"maaf Ren, aku sudah menyembunyikan penyakit ku dari mu. aku harap, suatu hari nanti kamu mengerti maksud ku menyembunyikan penyakit ini." Luna Wijaya.
~~~~~~~~
sebelum membaca Novel ini, di saran kan untuk membaca novel sebelum nya ya. yang berjudul "Benih kakak tiri ku" agar kalian nyambung dengan cerita ini. baiklah, terimakasih banyak.
Luna Wijaya anak bungsu dari pasangan Elbra Wijaya dan Kania Azahra, awalnya ia adalah perempuan yang sehat dan aktif. Namun tak di sangka, sebuah penyakit membuat nya menjadi lemah. hingga membuat nya mudah pingsan, beruntung nya ada sang kakak yang mengetahui penyakit nya, dan sang kakak berniat ingin memberi tau orang tua nya mengenai penyakit Luna, namun Luna memohon untuk tidak memberi tahu siapapun soal penyakit nya karena sebuah alasan. bahkan Ren, teman sekaligus orang yang ia suka, tak ia beri tahu soal penyakit nya. bagaimana kah kondisi Luna kedepannya? apakah bisa sembuh? atau malah sebaliknya? yuk baca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanzila mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
regret [chapter 35]
|Taman bunga|
sore hari yang cerah. Ren sedang berada di taman bunga, Hanya untuk sekedar mengenang masa lalu nya bersama Luna. entah kenapa ia rindu dengan Luna jika melihat bunga di taman.
"indah ya, Lun. kangen deh duduk berdua di bangku ini, makan ice cream bareng, main kejar kejaran bareng, Seru banget ya. Kapan ya kira kira, kita bisa gini lagi. Apa mungkin di surga nanti ya. oh ya pasti Di surga banyak taman bunga kan, Lun. Makanya kamu Betah terus di sana, dan gak pernah Dateng lagi ke mimpi aku. sesekali ajak aku dong Lun, liat bunga di taman surga. lewat mimpi juga gapapa." batin Ren sembari menatap bunga bunga indah yang ada di taman itu.
"loh Ren, kamu di sini juga?" tanya seseorang yang tiba tiba datang menghampiri Ren.
"Revan, iya nih Lagi kangen aja." jawab Ren sembari melihat sejenak wajah Revan, lalu kembali menatap ke arah bunga bunga.
"belum bisa move on, Ren?" tanya Revan sembari duduk di sebelah kanan Ren tanpa izin.
"emangnya harus banget move on?" tanya Ren balik.
"harus dong, Ren. Luna udah tenang di sana. kamu harus bisa move on, dan buka hati kamu buat orang baru." Jawab Revan sembari merangkul pundak Ren.
"gak bisa, Van." ucap Ren sembari menunduk sedih, ia tak bisa melupakan Luna begitu saja.
"aku bisa kok bantu kamu buat move on." Jawab Revan sembari menatap Ren begitu dalam.
"emang bisa?" tanya Ren yang ragu.
"bisa dong, di dunia ini gak ada yang gak bisa aku lakuin. Dapetin kamu seutuhnya aja aku bisa." Jawab Ren to the point.
"Hah, maksud kamu apa Van. Aku gak salah dengar kan?" tanya Ren memastikan, ia tak ingin salah paham karena salah mendengar.
"masa itu aja kamu gak paham, Ren. yang ku maksud itu kalo aku bisa dapetin wanita untuk kamu seutuhnya, nah apa lagi bantuin kamu move on udah pasti bisa itu." Jawab Revan yang membuat Ren kembali bernafas lancar.
"ohh gitu, ya udah gimana cara nya?"
|mansion Elbra Wijaya|
di halaman belakang. Kania duduk termenung menatap pohon besar, tiba tiba ia merindukan Ibrania yang sudah lama tak pulang.
Setelah kematian Luna, Kania tak pernah lagi bertemu dengan putra nya. melihat nasib nya yang sekarang, Kania baru tau betapa sepi nya rumah ini. Ia bisa merasakan apa yang anak anak nya rasakan, ia baru sadar betapa pentingnya kehadiran seseorang di rumah ini.
"Ibrania.....kapan kamu pulang, nak?" gumam Kania Dengan raut wajah sedih.
"kamu sedang apa sendirian di sini, Kania?" tanya Elbra yang baru datang menghampiri Kania.
"El, Ibrania kenapa tidak pernah pulang. Apa dia banyak kerjaan ya di sana?" tanya Kania sembari menatap Elbra dengan raut wajah sedih.
"aku tidak tau, sayang. semenjak ia mengurus perusahaan ku di Korea, Ibrania tak pernah lagi mengabari ku." Jawab Elbra sembari duduk di samping Kania.
"aku rindu dengan Ibrania, El. ayo kita ke korea saja, aku ingin menemui nya." ajak Kania sembari berdiri dari duduk nya.
"baiklah, kita kabari Ibrania dulu ya, sayang." Jawab Elbra yang hanya bisa menuruti kemauan istri nya itu. Ia pun mengambil ponsel nya lalu menelpon Ibrania.
*pembicaraan di telpon
"hallo Ibrania, bagaimana di sana. kamu baik baik saja kan?" tanya Elbra saat telepon nya tersambung.
"baik, yah." Jawab Ibrania singkat.
"rencananya kami ingin berkunjung ke tempat mu, Ibrania. kita rindu sama kamu, kamu udah lama gak pulang ke rumah." beri tau Elbra.
"tidak perlu." Jawab Ibrania.
"kenapa begitu, Ibrania. apa kita tidak boleh mengunjungi mu di sana?" tanya Elbra bingung dan sedikit kecewa mendengar ucapan Ibrania.
"besok aku akan pulang ke Indonesia." Jawab Ibrania.
"benarkah, nanti kita jemput ya di bandara." ucap Elbra dengan nada begitu senang, saat mendengar Ibrania ingin pulang ke Indonesia.
"tidak usah, yah. aku pakai helikopter." Jawab Ibrania.
"ya sudah jika begitu, ayah jemput saja di Heliport ya." kekeh Elbra yang ingin sekali menjemput putra nya.
"Ibrania bilang tidak, tetap tidak, ayah. Ayah tunggu saja di rumah." tegas Ibrania, yang membuat Elbra sedikit terkejut melihat perubahan putra nya.
"kamu masih marah ya sama ayah?" tanya Elbra yang sedih.
"tidak." Jawab Ibrania singkat.
"dengan ibu mu?" tanya Elbra sembari menatap Kania yang ada di samping nya.
"tidak juga." Jawab Ibrania yang membuat suami istri itu terdiam sejenak, sembari saling menatap.
"lalu, kenapa kamu tidak pernah menelpon ibu mu, Ibrania. asal kamu tau, ibu mu sangat merindukan mu?." tanya Elbra.
"Ibrania sedang sibuk, yah." Jawab Ibrania dengan nada sedikit ketus.
"memang nya tak punya waktu luang, untuk sekedar memberi kabar?" tanya Elbra tanpa sadar diri.
"tanya kan saja pada diri ayah sendiri, karena ayah juga pernah di posisi ini." Jawab Ibrania dingin, lalu langsung mematikan telepon nya.
"hah? Maksud Ibrania apa, El?" tanya Kania yang tak paham maksud dari ucapan Ibrania tadi.
"sepertinya..." ucap Elbra berhenti.
"sepertinya apa, El?" tanya Kania yang semakin bingung karena Elbra bicara setengah setengah.
"sepertinya Ibrania belum memaafkan kita." Jawab Elbra dengan raut wajah sedih.
"kenapa begitu?" tanya Kania yang belum paham juga.
"Dia bilang tanya kan saja pada diri ku, karena aku pernah di posisi ini. Kita pernah di posisi ini sayang. Dimana Ibrania selalu kita abaikan telpon nya dengan alasan jika kita sibuk." jelas Elbra sembari menatap istri nya.
"apa ini seperti sebuah balas dendam?" tanya Kania yang berpikir jika Ibrania ingin balas dendam karena perlakuan mereka di masa lalu.
"tidak, sayang. Aku rasa ini karma untuk kita. Sepertinya semesta sedang menghukum kita, karena sudah lalai dalam rumah tangga. Kita tidak bisa menyalahkan Ibrania." Jawab Elbra yang merasa bersalah.
"kamu benar, El. Ini karma, aku sangat menyesal tidak pernah melihat nama penelpon sebelum mengabaikan nya." ucap Kania yang menyesal, sembari menunduk sedih meratapi nasib.
"aku juga menyesal, Kania. Andai aku tidak meluap kan emosi ku pada alkohol, mungkin aku bisa menyempatkan mengobrol dengan anak anak sepulang dari kantor." Jawab Elbra yang juga menyesal tidak pulang ke rumah sepulang dari kantor.
"bagaimana cara kita menebus kesalahan ini, El?" tanya Kania sembari menatap sedih suami nya itu.
"aku juga tak tau, sayang. aku harap, kita bisa mengembalikan suasana indah yang dulu pernah ada, agar Ibrania bisa memaafkan kita. Walaupun tanpa ada nya Luna di suasana yang baru." jawab Elbra yang sangat berharap bisa mengembalikan suasana yang dulu pernah ada.
mendengar ucapan sang suami, Kania pun memeluk erat tubuh Elbra, sembari menyembunyikan wajah nya di dada Elbra. Agar tak terlihat wajah nya yang sedang menangis.
to be continued~
hallo pembaca setia ku, ya walaupun cuma ada 2. Makasih banyak udah support aku sampai di tahun 2025 ini. Ini kan masih suasana tahun baru nih, kalo author boleh tau. Resolusi kalian di tahun ini apa? Kasih tau dong, pengen liat resolusi kalian buat tahun yang baru ini 🤭
jangan lupa di jawab ya, see you again 👋🏻
Revan mending ke Alex aja deh🤣✌️✌️
Khawatir keadaan Ren yang lompat dari lantai 2 kalau terlalu lama updatenya🤭
Sefrustasi itu aku🤧🤧
Revan lu bener-bener, ya🫵👊👊👊
Itu resolusi bukan sih?😅
Yang ku mau itu, walau sulit rasanya🤧🤧🤧