Ariana Anjayina, berumur 19 tahun, yang saat ini sedang menjalani masa-masa kuliahnya. Suatu hari, ia mengetahui hal yang sangat menyakitkan dan membuatnya kehilangan konsentrasi saat ia sedang mengendarai motornya. Karena tidak fokus, tiba-tiba saja truk dengan berkecepatan tinggi itu menghantam dan menabrak motor yang sedang dikendarai oleh Ariana. Saat itu juga, Ariana dinyatakan telah tewas di tempat.
Ariana membuka matanya, melihat-lihat ke arah sekitar. Tunggu, apa ini? ternyata dia berada di rumah sakit?
"kamu sudah bangun?" tanya seorang pria berahang tegas, berhidung mancung, serta memakai kemeja berwarna hitam dibaluti dengan dasi berwarna merah. Ia berdiri di depan pintu sambil memasang mukanya yang datar
Ariana terkejut, lalu melirik ke arah pria itu "siapa dia?" pikirnya. Ariana menelan ludahnya dengan susah payah, lalu ia pun berbicara "ganteng." ucapnya, tanpa ia sadari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rreannaf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percayalah
"Duh ini orang rumah kenapa pada belum pulang ya?" Ariana sedari tadi hanya mondar-mandir di ruang tamu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tetapi Ariana tidak ada melihat tanda-tanda ada seorang pun di rumah ini selain dirinya.
Ariana mengambil handphone barunya—pemberian Reynand untuknya. Memang, semenjak Reynand membelikan HP baru untuknya, Ariana belum ada sama sekali menggunakan HP itu.
Jadi ia memutuskan memakai handphone pemberian dari Reynand. Ariana mengambil handphone yang ia taruh di laci, dan menghidupkan handphone itu.
Jari Ariana menekan tombol telepon yang ada di layar handphone. Ariana terdiam sejenak dan tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri dengan pelan. "Aduh Ariana, kok Lo bodoh banget sih,"
"Gue lupa, kalau gue engga punya nomor mereka," Ariana merutuki dirinya. Terus bagaimana ia bisa menghubungi orang rumah?
Di tengah kepanikan yang melanda di pikiran Ariana, ia mendengar suara seseorang yang sangat di kenalinya—memanggil dirinya dengan suara yang sangat nyaring.
"MAMA!" Alea baru sampai di rumah, dan langsung berteriak memanggil Ariana.
"Alea, kamu kok lama sekali pulang sekolahnya? Udah jam 6 loh, kamu pulang sekolah jam 4 sore kan? terus kamu pulang bareng siapa?" berbagai pertanyaan Ariana berikan kepada Alea—melihat Alea yang sudah kembali ke rumah membuat hatinya yang gelisah, menjadi tenang kembali. Ariana pikir terjadi sesuatu kepada keluarganya.
"Itu tuh bang Raymond masa berantam dengan teman aku, jadi lama deh aku pulangnya!" Alea menunjuk ke arah Raymond dan Raffenta yang baru masuk ke dalam rumah.
Raymond melototkan matanya kepada sang adik, "Apa?"
"Loh kok bisa?" Ariana langsung menghampiri Raymond, melihat apakah lelaki itu baik-baik saja.
"Raymond, kamu gapapa kan? tidak ada yang terluka?" tanya Ariana dengan panik, matanya terus menelisik seluruh tubuh Raymond, apakah ada yang terluka atau tidak.
"Ngadu apa lo?" mendapat pertanyaan dari mamanya membuat Raymond heran. Apa yang telah Alea adukan, sampai-sampai membuat Raymond yang baru pulang mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
"Engga ada tuh," Alea membuang mukanya ke segala arah, menghindari tatapan tajam yang telah di berikan Raymond untuknya.
"Santai aja, cuman adu mulut," timpal Raffenta—agar Raymond tidak di tanya-tanya lagi. Karena ia tahu Raymond sangat benci berbicara dengan mama mereka. Jangankan berbicara, melihat wajah mama mereka saja, Raymond sudah emosi sendiri.
Setelah Raffenta mengatakan itu, mereka berdua melangkah pergi untuk menuju kamar mereka masing-masing—ingin segera beristirahat.
"Demam kamu tadi malam sudah turun, Raymond?" Ariana bertanya kepada Raymond secara tiba-tiba.
"Loh bang Raymond demam?" sontak Alea, merilik ke arah Raymond.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ariana, berhasil membuat Raymond dan Raffenta mencegah untuk melangkahkan kaki mereka lebih jauh. Raffenta melirik ke arah Raymond—seakan tahu dengan perubahan ekspresi yang ditampilkan oleh Raymond saat ini.
Raymond membalikkan badannya, menatap Ariana dengan menautkan kedua alisnya. Menandakan kebingungan yang amat mendalam. "Tahu dari mana?" tanya Raymond, meminta penjelasan dari pertanyaan Ariana tadi.
Ariana menelan salivanya dengan susah payah—seperti terasa tercekat di tenggorokan Ariana. Bodoh sekali, ia baru ingat bahwa kejadian semalam hanya sekedar di anggap mimpi oleh Raymond—karena itulah Raymond menjadi lebih jinak kepadanya.
Kalau tidak, Ariana pastikan bahwa ia tidak akan keluar hidup-hidup dari kamar Raymond. Karena Raymond pasti emosi sekali jika mengetahui Ariana memasuki kamarnya dengan sembarangan.
Membayangkan itu, membuat Ariana menjadi merinding sebadan-badan.
"Hah? O-oh itu," Ariana berbicara dengan terputus-putus, bingung dengan alasan apa yang akan ia lontarkan kepada Raymond.
Sepertinya tidak ada yang tahu Raymond demam tinggi tadi malam, kecuali dirinya.
"Apa?" tanya Raymond lagi, dengan nada yang sangat dingin.
Ekspresi wajah yang ia berikan kepada Ariana benar-benar membuat Ariana seperti mati kutu. Sial sekali, kenapa ia malah takut kepada anak yang baru berumur 15 tahun!?
Setelah lama Ariana memutar otaknya, berpikir untuk mencari alasan login yang bisa membuat Raymond tidak curiga dengannya, akhirnya satu alasan yang terlintas di otaknya—ia bisa berpura-pura bermimpi!
"i-itu mama mimpiin kamu sakit tadi malam dan mimpi itu terasa seperti nyata, makanya mama sampai keceplosan nanya sama kamu. Ya ampun ternyata kamu beneran sakit Demam ya?! kok bisa kebetulan begitu sih dengan mimpi mama tadi malam?" tanya Ariana berpura-pura seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Membuat ekspresi wajah yang sangat bingung, agar Raymond bisa lebih percaya dengan alasan yang ia berikan tadi.
"Terserah," hanya itu kata yang terkeluar dari mulut Raymond—bahkan rasanya seperti ada rasa kekecewaan di dalam hatinya. Entahlah, bahkan ia tidak paham dengan suasana hatinya yang sangat cepat berubah.
"Eh Abang! Jawab dulu pertanyaan aku, Abang beneran sakit demam tadi malam? Kok bisa sih?! Terus kenapa Abang engga bilang?!" Alea memberi pertanyaan beruntun kepada Raymond, dan mengejar Raymond yang sudah melangkah jauh darinya.
"Apasih lo ah, lebay!" Raymond terus berjalan dan tidak mempedulikan Alea yang berada di belakangnya meminta agar Raymond memberi penjelasan kepadanya. Raymond terus melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk cepat-cepat masuk ke kamarnya.
Melihat hal itu membuat Ariana tersenyum dengan tipis. Ternyata Alea cerewet sekali!
"Mama ngelakuin apa di kamar Raymond?" tanya Raffenta secara tiba-tiba.
Mendapat pertanyaan itu membuat Ariana melirik ke arah Raffenta yang ternyata masih di sini—Ariana tidak menyadari hal itu, karena ia terlalu fokus melihat Alea dan Raymond sedari tadi. Sampai-sampai tidak sadar bahwa Raffenta masih bersamanya, dan belum beranjak dari tempat ini.
"Maksud kamu?" tanya Ariana dengan berpura-pura tidak mengerti pertanyaan yang di berikan oleh Raffenta kepadanya.
Padahal jantungnya sudah dag dig dug ser!
"Engga usah pura-pura engga tahu, aku udah tahu semuanya," ungkap Raffenta.
"Gimana kamu bisa tahu?"
"Kemarin saya berniat mengajak Raymond keluar untuk membeli makan malam, tetapi saya melihat hal yang tidak terduga—mama sedang ada di kamar Raymond, merawat Raymond dengan sangat baik, seolah-olah menunjukkan bahwa mama adalah orang tua yang sangat baik. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu, bukan?"
Mendengar itu, membuat Ariana menjadi bungkam, tidak tahu harus memberi alasan apa lagi, karena apapun alasan yang ia berikan tidak akan berpengaruh—Raffenta sudah melihatnya semuanya dengan kedua matanya sendiri.
"Apa rencana yang mama bikin? sehingga berpura-pura berubah menjadi mama yang baik bagi anak-anaknya?" tatapan yang diberikan Raffenta kepada Ariana, membuat Ariana menjadi terintimidasi. Seolah-olah Ariana tidak di beri celah sedikitpun untuk memberi penjelasan kepada Raffenta—anak itu terus memberi pertanyaan yang membuatnya bungkam, tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau mama jujur, apa kamu akan percaya?"
Dapat Ariana lihat, bahwa Raffenta tampak enggan ingin menjawab pertanyaan dari Ariana.
"Katakan," hanya itu yang bisa Raffenta katakan—ia benar-benar tidak bisa menjawab bahwa ia akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh mamanya yang telah membuatnya dan adik-adiknya menjadi tersiksa seperti di api neraka setiap harinya.
"Kamu engga bakal percaya bukan dengan apa yang mama katakan?"
Ariana menghela nafasnya sebentar, sebelum melanjutkan berbicara, " Dengar Raffenta, mama engga bakal memaksakan kamu untuk mempercayai kata mama. Tetapi percayalah satu ini saja—bahwa mama tidak ada sedikitpun berniat merencanakan hal buruk apapun kepada kalian."
Engga mungkin! Kalau mama tidak ada merencanakan hal buruk, berarti apa maksud dari perubahan perlakuan mamanya yang menjadi baik? apakah mamanya benar-benar sudah berubah—bukan hanya sekedar berpura-pura?
Setelah Ariana mengatakan itu, ia beranjak melewati Raffenta dan menepuk pundak lelaki itu yang tampak seperti tidak terima dengan perkataannya yang baru saja ia lontarkan.