NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 — Jiwa yang Tertinggal di Antara Hidup dan Mati

Langit malam di luar rumah sakit dipenuhi awan gelap setelah hujan sore tadi. Bau obat-obatan bercampur dingin pendingin ruangan menusuk hidung saat Ravin perlahan membuka matanya di dekat taman kecil beberapa meter dari jalan raya. Kepalanya terasa berat, namun tubuhnya sama sekali tidak terluka. Tidak ada darah, tidak ada rasa sakit. Hanya napasnya yang terasa aneh dan dadanya sesak tanpa alasan.

Ravin berdiri pelan sambil memegang kepalanya yang masih pusing. Jalanan masih dipenuhi bekas tabrakan, lampu kendaraan memantul di aspal basah. Dari kejauhan beberapa orang sedang berbicara di dekat mobil yang ringsek.

“Parah banget tadi… katanya satu orang kritis.”

“Yang cewek selamat, cowoknya malah mental jauh.”

“Ambulansnya buru-buru banget tadi.”

Tubuh Ravin langsung membeku.

Ingatan sore tadi menghantam kepalanya begitu cepat. Arum. Jalanan. Suara klakson keras. Tubuh Arum yang hampir tertabrak.

Mata Ravin melebar panik.

“Arum…”

Tanpa pikir panjang Ravin langsung berlari menuju rumah sakit. Nafasnya memburu, pikirannya kacau. Sepanjang perjalanan hanya satu hal yang memenuhi kepalanya—jangan sampai Arum mati karna dirinya.

Rumah sakit malam itu begitu ramai. Suara roda ranjang pasien, tangisan keluarga, dan panggilan perawat bercampur jadi satu. Ravin berlari menuju meja resepsionis dengan wajah pucat.

“Mbak, pasien tabrakan sore tadi dimana?! Cewek… namanya Arum!”

Resepsionis bahkan tidak menoleh karna sibuk menerima telepon dan berkas pasien. Ravin makin gelisah. Saat itulah dari pintu masuk dia melihat Selina, adiknya, datang dengan wajah penuh air mata.

“kak… kak Ravin…”

Selina menangis sambil berlari menuju lorong ICU.

Jantung Ravin langsung berdegup keras.

“Selina?!”

Ravin ikut berlari mengejar adiknya. Lorong rumah sakit terasa panjang dan dingin. Sampai akhirnya langkahnya berhenti di depan ruang operasi.

Ibunya terlihat lemas di kursi sampai akhirnya pingsan dalam pelukan seorang perawat. Selina menangis histeris sambil menutup wajahnya.

Namun bukan itu yang membuat Ravin membeku.

Di sudut ruangan… Arum duduk sendirian dengan wajah pucat dan mata merah. Kepalanya tertunduk penuh rasa bersalah seperti seseorang yang kehilangan segalanya.

Ravin langsung menghampirinya panik.

“Arum!”

Arum perlahan mengangkat wajahnya.

Matanya langsung membesar saat melihat Ravin berdiri di depannya.

Tubuh Arum gemetar.

“Ka-kamu…”

Ravin memegang bahu Arum dengan cemas.

“Kamu gak apa-apa?! Syukurlah… syukurlah kamu selamat…”

Suara Ravin terdengar lega sampai matanya ikut memerah. Namun Arum justru makin pucat melihatnya.

“Kenapa ibu sama Selina nangis…?” suara Ravin mulai pelan. “Yang kecelakaan kan kamu hampir—”

Kalimatnya terputus.

Arum menatap Ravin dengan mata penuh ketakutan dan kesedihan yang dalam.

Air matanya jatuh perlahan.

“Ravin…” suaranya bergetar kecil. “Yang mereka tangisi… itu kamu.”

Dunia Ravin seperti berhenti.

Tubuhnya perlahan menegang.

“Apa…?”

Arum menggigit bibirnya kuat-kuat menahan tangis.

“Kamu melindungiku…” air matanya makin jatuh. “Mobil itu nabrak kamu… bukan aku…”

Ravin mundur satu langkah pelan. Nafasnya mulai tidak beraturan.

“Enggak…”

Matanya langsung menoleh ke arah ruangan ICU dengan tangan gemetar.

Pintu ruangan itu sedikit terbuka.

Dan di sana… Ravin melihat tubuhnya sendiri terbaring penuh alat medis, wajah pucat, kepalanya diperban, dengan suara monitor jantung yang berdetak pelan memecah keheningan.

Tubuh Ravin langsung lemas.

Kakinya hampir tidak sanggup berdiri.

“...itu… aku?”

Arum menangis sambil menunduk penuh rasa bersalah.

“Dokter bilang… kemungkinan kamu gak akan bangun…”

Suara itu menghancurkan semuanya.

Ravin menatap tubuhnya sendiri tanpa bisa berkedip. Dadanya terasa kosong. Untuk pertama kalinya dia merasakan ketakutan yang benar-benar nyata.

Bukan takut kehilangan seseorang.

Tapi takut dirinya sendiri akan menghilang.

Ravin terkulai lemas di kursi rumah sakit. Tatapannya kosong, nafasnya bergetar kecil.

“Aku… bakal mati…?”

Arum langsung menangis semakin keras mendengar suara Ravin yang melemah seperti anak kecil yang ketakutan. Namun dia tidak mampu menjawab.

Karena kenyataan itu… memang sedang terjadi di depan mereka.

Musik piano memenuhi ruang latihan balet di kampus. Gerakan Dewi yang biasanya anggun sore itu terlihat begitu hidup di bawah cahaya ruangan. Putaran tubuhnya berhenti saat beberapa mahasiswa di sudut ruangan mulai berbisik panik.

“Eh, itu Ravin anak hukum kan? Katanya di tabrak lari parah.”

“Masuk ICU katanya…”

Wajah Dewi langsung pucat.

“Apa…?”

Temannya menoleh cepat. “Dewi, kamu kenal Ravin kan? Tadi sore katanya ditabrak mobil.”

Deg.

Jantung Dewi seperti jatuh. Tanpa peduli latihan yang belum selesai, Dewi langsung mengambil tasnya dan berlari keluar ruangan. Suara pelatih memanggilnya tak lagi terdengar. Tangannya gemetar saat menyalakan mobil.

Sepanjang jalan malam itu, Dewi mengendarai mobil terlalu cepat. Lampu jalan dan hujan tipis terlihat kabur karna air mata yang mulai memenuhi matanya.

“Jangan kenapa-kenapa… Ravin…”

Untuk pertama kalinya Dewi merasa sangat takut kehilangan seseorang.

Rumah sakit malam itu terasa dingin dan menyesakkan. Dewi berlari masuk dengan napas memburu hingga akhirnya melihat Selina menangis di depan ruang ICU sementara ibu Ravin terlihat lemas dengan mata sembab penuh kelelahan.

“Selina!”

Selina langsung memeluk Dewi sambil menangis.

“Kak Dewi… dokter bilang kondisi mas masih kritis…”

Tubuh Dewi melemas mendengar itu.

Matanya perlahan menoleh ke balik kaca ICU.

Ravin terbaring penuh alat bantu napas. Kepalanya diperban, tubuhnya dipenuhi kabel medis, wajahnya sangat pucat seperti kehilangan seluruh kehidupan dalam dirinya.

Air mata Dewi langsung jatuh.

Beberapa hari lalu Ravin masih berdiri di sampingnya, tersenyum canggung, memperhatikannya diam-diam dengan tatapan hangat yang selalu Dewi sadari.

Dan sekarang…

Ravin bahkan tidak membuka mata.

Dewi menutup mulutnya menahan tangis.

“Kamu bodoh…” suaranya pecah pelan. “Katanya mau ngomong sesuatu ke aku…”

Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.

“Aku masih nunggu kamu ngomong langsung…”

Di sisi lain rumah sakit, angin malam berhembus dingin di atas atap gedung. Kota dipenuhi lampu yang samar di bawah langit mendung.

Ravin duduk lemas di tepi atap dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat, matanya merah seperti kehilangan alasan hidup.

Sementara Arum berdiri tidak jauh darinya sambil memegang erat ujung bajunya sendiri.

“Aku… jadi roh sekarang ya…” suara Ravin lirih dan hancur. “Lucu banget…”

Dia tertawa kecil namun terdengar menyakitkan.

“Orang lain gak bisa lihat aku… bahkan tubuhku sendiri sekarang terbaring di bawah sana…”

Arum menatap Ravin dengan rasa bersalah yang begitu dalam.

“Kamu belum mati…” ucap Arum pelan. “Kalung bulan sabit itu masih melindungimu.”

Ravin perlahan memegang kalung di lehernya. Cahaya bulan samar memantul di permukaan kalung itu.

“Aku akan bantu kamu kembali…” lanjut Arum. “Kamu pasti bangun.”

Namun Ravin hanya menunduk lemah.

“Bangun untuk apa…?”

Arum terdiam.

Ravin menggenggam rambutnya frustrasi.

“Hidupku udah hancur…” suaranya mulai bergetar emosi. “Aku bahkan belum sempat bilang perasaanku ke Dewi…”

Matanya mulai memerah.

“Ibu sama Selina cuma punya aku…”

Suara Ravin pecah untuk pertama kalinya.

“Kalau aku mati… mereka bakal sendiri…”

Arum menggigit bibirnya kuat-kuat menahan tangis melihat Ravin yang benar-benar kehilangan harapan.

Keheningan malam terasa begitu dingin sampai Ravin perlahan mengangkat wajah menatap Arum.

“Tapi…” suaranya pelan. “Kenapa cuma kamu yang bisa lihat aku?”

Arum membeku.

Angin malam membuat rambut panjangnya bergerak pelan. Tatapannya perlahan jatuh ke lantai.

“Aku… memang bukan manusia.”

Ravin diam memperhatikannya.

Arum menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara dengan suara lirih penuh luka lama.

“Dulu aku dihukum…” katanya pelan. “Aku dijadikan roh penjaga bulan… dan dikurung dalam lukisan di kuil itu selama ratusan tahun.”

Mata Ravin perlahan membesar mengingat malam saat dirinya masuk ke kuil tua itu.

Lukisan wanita.

Tatapan mata Arum.

Suasana dingin yang tidak normal.

Semuanya langsung kembali memenuhi pikirannya.

Dan tiba-tiba emosi Ravin meledak.

“Jadi ini semua gara-gara kamu?!”

Arum langsung tersentak.

Ravin berdiri dengan napas berat dan mata penuh amarah.

“Kalau aku gak datang ke kuil itu… kalau aku gak ketemu kamu…” suaranya meninggi penuh frustasi. “Semua ini gak bakal terjadi!”

Arum menunduk dalam.

“Aku tahu…”

“Sekarang aku jadi kayak gini!” Ravin menunjuk dirinya sendiri dengan tangan gemetar. “Aku bahkan gak tahu masih hidup atau enggak!”

Arum menahan air matanya yang jatuh perlahan.

“Maaf…”

Ravin mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Aku cuma pengen hidup normal…”

Arum memejamkan mata menahan sesak di dadanya.

“Maaf…” suaranya makin kecil dan rapuh. “Aku gak pernah ingin kamu terluka…”

Untuk sesaat hanya suara angin malam yang terdengar di atas atap rumah sakit itu.

Dua jiwa yang sama-sama hancur… berdiri di bawah cahaya bulan dengan rasa takut kehilangan segalanya.

Malam semakin larut di rumah sakit. Lampu putih di lorong ICU terasa dingin dan menusuk mata. Di dalam ruangan, suara monitor jantung terus berbunyi pelan memecah keheningan yang menyakitkan.

Ravin berdiri diam di samping tubuhnya sendiri.

Selina tertidur sambil menangis di tepi ranjang dengan kepala bersandar di tangan Ravin yang tak bergerak. Wajahnya terlihat lelah setelah menangis sepanjang malam.

Sementara ibunya duduk lemah di kursi dengan mata sembab dan tatapan kosong. Sesekali wanita itu mengusap tangan Ravin sambil menahan tangis yang terus pecah.

“Bangun nak…” suara ibunya lirih dan gemetar. “Ibu cuma punya kamu…”

Kalimat sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Ravin.

Di sudut ruangan, Dewi juga masih ada di sana. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah karna terlalu lama menangis. Dia menggenggam pelan ujung selimut Ravin dengan bibir bergetar.

“Kamu jahat…” bisiknya lirih. “Kamu ninggalin semua orang gini aja…”

Air matanya jatuh lagi.

Ravin hanya bisa menatap mereka tanpa mampu menyentuh siapa pun. Dia ada di sana Tapi sekaligus tidak ada.

Perasaan itu jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.

Arum berdiri di belakang Ravin sambil memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang semakin besar.

Perlahan Arum mundur pergi dari ruangan itu.

Lorong rumah sakit terasa panjang dan sunyi sampai akhirnya Arum berhenti di ujung lorong yang gelap. Sosok berjubah hitam sudah berdiri di sana seolah menunggunya sejak tadi.

Pencabut nyawa itu menatap Arum dengan wajah datar.

“Kamu datang lagi.”

Arum langsung mendekat penuh emosi.

“Aku ingin bertemu dewa.”

“Tidak bisa.”

Jawabannya cepat dan dingin.

Arum mengepalkan tangannya.

“Aku harus bertemu!”

“Makhluk sepertimu tidak bisa menemui dewa tanpa perintah.”

Arum mulai kesal.

“Kalau Ravin mati karna aku bagaimana?!”

Pencabut nyawa itu diam sesaat sebelum menoleh kecil ke arah jendela rumah sakit.

“Takdir manusia itu sudah ditulis.”

“Omong kosong…” suara Arum mulai bergetar marah. “Dia bahkan gak seharusnya terlibat!”

Pencabut nyawa itu kembali menatapnya tajam.

“Namun… hari ini berbeda.”

Arum terdiam.

“Kenapa?”

Sosok itu menjawab dengan suara berat dan pelan.

“Karena ada manusia yang rela mengorbankan nyawanya demi dirimu.”

Arum membeku.

“Pengorbanan seperti itu… membuat tugas pencabutan jiwaku selesai lebih cepat malam ini.”

Tatapan Arum perlahan berubah.

“Aku bisa menemui dewa sekarang?”

Pencabut nyawa itu menggeleng pelan.

“Belum.”

Arum langsung frustrasi.

“Lalu aku harus gimana?!”

Namun sosok itu hanya berjalan pergi perlahan.

“Satu-satunya jalan sekarang… ada pada dirimu sendiri.”

Tubuh pencabut nyawa itu perlahan menghilang bersama bayangan gelap lorong rumah sakit.

Arum menggigit bibirnya kesal dan bingung. Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, dia benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.

Saat kembali ke ruangan ICU, suasana sudah jauh lebih sunyi.

Ibunya Ravin tertidur karena kelelahan. Selina masih memegang tangan kakaknya sambil tertunduk lemah. Dewi diam memandangi Ravin dengan mata kosong penuh kesedihan.

Sementara Ravin sendiri duduk di pojok ruangan dekat jendela.

Diam.

Tatapannya kosong seperti seseorang yang sudah menyerah pada hidupnya sendiri.

Arum berjalan pelan lalu duduk di sampingnya.

“Aku punya cara.”

Ravin bahkan tidak menoleh.

“Aku gak mau dengar ocehanmu lagi.”

Suara Ravin terdengar lelah dan dingin.

Arum menatapnya serius.

“Kamu bisa kembali ke tubuhmu.”

Ravin tertawa kecil namun hambar.

“Terus habis itu apa? Aku bangun terus semuanya normal lagi?”

“Aku serius.”

Ravin memejamkan mata frustrasi.

“Capek tahu gak…” suaranya pelan. “Aku capek mikirin semua ini…”

Arum menatap wajah Ravin yang benar-benar kehilangan harapan.

“Kamu masih punya ibu.”

“...”

“Masih punya Selina.”

Ravin terdiam.

“Dan Dewi.”

Nama itu membuat mata Ravin sedikit bergerak.

Arum menarik napas kecil sebelum melanjutkan.

“Kamu masih punya impian yang belum selesai.”

Ravin menunduk pelan dengan mata memerah.

“Aku takut…”

Untuk pertama kalinya Ravin mengakuinya.

“Aku takut gak bisa kembali…”

Suara Ravin terdengar kecil seperti anak kecil yang tersesat.

Arum perlahan menatapnya dengan lembut.

“Kali ini percaya sama aku.”

Ravin tersenyum pahit kecil.

“Aku udah hancur gara-gara percaya sama kamu.”

Arum terdiam sesaat lalu menatap Ravin lurus-lurus.

“Kalau gagal…” suaranya pelan namun serius. “Aku akan melakukan apa pun supaya kamu hidup lagi.”

Ravin perlahan menoleh.

Tatapan Arum kali ini berbeda.

Tidak bercanda.

Tidak main-main.

Untuk pertama kalinya Ravin melihat kesungguhan dan tekad besar di mata wanita roh itu.

Dan di tengah malam rumah sakit yang dingin… secercah harapan kecil mulai muncul di dalam keputusasaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!