"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26 Runtuh
Haidar melipat kedua tangannya di dada. Ia membiarkan Xavier meluapkan seluruh emosinya, sebelum kembali membuka topeng busuk Edo seutuhnya.
Tiga puluh menit berlalu, umpatan dan bunyi derakan benda yang diamuk tak lagi terdengar.
Tergantikan suara deru napas Sang Narendra yang tak beraturan.
"Ada hal penting yang harus lo ketahui lagi, Xavier," ujar Haidar memecah hening yang sesaat turun. Ia memangkas jarak di antara mereka. Melangkah maju satu langkah, menatap lekat-lekat sosok pemimpin geng yang kini terlihat begitu rapuh dan hancur di hadapannya.
"Edo, dia sebenarnya ... bagian dari Geng Black Shadow. Orang kepercayaan Raka, musuh bebuyutan lo dari zaman SMP. Pria licik yang di masa lalu sering membully Sukma Kinanti Putri tanpa ampun," lanjut Haidar tanpa melepas atensinya sedetik pun dari lawan bicara.
"Kalau lo butuh bukti buat mempercayai omongan gue, gue punya semuanya di sini," imbuhnya sembari mengangkat gawai di tangan kanannya. Ia menyuguhkan folder berisi file video rekaman kamera mikro yang siap meruntuhkan sisa-sisa pertahanan batin Xavier.
Atensi Xavier seketika terkunci sepenuhnya pada layar benda pipih di tangan Haidar yang menampilkan video rekaman spionase, memperlihatkan obrolan culas Edo bersama para petinggi Geng Black Shadow yang sedang menertawakan kebodohannya.
Menyaksikan pengkhianatan itu terpampang nyata di depan mata, amarah di dalam dada Sang Narendra semakin meletup hebat hingga tak kuasa lagi dibendung.
Pandangan mata elangnya berputar liar. Menangkap motor Ninja berwarna hitam legam milik Edo yang terparkir di sudut gudang tua.
Dengan napas memburu dan urat-urat leher yang menegang kaku, Xavier melangkah kesetanan.
Ia merengkuh bodi motor sport berbobot ratusan kilogram itu menggunakan kekuatannya yang tersisa. Mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu membantingnya kasar ke lantai semen hingga hancur berantakan dan remuk tak berbentuk.
Suara hantaman besi yang beradu keras seketika mengguncang seisi ruang. Memekakkan telinga dan membuat Nara bergidik ngeri.
"Arghhh! Bangsat lo, Edo!" lolong Xavier menggelegar. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan yang berlumuran darah segar.
Sakit
Perih
Hancur
Dunia Sang Narendra runtuh. Gelar The Unbeatable yang dibanggakannya benar-benar tumbang, menyisakan sosok yang terlihat sangat menyedihkan.
Lelah meluapkan amarah yang menggelegar, Xavier meluruhkan tubuhnya yang lemas di atas lantai semen berdebu. Ia menyandarkan punggung tegapnya di dinding gudang yang dingin, membiarkan air matanya mengalir bebas tanpa segan, bercampur dengan peluh dan noda darah di wajahnya.
Nara yang semula memilih bungkam di samping Haidar, kini perlahan melangkah mendekat. Ia menghentikan langkah tepat di depan Xavier, menatap wajah lelaki yang sudah menghancurkan marwah sahabatnya tanpa ampun, dengan tatapan penuh kebencian dan rasa muak.
Bagi Nara, apa pun alasannya, perbuatan bejat Xavier tetap tidak akan pernah bisa dimaklumi, apalagi dibenarkan oleh akal sehat.
"Lihat, Vier," ujar Nara sembari tersenyum getir, suaranya terdengar bergetar menahan amarah yang membuncah. "Ini... ini adalah hasil dari kesombonganmu selama ini. Hadiah yang teramat pantas untuk orang yang selalu berambisi menjadi The Unbeatable. Orang yang merasa dirinya paling hebat dan berkuasa. Orang yang gemar melakukan apa pun sekehendak hati, tanpa memakai otak."
Ia menjeda kalimatnya sejenak, mati-matian menekan rasa sesak yang memenuhi rongga dada.
"Semesta sedang menghukummu, Vier. Tuhan tidak pernah tidur. Dia mendengar dengan jelas doa-doa dari wanita yang sudah kamu hancurkan hidupnya. Wanita yang sejak lama mencintaimu dalam diam... Sukma Kinanti Putri."
Hening.
Ruangan gudang tua itu kembali diselimuti oleh kesunyian. Hanya terdengar embusan napas berat Xavier, diiringi oleh isak tangis Nara yang mulai pecah karena tidak sanggup lagi membendung luapan emosi.
"Kamu harus menebus dosa-dosamu, Vier. Bukan hanya sekadar meminta maaf secara pengecut, tapi bertanggung jawablah. Nikahi Sukma, kembalikan marwahnya yang sudah kamu renggut!" tuntut Nara dengan penekanan yang teramat tajam.
Setiap kalimat yang mengalir dari bibir Nara serasa menghantam telak dadanya. Untaian kata itu terus mendorong Xavier masuk semakin jauh ke dalam lembah penyesalan.
Xavier menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini terlihat sangat pias.
Ia kembali membiarkan air matanya menetes satu demi satu, membasahi lantai gudang tua yang menjadi saksi bisu runtuhnya keangkuhan seorang Narendra.
Haidar menatap prihatin sosok pemimpin yang kini benar-benar telah hancur. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan merengkuh lembut bahu Nara.
"Ayo, Nara. Kita pergi dari sini," tutur Haidar lembut namun terdengar sangat tegas.
Ia lantas membawa gadis itu melangkah pergi, berlalu dari hadapan Xavier yang masih duduk terdiam. Meninggalkan pemimpin Geng Bima Sakti yang kini hanya bisa meratapi goresan takdir--balasan tunai atas dosa besar yang telah ia perbuat pada Sukma.
Malam kian larut. Namun, Xavier belum juga beranjak dari posisi duduknya.
Ia tenggelam dalam rasa sesal, kecewa, dan amarah yang tak berkesudahan.
"Kinan, maaf..." ratapnya lirih.
Ia menekuk kedua kakinya, lalu mendekap erat lututnya. Menatap hampa langit-langit gudang tua dengan mata yang berkaca, sembari merapal satu nama yang kini berhasil membuat hidupnya luluh lantak, Sukma Kinanti Putri.
.
.
Di Desa W...
Sukma merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memaksa sepasang matanya untuk segera terpejam, meski rasa kantuk belum juga datang.
Gelisah, itu yang tengah ia rasa saat ini.
Jantungnya berdenyut ngilu. Pikirannya tertuju pada satu sosok yang ingin dihapusnya dari ingatan, Xavier Narendra Aditama.
"Kinan..."
Sapaan lirih berdengung jelas di telinga. Seolah, si pemilik suara tengah berada tepat di sisinya saat ini.
"Maaf..."
Lagi, Sukma seakan mendengar dengan sangat jelas suara khas yang sangat dikenalnya, satu kata yang sedang dirapal oleh Xavier di gudang tua. Meski kenyataannya mereka kini berada di tempat yang berbeda. Terbentang jarak yang teramat jauh.
Bukan hanya suara, tapi perlahan wajah Xavier membayang di pelupuk mata. Menatapnya sendu dan penuh rasa sesal.
"Astagfirullah..." Sukma menghela napas, memejamkan matanya erat-erat, berusaha mengempas wajah lelaki yang telah tega menodai marwahnya tanpa belas kasih.
Trauma yang dialami membuatnya tidak ingin melihat wajah Xavier lagi, apalagi jika harus bertemu.
"Allah, hapuskan dia dari ingatanku. Hilangkan dia dari hidupku..." pintanya lirih.
Rintihan doa yang dilangitkannya, seketika disambut denyutan samar dari makhluk kecil di dalam perut. Gerakan halus itu seolah mengisyaratkan bahwa janin yang dikandungnya tidak suka mendengar kalimat itu meluncur dari bibir ibunya.
Perlahan, Sukma membuka mata. Mengusap lembut perutnya yang masih datar, menumpahkan kasih sayang seorang ibu.
"Nak, jangan marah," bisiknya pelan dengan nada suara yang bergetar. "Ibu hanya ingin hidup tenang dan terlepas dari trauma. Fokus membesarkan serta menjagamu, tanpa ada bayang-bayang kelam yang menyertai."
Denyutan samar kembali terasa, seakan malaikat kecilnya benar-benar bisa mendengar dan menanggapi setiap kalimat yang diucapkan.
Pukul dua dini hari, Sukma masih terjaga. Bayangan yang ingin diempas terus saja memenuhi pelupuk mata. Merayunya untuk tak lagi membenci dan berkenan memberi maaf.
Di gudang tua, Xavier belum juga beranjak. Bibirnya tak berhenti merapal kata maaf, diiringi air mata yang masih setia mengalir.
"Kinan, maaf..."
🍁🍁🍁
Bersambung
kalau dulu bilang 100% salah ga juga si kafir ini emosian jadi otaknya ga kerja maksimal
moga aja baby pro bapaknya pingin di elus terus perut nya
padahal bagian ini yg aku tunggu..ngarep ada momen kocar kacirnya Edo CS..eh udah lari aja
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu