NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Yan Ning Melindungi Kakaknya

Kabar mengenai Keluarga Yan yang mengundang Mbah Kusno ke rumah mereka menyebar luas dengan sangat cepat di Desa Wu. Semua orang penasaran dengan alasan di balik kedatangan dukun tersebut, dan para penggila gosip langsung sibuk membagikan apa yang mereka tahu.

"Punya anak pembawa sial seperti dia itu tandanya orang tuanya kurang berbuat baik di kehidupan sebelumnya. Kalau menurutku, anak cacat itu harusnya sudah ditenggelamkan ke lubang kotoran saja sejak bayi, daripada sekarang bikin sial tetangga," ceracau seorang wanita yang memang selalu bermusuhan dengan Keluarga Yan.

"Halah, dukun itu paling cuma asal bicara saja. Bilang saja dia cuma mengincar uang koin perak mereka," timpal warga lain menyahut santai.

"Tapi kurasa ada benarnya. Coba lihat si Yan Ming, lamaran pernikahannya selalu berujung gagal terus. Tidak heran kalau rumah mereka memang sedang ketempelan roh halus," sahut yang lainnya ikut menimpali.

"Kalau begini terus, mana ada orang terpandang yang sudi menikahkan putri mereka ke keluarga itu? Salah-salah malah ikut ketularan kutukan sampai mati," tambah warga lain memanasi rumor.

"Tapi apa benar si Nara itu lagi kerasukan hantu?"

"Aku agak curiga, sih. Sejak Nara nekat memotong jarinya sendiri kemarin, dia kelihatan seperti menjelma jadi orang yang berbeda total. Tapi kalau dibilang kemasukan roh jahat, rasanya tidak mirip."

"Eh, siapa yang tahu? Dia kan memang pintar sekali bersandiwara."

"Sudah, diam-diam! Orangnya datang tuh!" bisik salah satu dari mereka memberi kode agar semua orang menutup mulut.

Di tepi aliran sungai kecil desa, beberapa ibu-ibu muda dan paruh baya sedang mencuci tumpukan pakaian sambil asyik bergosip. Seorang wanita yang bermata jeli menyadari kedatangan Nara dan Yan Ning yang sedang berjalan membawa baskom kayu, lalu buru-buru memanggil mereka.

"Yan Ning, mau ikut mencuci baju juga?" sapa salah seorang bibi bernama Bibi Lastri sambil mengibas sisa air di lengan bajunya sembari tersenyum sinis.

"Iya, nih, Bik. Cuaca hari ini benar-benar buruk ya, baru saja sampai di sini telinga sudah bising mendengar suara anjing menggonggong liar," sahut Yan Ning dengan senyuman yang dipaksakan.

"Anjing-anjing itu berisik sekali, asal menggonggong tanpa tahu mana yang benar dan salah. Benar-benar menjengkelkan, Bibi Lastri setuju kan?" lanjut Yan Ning telat menyindir balik.

Suara ibu-ibu yang bergosip tadi sebenarnya cukup nyaring hingga terdengar dari kejauhan. Nara dan Yan Ning sudah mendengar seluruh kalimat obrolan mereka dengan sangat jelas sejak melangkah mendekat.

Yan Ning yang memang terkenal bermulut tajam tentu saja tidak akan tinggal diam dan menunduk ketakutan seperti burung puyuh.

Para wanita di tepi sungai itu seketika langsung mati kutu mendengar sindiran tersebut, bahkan beberapa ibu muda wajahnya langsung merona merah karena malu.

Mereka beralih melirik ke arah Nara yang kini berdiri diam di atas batu kali besar sembari memegang pemukul cucian dari kayu. Nara hanya menatap mereka dengan pandangan mata yang sangat dingin dan acuh tak acuh.

Bibi Lastri yang sempat beradu pandang dengan sepasang mata Nara mendadak merasa wajahnya memanas karena salah tingkah.

Nara di depannya masih memiliki fisik kurus yang sama seperti dulu, tetapi pembawaan gadis itu sekarang terasa jauh lebih berwibawa dan mengintimidasi. Berdiri di hadapan Nara malah membuat Bibi Lastri mendadak merasa rendah diri.

"Aduh, bubur jagung anakku di rumah sepertinya sudah mau matang. Kalian lanjutkan saja mencucinya, aku mau pulang duluan," pamit Bibi Lastri terburu-buru sambil mengemas baskom kayunya seolah sedang melarikan diri.

Melihat hal itu, dua orang ibu muda di dekatnya ikut mencari-cari alasan untuk bergegas pergi dari tepi sungai.

Kini di tepi sungai itu hanya tersisa dua wanita paruh baya yang sejak dulu memang terkenal tidak akur dengan Keluarga Yan dan hobi menghina Nara.

Seorang wanita bertubuh tambun dan berkulit gelap—yang sebelumnya menghasut kalau Nara harusnya ditenggelamkan saja sejak bayi—melihat Nara menoleh ke arahnya. Dia malah sengaja tertawa mengejek demi memancing emosi.

"Aku juga mau pulang ah, malas lama-lama di sini. Nanti malah ketularan sial gara-gara berdekatan sama anak pembawa petaka," sindir wanita bernama Bu Herma itu kepada temannya.

"Wah, Bu Herma, kalau begitu Ibu memang harus buru-buru pulang sekarang juga. Soalnya pas kami jalan ke sini tadi, kami melihat suami Ibu sedang berjalan ke arah gang belakang," sahut Yan Ning dengan senyuman penuh arti.

"Gaya jalannya buru-buru sekali, dan seingatku pintu toko kelontong di gang itu sedang tertutup rapat," tambah Yan Ning memanaskan suasana.

Mendengar kalimat itu, raut wajah Bu Herma seketika berubah drastis menjadi pucat pasi.

Dia langsung mengumpat kasar menyumpahi suaminya, lalu buru-buru menyambar jemurannya dan berlari kencang meninggalkan tepi sungai tanpa memedulikan penampilannya lagi.

Bukan karena ada hal gaib atau hantu di gang belakang tersebut, melainkan karena ada sebuah toko kelontong yang dikelola oleh seorang janda muda berwajah cantik dan genit bernama Janda Sari.

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!