"Ugh ..." Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ...
sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kuambil Kembali Milikku
--
SRET!!!
Perkataan yang aku ucapkan membuat mantan ibu mertuaku terkejut. Matanya terbuka lebar saat mendengar aku mengatakan bahwa mereka semua adalah sampah seperti mantan suamiku.
"Nayra!! Berani sekali kamu berbicara itu. HAAA!" Ucap mantan mamah mertuaku, alisnya berkedut suaranya mengerang dan menatap tajam diriku.
"Kenapa mah? Mamah tidak terima?" Tanya ku dengan nada suara penuh hinaan kepada mereka semua.
"Mbak! Mbak sadar gak sih! Mbak itu bukan siapa-siapa lagi di keluarga ini, sebaiknya mbak pergi saja dari sini."
Saat itu mantan adik ipar ku mengusir ku dari rumah mereka. Namun mereka tidak sadar siapa mereka sebenarnya.
"Hmmm ..." Aku tersenyum tipis. "Siapa? Aku? Minggir kalian!" Aku mendongak masuk kedalam rumah.
Saat itu Karin mencoba menghentikan langkahku dengan cara menarik tangan ku.
"Mbak! Kamu sudah gila!!"
Sekalian saja! Aku dorong dia sampai terjatuh.
BRUGGG!!!
"Awwww!!!" Teriak Karin saat terjatuh.
"Nayra!!! Apa yang kamu lakukan di rumah ku?" Tanya mantan ibu mertuaku.
"Mah! Mamah sudah lupa! Rumah ini dan seluruh isinya adalah pemberian dari kakek ku! Kalian sadar! Kalian semua yang menumpang di rumah ku selama ini ... HAAA!!!" Teriak ku menggema di dalam rumah.
Prok!
Prok!
Aku menepuk tangan memanggil anak buah Ardiansyah yang aku bawa untuk mendampingi ku.
"Pengawal! Usir mereka dari rumah ku dan bawa keluar barang-barang mereka!"
"NAYRA!!! Apa yang kamu lakukan?" Teriak mantan ibu mertuaku.
"Kalian masih bertanya? Bereskan barang-barang kalian dan segera tinggalkan rumah ini." Teriakku kepada mereka mataku terbuka lebar sambil menunjuk wajah mereka semua.
"Nayra! Berani sekali kamu mengusir ku! Rumah ini milikku. Kamu tidak berhak untuk mengusir keluarga ku!"
"Mbak! Kamu sudah gila mbak!!!"
"Hehhh!" Aku menghentak nafasku. "Gila' kalian semua sudah gila! Berani sekali kalian mengaku rumah ini milik kalian." Ucap ku dengan tegas tanpa belas kasih.
"Pengawal ... Segera keluarkan barang-barang mereka dan usir mereka sekarang juga!"
"Baik Bu!"
"Nayra! Apa yang kamu lakukan.!"
"Mbak! Tolong jangan usir kami mbak!"
...══════ஜ▲ஜ══════...
Di tempat lain.
Fadli seperti dalam zona waktu yang terasa melilit hidupnya. Dirinya kehilangan segalanya. Istrinya dan orang yang ia cintai tidak ada satupun yang dia dapatkan.
Rasanya begitu menyakitkan! Istrinya menceraikan dirinya, sedang Aqila—wanita yang ia cintai akan menikah dengan Ardiansyah.
Semuanya hilang dalam sekejap mata.
"HAAA!!! Kenapa semuanya jadi begini? HAAA!!!" Teriaknya di dalam mobil sambil memukul setir mobil.
"Kenapa? Nayra meninggalkan ku! Aqila! Dia hanya menjadikan ku pemuas nafsunya saja' HAAA!!! Dua wanita itu kenapa mereka berdua harus hadir di dalam hidup ku?!" Ucapnya dengan suara yang terdengar begitu putus asa.
"Tidak! Aku tidak boleh kehilangan mereka berdua! Aku harus tetap menjadi bagian dari keluarga Atmadja! Tidak! ... Tidak ... HAAA!!!"
Tut ... Tut ... Tut ...
Ponselnya berdering, Fadli melihat saat itu Karin menghubungi dirinya.
Tut!
Fadli mengangkat panggilan telepon dari Karin.
"Kak!!! Cepat pulang ... Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Suara Karin terdengar sangat panik dan terisak-isak.
"Karin! Kamu kenapa?" Tanya Fadli dengan suara penuh kejut.
"Cepat pulang kak! Mbak Nayra—"
Tut! Tut! Tut!
Panggilan telepon langsung terputus dari Karin.
"Hallo!"
"Hallo!"
Fadli melihat panggilannya terputus.
"Ada apa? Kenapa Karin?!" Dalam hatinya penuh pertanyaan. "Sebaiknya aku segera pulang."
Cet-rek!
Fadli menyalakan mesin mobilnya lalu segera pergi—menuju rumahnya.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Di dalam rumah...
"Nayra! Tolong! Jangan usir kamu ... Tolong Nayra! Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Aku melihat mantan ibu mertuaku menangis—mengemis-ngemis agar aku tidak mengusir mereka dari rumah ini.
Tak!
Saat itu mantan ayah mertuaku datang, ia baru saja pulang dari tempat ia berkerja.
"Mah!!!! Ada apa ini?" Tanyanya saat melihat istri dan anaknya menangis—terkapar lemas di lantai.
Saat itu aku dan beberapa anak buah Ardiansyah membongkar semua barang-barang mereka dan membuangnya ke luar rumah.
"Nayra!!! Apa yang kamu lakukan?" Tanya mantan ayah mertuaku, wajahnya begitu terkejut dan kebingungan.
"Apa yang aku lakukan? Pah! Aku bukan lagi bagian dari keluarga ini. Aku datang kesini untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu." Ucap ku tegas tanpa basa-basi, mengusir para benalu di dalam hidup ku.
"Keluarga ini adalah benalu di dalam hidup ku! Selama ini sudah cukup aku di injak-injak di dalam keluarga ini!!! Sekarang kalian keluar dari rumah ku." Usir ku kepada mantan ayah mertuaku.
Suasana menjadi ricuh. Anak buah Ardiansyah mengeluarkan semua barang-barang mereka. Tidak ada satupun yang aku sisakan di dalam rumah ini.
"Nayra! Kamu sudah gila' berani-beraninya kamu mengusir kami dari rumah ini."
"Berani? Rumah ini atas nama ku! Kalian semua yang tidak tahu malu! Selama ini aku diam saja karena aku menganggap kalian semua keluarga ku! Ternyata aku salah! Rumah ini adalah neraka ke-dua yang aku huni di dalam hidup ku." Bibir ku bergetar suara ku mengerang keras menatap para benalu itu.
Tidak boleh ada lagi orang yang menginjak-injak harga diriku. Siapapun itu, mereka harus membayarnya. Tidak akan aku biarkan mereka hidup tenang di atas penderitaan ku selama ini.
--
SRET!!!
Saat itu aku melihat mobil mantan suamiku sampai di depan rumah.
Ceklek
Bruk!
"Pah! Mah! Karin!" Ucapnya saat turun dari mobil.
"Akhirnya muncul juga benalu satu lagi." Sindiran ku kepada mantan suamiku.
"NAYRA!!!" Teriaknya kepada ku. "Apa-apaan kamu?!"
"Hmmm" aku tersenyum menyeringai. "Lengkap sudah kotoran yang pernah ada di dalam kehidupan ku."
"Kotoran? Kamu menghina ku Nayra?"
"Lalu apa? Kamu tidak terima mas!" Tanya ku dengan nada merendahkan.
Plak!
Aku melemparkan sertifikat rumah ini kepada mereka. "Lihat ini' mas! Rumah ini atas namaku! Kalian semua tidak punya hak untuk tinggal di sini."
"Segera kalian semua pergi dari rumah ku!" Timpal ku kepada mereka.
"Nayra!!!" Teriak mantan suamiku.
"Mbak! Aku mohon jangan usir kami, mbak!!!"
Saat itu Karin memohon-mohon di bawah kaki ku.
"Tidak ada gunanya kalian memohon-mohon di bawah kaki ku! Aku sudah tidak ingin melihat wajah kalian ada di hadapanku! Sekarang bawa barang-barang kalian, pergi dari rumah ini ... SEKARANG!!!" Ucap ku berteriak di akhir kalimat.
Mantan suamiku—Mas Fadli menatap wajah ku dengan penuh amarah. Aku melihat tangannya mengepal kuat dengan raut wajah yang penuh emosi.
"Mah! Pah! Karin! Kalian tidak apa-apa?"
"Baik Nayra! Aku dan seluruh keluarga ku akan keluar dari rumah ini." Timpal mantan suamiku itu.
"Sekarang aku bersumpah! Nayra! Kamu akan membayar semua ini! Aku bersumpah atas nama keluarga ku ... Aku akan membuat mu menyesal seumur hidupmu."
"Tidak ada gunanya sumpah mu itu mas! Rasa sakit yang aku rasakan lebih dari semua ini! Kamu selingkuh dengan Aqila dan berusaha membunuh ku dan bayi kita mas!"
"Apa?"
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...