siswa hampir bersamaan.

Pak Damar meletakkan buku yang dibawanya di atas meja guru, lalu menatap seluruh isi kelas.

"Hari ini kita nggak belajar seperti biasa."

Seketika beberapa siswa langsung bersorak pelan.

"Asyik..."

"Kirain ulangan."

Pak Damar tersenyum tipis.

"Seneng dulu aja. Kalian tetap ada tugas."

Suara keluhan langsung terdengar dari berbagai sudut kelas.

"Yahh..."

Pak Damar mengangkat selembar kertas.

"Setiap kelompok harus mencari referensi mengenai kerajaan-kerajaan Nusantara. Referensinya wajib dari buku perpustakaan, bukan dari internet."

Beberapa siswa langsung saling pandang.

"Pak... kalau bukunya dipinjam orang gimana?"

"Cari buku lain."

"Kalau nggak ada?"

"Itu tantangan kalian."

Satu kelas kembali mengeluh.

Pak Damar tertawa kecil melihat reaksi murid-muridnya.

"Udah, sana. Kalian punya waktu tiga puluh menit. Setelah itu balik ke kelas dan mulai menyusun rangkumannya."

Begitu mendapat izin, seluruh siswa langsung berdiri.

Suasana kelas mendadak ramai.

Hana langsung menghampiri meja Sephia sambil membawa buku catatannya.

"Pia, kita satu kelompok, kan?"

"Iya."

"Syukurlah. Gue males kalau sama Reno, bukannya nyari buku malah nyari kantin."

Dari bangku belakang, Reno yang mendengar langsung menyahut.

"Woi! Fitnah!"

Satu kelas tertawa.

Sephia ikut terkekeh pelan.

"Udah, ayo. Keburu bukunya diambil kelas lain."

Mereka pun berjalan keluar kelas bersama rombongan XI-B menuju perpustakaan yang berada di lantai satu, tepat di samping ruang laboratorium.

Begitu pintu perpustakaan dibuka, aroma khas buku-buku lama langsung menyambut.

Rak-rak tinggi berjajar rapi memenuhi ruangan.

Beberapa siswa dari kelas lain ternyata sudah lebih dulu berada di sana, sibuk mencari buku di berbagai sudut.

"Ya ampun..." keluh Hana lirih.

"Segini banyak bukunya..."

Sephia tersenyum kecil.

"Makanya cari, bukan ngeluh."

Hana mendengus.

"Enak aja ngomong."

Di sisi lain ruangan...

Alan berjalan sendirian menuju rak bagian sejarah tanpa banyak bicara.

Ia mengambil satu buku, membuka daftar isi, lalu mulai membaca seolah suara ribut di sekelilingnya tidak ada pengaruh sama sekali.

Sementara itu...

Dari balik salah satu rak.

Sepasang mata diam-diam memperhatikan Sephia.

Pemilik tatapan itu perlahan meraih ponselnya.

Jempolnya bergerak cepat mengetik satu kalimat singkat.

"Dia udah masuk."

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik kemudian...

Sebuah balasan masuk.

"Lakuin sesuai rencana."

Pemilik ponsel itu tersenyum tipis.

Lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Suasana perpustakaan mulai sedikit lebih lengang.

Beberapa kelompok sudah kembali ke meja masing-masing dengan buku yang mereka butuhkan. Sementara yang lain masih sibuk menyusuri rak demi rak.

Hana menutup buku yang sedang dibacanya.

"Majapahit dapet. Sriwijaya juga."

Sephia mengangguk sambil mencoret daftar di buku catatannya.

"Berarti tinggal Singasari."

Hana mendesah.

"Perasaan tadi ada yang bilang bukunya susah dicari."

Di rak sebelah, Rani yang sedang mengembalikan sebuah buku tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.

"Singasari?" tanyanya.

"Iya," jawab Sephia.

Rani berpikir sejenak.

"Eh... kalau nggak salah tadi gue lihat bukunya di belakang."

"Belakang mana?"

"Rak deket ruang arsip."

"Oh ya?"

"Iya, yang sampulnya hijau tua."

Sephia menoleh ke arah lorong paling ujung perpustakaan.

"Yaudah, gue cek bentar."

Hana mengangguk.

"Kalau ketemu langsung bawa aja ke sini."

"Oke."

Sephia pun melangkah meninggalkan meja.

Semakin jauh menuju bagian belakang perpustakaan, suasana semakin sepi.

Rak-rak besi berdiri rapat, dipenuhi buku-buku lama yang jarang disentuh. Cahaya matahari yang masuk dari jendela depan pun nyaris tidak sampai ke sana.

Di ujung lorong, sebuah pintu kayu bertuliskan KOLEKSI ARSIP tampak sedikit terbuka.

Sephia mendorongnya perlahan.

Ruangan itu tidak terlalu besar.

Hanya berisi beberapa rak besi tua yang dipenuhi buku-buku dengan sampul yang mulai pudar dimakan usia.

"Hijau tua..."

gumamnya pelan.

Matanya menyusuri setiap rak.

Beberapa detik kemudian, ia tersenyum kecil.

"Nah."

Tangannya meraih sebuah buku tebal bersampul hijau tua.

Judulnya persis seperti yang sedang mereka cari.

"Ketemu juga."

Tanpa berpikir panjang, Sephia membalikkan badan untuk kembali.

Saat itulah...

Pintu di belakangnya perlahan menutup sendiri.

Klik.

Suaranya pelan.

Hampir tidak terdengar.

Sephia sama sekali tidak memperhatikannya.

Ia masih sibuk meniup debu tipis yang menempel di sampul buku.

Baru setelah melangkah ke arah pintu...

Tangannya meraih gagang.

Diputar.

Tidak bergerak.

"Hm?"

Ia mencoba sekali lagi.

Tetap sama.

Alisnya sedikit berkerut.

"Macet?"

Sephia menarik gagang pintu sedikit lebih kuat.

Tetap tidak terbuka.

Ia mengetuk pintu dua kali.

"Halo?"

Tidak ada jawaban.

"Permisi... ada orang di luar?"

Masih sunyi.

Sephia mengembuskan napas pelan.

"Jangan bilang dikunci..."

Ia kembali mencoba memutar gagang pintu.

Tetap tidak bisa.

Perasaan tidak nyaman mulai merayap pelan di dadanya.

Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sempit.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh...

Lampu di atas kepalanya berkedip pelan.

Sekali.

Dua kali.

Lalu...

Ctak.

Gelap.

Ruangan arsip seketika tenggelam dalam kegelapan.

Sephia membeku.

Napasnya tertahan.

"...Halo?"

Kali ini suaranya terdengar jauh lebih pelan.

Bukan karena marah.

Melainkan...

Karena rasa takut yang perlahan mulai mengambil alih.

Pak Damar melirik jam tangan di pergelangan kirinya.

"Baik, waktunya sudah habis. Yang sudah mendapatkan referensi, silakan kembali ke kelas. Buku yang dipinjam jangan lupa dicatat di meja petugas."

"Iya, Pak," jawab para siswa serempak.

Suasana perpustakaan yang semula tenang kembali dipenuhi suara langkah kaki dan gesekan kursi. Satu per satu siswa XI-B mulai mengantre untuk mencatat buku yang akan mereka pinjam.

Hana menutup buku catatannya, lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Ren, pegangin dulu."

Reno mengambil dua buku tebal dari tangan Hana.

"Waduh... berat juga."

"Makanya olahraga."

"Emang gue kurang olahraga?"

Hana terkekeh kecil.

"Kelihatan."

Reno hanya mendengus pelan.

Setelah selesai mencatat buku pinjaman, mereka berdua berjalan mengikuti teman-teman yang mulai keluar dari perpustakaan.

Namun baru beberapa langkah, Hana mendadak berhenti.

Matanya menyapu ruangan.

"...Eh?"

Reno ikut berhenti.

"Kenapa?"

Hana kembali melihat ke arah meja tempat mereka tadi duduk.

Kosong.

Ia lalu menoleh ke lorong rak paling belakang.

"...Pia mana?"

Reno ikut mencari dengan pandangan.

"Lah... iya ya."

"Tadi dia ke belakang, kan?"

"Iya."

Hana mulai mengernyit.

"Harusnya udah balik dari tadi."

Perasaan tidak enak perlahan muncul.

Tanpa sadar, ia menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.

Di saat bersamaan, Pak Damar yang melihat Hana belum ikut keluar menghampiri mereka.

"Hana, kenapa? Ayo kembali ke kelas."

Hana langsung menoleh.

"Pak... Sephia belum keluar."

Pak Damar ikut mengernyit.

"Belum keluar?"

"Iya, Pak."

"Tadi dia bilang mau ambil satu buku di rak belakang."

Pak Damar menoleh ke arah lorong yang dimaksud.

"Lama juga."

Beliau masih terdengar tenang.

"Mungkin bukunya belum ketemu."

Hana menggeleng pelan.

"Tapi, Pak... harusnya kalau cuma ambil buku nggak selama ini."

Ucapan Hana membuat beberapa siswa yang masih berada di dekat pintu ikut menoleh.

Alan, yang sejak tadi berjalan paling belakang, tanpa sengaja mendengar percakapan itu.

Ia menghentikan langkahnya.

"Di belakang?"

Hana mengangguk.

"Iya."

"Dia belum balik."

Alan mengalihkan pandangannya ke lorong rak paling ujung yang tampak sepi.

Entah mengapa...

Ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Tanpa banyak bicara, ia meletakkan buku yang sedari tadi dibawanya ke meja petugas.

Lalu menoleh kepada Pak Damar.

"Pak."

"Saya coba lihat ke belakang."

Pak Damar mengangguk pelan.

"Baik."

"Hana, kamu ikut."

"Iya, Pak."

Hana dan Alan pun berjalan berdampingan menuju lorong paling belakang perpustakaan.

Semakin mereka mendekat...

Suasana di bagian belakang terasa jauh lebih sunyi dibanding bagian depan.

Dan tanpa mereka sadari...

Di balik pintu ruang arsip yang terkunci...

Sephia masih berusaha mencari jalan keluar dalam gelap.

Gelap.

Sephia sudah tidak tahu berapa lama ia berada di dalam ruang arsip itu.

Tangannya masih menggenggam buku bersampul hijau tua yang tadi ia cari. Entah kenapa, di tengah kepanikannya, ia bahkan belum sempat meletakkan buku itu.

Ia kembali mencoba memutar gagang pintu.

Tetap tidak bergerak.

"Please..."

Suara Sephia mulai terdengar lirih.

Ia mengetuk pintu pelan.

Tok.

Tok.

"Kalau ada yang denger..."

"Tolong bukain..."

Tidak ada jawaban.

Napas Sephia mulai memburu.

Ruangan yang sempit itu terasa semakin sesak.

Ia memejamkan mata rapat, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Tenang... pasti bentar lagi ada yang nyari."

Namun...

Semakin lama...

Keyakinannya mulai memudar.

Tangannya kembali mengetuk pintu.

Kali ini sedikit lebih keras.

Tok.

Tok.

Tok.

"Hana..."

Suaranya bergetar.

"Hana..."

"Tolong..."

Di luar ruang arsip...

Hana berjalan cepat menyusuri lorong paling belakang perpustakaan.

"Pia!"

Suara panggilannya menggema pelan di antara rak-rak buku.

Tidak ada sahutan.

Alan tetap berjalan di belakangnya.

Tatapannya menyapu setiap sudut lorong dengan tenang.

"Pia!"

Hana kembali memanggil.

"Jangan ngisengin gue, ya!"

Tetap sunyi.

Hana mulai menggigit bibir bawahnya.

"Harusnya dia ada di sini..."

gumamnya pelan.

Langkah Alan tiba-tiba terhenti.

Tatapannya mengarah ke sebuah pintu kayu bertuliskan KOLEKSI ARSIP.

Pintu itu tertutup rapat.

Alan melangkah mendekat.

Tangannya meraih gagang pintu.

Diputar.

Tidak bergerak.

"Dikunci."

Hana ikut menghampiri.

"Emang ruang arsip dikunci?"

Alan tidak menjawab.

Ia hanya mengetuk pintu itu pelan.

Tok.

Tok.

"Permisi."

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada jawaban.

Alan hendak menarik tangannya.

Namun...

Tok...

Suara pelan terdengar dari balik pintu.

Alan langsung mengangkat kepalanya.

Hana ikut membeku.

Keduanya saling pandang.

Lalu...

Tok... Tok...

Kali ini lebih jelas.

Hana spontan mendekat ke pintu.

"...Pia?"

Hening sesaat.

Lalu terdengar suara lirih yang nyaris tenggelam.

"...Han..."

Mata Hana langsung membesar.

"PIA!"

Ia memukul pintu dengan kedua telapak tangannya.

"Pia! Lo di dalem?!"

Dari balik pintu...

Terdengar ketukan pelan sebagai jawaban.

Alan mengepalkan tangannya.

Tatapannya berubah tajam ke arah gagang pintu yang terkunci.

Tanpa berkata apa pun...

Ia langsung mengambil satu langkah mundur.

Brak!

Tubuhnya menghantam pintu kayu itu sekuat tenaga.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!