"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bangga Padamu
Sudah dua bulan sejak kecelakaan itu, Zahra kini menjadi lebih terbiasa dengan keadaannya saat ini. Ia mencoba untuk mengikhlaskan penglihatannya oleh Allah dan meyakini jika ada hikmah dibalik dari musibah yang menimpanya
walaupun begitu, Rafif tidak pernah tidak pernah berhenti berusaha agar istrinya itu segera mendapatkan donor mata yang cocok untuk istrinya itu. Ia juga dengan penuh kesabaran merawat Zahra walau terkadang istrinya itu masih agak sensitif jika orang-orang menyinggung keadaannya
***
Sore itu, Rafif yang baru pulang dari bekerja masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa, raut wajahnya terlihat begitu bahagia. Ia dengan cepat berjalan menuju ke kamarnya
"Zahra, aku pulang" ucapnya saat memasuki kamar, tapi raut wajahnya menjadi bingung ketika tidak mendapati istrinya di dalam sana, ia lalu masuk ke kamar mandi untuk memeriksa Zahra, namun istrinya itu juga tidak ada disana
"Kemana dia?" gumamnya merasa khawatir
Rafif berniat kembali keluar dari kamarnya untuk mencari Zahra, namun langkahnya terhenti saat ia berbalik dan sudah mendapati Zahra yang sedang berjalan ke arahnya dengan bantuan tongkatnya, senyum yang tadi menghilang kini mengembang sempurna saat melihat wajah istrinya itu
"Kak Rafif, kau sudah pulang?" tanya Zahra memastikan ia tidak salah dengar saat seseorang memanggilnya
"Iya, aku sudah pulang. Kau dari mana saja? aku dari tadi mencarimu" jawabnya mengahampiri Zahra
"Air di atas nakas habis, jadi aku ke dapur untuk minum" jelas Zahra
"Lupakanlah, aku punya berita gembira untukmu" ucap Rafif dengan senyum yang bisa dirasakan oleh Zahra
"Apa itu kak?" tanya Zahra penasaran dan ikut tersenyum saat mendengar nada suara Rafif begitu gembira
"Aku mendapatkan donor mata yang cocok untukmu, Zahra. Sebentar lagi kau bisa melihat seperti dulu" jawab Rafif memegang kedua pundak Zahra yang terdiam setelah mendengar jawaban Rafif
"Benarkah kak?" Zahra merasa tidak percaya dengan apa yang dikataka oleh Rafif barusan
"Iya, kak Daffa yang membantuku mencarinya di London. Kita bisa kesana dan melakukan operasi untukmu" ucap Rafif dengan begitu antusiasnya
"Kak Daffa?" tanya Zahra
"Iya, kak Daffa menghubungiku saat di kantor tadi. Dia sebenarnya mengetahui yang terjadi pada kita dua bulan lalu dari berita, tapi katanya kak Daffa agak sungkan untuk menghubungi kita" jelas Rafif yang sempat merasa kecewa karena tidak pernah mendapatkan kabar apapun dari kakaknya itu, tapi kini ia cukup senang karena bukan hanya kabar kakaknya saja yang ia dapatkan tapi juga kabar jika kakaknya mendapatkan donor mata yant cocok untuk Zahra
"Apa benar aku bisa melihat lagi kak?" tanyanya lagi untuk kesekian kalinya merasa ini tidaklah nyata baginya
"Serahkan semuanya pada Allah, Zahra. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, aku yakin inilah hasil yang diberikan oleh Allah" Rafif mengusap pelan kepala Zahra dan mulai memeluknya, mata Rafif mendadak terbuka lebar saat merasakan tangan Zahra membalas pelukannya untuk pertama kali
"Terima kasih kak Rafif, terima kasih karena selalu berada disisiku selama ini. Terima kasih karena tidak pernah menyerah untukku" ucap Zahra semakin mempererat pelukannya merasa sangat bahagia mengetahui ia memiliki harapan untuk bisa melihat seperti dulu lagi
"Aku yang berterima kasih Zahra, terima kasih karena kau tidak pernah menyerah pada keadaan ini. Aku bangga padamu" jawab Rafif dengan senyum yang terus merekah di wajahnya, ia berharap kedepannya mereka berdua bisa lebih baik lagi
***
Setelah mendapat kabar dari Daffa, Rafif mengatur jadwalnya agar mereka bisa berangkat ke London untuk operasi mata Zahra, sebenarnya mereka bisa melakukannya di Indonesia, tapi karena ingin mendapatkan hasil yang terbaik, Rafif memutuskan untuk melakukan operasi Zahra di London, tempat orang yang mendonorkan matanya untuk Zahra
Mereka berdua berangkat setelah mendapat restu dari kedua orangtua dan mertua mereka masing-masing. Setelah berpamitan pada orangtua mereka yang mengantar mereka ke bandara, Rafif dan Zahra pun mulai melakukan perjalanan dari Indonesia menuju London.
Pada akhirnya, mereka berdua tiba di London setelah memakan waktu kurang lebih enam belas jam penerbangan, Rafif membantu membimbing Zahra untuk keluar dari pesawat. Ia juga mengurus semuanya di bandara dan memulai perjalanan menuju ke tempat Daffa
"Pasti pemandangannya sangat indah kan, kak?" ucap Zahra di dalam mobil yang mengantarkan mereka ke tujuannya
"Maksudnya?" tanya Rafif tidak mengerti perkataan Zahra
"Aku mendengar dari temanku yang pernah ke London, katanya pemandangan disini benar-benar indah" jelas Zahra tersenyum kecil
"Sebentar lagi kau akan melihatnya juga, bersabarlah" jawab Rafif mengusap pelan kepala Zahra yang duduk di sebelahnya dan mulai merangkul pundaknya
"Iya kak" kata Zahra menundukkan pandangannya merasa tersipu dengan perlakuan Rafif yang selalu bisa membuat hatinya berdebar