Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
"Apa kamu sedang mencari ini?" tanya Dion sambil menunjukkan sesuatu di tangannya.
Mata Mikha terbelalak sempurna, bagaimana suaminya tahu tentang barang itu.
"Kenapa aku harus mencari itu," elak Mikha.
Dion membuka kunci layar ponselnya dan menunjukkan sebuah video kepada istrinya itu.
"Kamu memasang cctv di kamarmu sendiri?" tanya Mikha setelah melihat video yang di tunjukkan oleh suaminya. Video yang menampakkan dirinya yang sedang menyembunyikan jarum sutik di bawah bantalnya.
"Sebenarnya sudah lama cctv di kamar ini aku matikan, tapi karena istriku terlalu licik makanya tadi sore aku nyalakan kembali cctv di kamar ini," jelas Dion. Dia begitu bangga karena berhasil selangkah lebih maju dari istrinya.
"Dasar Curang!"
"Untuk menghadapi istri licik sepertimu sepertinya aku memang harus bersikap licik juga," jawab Dion.
"Sekarang saatnya kamu menunjukkan kemampuanmu padaku!" seru Dion.
Kini tubuh Dion sudah berada di atas tubuh istrinya. Tubuh Mikha seketika menegang, jantungnya berdetak makin tak beraturan bahkan nafasnya juga ikutan terengah menahan segala kegugupan yang dia rasakan.
"Jangan-jangan kau tidak mempunyai kemampuan apapun dalam hal itu." Dion memberikan tatapan mengejek kepada istrinya.
"Siapa bilang?!" kata Mikha, dia yang tidak ingin di bilang tidak tahu apa-apa segera melingkarkan tangannya di leher Dion.
Dion tersenyum penuh kemenangan, akhirnya dia berhasil memancing istrinya untuk menunjukkan kemampuannya.
Dengan perasaan deg-deg-an Mikha mulai menarik wajah suaminya agar mendekat ke arahnya. Nafas Dion yang menyapu wajahnya membuat Mikha semakin gugup untuk melakukannya.
"Aku tidak yakin kalau kamu memiliki kemampuan itu," kembali Dion mengeluarkan kata-kata pamungkasnya untuk memancing istrinya. Kata yang selalu berhasil membuat Mikha terjebak di dalamnya.
Dengan perasaan deg-deg-an, Mikha mulai mengecup bibir suaminya.
"Hanya itu kemampuanmu?!"
Mikha yang tidak ingin di ejek oleh suaminya, segera memberikan yang lebih dari sekedar mengecup. Dion tersenyum penuh kemenangan, dia begitu puas karena berhasil mendapatkan ciuman pertama Sang istri. Dion yakin ini kali pertama istrinya itu berciuman dan itu nampak jelas terlihat dari permainan bibirnya yang masih kaku. Saat Mikha hendak menyudahi permainan bibirnya, Dion justru menekan tengkuk Sang istri untuk memperdalam ciumannya.
Awalnya Mikha kesulitan untuk mengimbangi permainan suaminya, namun akhirnya dia bisa menyesuaikan permainan suaminya juga. Mereka saling *******, menyesap bahkan bertukar saliva. Dan entah sudah berapa lama mereka melakukan ciuman panas tersebut, tanpa Mikha sadari, dia mengeluarkan desahan dan lenguhan yang tentu saja membangkitkan hasrat kelaki-lakian Dion.
Tangan Dion mulai menyelinap masuk ke dalam kaos yang di pakai istrinya. Dia mulai menyentuh dan meremas apa yang ada di balik kaos tersebut. Untuk sesaat Mikha terhanyut dengan sentuhan dan buaian yang di berikan oleh suaminya, desahan dan lenguhannya pun makin terdengar syahdu di telinga Dion. Namun kesadaran langsung menghinggapi Mikha saat tangan suaminya hampir masuk ke daerah terlarang miliknya. Dengan cepat Mikha menggigit bibir suaminya dan mendorong tubuh kekar itu hingga jatuh terjungkal. Dion meringis kesakitan.
"Aw," ringis Dion. Dia bangun dari posisinya terjatuh.
"Kenapa tiba-tiba mendorongku?" tanya Dion kesal. Dia menyentuh bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Maaf aku tidak bermaksud melukai bibirmu," ucap Mikha.
"Cowok nyebelin! Kamu bisakan tidak meminta hakmu sekarang?" tanya Mikha dengan tatapan memohon. "Aku benar-benar belum siap," tambahnya.
Dion menatap wajah istrinya lekat-lekat, sebenarnya dia juga tidak bermasud untuk meminta haknya malam ini. Dion hanya ingin menakut-nakuti istrinya dengan berpura-pura akan meminta haknya sekarang. Namun ternyata suara desahan dan lenguhan Sang istri membuat dia benar-benar ingin melakukan hal lebih dari sekedar berciuman.
"Tenang saja, Aku juga tidak bernafsu dengan tubuhmu," jawab Dion berbohong. Padahal yang terjadi adalah kebalikannya. Nafsu Dion meningkat 10 kali dari biasanya. Apalagi setelah ciuman panas yang mereka lakukan barusan, di tambah dengan tangannya yang sudah berhasil menjamah hampir semua bagian tubuh istrinya.
Mikha bernapas lega setelah mendengar perkataan Dion. Dia bangkit dari posisinya dan mengambil kotak P3K untuk membantu mengobati bibir Dion yang terluka karena ulahnya.
"Maafkan aku," ucap Mikha dengan tangan yang masih sibuk memegang kapas dan obat merah di tangan.
Kini giliran Dion yang merasa semakin kesulitan untuk mengendalikan nafsunya. Saat ini dia di hadapkan dengan pemandangan yang semakin membangkitkan gairahnya. Bagaimana tidak? Baju yang di pakai oleh istrinya memiliki belahan di dada yang membuatnya bisa melihat sebagian isi di dalamnya.
Gleg!
Dion menelan ludahnya melihat pemandangan tersebut.
"Jika aku terlalu lama disini, pasti akan semakin sulit untukku mengendalikan diri," batin Dion.
"Aku bisa sendiri." Dion menghentikan tangan Mikha yang sedang mengoleskan obat di bibirnya. Dia mengambil kapas dan obat merah di tangan istrinya tersebut.
"Kamu mau kemana?" tanya Mikha saat Dion hendak pergi dari kamarnya.
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang," jawab Dion berbohong. "Kamu tidurlah dulu!"
Mikha mengangguk dan membiarkan suaminya ke luar dari kamar mereka.
Dion memutuskan untuk tidur di kamar tamu, namun sebelum tidur dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Yaitu pekerjaan untuk merilekskan kembali bagian tubuhnya yang sudah sangat menegang. Dion melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya, yaitu mandi menggunakan air dingin. Namun sepertinya dia harus menggunakan waktu yang lebih banyak dari sebelumnya.
******
Pukul 6 pagi Mikha baru bangun dari tidurnya, semalam dia menanti kedatangan suaminya di kamar, tapi sampai dia tertidur dan bangun kembali suaminya masih belum juga kembali ke kamarnya.
"Sudah bangun, Sayang?" sapa Maya kepada menantunya.
"Maaf ya, Ma. Mikha baru bangun."
"Tidak apa-apa Mama ngerti, kok pasti kamu lelah," ucap Maya dengan senyum misteriusnya.
Mikha mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan seseorang.
"Kalau kamu mencari Dion, dia sudah berangkat ke kantornya," ujar Maya.
Mikha mengucek matanya berulang kali.
"Kenapa?"
"Aku tidak salah lihat jam kan, Ma?"
Maya menatap menantunya heran.
"Ini benaran masih jam 6 kan bukan jam 7?" tanya Mikha memastikan kalau penglihatannya masih normal.
"Iya, memang ini jam 6 pagi," jawab Maya. "Kenapa kamu tanya hal itu Nak?"
"Tidak, aku hanya merasa heran kenapa Mas Dion audah berangkat sepagi ini."
"Dion bilang kalau ada masalah yang harus dia selesaikan pagi ini," Maya memberikan penjelasan. "Dan dia juga berpesan agar kamu berangkat kuliah di antar sama sopir keluarga!"
"Iya, Ma," jawab Mikha kembali.
Sesuai dengan perintah suaminya, Mikha berangkat ke kampus di antar oleh sopir keluargan Sebastian.
Mikha menghamiri Lisa yang sedang asyik membaca gosip melalui ponselnya.
"Apa sih yang sedang kamu baca?" tanya Mikha yang penasaran melihat Lisa begitu serius menatap layar ponselnya.
"Aku sedang baca berita tentang perceraian seorang pengusaha muda," jawab Lisa yang masih tetap fokus dengan layar ponselnya.
"Perceraian?"
"Iya, perceraian. Padahal usia pernikahan mereka belum genap sebulan dan kamu tahu apa yang menjadi sebab mereka bercerai?"
Mikha menggeleng, sebenarnya dia tidak perduli dengan berita yang sedang di baca oleh temannya.
Mikha mengambil snak milik Lisa dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Mereka bercerai karena istrinya tidak mau melayani suaminya di ranjang," tutur Lisa.
Mikha menyemburkan makanan yang sedang dia kunyah.
"Mikhaaaaa!" teriak Lisa karena makanan yang Mikha semburkan mengenai wajahnya.
"Maaf maaf maaf," Mikha membantu membersihkan wajah temannya itu dengan tissu.
"Sudah sudah! Aku akan membersihkan ini di toilet!" Lisa berjalan meninggalkan Mikha menuju ke toilet.
"Apa Cowok nyebelin itu juga bakal menceraikan aku gara-gara hal ini ya?" batin Mikha. "Tidak tidak! Aku tidak mau menjadi janda."
"Kamu kenapa Mik?" tanya Lisa setelah dia keluar dari dalam toilet.
"Lis, apa benar yang membuat pengusaha muda itu menceraikan istrinya gara-gara istrinya tidak mau melayaninya di ranjang?"
Lisa menatap wajah Mikha heran.
"Jangan bilang kalau kamu dan suamimu juga belum melakukan itu?" tebak Lisa.
Mikha mengangguk.
"Ya ampun, Mik. Kamu itu bodoh atau gimana sih? Suamimu itu tampan, muda, kaya raya lagi, apa yang membuat kamu belum melakukan kewajibanmu?"
"Aku takut hamil," jawab Mikha jujur.
"Astaga, Mik. Apa yang membuatmu takut? Kaliankan sudah sah?"
"Aku takut kalau impianku menjadi dokter tidak akan terwujud jika aku hamil," jelas Mikha.
"Mik, kalau itu terjadi bukankah kamu bisa ambil cuti terlebih dulu, setelah anakmu lahir kamu juga bisa langsung melanjutkan kuliahmu. Memangnya kamu mau jadi janda muda?"
Mikha menggeleng.
"Sebaiknya kamu segera layani suamimu sebelum dia menceraikanmu sama seperti berita yang aku baca barusan!"
Mikha memikirkan perkataan temannya tersebut. Dia semakin takut kalau Dion akan menceraikannya gara-gara itu.
"Mik, mau kemana kamu?" tanya Lisa saat temannya tiba-tiba saja pergi meninggalkannya.
******
Di perusahaan SEBASTIAN
Dion berusaha untuk tidur di ruang kerjanya, semalaman dia tidak bisa tidur karena harus menahan semua gairahnya. Bahkan semua usaha yang dia lakukan sia-sia.
"Kenapa Cewek resek itu selalu muncul di benakku. Bahkan hanya dengan membayangkan wajahnya saja gairahku bisa langsung naik. Kalau begini terus, aku bisa gila di buatnya," batin Dion.
Dion berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan. Namun hasilnya tetap sama, wajah istrinya kembali muncul di benaknya.
Tok tok tok
Suara seseorang mengetuk pintu ruang kerjannya.
"Masuk!" seru Dion.
"Ada apa?" tanya Dion dengan mata yang masih fokus dengan berkas di depannya.
Orang itu masih diam.
"Kenapa masih di..," Dion tidak melanjutkan ucapannya, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya.