Follow IG-Airlangit9
Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan
"Loh di mana, Dilara, Mbak Yun?" tanya Dilbara heran dan menatap ke arah pintu yang terbuka.
"Itu, Bu, sepertinya masih di luar." Yuanita menjawab sopan kemudian melangkah ke luar kamar. Melihat Dilara menghampiri kamar sambil membawa dua tas, pelayan itu langsung merebut barang itu dari tangan Dilara sembari mendelik lalu masuk lagi ke kamar.
"Itu Non Dilara baru mau masuk, Bu," ujar Yuanita terlihat kesusahan membawa tas. Pelayan itu kemudian menaruh tas di dekat lemari besar.
"Dari mana saja, Nak? Lama sekali." Dilbara tersenyum. "Mama ingin tidur sama kamu, nanti malam, mau, ya?"
Dilara mengangguk dan melirik ke arah perempuan berkulit putih kemerahan bernama Yuanita itu.
"Yun, bersihkan dulu kamar ini, dan rapikan tempat tidurnya. Saya mau istirahat bersama mantu saya." Nyonya besar itu berusaha berdiri dan Dilara langsung meraih tubuhnya dan mendudukkan di kursi roda. "Yuk, Nak. Kita ke belakang, kata Daniel, pemandangan belakang, bagus. Kita makan dulu, di sana. Agar ada tenaga."
Dilara pun mendorong kursi roda calon mertua meninggalkan kamar. Setelah memastikan dua perempuan itu pergi, Yuanita langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk.
"Capek sekali ... saya kira kecantikanku dapat meraih hati Daniel, sama sekali dia tak menoleh." Ia menghela nafas panjang. "Kirain calon Daniel yang seksi dan tinggi itu, taunya si anak jelek yang culun ini, dari kampung pula, miskin lagi, bagaimana bisa Nyonya menyukainya? Apa dia pakai guna-guna?" Yuanita berkata-kata sendiri.
"Mbak Yun, apa yang kamu lakukan di tempat Mama?"
Yunita langsung bangun kaget, sampai tubuhnya berguling ke lantai. Ia melihat Kirana berdiri di ambang pintu dengan ekspresi masam.
"Maaf, Nona. Saya lelah, barusan." Ia membenarkan letak duduknya kemudian menunduk.
"Mbak Yun, sering melakukan hal seperti barusan?" Kirana menatap pembantu itu selidik.
"Ti-d-a-k, Nona, hanya barusan saja, mungkin lelah." Ia semakin menundukkan kepala, khawatir wajah gelisahnya terlihat.
"Cepetan beresin kamarnya, habis itu gabung sama pembantu lain persiapin makan malam kita di halaman belakang."
"Gak sama pelayan dari sini aja, Non?" Yuanita mengangkat wajah.
"Itu keinginan Mama. Cepetan, deh." Kirana manyun lalu berjingkat pergi.
"Dasar anak kurang ajar, gak tau berterima kasih," cibirnya kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan dongkol.
Setelah membereskan tugasnya di kamar, Yuanita melangkah ke halaman belakang. Terlihat para pembantu dan pelayan Vila mondar-mandir membawa makanan ke meja di mana keluarga majikannya berkumpul.
Yuanita malah melipat tangannya. "Ish ... enak sekali jadi orang kaya, tinggal angkat jari, semua langsung patuh. Kapan saya jadi orang kaya?" Ia menuruni tangga sambil ngomel-ngomel dan terpeleset di tangga berikutnya, tubuhnya oleng dan terjatuh di atas rerumputan. Tak ada orang yang melihatnya, Yuanita lekas duduk mengurut-ngurut tumitnya yang berdenyut.
"Kenapa, Mbak Yun?" Dilara mengulurkan tangan pada pelayan tersebut. Barusan gadis itu mampir di toilet.
Bukannya meraih tangan gadis itu, Yuanita dengan wajah masamnya langsung berdiri dan berjingkat pergi
Para anggota keluarga telah berkumpul melingkari meja bundar yang penuh oleh aneka menu makanan. Sebelum makan, mereka hening membaca doa terlebih dahulu.
"Sepertinya Mama kalian sudah sehat, ya?" Bastar mencoba menggoda istrinya. "Apa mata ayah yang bermasalah, kok Mama tampak semakin cantik, ya?"
Mendadak pipi Dilbara merona. "Sayang, gak malu apa?" Ia mendelik pada suaminya.
Kirana cekikikan, sedangkan, Daniel yang memang telah dewasa berdeham dan melirik Dilara yang hanya menunduk makan dalam diam.
Saat itu, sunset terlihat jelas di ujung perkebunan teh itu. Kirana berdiri dan mengarahkan kamera depan pada keluarganya. "Kita berpoto, satu, dua, tiga!" ujarnya dan beberapa poto pun jadi.
"Mbak Yun, potoin kita semua!" Kirana menyerahkan ponselnya pada Yuanita, mau tak mau pelayan itu pun memotret mereka semua.
***
Malam telah larut, Dilara tak bisa memejamkan mata, berulang kali ia berwudhu agar hatinya tenang. Rencana pernikahan itu benar-benar menganggu pikirannya, ia khawatir akan sesuatu, tetapi tak mengerti apa itu.
"Nak? Kamu kenapa?" Rupanya calon mertuanya pun belum terlelap.
Dilara langsung duduk dan menghadap perempuan tua itu.
"Nyonya--"
"Sudah saya bilang, jangan panggil, Nyonya."
"Ma-ma?" Dilara merasa kikuk.
"Ya, betul sekali, ada apa, Nak?"
"Saya merasa tak pantas jadi menantu, Anda, Nyonya, eh, Mama."
"Ya ampun, Nak. Yang menilai pantas itu bukan asumsi pribadi." Dilbara tersenyum lembut.
"Seharusnya, Bos Daniel itu menikah dengan perempuan yang kaya dan cantik juga terhormat, bukan seperti saya."
"Untuk lelaki, mencari calon istri itu yang baik hatinya, Nak. Urusan harta, Allah akan titipkan harta istri melalui tangan suami."
Dilara menunduk.
"Tak usah gelisah, Mama juga dulu gelisah ketika akan menikah, mengkhawatirkan masa depan akan bagaimana? Terus kalau suaminya tak baik bagaimana? Banyak hal."
Dilara meraih kaki calon mertuanya itu, kemudian mulai memijitnya. "Lalu, Ma?"
"Mama serahkan pada Allah, meskipun melakukan tak semudah ucapan, setidaknya Mama telah melakukan yang terbaik untuk keluarga."
"Apakah? Said itu ... anak pertama, Mama?" tanya Dilara ragu. Khawatir perempuan tua itu tersinggung.
Dilbara menghela napas berat. "Mama menganggapnya sebagai anak sendiri. Ia anak malang yang ditinggal meninggal oleh ibunya sewaktu 11 bulan. Mama merawatnya dan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama." Dilbara tersenyum tipis, pandangannya menerawang mengenang masa lalu.
"Oh, saya kira anak sendiri, Mam."
"Kamu mau dengar cerita mereka saat anak-anak?" Mata Dilbara berbinar.
"Tentu saja, dengan senang hati, Mama."
"Sewaktu kecil, Daniel dan Said itu sering bertengkar." Dilbara memulai cerita. "Umur mereka selisih tiga tahun saja. Said yang sering kalah, meskipun lebih tua, dia dari kecil sering sakit-sakitan, oleh karenanya kita menaruh perhatian lebih padanya dibandingkan anak mama sendiri."
Terbayang visualisasi Said dan Daniel kecil di benak Dilara
"Daniel itu sering dihukum ayahnya dari kecil, karena sering memukul Said." Dilbara tertawa. "Anak itu dari kecil pun sudah nakal dan tak mau mengalah, lihatlah perilakunya sekarang. Beda jauh bukan sama Said?"
"Ah ... iya." Dilara tersenyum canggung.
"Sebenarnya, Daniel seperti itu mungkin cemburu pada Said, Nak. Kami kurang memberikan kasih sayang padanya, kami lebih memerhatikan kondisi fisik Said yang lemah. Diam-diam Daniel itu meskipun masih kecil sering menyendiri. Terkadang ia kedapatan sedang mengintip ayahnya yang mengajak bermain Said."
Hati Dilara ikutan sakit hati mendengarkannya.
"Makanya, Nak." Dilbara meraih tangan Dilara. "Kalau Daniel marah nanti, abaikan saja, atau bersabar. Sebagai ibu kandungnya saya minta maaf padamu."
Dilara balik menggenggam tangan perempuan itu. "Semampu, saya, Mam."
"Oh, ya, nama kita hampir mirip, ya. Hanya hilangkan saja huruf B di nama saya, nama kita jadi sama." Dilbara tersenyum senang.
"Ah, Iya, Mam."
Tanpa dua perempuan itu sadari, Daniel mendengarkan percakapan mereka berdua dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Tadi lelaki itu ingin menjenguk ibunya sebab khawatir, ketika pintu dibuka, terlihat Dilara yang tak mengenakkan kerudung sedang memijat kaki ibunya, membuat Daniel mengurungkan niat dan menutup kembali pintu dengan sangat hati-hati.
***
Esok harinya, semua anggota keluarga berkumpul di tepian bukit.
"Siapa yang mau mencoba duluan?" tanya si pemandu.
Bastar langsung mengangkat tangan. Dengan beraninya ia duduk di kursi paralayang, dan Daniel duduk di belakangnya sebagai orang yang berpengalaman. Beberapa detik kemudian parasut mulai mengembang dan bergerak hingga terbang ke atas.
Anak dan ayah itu berteriak-teriak kegirangan.
"Siapa lagi?" tanya pemandu.
"Saya!" Kirana langsung menggamit lengan Dilara, dan mengajaknya naik.
Dilara yang memang takut ketinggian tak berani naik. "Ganti yang lain, saja, ya, Dik?" bujuknya.
"Gak, ini adalah momen keluarga. Benar, gak Mam?!" teriak Kirana menatap ibunya dari kejauhan.
Ibunya yang berada di kursi roda langsung mengacungkan jempol.
Dengan jantung berdebar kencang, Dilara duduk di depan Kirana, setelah keamanan pada dua gadis itu diperiksa, parasut pun dilepaskan. Dilara sampai membulatkan mata ketika parasut itu mulai naik semakin tinggi dan tinggi.
Berada di atas awang, ia menjerit-jerit histeris, tetapi dengan begitu santainya Kirana mengambil beberapa poto membawa dirinya.
"Turun! Cepat! Saya takut!" Keringat membanjiri kening Dilara.
Kirana pun mengikuti arah mata angin untuk mendarat, parasut semakin merendah kakinya bersiap-siap mengerem. "Gunakan kaki, Kak. Seperti mengerem."
Dilara menurut, dan akhirnya mereka berdua sampai ke titik mendarat.
"Kamu biasa bermain parasut seperti barusan?" tanya Dilara.
"Ya, dulu sama Kak Daniel diajari." Kirana menjawab sambil menghapus peluh di keningnya.
Kirana menatap sekeliling, dan melihat Daniel tampak tertawa bersama ayahnya sambil memegang botol air mineral. Duduk di sebuah saung gazebo tepi bukit.
Melihat lelaki dingin itu tertawa lepas, hati Dilara berdesir, ia terpesona.