Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beradab tasi
Sore hari Arumi terbangun dari tidurnya. Tidurnya lumayan nyenyak dari sebelumnya. Walaupun ia baru pertama kali tidur di kamar itu, tapi Arumi merasa nyaman tidur di kamar baru itu. Mungkin karena kasurnya empuk, dan tidak ada suara yang selalu memanggil namanya.
Dulu Arumi tidak punya waktu yang cukup untuk istirahat. Karena sepulang kerja ia harus membereskan rumah lagi. Dan sore hari ia kembali bekerja untuk mencari uang.
Tok.
Tok.
Tok.
" Non Rumi"
Mendengar namanya dipanggil, Arumi segera turun dari tempat tidurnya. Ia membukakan pintu kamarnya.
" Iya Bik "
" Bibik kirain nona belum bangun "
" Baru bangun Bik"
" Nyonya suruh ke ruang makan, untuk makan malam bersama. Tadi nyonya yang mau bangunin, tapi dia bilang mau membuat sesuatu dulu untuk non Rumi"
" Bilang sama mama sebentar lagi saya ke sana Bik"
" Baik Non"
Setelah bibik pergi, Arumi menutup kembali pintu kamarnya. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia tidak ingin membuat mamanya menunggu lama.
Sampai di kamar mandi Arumi kebingungan karena di sana tidak ada bak mandi dan juga dayung. Di sana cuma ada benda panjang yang di atasnya bulat.
" Bagaimana cara mandinya"
Arumi melihat ada yang berbentuk kran air yang bisa di putar. Ia pun memutar kran itu, dan tiba-tiba air keluar dari benda yang berbentuk bulat tadi, alhasil tubuh Arumi pun basah.
Arumi segera mematikan kran airnya, setelah itu ia membuka bajunya yang sudah basah. Kalau tidak segera dibuka nanti bisa masuk angin.
Sekarang Arumi sudah mengerti cara menyalakan airnya. Arumi pun melanjutkan kembali mandinya. Di kamar mandi itu sudah ada sabun dan shampo.
Aroma dari sabunnya sangat berbeda dengan yang Arumi pakai dulu. Aroma sabun ini sangat wangi seperti aroma parfum. Dan lagi sabun mandi disini bukan sabun batangan, tapi sabun cair.
" Apa aroma sabun orang kaya seperti ini ya"
Sama dengan sabun, aroma shampo disini juga wangi. Arumi tidak tau apakah sabun dan shampo ini dijual di warung tempat ia biasa membeli.
Arumi segera menyelesaikan acara mandinya. Ia tidak ingin membuat mamanya menunggu lama. Baru kali ini ada yang mau menunggunya untuk sekedar makan.
Wajah Arumi sudah terlihat fresh. Ternyata mandi itu memang membuat tubuh kita lebih baik. Arumi segera keluar dari kamarnya.
" Mama baru mau menjemput kamu"
" Maaf sudah membuat mama menunggu"
" Nggak apa-apa sayang, ayo kita makan"
Ranti membawa Arumi ke ruang makan. Ia berharap Arumi suka dengan masakan yang ia buat.
Arumi kaget melihat banyaknya masakan di atas meja. Masakan sebanyak ini siapa yang mau menghabiskannya.
" Duduk sayang"
Arumi duduk di sebelah Ranti. Sedangkan Kusuma duduk di kursi yang paling tengah. Kursi untuk kepala keluarga.
" Masakan sebanyak ini mama yang masak?"
" Iya sayang "
" Pasti mama capek masak masakan sebanyak ini"
" Nggak kok, kan dibantu sama bibik juga"
" Semua masakan ini nyonya masak untuk non Rumi"
Arumi kaget dan juga terharu mendengar ucapan bibik. Baru kali ini Arumi merasakan dimasakin masakan sebanyak ini. Semua itu ia dapatkan dari mama Ranti.
Ranti mengambilkan nasi untuk Arumi.
" Mau makan lauk yang mana sayang"
Arumi tidak bisa lagi menahan air matanya, perlakuan mama Ranti membuat pertahanannya runtuh. Padahal ia sudah tidak ingin mengeluarkan air mata lagi.
" Kenapa sayang" ucap Ranti sambil memeluk Arumi.
Tangis Arumi pun pecah dipelukan Ranti. Kasih sayang yang diberikan Ranti benar-benar membuat hati Arumi tersentuh.
Ranti menenangkan Arumi dengan mengusap kepala Arumi. Ia tidak tau apa yang sudah menimpa Arumi sehingga Arumi menangis seperti ini.
Kusuma bisa merasakan apa yang dirasakan Arumi. Walaupun Arumi tidak pernah bercerita padanya. Tapi setelah menyaksikan sendiri bagaimana sikap orang tuanya Arumi, sedikit banyaknya dia tau bagaimana orang tua Arumi memperlakukannya.
Setelah merasa tenang barulah Arumi melepaskan pelukannya.
" Maaf sudah membuat baju mama basah"
" Nggak apa-apa sayang, kamu nggak usah mikirin baju mama"
" Makasih ya Ma"
" Makasih untuk apa?"
" Sudah menerima Rumi di rumah ini"
" Iya sayang, semua orang pasti akan senang menyambut gadis cantik dan juga baik seperti kamu"
Setelah Arumi benar-benar tenang barulah mereka melanjutkan acara makannya.
" Gimana sayang masakan mama, enak nggak"
" Enak Ma"
" Kamu suka nggak"
" Suka"
" Alhamdulillah kalau kamu suka. Makan yang banyak"
" Iya Ma"
Di ruang makan ini terasa kehangatan keluarga. Dulu Arumi makan cuma sendiri. Nggak ada yang mau makan bersama dengannya.
Arumi juga tidak pernah merasakan masakan ibunya. Tapi di rumah ini ia bisa merasakan semuanya. Kasih sayang yang tidak pernah ia dapat, sekarang ia dapatkan dari mama Ranti.
Arumi tidak tau apakah ini jawaban atas doa-doanya. Apakah kebagian ini akan selalu ia rasakan. Belum sampai satu hari Arumi di rumah ini, tapi ia bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari keluarga ini.
" Oh iya mama buatin puding coklat untuk kamu. Tunggu mama ambilkan dulu"
Ranti mengambil puding di dalam kulkas. Ia membawa puding coklat itu ke meja makan.
" Ini dia puding coklat buatan mama"
Arumi terkesima melihat puding coklat yang ada di hadapannya. Puding coklat yang dibuat mama Ranti sangat jauh berbeda dengan puding coklat yang ia buat dengan Rani.
" Cantik sekali pudingnya"
Puding cantik seperti ini sangat sayang untuk dipotong.
" Ini mama buat khusus untuk Rumi"
" Makasih Ma"
" Eits jangan menangis lagi"
Arumi tersenyum mendengar ucapan mama Ranti.
" Nah seperti itu, kamu terlihat sangat cantik kalau sedang tersenyum"
Sejak datang kesini Ranti belum melihat senyum Arumi. Sekarang ia bisa melihat senyuman gadis cantik itu.
" Papa boleh makan pudingnya nggak Ma"
" Nggak, puding ini khusus untuk Rumi. Jadi papa nggak boleh makan pudingnya"
" Tenang tuan, nanti saya bagi"
" Tuan?, no, no ya sayang. Panggilan apa itu. Panggil papa" kata Ranti.
" Pa...papa"
" Nah itu baru benar. Mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggil kami dengan sebutan mama dan papa, mengerti"
" Me... mengerti Ma"
" Good, sekarang mari kita potong pudingnya"
Arumi tidak tega memotong puding cantik itu. Tapi kalau tidak segera di potong mama Ranti pasti marah. Akhirnya Arumi pun memotong puding cantik itu.
" Ini untuk mama"
" Untuk mama?"
" Iya, ini rasa terima kasih Rumi untuk mama karena mama sudah menyayangi Rumi"
Ranti terharu mendengar ucapan Arumi.
" Mama terima pudingnya "
" Satu lagi untuk papa. Terima kasih sudah membawa Rumi ke sini "
Kusuma menerima puding coklat dari Arumi.
" Terima kasih, semoga kamu betah tinggal di rumah ini. Dan semoga kebahagiaan akan selalu mengiringi perjalanan kamu"
" Aamiin "
Arumi berharap kebagian ini tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Selama ini ia tidak pernah merasakan kehangatan keluarga. Tapi sekarang ia bisa merasakan kehangatan keluarga.
To be continued.
Jangan lupa dukungannya teman-teman 💞💞
Happy reading guys 🤗 🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..